Dive Into You

Dive Into You
TIDAK BERHARAP LEBIH


__ADS_3

Sampai di kampus, Bagas kemudian menurunkan Gauri lalu segera melanjutkan perjalanannya lagi ke tempat latihan. Gauri turun dengan perasaan campur aduk, karena akhirnya dirinya bisa menceritakan perasaannya kepada Bagas. Memang benar Gauri tidak membenci Caraka setelah kepergiannya. Gauri kecewa bahkan setelah Caraka kembali dirinya tidak bisa jujur kepada Gauri.


Tidak jauh dari gerbang kampus Satrio melihat Gauri yang berjalan dengan tatapan tidak fokus dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Satrio pun berinisiatif berjalan mendekati Gauri. Namun, belum juga mendekat Gauri sudah menyadari kehadiran Satrio dibelakangnya.


"Kok tahu sih gue ngikutin lo," tanya Satrio kebingungan.


"Lo gatau aja Kak, gue kan punya spion di punggung ... jadi gue bakal tahu kalo diikuti," jawab Gauri.


"Ada apa Kak ngikutin gue, ada yang diomongin?" lanjutnya.


"Engga, gue cuma liat lo dari jauh kayak lagi mikirin sesuatu makanya gue samperin ... ga ada apa-apa kan?" tanya Satrio serius.


Hampir saja Gauri menjawab tiba-tiba mereka dikejutkan oleh dosen pembimbing Gauri yang kebetulan mengenal Satrio juga. Karena itu akhirnya Gauri pun pamit pergi duluan kepada Satrio. Gauri pun pergi mengikuti dosen pembimbingnya itu, meninggalkan Satrio yang sebenarnya masih menunggu jawaban dari Gauri.


Terkadang Satrio juga menginginkan perhatian lebih dari Gauri, meskipun dirinya juga tahu kalau itu tidak mungkin. Tidak mungkin juga Gauri tidak mengetahui perasaannya, apalagi ia sudah terang-terangan mengekspresikan perasaannya. Apa Gauri masih menyimpan perasaan terhadap Caraka ya?


Satrio sempat diceritakan oleh Aura tentang hubungan Gauri dan Caraka sebelumnya. Sebelum Satrio melihat Caraka secara langsung, dirinya sudah tahu wajah orang bernama Caraka itu seperti apa. Bahkan Satrio juga dulu sempat beberapa kali menonton kompetisi renang Caraka.


Awalnya Satrio masih merasa bisa memenangkan hati Gauri selama Caraka tidak ada. Tetapi setelah melihat tatapan keduanya di cafe waktu itu, kepercayaan diri Satrio memudar. Dirinya dengan jelas melihat masih ada suatu perasaan yang sangat dalam antara Gauri dan Caraka dibalik permasalahan mereka.


Di airport Caraka tidak konsentrasi mendengar perkataan asistennya dan hanya fokus kepada ponselnya. Mereka masih menunggu penerbangan yang delay selama satu jam. Kakeknya pun juga sudah datang dan sedang membahas beberapa hal dengan asistennya.


"Pak, semua berkas yang diperlukan sudah saya siapkan jadi jika bapak membutuhkannya bisa saya segera bawakan," ucap asisten Caraka yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Caraka.


"Pak? Bapak dengar saya kan? " tanya asistennya yang masih sabar dengan kelakuan Caraka.


"Oh ... iya saya denger kok nanti kalau perlu saya langsung minta tolong," jelas Caraka singkat.

__ADS_1


"Baik pak."


Caraka masih saja memikirkan apakah dirinya perlu memberitahu Gauri atau tidak. Bagas juga tidak kunjung meneleponnya, padahal jawaban dari Bagas yang paling Caraka tunggu. Caraka masih mengira Bagas sedang sibuk karena mematikan teleponnya begitu saja.


Namun, tidak lama Bagas kembali menelepon Caraka. Mereka mengobrol cukup lama sampai waktu boarding tiba. Caraka harus menutup teleponnya dan membahas tentang dirinya dan Gauri setelah dirinya pulang. Sebelumnya Bagas memberitahu Caraka untuk tidak mengabari Gauri. Hal itu dilakukan untuk melihat apakah Gauri akan mencari Caraka yang mendadak pergi dan tidak ada kabar atau tidak.


Dua hari setelah Caraka pergi ke Singapura, Gauri mulai merasa ada yang aneh. Biasanya Caraka akan datang hampir setiap hari ke cafe, tetapi sudah dua hari ini Caraka tidak terlihat. Karena tidak mau terlihat kalau dirinya mencari Caraka, Gauri mencoba biasa saja.


"Mungkin emang lagi ga kesini aja," ucap Gauri pada dirinya sendiri. Meskipun begitu Aura tetap merasakan ada yang berbeda dari Gauri. Gauri seperti sedang menunggu seseorang yang tidak kunjung datang. Hari itu rencananya Bagas akan menjemput keduanya dan makan malam bersama diluar.


Ketika datang, Aura pun menanyakan kepada Bagas apakah ada sesuatu yang terjadi. Karena akhir-akhir ini Gauri seperti terlihat gelisah dan menunggu seseorang. Namun, yang jelas itu bukan Satrio.


"Gauri cari Caraka ya?" tanya Aura yang juga mengejutkan Bagas.


"Kok tahu? tahu dari mana?" bisik Bagas kepada Aura.


Mereka berdua berbicara dengan bisik-bisik karena tidak mau Gauri sampai tahu pembicaraan mereka.


Karena sudah terlanjur menyadarinya, Bagas akhirnya menceritakan rencananya kepada Aura.


"Caraka ga hilang lagi, dia pergi ke Singapura ada urusan bisnis ... tapi emang agak lama" jelas Bagas kepada Aura. Mereka akhirnya sepakat untuk merahasiakan hal ini dari Gauri. Saat ini saja rencana Bagas sudah terlihat hasilnya, Gauri mulai mencari Caraka dan merasa ada yang berbeda ketika Caraka tidak ke cafe.


Sudah seminggu Caraka tidak ada kabar, dan tidak datang ke cafe. Bimo yang biasanya juga datang bersama Caraka beberapa kali hanya datang seorang diri. Gauri semakin khawatir, dirinya takut jika terjadi sesuatu dengan Caraka. Kenapa semua orang seperti baik-baik saja saat Caraka menghilang seperti ini?


Satrio yang datang dan mencoba mengajak Gauri bicara juga sama sekali tidak ditanggapinya. "Ri!" teriak Satrio kesal karena tidak dianggap. Satrio mencoba memanggil Gauri dari tempat duduknya dari tadi tetapi tidak juga di respon oleh Gauri.


"Eh iya? apaan gausah teriak-teriak kenapa sih?" kesal Gauri yang kaget tiba-tiba Satrio berteriak.

__ADS_1


"Lagian dari tadi gue ngajak lo ngobrol tapi ga ditanggepin apa-apa," ucap Satrio memberikan pembelaan.


"Iya apaan ... mau ngobrol apa sih emang?" tanya Gauri.


"Hari ini lo ada urusan ga beres dari cafe? Kalo engga, kita nonton yuk, ada film bagus," ajak Satrio.


"Boleh ... ayo."


Gauri mencoba menghilangkan kekhawatirannya terhadap Caraka dengan ikut ajakan Satrio menonton bioskop. Lagipula tidak ada salahnya juga mereka pergi berdua. Gauri terus berfikir positif dan tidak mau memikirkan Caraka. Meskipun masih sangat jelas yang ada dikepala Gauri sekarang adalah Caraka.


Setelah membantu Aura beres-beres dan berpamitan, Gauri dan Satrio pun berangkat menuju mall terdekat untuk menonton film. Sebelum nonton mereka berdua makan malam dulu bersama sambil mengobrol. Satrio merasa ada yang mengganjal dari Gauri, tetapi memutuskan untuk diam saja. Setelah selesai makan dan membeli popcorn mereka pun masuk untuk menonton film.


Mereka berdua menikmati film dan tertawa bersama-sama, ketika adegan yang ditayangkan membuat kesal mereka pun sama-sama ikut kesal dibuatnya. Begituan Gauri dan Satrio menghabiskan waktu dua jam menonton film. Bahkan diluar pun mereka masih membicarakan isi film yang tadi mereka tonton.


Satrio merasa Gauri sudah tidak seperti tadi, Gauri sudah kembali ceria dan cerewet membahas film tadi. Sebelum pulang Gauri mampir dulu untuk membeli sesuatu di minimarket. Satrio menunggu Gauri di parkiran dan melihat Gauri sedang menerima telepon didalam.


Setelah keluar dari minimarket suasana Gauri tiba-tiba berubah seperti sebelumnya. Raut wajahnya kembali terlihat khawatir. Satrio yang bingung kali ini memutuskan untuk bertanya kepada Gauri, "Lo kenapa sih? tadi sebelum nonton juga mukanya kayak gitu," tanya Satrio.


"Engga kok, gapapa ... jadi tadi filmnya tuh ya pas si-" ucapan Gauri terpotong.


"Ri, ga usah dipaksain baik-baik aja ... " ucap Satrio.


"Udah seminggu Kak Caraka ga ada kabar, gue takut ada sesuatu sama dia," ungkap Gauri jujur kepada Satrio.


"Jadi tadi telepon yang didalem?" tanya Satrio.


"Tadi gue telepon Kak Bagas nanyain Kak Caraka, tapi katanya dia juga gatau," ucap Gauri.

__ADS_1


"Gue khawatir dia kenapa-kenapa".


__ADS_2