Dive Into You

Dive Into You
AKHIRNYA BERAKHIR


__ADS_3

Caraka melihat dengan jelas wajah orang yang menyuruh si ketua itu untuk menyebarkan selebaran berisi fitnah kepada cafe Aura. Orang itu adalah orang yang sama yang dirinya lihat di kamera dashboard mobilnya. Orang yang selalu mengintai cafe Aura dari kejauhan. Sebelumnya Caraka tidak menyadari orang ini saat di kantor polisi waktu itu.


Orang ini kemudian mengobrol sebentar dengan si ketua. Entah apa yang mereka katakan, tetapi salah satu anak buah ketua itu memberikan kode kepada Bagas untuk keluar. Orang itu seketika kaget karena tidak menyangka ada orang lain disana. Terlebih lagi orang lain itu adalah orang yang berurusan dengannya sebelumnya.


Sempat hampir kabur, tetapi berhasil ditahan oleh anak buah si ketua. Kini mereka sudah berada dibawah kendali Caraka karena ancaman yang diberikan nya kepada ketua mereka. Merasa terpojok orang ini masih saja besar kepala.


"Lo udah terpojok masih aja pasang muka songong kayak begitu," kesal Bagas melihat orang itu yang tersenyum licik.


Terlihat tidak nyaman, si ketua menyuruh salah satu anak buahnya untuk mendudukan orang itu. Mereka pun segera menuruti perintah dan memaksa orang itu duduk dengan paksaan.


"Silahkan selanjutnya bukan urusan saya lagi." Ketua itu merasa setelah menyuruh orang itu datang, kesalahannya akan begitu saja dihilangkan.


"Tunggu dulu ... urusan saya dengan anda juga belum selesai," ucap Caraka dingin.


"Sepertinya anda tidak bisa melihat jumlah anak buah saya lebih banyak dari orang yang anda bawa," balas ketua sombong.


"Anda tidak seharusnya menghitung yang ada disini saja." Caraka mengancam ketua itu dengan tatapan dingin.


Tidak bisa melakukan apa-apa karena tidak mau mengambil resiko, dirinya pun memutuskan untuk tetap disana. Bagas kemudian mulai membuka proses interogasinya terhadap orang yang menyuruh ketua itu. Sikapnya yang terasa angkuh membuat Bagas sedikit kesal. Namun, Bagas berhasil mengontrol nya dan terus menginterogasinya.


Disana Bimo diam-diam mencoba berkomunikasi dengan orangnya di luar untuk tetap siaga jika ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi dan untuk melapor jika ada seseorang datang. Bimo juga berusaha mencari celah kelemahan untuk memberikan ancaman kepada orang itu.


"Atas dasar apa anda melakukan hal itu?" tanya Bagas berusaha mengontrol emosinya.


"Saya merasa tidak perlu menjawab ini." Orang itu tetap angkuh dan menolak menjawab pertanyaan dari Bagas.


Caraka terlihat tenang dan tidak terbawa emosi dengan keadaan yang ada. Dirinya tetap menjaga ketenangannya yang justru terasa menakutkan.


"Saya punya banyak bukti kalau anda sebelumnya terus mengintai cafe itu," ucap Bagas.

__ADS_1


Orang itu masih saja diam, tetapi kini Bagas sudah kehilangan kesabarannya. Bagas sedikit melirik kepada Caraka yang kemudian disetujui dengan anggukan. Bagas kemudian menaikkan suaranya dan membentak orang itu, sembari mendorong kursinya hingga berada di kemiringan yang kapan saja bisa jatuh jika tidak ditahan oleh Bagas.


"Tidak ada yang perlu saya jelaskan disini ... dan satu lagi, anda semua pikir saya tidak bisa menuntut kalian karena telah melakukan hal ini?" Perkataan yang keluar dari mulut lelaki itu terdengar menyebalkan bagi Bagas. Tidak tahan, Bagas pun melepaskan kakinya yang menahan kursi itu hingga lelaki itu pun terjatuh.


Disisi lain, Bimo berhasil mendapat celah yang bisa membuat lelaki ini terpojok. Bimo dan orang-orangnya berhasil menemukan usaha yang dimiliki lelaki ini. Ternyata lelaki ini memiliki sebuah bar yang tidak terlalu jauh dari cafe milik Aura. Disana juga tersimpan brangkas yang berisikan uang dan surat berharganya.


"Jangan kalian pikir saya tidak tahu ya ... kalian akan mencari keluarga saya untuk mengancam saya kan?" tanya lelaki itu kepada Bagas dan Caraka.


"Maaf, saya bukan pria tidak bermoral yang akan mengancam musuh dengan keluarganya," ucap Caraka mendekati lelaki itu.


"Karena tipikal lelaki seperti anda tidak akan merasa keluarga seberharga itu," lanjutnya.


Salah satu anak buah ketua itu membantu Bagas menarik kursi yang terikat lelaki itu menuju ke tepi balkon, semakin memojokan posisi lelaki itu. Caraka kemudian menunjukan video siaran langsung seseorang yang masuk kedalam usaha barnya dan berjalan menuju suatu tempat.


Terlihat lelaki itu kini gelisah karena tahu ke arah mana seseorang itu berjalan. Dalam siaran langsung itu terlihat pintu yang dibuka dan didalamnya tersembunyi sebuah brangkas besar yang tidak terkunci. Karena terburu-buru pergi, lelaki itu ternyata lupa untuk mengunci kembali brangkasnya itu.


"Aduh ... beruntung ya kita, karena kebodohan anda kita bisa menyaksikan bersama apa yang ada didalam brangkas itu," ucap Bagas meledek.


Setelah berhasil dibuka, terdapat tumpukan uang dan surat berharga didalam sana. Seseorang dalam video itu kemudian membawa semuanya dan berjalan keluar. "Kalian mau bawa kemana harta saya!" teriak lelaki itu tidak karuan. Caraka hanya tersenyum tipis melihat lelaki itu yang mulai ketakutan.


Tiba-tiba Caraka menghentikan video siaran langsung itu. Ini adalah saat yang tepat untuk menanyakan semua pertanyaan tadi kepada lelaki itu. Tepat setelah dirinya merasa terancam dan ketakutan. Bagas sedikit menarik kursi itu mendekat kepadanya.


"Jadi? sudah siap menjawab?" tanya Bagas menatap tajam lelaki itu.


"Kalian pikir kalian siapa, hah!" teriak lelaki itu lagi kepada Bagas.


Merasa diskusinya masih belum bisa dilanjutkan, Caraka kembali menyalakan video tadi. Saat ini terlihat seseorang itu berada di sebuah lapangan besar dengan sebuah tong besar dihadapannya dan berisi semua harta milik lelaki itu.


Lelaki itu seketika membuka matanya lebar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Keringat dingin itu kini semakin deras menghujani tidak hanya pelipis namun keseluruhan tubuhnya. "Jadi?" tanya Bagas kembali.

__ADS_1


"Oke ... iya, memang saya yang merencanakan itu," jawab lelaki itu tidak bisa mengalihkan pandangannya dari layar tablet yang dipegang Caraka.


"Saya tahu anda pelakunya, yang saya tanya alasannya kenapa?" tanya Caraka tegas.


Perlahan terlihat tangan seseorang yang ada di video terulur dengan korek api yang menyala mengarah kedalam tong besar itu.


"Aaaaa!" teriak lelaki itu frustrasi.


"Ayo jawab!" Bagas menegaskan suaranya.


"Iya ... oke ... iya, saya tidak terima banyak pelanggan tetap saya pergi kesana ... " jawab lelaki itu dengan suara terputus-putus.


"Saya tidak suka bagaimana mereka menggoda pelanggan saya sehingga mereka pindah kesana," ucap lelaki itu.


"Saya berjanji akan menghancurkan cafe mereka, sampai wanita-wanita itu kapok," lanjutnya.


Bagas kesal mendengar jawab dari lelaki itu, sementara Caraka hanya tersenyum tipis tidak percaya dengan yang didengarnya. Alasan sepele yang membuat lelaki ini melakukan tindakan menghancurkan usaha orang lain.


"Kalian udah puas kan ... cepat kasih tahu dia untuk pergi, jauh harta saya ... " ucap lelaki itu semakin terpojok dan frustrasi.


Caraka memberi isyarat kepada Bimo untuk menghentikan itu sementara. Tanpa disadarinya lelaki itu membuka sendiri semua kejahatannya.


Tiba-tiba terdengar suara banyak langkah kaki yang bergerak mendekat ke tempat mereka berada. Munculah beberapa polisi yang memaksa masuk dan mengepung mereka semua. Diam-diam Bimo merekam semua yang terjadi, termasuk pengakuan kejahatan si ketua dan lelaki itu dan tersambung langsung ke pihak yang berwajib.


Mereka semua akhirnya ditangkap atas kejahatan yang mereka akui sendiri. Semua barang bukti yang menguatkan tuduhan sudah dikirimkan oleh Caraka kepada pihak polisi. Caraka telah menyusulnya dengan rapih dengan bantuan pengacaranya.


Jam sudah menunjukan pukul lima pagi. Tidak terasa selama itu mereka melakukan interogasinya terhadap komplotan orang-orang jahat itu. Sekarang Caraka dan Bagas bisa bertemu dengan kekasih hati mereka dengan perasaan tenang dan bangga karena telah berhasil menangkap penjahat yang mengganggu mereka.


"Sarapan di tempat biasa?" tanya Caraka kepada Bagas.

__ADS_1


"Tentu dong ... " jawab Bagas tersenyum lebar.


Bimo hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua.


__ADS_2