
Sesampainya di Singapura anggota tim dan pelatih mereka langsung beristirahat di kamar hotel masing-masing. Caraka menaruh tasnya kemudian langsung mengambil ponselnya untuk mengabari dua tuan putrinya bahwa dirinya sudah sampai kamar hotel. Tuan putri pertama yaitu Nenek Fely dan yang kedua adalah Gauri. Jika tidak segera dikabari keduanya pasti akan mengamuk kepadanya.
Caraka hanya menghabiskan waktunya di kamar hotel ketika beberapa teman satu timnya pergi makan keluar. Persis seperti yang diduga neneknya Caraka pasti hanya akan menghabiskan waktunya dikamar dan tidak kemana-mana. Tidak lama Gauri menelepon setelah membaca pesan yang dikirimkan Caraka tadi.
"Halo?" angkat Caraka.
"Udah sampe? lagi apa?" tanya Gauri.
"Di kamar, nonton tv ga ngapa-ngapain ginian doang," jawab Caraka.
"Apaan sih sedih banget kayak dibuang, keluar sana gih." ucap Gauri
__ADS_1
"Engga ah, cape kalo telepon cuma buat bawel tutup aja," kesal Caraka.
"Ih, yaudah ditutup orang gue juga mau tidur." Gauri ikut kesal mendengar perkataan Caraka.
Besok paginya semua anggota tim diwajibkan melakukan briefing sebelum dilaksanakannya kompetisi ini. Sebelum dibuka perwakilan petinggi penyelenggara kompetisi memberikan beberapa kata bela sungkawa terkait meninggalnya Mike. Ada pula beberapa atlit dari negara lain yang sempat kenal dengan Mike memberikan beberapa patah kata. Caraka yang mendengar itu terharu sekaligus senang karena masih banyak orang yang perhatian kepada Mike.
Kompetisi dijadwalkan akan berlangsung esok hari, jadi setelah acara briefing hari ini selesai diharapkan semua tim bisa kembali ke hotel untuk beristirahat. Sedangkan tim Caraka masih harus menghadiri beberapa interview dari wartawan setempat dan media internasional. Cukup melelahkan memang tapi mau tidak mau harus dilakukan karena ini bagian dari pekerjaannya.
Caraka hanya bisa menenangkan neneknya itu dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Sampai saat ini selain Gauri tidak ada yang tahu keadaan Caraka yang sebenarnya. Bahkan pelatihnya pun tidak tahu. Alasan berkurangnya raihan waktu Caraka adalah karena perasaan sesak di dadanya. Dirinya berharap gejalnya tidak akan parah muncul pada kompetisi kali ini.
Akhirnya hari yang ditunggu tiba, yaitu hari dilaksanakannya kompetisi renang se Asia 2013. Seluruh tim sudah hadir dan bersiap-siap di ruang tunggu masing-masing. Caraka juga sudah bersiap sambil sesekali mengobrol dengan teman satu timnya untuk mengurangi ketegangannya. Tidak seperti biasanya yang selalu tenang, hari ini Caraka sedikit tegang sekaligus khawatir.
__ADS_1
"Bisa Ka, aman kayaknya kali ini," gumamnya dalam hati.
Para pelatih memanggil seluruh tim untuk keluar dan bersiap. Sebelum keluar, Caraka sempat mengirim pesan kepada neneknya untuk meminta doa dan dukungannya. Caraka mewakili tim pria dipanggil lebih dulu. Seluruh atlit yang akan bertanding di cabang pria 50 meter sudah bersiap menaiki starting block masing-masing sambil menunggu aba-aba. Aba-aba pun dilakukan menjadi tanda berlangsungnya pertandingan.
Para pelatih hanya bisa berdoa dan berharap Caraka melakukan yang terbaik, melihat raihan waktu pada sesi latihan terakhir tidak seperti yang diharapkan. Setelah turun mulanya masih baik-baik saja, tetapi rasa sesak itu kemudian muncul bayangan kejadian itu juga kembali teringat. Mulanya Caraka berada di posisi kedua namun sekarang satu orang berhasil mendahuluinya. Saat itu yang ada dipikirannya hanya bayangan orang-orang yang berharap padanya.
Meskipun sempat ada kendala, Caraka berhasil memaksakan dirinya. Caraka berhasil menyusul menjadikan dirinya kembali di posisi kedua, di saat terakhir dengan semua sisa tenaga yang dia miliki Caraka berhasil mencapai finish. Caraka berhasil mendapat raihan waktu 27,57 detik sedangkan salah satu perenang yang lain berhasil mendapatkan 27,55 detik. Dengan itu menjadikan dirinya hanya berada di posisi kedua.
Saat semua naik termasuk Caraka tiba-tiba pandangannya berbayang dan mulai gelap. Tanpa disadari yang lain Caraka kemudian ambruk tidak berdaya. Salah satu pelatihnya melihat Caraka kemudian segera berlari kearahnya sambil memanggil paramedis untuk membantu. Caraka sudah tidak sadarkan diri, beberapa orang disana lalu membantu mengangkatnya ke tandu lalu dibawa keluar arena menuju ambulance yang sudah disediakan penyelenggara.
Salah satu pelatihnya naik bersama menemani Caraka didalam ambulance. Sementara dua orang staff mereka yang lain menyusul dari belakang mengandarai mobil mereka. Pelatihnya cemas melihat keadaan Caraka yang tiba-tiba ambruk, padahal tidak ada tanda-tanda kalau dirinya sedang sakit. Meskipun sebenarnya cukup aneh ketika ada sedikit momen ragu dari Caraka saat bertanding tadi. Tetapi sama sekali tidak terfikirkan kalau akan menyebabkan Caraka seperti ini.
__ADS_1