Dive Into You

Dive Into You
TATAPAN ITU


__ADS_3

Keduanya saling menatap mata satu sama lain dalam beberapa saat. Sampai akhirnya Aura yang keluar untuk menyusul Gauri menepuk pundaknya dan mengajaknya masuk karena Aura membutuhkan bantuannya didalam. Gauri akhirnya masuk kedalam cafe meninggalkan Caraka yang masih menatapnya. Kini giliran Gauri yang memalingkan pandangannya dari Caraka.


Tidak lama Bimo pun keluar setelah menyelesaikan makannya. Dirinya heran melihat Caraka yang hanya berdiri disana dan terus memandang ke seberang jalan. "Ka ... malah bengong, ngeliatin apaan lo?" tanya Bimo menyadarkan Caraka. Bimo lalu mengajak Caraka mampir ke cafe milik Aura sebelum kembali ke kantor. Sekalian mengecek bagaimana keadaannya dari dalam.


Namun, Caraka menolaknya dan menyuruh Bimo pergi saja sendiri jika ingin membeli kopi disana. Caraka masih belum siap menghadapi Gauri secara langsung. Akhirnya Bimo memutuskan pergi kesana sendiri dan meninggalkan Caraka yang akan menunggunya di mobil. "Bim, sekalian nitip buat gue," ucap Caraka meminta Bimo membelikan minuman yang biasa untuknya.


Ternyata sejak tadi Gauri masih sesekali memperhatikan Caraka dari dalam cafe. Sehingga kini dirinya tahu kalau Bimo adalah teman Caraka. Kemudian Bimo pun masuk kedalam cafe untuk memesan kopi. Aura yang berada didepan lah yang mengambil pesanan milik Bimo. "Hai ... saya pesan yang seperti kemarin ya," ucap Bimo yang sudah menjadi langganan disana.


Setelah menyelesaikan pembayarannya Bimo menunggu sambil duduk dan memainkan ponselnya. Sedangkan Aura yang sedang menyiapkan pesanannya didatangi oleh Gauri yang akan membantu. "Dua cup Kak?" tanya Gauri sudah memegang satu cup di tangannya siap membantu. Aura pun memperlihatkan kertas pesanannya kepada Gauri. Aura mengerjakan minuman untuk Bimo sedangkan Gauri untuk Caraka.


Bimo memegang minumannya lalu kembali ke mobil yang dirinya parkirkan di seberang jalan. Di mobil Caraka sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya dengan laptop yang dibawanya. Bimo lalu memberikan pesanan minuman milik Caraka dan meminum miliknya sebelum mereka pergi. "Tumben lo inget minuman kesukaan gue, biasanya salah mulu," ucap Caraka sambil meminum minumannya.


"Mana sih, itu pesenan yang kemaren juga," ucap Bimo mengintip minuman milik Caraka.


"Yang kemaren itu salah, yang ini baru bener, Bim." Caraka mengangkat minumannya dan menunjukannya ke wajah Bimo.


"Loh kok ini, seinget gue tadi bilangnya pesenan kemaren ice americano," heran Bimo karena pesanannya berbeda dengan kemarin.

__ADS_1


Setelah berpikir ternyata itu karena Gauri, dia yang membuat minuman untuk Caraka dan masih ingat dengan jelas minuman kesukaan Caraka. Ice vanilla latte tanpa tambahan apapun karena Caraka tidak suka kombinasi apapun dengan vanilla latte. Bahkan setelah sekian lama Gauri tanpa disadarinya masih mengingat minuman apa yang biasa Caraka pesan.


Keadaan didalam mobil kini sangat hening. Bimo fokus menyetir sedangkan Caraka masih memikirkan Gauri. Setelah apa yang dirinya lakukan pada Gauri, tetapi Gauri masih mengingatnya bahkan sampai minuman kesukaannya. Bahkan sepertinya sekarang ada kemungkinan mereka akan sering bertemu karena gedung itu kini dikelola oleh Caraka.


"Bim ... urusan gedung itu bisa lo aja yang pegang ga?" tanya Caraka pada Bimo yang sedang serius menyetir.


"Gabisa dong Ka, itu sekarang kan tanggung jawab lo," tegas Bimo.


"Engga ya maksud gue, khusus gedung itu gue dibelakang layar aja ... kalo ada urusan tatap muka sama lo aja kan udah kenal sama lo," ucap Caraka mengumpulkan banyak alasan agar dirinya tidak bertemu dengan Gauri.


Selama ini memang yang dilakukan Caraka adalah hal yang bisa dilakukan oleh seorang pengecut. Dirinya tidak pernah bisa menghadapi sesuatu masalah secara langsung. Melainkan melalui orang lain atau pergi menjauh. Caraka juga menyadari itu, tetapi entah mengapa masih saja dilakukannya. Dan hal ini sudah ikut menyakiti Gauri.


Sesampainya di kantor, Caraka mencoba mengalihkan pikirannya akan Gauri kepada pekerjaannya. Diluar dari semua itu, Caraka senang hari ini bisa kembali melihat Gauri. Dirinya merasa lega kalau Gauri baik-baik saja. Meskipun tidak pernah dirinya bayangkan Gauri akan bekerja di sebuah cafe dan bisa membuatkannya vanilla latte persis dengan yang disukainya.


Secara tidak sadar kini Caraka sedang melihat social media milik Gauri yang sudah sangat lama tidak dilihatnya. Semenjak terakhir kali dirinya melihat Gauri bersama dengan seorang lelaki Caraka sudah tidak melihat social media Gauri lagi. Dirinya tidak siap melihat postingan Gauri dan seorang lelaki itu. Setelah beberapa saat melihat isi social media Gauri dan tidak menemukan satupun postingan Gauri berdua saja dengan lelaki itu membuat Caraka tersenyum.


Jika dilihat dari isi social medianya kehidupan Gauri memang terlihat baik-baik saja. Disana banyak terpampang fotonya dengan beberapa teman dan anggota BEM yang lain. Juga ada foto kegiatan kampusnya dan fotonya dengan keluarganya. Perasaan lega dan bahagia kini mengisi hati Caraka. Caraka senang melihat senyuman Gauri di setiap foto yang dilihatnya.

__ADS_1


Disaat yang sama Gauri juga sedang mencari social media milik Caraka. Padahal sebelumnya Gauri tidak berani mencari social media milik Caraka karena tidak siap jika ada fotonya dengan wanita lain. Sayangnya isi social media Caraka hanya berisi pemandangan dan foto estetik lainnya. Di Sydney Caraka memang banyak pergi ke tempat-tempat estetik untuk mengambil beberapa foto.


"Sesuai dugaan, pasti ga akan ada fotonya," gumam Gauri dalam hati. Sekarang yang ada didalam pikiran Gauri adalah apa yang Caraka lakukan selama ini, dan kenapa dia pergi meninggalkannya tanpa pamit. Semua rencana Gauri yang akan memukul dan membenci Caraka jika dia kembali seketika gagal hanya dengan satu tatapan. Gauri benci dengan dirinya yang bisa dengan mudah luluh dengan Caraka.


Seberapa banyak Gauri menyebut namanya dalam setiap permasalahan yang ada, seberapa banyak Gauri mencarinya untuk itu, tetapi Caraka tidak kunjung datang. Tetapi dengan mudah Gauri luluh setelah melihat Caraka hari ini. Gauri berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dirinya tidak akan mudah memaafkan Caraka. Ini adalah janjinya demi seorang Gauri yang dahulu menderita tanpa Caraka.


"Kamu lagi ngapain, Ri?" tanya Aura yang mengintip dari balik pintu kamar Gauri.


"Hari ini didepan cafe aku ketemu Caraka, Kak." Gauri menatap Aura sendu.


"Yang tadi di seberang cafe itu kamu lagi liat Caraka?" tanya Aura mengelus rambut Gauri.


"Iya ... tatapan itu Kak, tatapan yang aku selalu cari selama ini." Air mata Gauri mulai turun.


"Tatapan yang aku harap ada disaat aku menderita dan kesulitan kemaren," lanjut Gauri menangis di pelukan Aura.


Aura terus memeluk Gauri sambil menenangkannya. Aura tahu betul apa yang dirasakan Gauri, karena dirinya melihat sendiri betapa kesulitannya Gauri saat awal harus berpisah dengan keluarganya dan berjuang sendiri disini demi melanjutkan kuliahnya. Mungkin jika tidak ada dirinya, Satrio dan Bagas, Gauri akan menyerah dan tenggelam dalam kesedihannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2