Dive Into You

Dive Into You
SEBUAH UJIAN


__ADS_3

Pagi harinya, suasana sarapan dirumah Gauri tidak se hangat atau se ceria biasanya. Ibu dan ayahnya juga hanya saling diam saja. Gauri dan Alan merasa ada sesuatu yang terjadi dan berkaitan dengan obrolan kemarin. Bahkan sampai ayahnya berangkat saja ibunya masih diam dan mencuci piring didapur. Hanya Gauri dan Alan yang mengantar ayahnya kedepan. "Ibu sama Ayah ada sesuatu ya?" tanya Gauri pada ayahnya. Ayahnya hanya diam lalu masuk kedalam mobilnya.


Gauri semakin yakin kalau ada sesuatu yang terjadi antara ibu dan ayahnya. Karena tidak biasanya ayahnya hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya. Tidak lama Alan juga berpamitan berangkat sekolah bersama teman-temannya. Setelah semua berangkat, Gauri memberanikan diri menghampiri ibunya yang sedang didapur. "Bu, ibu ada apa sama ayah?" tanya Gauri pada ibunya. "Duduk Ri, Ibu mau bicara," jawab ibunya.


"Kemarin ayah cerita kalau salah satu rekan bisnisnya yang katanya lagi survey di luar kota belum balik juga," jelas Citra ke Gauri.


"Temannya itu bawa banyak uang mereka, termasuk uang ayahmu," lanjut Citra menjelaskan kepada Gauri.


"Terus kalo ga balik, uang Ayah gimana Bu?" tanya Gauri mulai khawatir.


"Sekarang berdoa aja rekan bisnis ayahmu itu kembali, pertama itu dulu aja," jawab Citra meminta Gauri untuk berpikir positif dulu tentang ini, jangan dulu berpikir negatif.


Karena hari ini ada banyak yang harus dikerjakan sekre BEM, Gauri pamit berangkat ke kampus. Didalam bis Gauri masih memikirkan tentang apa yang dibicarakan ibunya tadi. Dirinya juga tidak mau berpikir negatif, tetapi memang tidak ada salahnya untuk memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Jika ayahnya kehilangan semua uangnya, ada kemungkinan mereka akan berada di keadaan yang sulit secara ekonomi kedepannya.


Meskipun tidak tahu pasti berapa banyak uang yang dipinjam ayahnya untuk bisnis ini, tetapi yang pasti bukanlah jumlah yang sedikit. Gauri khawatir dengan masa depan Alan yang masih sekolah dan membutuhkan banyak uang. Mengingat kemarin ibunya juga mengobrol dengan ibunya Bagas, kemungkinan Bagas juga tahu tentang masalah ini. Kalau begitu nanti Gauri akan coba bertanya tentang solusi terbaik kepada Bagas jika kemungkinan terburuk terjadi.

__ADS_1


Didepan kampus, Gauri bertemu dengan Satrio yang baru memarkirkan motornya. Gauri sengaja melambatkan langkahnya karena sedang tidak mau bertemu dengan Satrio. Gauri berakhir berjalan dibelakang Satrio yang kebetulan tidak menyadari ada seseorang yang berjalan dibelakangnya. Gedung mereka memang cukup berdekatan jadi searah.


Sepanjang jalan Satrio hanya sibuk dengan beberapa berkas dan buku-buku yang dibawanya. Tadinya hari ini Gauri akan melakukan final review tentang hasil rekaman mereka, tetapi karena ada sesuatu yang harus dikerjakan Satrio mereka jadi memundurkan jadwalnya. "Pasti masih ribet sama projeknya tuh, sampe dijalan aja ribet sama kertas-kertas," guman Gauri dalam hati.


Tiba-tiba ponsel Gauri berbunyi dan itu adalah telepon dari Bagas. "Iya Kak?" jawab Gauri mengangkat teleponnya. "Pulang kuliah bisa ketemu ga? ada yang mau gue obrolin," ucap Bagas di telepon. Gauri mengiyakan ajakan Bagas dan mengajak bertemu di cafe milik Aura. Lagipula Gauri memang berencana untuk membahas masalah ayahnya dengan Bagas. Sepertinya Bagas juga akan membahas tentang itu.


Caraka sedang bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Rencananya Bimo yang akan mengantarnya kesana karena Fely ada urusan mendadak. Fely berjanji setelah urusannya selesai akan mengunjungi Caraka di Sydney. Hari ini seharusnya pengumuman berkas pendaftaran S2 nya keluar jadi dirinya terus saja memainkan ponselnya sedari tadi. Mba Mimin sampai heran, Caraka duduk di meja makan tetapi tidak untuk makan. "Mas Aka, mau makan?" tanya Mimin. Caraka hanya menggeleng.


Pesawatnya akan berangkat pukul tiga sore jadi masih banyak waktu untuk Caraka bersantai dirumah. Semua barang yang akan dibawa sudah disiapkan jadi tidak ada lagi yang perlu dilakukan olehnya dirumah. Caraka yang bosan akhirnya pergi keluar, "Mba Mimin, saya keluar dulu sebentar," ucap Caraka kepada pembantunya itu. Meskipun tanpa tujuan setidaknya berkeliling saja sebentar dari pada bosan dirumah.


Caraka akhirnya sampai didepan tempat latihan yang terlihat sepi karena sedang diliburkan. Tetapi dirinya tidak jadi mampir di kedai karena melihat beberapa orang staff yang dikenalinya. Sehingga Caraka pun hanya mengambil foto tempat latihan dari jauh lalu pergi. Tidak lama Bimo menelepon menanyakan apa yang sedang dilakukan Caraka. Bimo meminta Caraka untuk mampir sebentar ke tempatnya berada sekarang.


Gauri dan Bagas tiba di cafe milik Aura, dan disambut oleh Aura yang kebetulan sedang ada disana. Bagas mencari tempat duduk sedangkan Gauri memesan minuman untuk mereka.


"Hari ini lumayan nih Kak," ucap Gauri melihat cafe yang cukup ramai hari ini.

__ADS_1


"Iya nih, untung aja hari ini rame ... Gauri mau pesan apa?" tanya Aura sambil menunjukan daftar menu.


"Kalo aku sih kayak biasa aja Kak, kalo buat Kak Bagas ice americano aja," jawab Gauri.


"Oke, makasih yaa."


Ternyata benar Bagas sudah tahu permasalahan ayahnya Gauri dari ibunya. Bagas menanyakan kepada Gauri tentang bagaimana kelanjutannya. Sayangnya Gauri sendiri tidak tahu lebih dari itu, karena dirinya saja baru diberitahu ibunya tadi pagi. Yang pasti, ibunya meminta Gauri untu tidak berpikir negatif dulu dan berdoa semoga rekan kerja ayahnya itu akan kembali.


Bagas meyakinkan Gauri kalau ada sesuatu dirinya akan ada disamping Gauri untuk melindunginya. Jadi Gauri tidak perlu takut dan khawatir tentang kemungkinan buruk yang bisa terjadi nantinya. Saat mereka asik mengobrol Gauri seperti melihat seseorang yang cukup familiar. Dari cara orang itu membawa tasnya itu adalah cara yang cukup unik dan tidak banyak dilakukan oleh orang biasa.


Caraka sudah sampai ditempat Bimo berada dan segera keluar dari mobilnya untuk masuk ke gedung itu. Benar yang dilihat sebagai sosok familiar bagi Gauri adalah Caraka. Cara Caraka membawa tasnya memang cukup unik, meskipun mungkin ada beberapa orang yang membawanya seperti itu tapi ada hal yang berbeda jika Caraka yang membawanya. Karena Caraka berlalu dengan cepat sehingga Gauri tidak sempat mengenalnya dan kembali mengobrol dengan Bagas.


Setelah banyak mengobrol Bagas pun mengantar Gauri pulang kerumahnya. Jalanan hari itu cukup lengang sehingga tidak butuh waktu lama untuk Gauri sampai dirumahnya. Sebelum turun Bagas mengingatkan lagi kalau kata-katanya di cafe tadi serius dan bukan main-main, dirinya akan ada disamping Gauri. Gauri pun masuk kedalam rumahnya dan melihat di meja makan ada ayah dan ibunya dengan wajah mereka yang serius.


Ibunya yang melihat Gauri datang langsung menghampiri dan memeluk anaknya itu sambil berkata, "Sabar ya Ri, kita pasti bisa lewati ini sama sama ...." Gauri cukup kebingungan melihat ibunya seperti ini. Tetapi firasatnya cukup buruk tentang ini. Ternyata apa yang ditakutkannya terjadi, rekan kerja ayahnya itu kabur membawa semua uang ayahnya. Orang itu tidak bisa ditemukan dimana-mana, meskipun ayahnya sudah melapor ke kantor polisi.

__ADS_1


__ADS_2