
Keadaan meja makan terlihat ramai dengan berbagai macam jenis makanan, tetapi tidak ada yang bersuara diantara Gauri, Caraka dan kakek neneknya. Gauri merasa sangat canggung dan hanya bisa sesekali melihat ke arah Caraka. Caraka pun memberikan sinyal kepada neneknya untuk mengatakan sesuatu karena suasana ini terasa canggung.
Fely yang langsung menangkap sinyal Caraka kemudian membuka pembicaraan. Fely sebenarnya seseorang yang aktif berbicara jika dibandingkan Caraka dan Surya. Saat ini dirinya juga pasti sudah tidak sabar ingin banyak bertanya kepada Gauri.
"Udah lama saling kenal sama Caraka tapi kok kita baru bisa ketemu sekarang ya?" tanya Fely tersenyum lebar.
"Iya, Caraka nih ga pernah ajak aku kesini," ucap Gauri melirik Caraka.
"Waktunya selalu ga tepat Nek, mau ajak Gauri kesini." Caraka mengoperkan makanan kepada Gauri.
"Ah pokoknya nanti lagi harus sering main kesini ya Gauri, Nenek suka kesepian kalo Caraka sama kakeknya ga ada dirumah," ucap Fely hangat.
Kakeknya Caraka benar-benar mirip dengan cucunya, selain garis wajah mereka yang sama bahkan sifat mereka pun sama. Sedari tadi Surya hanya menanggapi obrolan seperlunya, tetapi terlihat memperhatikan dengan baik apa yang dibicarakan Fely. Persis seperti Caraka yang selalu memperhatikan apa yang dibicarakan Gauri meskipun tidak banyak bereaksi.
Sorot mata mereka melihat seseorang yang disayanginya pun sama. Sebuah sorot mata yang dalam dan hangat, tidak heran jika hubungan pernikahan kedua orang ini bisa bertahan selama ini dan masih memiliki banyak Aura romantis antara keduanya. Caraka benar-benar berada dalam keluarga yang penuh cinta.
Setelah makan malam bersama kini Gauri diajak Fely melihat beberapa tanaman hias favoritnya di taman belakang. Caraka pergi mandi sebentar, sedangkan Surya berada di depan tv menyaksikan acara formula one favoritnya. Di rumah sebesar ini rasanya lebih sepi di malam hari karena semua orang memiliki kegiatan mereka masing-masing.
Semua pekerja diizinkan pulang sehingga yang berjaya malam disana hanya satpam dan Mbak Mimin sesekali. Mbak Mimin diperlukan menginap untuk memasak jika ada acara yang diadakan dirumah. Namun, makan malam hari ini spesial karena Fely sendiri yang memasaknya bukan Mbak Mimin.
Gauri dan Fely banyak bercerita satu sama lain di taman belakang. Fely menceritakan bagaimana Caraka yang sekarang banyak sekali berubah semenjak bertemu dengan Gauri. Dahulu Fely sempat khawatir jika Caraka tidak akan memiliki teman karena kepribadiannya yang terlalu pendiam.
Untung saja Caraka bertemu dengan Bimo, Mike dan Bagas yang membawanya juga bertemu dengan Gauri. Saat kecil dulu Fely terbiasa memaksa Caraka untuk pergi berlatih berenang. Hal itu dirinya lakukan agar Caraka lebih banyak bersosialisasi. Karena tidak memiliki adik ataupun kakak, waktu yang Caraka habiskan lebih banyak dengan orang dewasa.
"Tapi bukannya Kak Caraka udah temenan sama Kak Bimo dari kecil banget ya Nek?" tanya Gauri.
__ADS_1
"Oh iya mereka udah berteman sejak sangat kecil sekali .... "
"Bimo itu ya sejak kecil aktif sekali, kadang kurang cocok dengan Caraka yang diem aja anaknya jadi dulu Bimo banyak main sama teman-teman lain," ucap Fely sambil tertawa.
"Suka kasian tuh Caraka kalo ditinggal Bimo, diem aja gitu anaknya ... " lanjut Fely tertawa geli.
Gauri senang mendengar Nenek Fely menceritakan masa kecil Caraka yang belum banyak diketahuinya. Caraka bukan tipe orang yang banyak bercerita tentang dirinya, sehingga mendengar kisah Caraka dari orang terdekatnya membuat Gauri senang.
Tidak terasa hari sudah semakin malam, jika tidak pulang sekarang Gauri akan terjebak disana karena Fely tidak juga berhenti mengobrol. Caraka akhirnya memutuskan untuk mengantar Gauri pulang sebelum malam semakin larut.
"Yuk Ri, aku anter pulang udah malem besok ke kampus kan?" tanya Caraka.
"Oh aduh maafin Nenek ya ngajak kamu ngobrol terus, yaudah Ka anterin aman sampe ditujukan ya," ucap Fely.
"Aduh iyaa gapapa dong, kan jadi ada alasan buat besok-besok main kesini lagi ... " jawab Fely tersenyum hangat.
Gauri kemudian berpamitan juga dengan Surya sebelum pulang kerumahnya. Mereka lalu mengantar Gauri hingga pintu depan. Fely membuka kedua tangannya lagi hendak memeluk Gauri, lalu disambung dengan elusan lembut Surya di kepala Gauri. Gauri senang sekali karena diperlakukan dengan hangat dikeluarga Caraka.
"Gauri pulang dulu ya Kek, Nek," ucap Gauri tersenyum manis kepada keduanya.
"Hati-hati," ucap Surya singkat.
"Nanti kalo main kesini ga perlu ada Caraka nya juga gapapa kok, temenin Nenek." Fely melambaikan tangannya kepada Gauri yang kemudian masuk kedalam mobil Caraka.
Didalam mobil Gauri tidak berhenti tersenyum. Caraka yang sesekali melirik Gauri juga jadi ikut tersenyum dibuatnya. Tidak sia-sia rasanya Caraka mengajak Gauri makan malam dirumahnya hari ini. Caraka berhasil memuat hari ini menjadi hari bahagia untuk Gauri.
__ADS_1
Sesampainya dirumah Caraka membukakan pintu mobilnya untuk Gauri. Lalu disambut dengan senyum manis dan cantik khas Gauri. Selama beberapa saat keduanya saling menatap tanpa mengatakan apapun. Rasanya seperti mereka bisa saling mengerti satu sama lain meskipun tidak ada kata yang diungkapkan.
Telihat jelas dari mata Gauri kalau dirinya sangat bahagia hari ini, "Makasih ya ... hari ini happy banget pokoknya," ucap Gauri. Caraka hanya membalas dengan anggukan lembut dan senyuman hangat kepada Gauri. Caraka berjanji tidak akan kembali membuat wajah bahagia ini bersedih lagi. Sudah cukup rasanya Caraka membuat Gauri kecewa selama ini.
"Besok ke kampus tapi aku gabisa nganter gapapa?" tanya Caraka mengeluh lembut kepala Gauri.
"Kan emang ga janji mau anterin ... gapapa aku berangkat bareng Kak Aura aja," ucap Gauri menatap dalam Caraka.
"Aura kan cuma sampe cafe?" tanya Caraka lagi.
"Didepan cafe bisa naik bis kok Kak."
Karena tidak mau menjadi perbincangan tetangga, Caraka pun pamit pulang karena sudah terlalu malam. Setelah Caraka pergi, Gauri pun masuk kedalam. Seperti tembakan Gauri, Aura pasti sudah tidur jam segini. Sebelum naik ke kamarnya Gauri sempat duduk dulu sebentar untuk kembali memikirkan semua yang terjadi hari ini.
Hanya ada hal-hal bahagia, membuat Gauri menjadi sedikit cemas. Ada yang bilang jangan terlalu bahagia nanti bisa terjadi hal buruk yang tidak terduga. Tidak mau memikirkan hal yang belum tentu benar adanya, Gauri pun cepat-cepat mandi dan pergi ke kamarnya.
Keesokan paginya Aura memperhatikan Gauri yang masih senyum-senyum sendiri. Sepertinya kebahagiaan kemarin masih tersisa pada Gauri. Aura menyiapkan sarapan untuk tidak orang hari ini. Gauri yang kebingungan hanya melirik tajam kepada Aura.
"Ini kok tiga? satu lagi siapa?" tanyanya kepada Aura yang dengan tenang menyiapkan sarapan.
"Oh, untuk Bagas," ucap Aura santai seperti ini adalah hal yang biasa mereka lakukan.
Bagas memang beberapa kali ikut sarapan dirumah mereka, tetapi hari ini pertama kalinya Aura menyiapkan secara khusus untuk Bagas.
Awalnya Gauri curiga dengan hubungan keduanya. Namun, jika dipikir lebih dalam mereka berdua memang cocok. Keduanya sama-sama dewasa, terlebih lagi dua orang ini adalah support system Gauri. Sehingga dari curiga Gauri justru merasa bahagia jika mereka benar memiliki sebuah hubungan bersama. Gauri siap menjadi pendukung mereka untuk segera meresmikan hubungannya.
__ADS_1