
Ibunya Mike menyambut Bimo dengan ramah. Karena sudah beberapa kali bertemu kini dirinya langsung bisa mengenali Bimo. Sambil berjalan masuk Bimo memberikan bingkisan dengan alasan pemberian dari yayasan untuk orang-orang yang berada dibawah pengawasan yayasan. Ibunya Mike sempat menolak karena sudah banyak yang diberikan yayasan untuk dirinya. Tetapi Bimo memaksa ibunya Mike untuk menerimanya.
Melihat ibunya Mike yang terlihat lebih baik dari sebelumnya, Bimo pun bertanya, "Obat-obatannya masih rajin diminum kan bu?"
"Oh pasti rajin diminum, saya tidak mau mengecewakan anak saya yang dulu berjuang demi saya sembuh."
"Kalo kontrol ke dokter masih kan?" tanya Bimo memastikan ibunya Mike masih rutin memeriksakan kondisinya ke dokter.
"Masih kok, tidak pernah terlewat," jawab ibunya Mike tersenyum tipis.
Bimo cukup lega mendengarnya, tetapi karena dirinya masih ada pekerjaan di kantor dan tidak mau mengganggu waktu istirahat ibunya Mike dirinya pun pamit pulang. Sambil menggenggam tangan Bimo ibunya Mike sangat berterima kasih karena sering mengunjunginya. Juga menitipkan ucapan terima kasih kepada pihak yayasan yang selama ini membantunya.
__ADS_1
Caraka masih menunggu Bimo keluar dari tempat tinggal ibunya Mike dari dalam mobilnya. Tidak lama Bimo pun keluar dan memberikan isyarat bahwa ibunya Mike baik-baik saja. Bimo yang sudah menyelesaikan tugasnya berjalan menuju mobil Caraka, "Udah beres ya, gue langsung balik kantor lagi nih," ucapnya. "Thank you Bim, entar pulang lo kerja gue traktir makan," Caraka berjanji kepada Bimo. Bimo pun langsung kembali ke kantor dengan menaiki motor kesayangannya.
Hari ini ada rapat di sekre BEM, rencananya bahkan dekan juga akan hadir jadi diharapkan semua anggota bisa hadir. Gauri cepat-cepat menyelesaikan tugasnya lalu pergi ke sekre karena waktunya sudah mepet. Gauri sampai harus berlari menuju gedung yayasan untuk menuju sekre BEM. Tidak disangka dibelakang Gauri yang berlari ada seseorang yang berlari juga.
Gauri berhenti tepat didepan lift yang baru saja tertutup. Tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang yang berlari dibelakang Gauri tadi. "Duh, cape banget gue lari-larian dari kelas mana gedung gue jauh banget lagi ... ya ga Ri?" ucap Satrio sambil mengatur nafasnya. Yang dari tadi berlari dibelakang Gauri ternyata Satrio yang baru keluar dari laboratorium karena ada praktikum dari pagi. Bahkan tasnya pun belum sempat dia tutup saking terburu-burunya. "Ngagetin tau ga sih Kak Satrio," kesal Gauri yang otomatis menggerakkan tangannya menutup seleting tas Satrio lalu masuk kedalam lift.
Didalam lift Satrio masih mengatur nafasnya sambil tidak menyangka Gauri yang biasanya jutek kepadanya bisa-bisanya menyadari tasnya tidak tertutup dan menutupnya. Sedangkan di waktu yang sama Gauri terlihat biasa saja hanya sibuk memainkan ponselnya. Satrio sedikit melirik Gauri lalu kembali membereskan barang bawaannya. Tanpa diduga keadaan didalam lift menjadi sedikit awkward menurut Satrio.
Untung saja semua tugas tiap tim hampir selesai sehingga bisa disajikan didepan dekan nanti. Termasuk hasil rekaman video yang telah diseselaikan oleh Gauri dan Satrio. Pihak tim nasional sudah menanyakan tentang itu karena akan ada acara penayangan bersama dan kerja salam lanjutan jika ini berhasil. Ada sebuah beban cukup berat dipundak Satrio.
Gauri memperhatikan bagaimana Satrio yang dia temui dibawah mengeluhkan tentang jauhnya gedungnya dan gedung yayasan benar-benar berubah ketika sudah menjadi ketua BEM. Karismanya muncul saat Satrio memberikan arahan kepada para anggotanya. Dipikir-pikir lagi Satrio sendiri sedang sibuk dengan projek nya bersama dosennya. Tetapi masih menyediakan waktu dan pikirannya untuk urusan BEM. "Ga nyangka tanggung jawab juga dia sebagai ketua, bener kata Kak Aura berarti," gumam Gauri dalam hatinya.
__ADS_1
Acara pengarahan dan pertemuan dengan dekan berlangsung selama dua jam. Banyak yang mereka bahas dan diskusikan bersama mengenai rencana kerja sama dengan tim nasional renang. Dekan terlihat puas melihat hasil kerja para anggota BEM, terutama Satrio sebagai ketua nya yang bisa membimbing anggotanya bekerja dengan baik. Gauri yang terhitung masih baru hanya bisa diam sambil mengamati apa yang mereka semua bicarakan.
Hari ini seperti biasa Bagas harus menjemput ibunya yang berada dirumah Gauri sejak siang tadi. Jadi karena waktu pulang mereka bersamaan Bagas pun sekalian menjemput Gauri di kampusnya. Bagas mengirim pesan kepada Gauri kalau dirinya sudah menunggu didepan. Gauri yang membaca pesan itu langsung turun kebawa, karena kegiatannya hari ini sudah selesai.
Dijalan Bagas menanyakan hasil liputan Gauri di acara kejuaraan kemarin. Gauri pun berkata kepada Bagas kalau hasilnya bagus dan ada kemungkinan kalau pihak tim nasional akan melakukan kerja sama lanjutan dengan kampusnya. Bagas turut senang mendengar itu, tetapi ada hal lain yang membuatnya penasaran. "Cowo yang bareng sama kamu waktu itu siapa Ri?" tanya Bagas penuh curiga. "Oh itu senior gue, dia ketua BEM di kampus," ucap Gauri to the point.
Padahal Bagas sudah menduga kalau itu adalah pacarnya Gauri. Bagas tidak mau adik sepupunya itu terusĀ memikirkan Caraka yang entah sekarang kabarnya bagaimana. "Gue gamau ya lo gabisa move on terus mikirin terus si Caraka," tegas Bagas memperingati adik sepupunya. Gauri berkata kalau Bagas tidak perlu khawatir, sekarang ini fokusnya adalah menyelesaikan kuliahnya dengan aman tanpa gangguan. Jadi dirinya sama sekali tidak berfikir tentang memiliki hubungan dengan siapapun sekarang.
Sesampainya dirumah terlihat ibunya, Sinta dan ayahnya sedang berdiskusi. Tidak biasanya mereka seperti ini. Sepertinya ada sesuatu hal serius yang mereka bicarakan. Mereka sampai tidak menyadari kedatangan Gauri dan Bagas. Karena tidak mau mengganggu, Gauri dan Bagas langsung masuk ke ruang makan. Gauri mencoba mencari Alan tetapi tidak terlihat ada dimana pun. "Apa mereka ngomong Alan ya? Alan ilang?" gumam Gauri dalam hati dengan panik.
Tidak lama Alan datang dari pintu belakang sambil membawa bola sepak. Alan ternyata baru pulang dari latihan sepak bola dengan temannya, tetapi karena dari luar melihat orang tuanya sedang serius mengobrol Alan memutuskan untuk masuk lewat pintu belakang. Gauri penasaran dengan apa yang mereka sedang diskusikan. Sepertinya diskusi ini cukup alot, bahkan ayahnya saja yang biasanya belum pulang ini sudah ada dirumah. "Apa ini berhubungan dengan bisnisnya Ayah?" ucap Gauri dalam hati khawatir.
__ADS_1