
agam,lili,audi,karin dan juga rara akhirnya pulang lebih dulu,karena menurut mereka anak kecil tidak baik lama lama di rumah sakit.
dan mereka juga harus mempersiapkan kepulangan tata dan buah hatinya.
di ruang rawat tata mereka sedang mengobrol banyak hal,lain dengan tata ia hanya tidur bersama sang buah hatinya.
"lex apa kau sudah mempersiapkan nama untuk putramu"tanya ayah abraham.
"sudah yah"jawab alex
"bagus lah kalau begitu"ucap papa angga
"kau tidak ingin memberi tau siapa nama putramu ini"ucap mama naumi
"aku tidak akan memberi tahu,nanti saja itu suprise"ucap alex.
"baik lah kalai begitu"jawab bunda alia.
tak lama dokter erika datang dengan seorang suster.
"selamat sore tuan nyonya"ucap dokter erika.
"eh sore dok"jawab bunda alia yang terkejut.
"maaf tuan dan nyonya saya menggu kalian"ucap dokter erika yang merasa tidak enak dengan sang pemilik rumah sakit.
"tidak apa apa dok"jawab ayah abraham.
"apa kau ingin memeriksa tata"tanya mama Naumi.
"benar nyonya"jawab dokter erika.
saat dokter erika melihat tata yang tertidur ia tidak tega tapi ia harus memeriksanya karena infusnya juga sudah hampir habis.
"nyonya tata sedang tidur yah"ucap dokter erika.
"iya dok"jawab alex yang menghampiri sang istri
alex langsung membangunkan sang istri,sebenarnya ia tidak tega tapi bagai mana lagi ia harus diperiksa oleh dokter erika.
"sayang"ucap alex sambil menggoyangkan pelan badan tata
tata yang terusik tidurnya akhirnya terbangun.
"hemmmmm"hanya itu yang keluar dari mulut tata.
"sayang dokter akan memeriksamu"ucap alex dengan lembutnya
tata langsung tersadar dari tidurnya ia melihat sekeliling,dan benar saja disana sudah da dokter erika yang tengah tersenyum padanya.
dokter erika mendekat dan alex menjauh dari sang istri.
"maaf nyonya saya menggu tidur anda"ucap dokter erika yang tidak enak dengan tata.
"tidak apa apa dok,silahkan periksa saja dok"ucap tata
"naik lah nyonya"jawab dokter erika.
__ADS_1
dokter erika memeriksa semuanya dan suster melepas infusan yang tertempel di tangan tata.
setelah selesai dokter erika beralih pada alex.
"bagai mana dok"tanya alex
"nyonya sudah boleh pulang tuan,tapi tolong jaga pola makan untuk nyonya"ucap dokter erika.
"baik lah dok"jawab alex.
"lalu apa tata dan anaknya harus periksa setiap hari kemari"tanya alex.
"tidak tuan,nanti setiap sore setelah saya praktek saya akan kerumah nyonya tata untuk memeriksanya"ucap dokter erika
"baik lah dok kalau begitu"jawab alex.
"ya sudah tuan saya permisi,saya harus mengurus surat surat keluar nyonya tata"ucap dokter erika.
alex hanya menggukan kepalanya.
dokter erika pamit kepada semua keluarga.
alex langsung menghampiri tata.
"sayang ayo kita ganti pakan,kita siap siap untuk pulang"ucap alex.
"iya ta kamu ganti pakean dulu mamah sama papa keluar mengurus surat surat"ucap mama naumi.
"iya bunda juga harus keluar buat menelvon orang orang rumah untuk mempersiapkan kamar untukmu dan anak mu"ucap bunda alia.
"heyy ini sudah tugas kita nak jadi orang tua"ucap ayah abraham.
"iya nak,kami akan selalu ada untuk kalian terutama untuk menantu papa yang paling cantik"ucap papa angga sambil mengelus kepal tata.
Bunda alia terharu dengan ucapan papa angga,walau pun tata menantu keluarga mereka tapi mereka menganggap tata seperti anaknya sendiri.
"ya sudah kamu ganti pakean dulu kami keluar terlebih dahulu"ucap mama naumi.
"iya mah"jawab tata.
semua keluarga keluar dari ruangan tata tersisa tata,alex dan anaknya.
"sudah sayang ayo kita ganti pakean"ucap alex
tata mengangguk tanda setuju dengan perkataan suaminya itu,iya masih terharu dengan keluarganya itu.
"sayang,terimakasih"ucap tata yang sedang di bantu membuka pakaiannya oleh alex.
"terimakasih untuk apa sayang"tanya alex.
"semuanya"jawab tata.
alex bingung dengan jawaban tata.
"maksudmu apa sayang"tanya alex.
"terimakasih kau sudah mau nerima aku"ucap tata.
__ADS_1
"hey kenapa kau berterimakasih"ucap alex
tata tersenyum walau air mata haru menetes dari mata indahnya itu.
"terimakasih sayang kau sudah mau menungguku,dan maaf aku pernah melupakanmu"ucap tata yang menyesal dengan dirinya sediri.
ia sekilas mengingat masa lalunya yang pernah melupakan alex.
"sayang itu bukan salahmu"ucap alex.
"maafkan keluargaku juga"ucap tata.
"keluargamu tidak salah apa apa sayang"ucap alex.
"aku merasa bersalah sayang karena aku pernah menikah dengan laki laki lain"ucap tata sendu.
"aku pun sama sayang"ucap alex.
"maafkan aku sayang aku tidak bisa menjagamu,sampai sampai aku lalai kau bisa pergi dariku"ucap alex.
"maafkan aku...hiiik... hikkkk..."tangis tata pecah.
alex yang melihat istrinya menangis langsung memeluk tata.
tata sudah tak sanggup menahan tangisnya,tangis tata pecah di dalam pelukan suaminya itu.
"sudah sayang tidak apa apa,itu sudah berlalu,yang penting sekarang kau sudah bersama ku"ucap alex.
"terimakasih sayang kau sudah mau menerima rara seperti anakmu sendiri"ucap tata yang masih berada di dalam pelukan alex.
"sayang bagai mana aku tidak bisa menganggap rara seperti anak ku sendiri,dia lucu dan cantik seperti kamu"ucap alex.
"dia sangat mirip dengan mu waktu dulu,saat aku melihat rara aku seperti melihat mu waktu kau kecil dulu sayang"ucap alex.
"sungguh"tanya tata sambil meliah wajah tampan alex.
"iya sayang"jawab alex.
"sudah jangan menangis lebih baik sekarang kamu cuci muka biar mata mu tidak sembab karena mengais,nanti yang lain mengira aku menganiaya kamu lagi"ucap alex bercanda agar sang istri bisa tersenyum kembali.
tata yang mendengar lelucon alex langsung mencubit pinggang alex.
alex yang mendapat cubitan pun meringis kesakitan
"sayang sakit"ucap alex sambil mengelus pinggang ya yang kena cubit sang istri.
"siapa suruh kamu bercanda disaat seperti itu"ucap tata sambil tersenyum pada alex.
"tapi dengan cara ini kau bisa tersenyum sayang"ucap alex.
"aku tidak ingin melihat mu menangis seperti itu sayang"lanjut alex.
"ya sudah sayang aku mau cuci muka dulu"ucap tata.
"ya sudah ayo aku antar"ucap alex sambil menurunkan tata dari tempat tidurnya.
alex memapah tata masuk ke kamar mandi,setelah sampai di kamar mandi tata masuk sendiri sedangkan alex membereskan barang barang yang akan mereka bawa pulang.
__ADS_1