
"FRANSSSS SS SS SS!!"
"Astaghfirullahalazim byy, kenapa teriakk? S nya pake putus nyambung pulaa."
"Hehe, pake baju napa sii!"
"Baru siap mandii, panass, ntar keringetan. Kalau aku keringetan nanti pas mo pigi ganti baju lagi. Kan capek nanti kamunya nyuci baju."
"Gak usah ngeles, pake baju buruann."
"Biar impas sama-sama gak pake baju aja gimana?"
"Mau gue tampol lu?" Frans tertawa, bukannya pakai baju ia malah menghampiri Alika yang berada di atas kasur.
"Jangan deket!"
"Geer banget, siapa yang mau deketin lu."
"Dih dih!"
"Pake baju pranssuss, ntar gue buang noh baju lu yang selemari itu."
"Buang beli lagi, tapi sayang uangnya."
"Sayang uang atau sayang aku?" Tanya Alika.
"Oh ya jelas uang."
"Astaghfirullah, sad." Frans tertawa.
"Kamu sama uang itu sama-sama kebutuhan aku. Bedanya, uang gak berbody kamu berbody."
"Istighfar lagi ya, Alikaa." Frans cengengesan.
"Pake bajuuuk buruann!"
"Iya iyaa, bawel!" Frans bangkit, ia menuju lemari lalu mengambil satu baju kaos oblong warna hitam.
"Dah ni."
"Okeee." Alika mengeluarkan kepalanya dari selimut.
"Udah beberapa bulan nikah, aku buka baju aja gak mo liat. Padahal kan wakt—"
Alika menutup mulut Frans. "Istighfar prensusss!"
Frans melepas paksa lalu tertawa, "kamu tu ya. Pas pacaran aja kalem nya na'udzubillah. Giliran udah nikahh–"
"Terusss? Kamu nyesel gitu?"
Frans menoleh ke arah Alika yang terfokus pada televisi, "kamu peemes? Gak kek biasanyaa ngamuk mulu."
"Siapa yang ngamuk??"
"Tetangga kita, by." Alika tertawa kecil.
"Makin cantik aja kamu tiap hari. Mau makan apa? Laper gak?"
"Nggak."
"Mau seblak?"
"Nggak."
"Salad buah?“
"Nggak."
"Es krim?"
"Nggak."
"Maunya apaa kamuu, hmm??"
"Oh aku tauu," Alika menatap Frans.
"Mau dede bayi?"
"Ngacooo!" Frans cengengesan.
"Kamu marah gak si, byy?"
"Jawab duluu pertanyaan tadii."
"Pertanyaan mana? Ohh tadii?" Alika mengangguk.
"Ngapain aku nyesel coba? Malah aku beruntung banget punya kamuu, beruntung banget bisa dapetin cewek bawel kayak kamu."
"Uwujimayuu."
"Sok punya maluu," ledek Frans.
"Tampol juga ni ntar!" Frans cengengesan, ia mendekatkan diri ke Alika.
Menyandarkan kepala Alika di bahunya kemudian ia elus dengan lembut.
"Nanti dateng gak ke party bang Febri?" Tanya Alika.
"Gak mungkin gak datang, byy. Bisa di amuk sama bang Febri ntar kalau gak datang."
"Pake baju apaaa?"
"Terserah kamu. Pake baju karung bisa, pake baju daun juga bisaa."
"Boleh juga tuhhh, baju karung."
Frans langsung menatapnya heran, Alika tertawa melihat ekspresinya.
"Rusak reputasi ku kamu suruh pake baju karung."
"Haha, aku bayangin tau kamu ke acara nikahan bang Febri pake baju karung."
"Tetep ganteng pastinyaa."
"Iyainnnnn." Frans nyengir kuda.
"Aku udah siapin di cgrvls, nanti ambil yaa." Frans mengangguk.
"Ehh, iyaa, kamu gak kerjaa??"
"Ini sabtu."
"Libur kah??"
"Beberapa libur. Toh juga aku pemiliknya, jadi terserah aku lah mah masuk apa nggak."
"Gini nih, contoh pemimpin yang meresahkan." Frans cengengesan.
"Tadi kamu nawarin makanan kan, by?" Frans mengangguk, "kamu mau apa??"
"Seblak. Ayo beli seblakkk."
"Masih pagi, byy. Sakit perut entarrr!"
"Nggakkk, janji beli yang nggak pedesss."
"Gak percaya aku, mana bisa kamu beli seblak yang nggak pedes. Ganti yang lainnn!"
"Es krimmm."
"Mau sakit gigi? Pagi pagi kok makan es krim."
"Prensusss, tadi lu yang nawarin itu semua ya. Giliran gue mau kenapa kagak diijinin?!"
"Itukan cuma modus doang."
"Astaghfirullah, luar biasa lakikkku!" Frans nyengir.
"Yang lain aja, mau apa?"
"Lontong sayurr."
"Okeee, besiaplah."
Alika keluar dari selimut. "Gini ajaa, dah yuk."
"Minta di smackdown lu? Apa-apaan keluar pake hotpants sama baju oblong doang. Gantii!"
"Ish, ribet byy."
"Gantiii."
"Yaudah iyaaaa." Alika mengambil bajunya kemudian berganti ke kamar mandi. Ia keluar memakai sweater dan celana panjang.
"Nah kan lebih uwaw, ayo!" Ajak Frans.
"Kamu pake celana pendek doang?" Frans mengangguk.
"Gak gak ganti! Nanti cewek cewek melotot liatnyaa."
"Kan ada kamu yang marahin."
"Mau aku mati karena darah tinggi?"
__ADS_1
"Istighfar sayang kuuu, ngomong apa siii?!"
"Ya makanyaaa gantii!" Frans mendekat, ia mengecup kening Alika lalu pergi mengambil celana panjang dan menggantinya.
Alika membelakangi, jadi tidak terlihat.
"Dah ni, ayok." Frans menggenggam tangan Alika.
Mereka menuju garasi untuk mengambil mobil. Frans membukakan pintu untuk Alika kemudian masuk mobil di kursi pengemudi.
"Bismillahirrahmanirrahim." Frans mulai mengemudi.
"Carii lontong sayur dimana, sayang?"
"Nggak tauuu." Alika nyengir.
"Yaudah kita cari dulu."
"Ehh, btw, kea ada yang aneh dehh." Alika menatap Frans.
"Apanya yang aneh?"
"Kamu emosional dari tadi, terus tiba-tiba pengen lontong sayur. Kamu ngidam?"
"Hahh? Nggakkk."
"Tapi firasat ku iyaa."
✾✾
13.40
"Assalamu'alaikum, sayangg."
"Wa'alaikumsalam."
Brukk!
Nara langsung melompat ke pelukan Khansa. Khansa tertawa melihat ulah Nara, ia meletakkan tas nya lalu membawa Nara ke kamar.
"Kenapa tiba-tiba meluk?"
"Gapapa, hehee."
Sekilas Khansa menatapnya curiga, "gapapa seriusss. Emang gak boleh meluk laki ndirii?"
"Gak mungkin gak boleh, sayangg."
Nara buang muka ketika melihat Khansa membuka kemejanya dan mengganti dengan baju kaos. Setelah berganti baju, Khansa menghampiri Nara yang asik rebahan.
"Sayang," Nara menatap Khansa.
"Udah sholat?" Nara mengangguk.
"Kamu?"
"Udahh, tadi di mushola dekat kantor."
"Em. Laper gak? Aku udah masak makanan kesukaan kamu."
"Masak apaa??"
"Sambel udangg terus ada sup ayam jugaa."
"Aihh, dah laper aku. Ayok!!" Khansa menarik Nara untuk menuju meja makan.
Setibanya disana, Nara meletakkan nasi dan lauk untuk Khansa. Khansa memakannya dengan lahap.
Sampai saat ini Khansa masih bingung, ada apa dengan Nara? Khansa meraih ponsel nya untuk menghubungi bodyguard utusannya.
"Makan duluuu, ntaran kek main hpnya!" Khansa pun meletakkan ponselnya dan kembali makan.
Tepat selesai makan, masuk notifikasi di ponsel nya. Bodyguard mengirimkan beberapa foto.
"Pantesannn manis banget kelakuannya. Abis ketemu mantan." Nara mengedipkan mata dua kali, seperti orang dongo.
"Nggak juga ish! Ketemunya juga bukan berduaannn!"
"Nggak berduaan tapi empat mata, ya." Khansa menuju ruang keluarga.
"Dihh. Nggakk! Aku ketemu Wisnu bareng Echa, Dipsi juga Ciaa. Mana ada berduaaann," Khansa tidak merespon.
"Yaudah terserah, yang penting aku dah jujur." Nara pergi menuju kamarnya.
"Laki ngambek bukannya di bujukin malah ngambek balikk." Khansa kesal, ia membiarkan Nara pergi.
Semenit kemudian Khansa mengejar Nara ke kamar. "Apaaa?!"
"Galak amatt, buk. Berdosa!" Nara mengelus dada.
"Widihh ngambek beneran dong."
"Bodoo!"
"Ngapain ketemu Wisnu?!"
"Itutu ketemu gak sengajaa, dia tiba-tiba datang."
"Terus ini apa? Foto lagi ketawa? Bahagia banget keknya ketemu Wisnu lagi."
Nara menatap kesal Khansa, "buat emosi kamu ya! Mana ada aku bahagia. Itu aku ketawaa sebelum Wisnu datang, gara-gara Cia sama Dipsi ngelawakk."
"Ehmm.. terus ini? Kenapa Wisnu natap kamu."
Nara menatap Khansa lagi, "kamu cemburu banget, ya?"
"Nggak. Nanya aja!" Nara tertawa karena Khansa kesal.
"Cowok mana yang gak cemburu liat wanitanya di tatap kek gini? Liat tatapannya, masih berharap banget kamu balik ke dia."
"Nggak bakal aku balik ke dia. Aku kan sama kamu sekaraangg. Sama cowok posesif yang selalu nyempetin waktu meskipun sibuk."
"Nyehh. Besok kalau ketemu dia lagi lapor ke aku."
"Kenapa gituu??"
"Beberapa pukulan bisa nyadarin tu anak kalau kamu punyaku!"
"Aw aw.. kamu cemburu gemesin banget yaaa."
"Dahlah, aku mo ngegame."
"Dih dih!! Baru balik punnn, istirahat kenapaa sii? Game lebih penting dari kesehatan?!"
"Nggak juga."
"Sumpah ngeselin! Au ahh!"
Cup!
"Lopyuu."
"Mau bujuk kek gitu, gak mempan!"
Khansa tertawa, ia mengecup pipi Nara lagi.
"Lopyuu, sayang. Aku main game dulu ya, siapa tau ketemu selingkuhan virtual."
"Tunggu tungguuu."
Nara berbalik, ternyata Khansa belum pergi.
"Tunggu apa??"
"Mau cari selingkuhan virtual?" Khansa mengangguk.
"Pilih dulu ini." Nara menunjukkan beberapa video orang memotong-motong dan membelah pisang.
Khansa bergidik ngeri melihatnya.
"Nggak jadi kok, sayangg. Aku gak main game lagi."
"Promise?"
"Nggak."
"Astaghfirullah!!"
✾◕‿◕✾
Malam ini adalah malam bahagianya Danial. Ia berhasil mempersunting wanita pilihannya setelah beberapa tahun berpacaran.
Semua turut bahagia termasuk Yesha dan Boy, karena beberapa bulan setelahnya mereka akan menikah.
Oiya, ini dua tahun setelah direstuinya hubungan Boy dan Yesha.
"Yuhuuu, akhirnya bang Febri punya nyaliii." Ledek Branden.
"Anak laknat!" Branden cengengesan.
"Gara-gara lu lama bang, si Echa juga lama di sah-in."
"Sengaja sih. Masi bocil diaa, ntar kasian Boy kalau ngesah-in bocil."
__ADS_1
"Dasar abang durjana!!" Yesha hampir menendang Danial. Kalau bukan karena sedang menggendong anak Diva dan Branden, ia sudah memukul Danial.
"By, kayaknya kamu pengen mukul Danial deh."
"Emang iyaa, kenapa?"
"Kalau gitu, sini baby nya biar aku yang gendong. Kamu pukulin aja Danial, wakilin aku."
"Gak gue restuin mampussss lu!"
"Bodo amatt!!" Boy meledek sambil menggendong baby nya Diva dan Branden.
"Esseee, mama papa muda gercep bangett datangnyaa." Ledek Alika ketika bergabung.
"Lu berempat aja yang kelamaan." Cibir Branden.
"Papa mudanya sensian."
Mereka tertawa mendengar ledekan Khansa.
"Mana anak lu, Dip?" Diva menunjuk ke arah Boy dan Yesha.
"Duhhh, kasiannya yang belum sah."
"Bacottt." Mereka tertawa lagi.
"Kak Hanin nya mana, bang?" Tanya Khansa.
"Mo ngapain lu?"
"Nikung." Danial menunjukkan kepalan tangannya, Khansa cengengesan.
"Eh iya, baru sadar. Kak Hanin mana?" Tanya Yesha.
"Hanin ke kamar mandiii bentar."
"Oh."
"Ntar kalau ada acara hiburan gue mau ngibur." Ujar Branden.
"Gak usah ngisin-ngisinin!" Branden nyengir.
"Mo ngapain emang lu?" Tanya Alika.
"Pirasat gue kagak enak jadinya," cibir Khansa.
"Lu gak bakal macem-macem kan, coyy?" Tanya Boy yang masih menggendong babynya.
"Gak lah. Istighfar deh lu pada! Su'udzon ajaa!"
"Ya kali ajaa."
"Bang Repin sama Ikhsan gak datang?" Tanya Khansa.
"Kayaknya nggak, tadi pagi gue telepon mereka masih di tempat asal." Mereka berohria.
"Apa pulak, kami datang nii!!" Ikhsan dan Revin muncul bersama gandengannya.
"Yahaa!"
"Congrats bro ganss." Danial tersenyum.
"Thank you udah datanggg."
"Sanss. Mana bini lu?"
"Noh."
"Eh udah ramee."
Hanindya Aztyka bergabung. Dia lah wanita yang di persunting Danial.
"Aiiii, kak Hanin cantik bangettt." Mereka takjub.
"Adek iparnya juga cantik," sahut Yesha dengan sangat pede.
"Dih dihhh!" Yesha meletakkan tangannya di bawah dagu dengan bangga.
"Kelamaan di sah-in jadi ginilah." Yesha langsung menatap kesal Ikhsan, mereka tertawa kecil melihatnya.
Mereka terus berbincang dan bercanda tawa. Sampai akhirnya acara hiburan.
"Lu jadi ngibur kagak?" Tanya Khansa.
"Jadi lahh, ayokk!" Ajak Branden. Khansa dan Branden menuju tempat bernyanyi.
"Frans gak ikut?" Tanya Hanin.
"Nggak kak, gue lagi kurang sehatt."
"Alesann!" Khansa yang balik menarik Frans, Ikhsan dan Revin.
"Sumpah gue dredeg. Mo ngapain mereka bertiga?!" Tanya Danial.
"Tunggu aja."
"Ehh, lu kagak ikut Boy?"
"Kagakkk, ntar malu-maluin bisa di pecat dari daptar calon mantuu gue."
"Iya pula."
Sekarang mereka terfokus ke arah lima cowok yang sedang bertingkah. Benar-benar bertingkah.
"Ehm.. Miisii, jadi kami berlima mau mempersembahkan lagu untuk Bang Danial sama Kak Hanin. Selamat menikmati."
Musik terputar.
"Syalandd, dangdutan!!" Mereka terkekeh. Belum lagi bernyanyi, kelima orang di depan sudah buat ngakak satu gedung.
"Plis lahh, mereka kaga ada urat malu keknyaa." Cibir Nara.
"Satu gedung ni bukan cuma kita anjrottt, banyak rekan bisnis bokap Echa." Sahut Alika terkekeh geli.
"Laki gue bener-bener kaga ade malunye!"
Mereka terus melihat kelima pria itu yang hendak mulai bernyanyi.
"Buang saja masalah mu, janganlah ragu-ragu, ikut bersamaku." – Branden.
"Bukalah mata, lihat dunia, dan sadarilah." – Khansa.
"Tiada guna, hidup selalu, berduka cita." – Frans.
"Mari bergembira, hey. Gembira bersama, hey hey. Mari bergembira bersama." – Kompak.
"Buang saja masalah mu, janganlah ragu-ragu, ikut bersamaku." – Ikhsan.
"Bukalah mata, lihat dunia, dan sadarilah." – Revin.
"Tiada guna, hidup selalu, berduka cita." – Branden.
"Mari bergembira, hey. Gembira bersama, hey hey. Mari bergembira bersama." – Kompak.
"Kawaku biarkan pilu yang di hatimu menjauh." – Frans.
"ASEKKK!"
"Jangan kau biarkan risau buat hidupmu jadi kacau." – Ikhsan.
"Bebaskan rasa keluh dan kesah di dalam jiwaa." – Revin.
"Biar saja orang berkata apa. Yang penting kiita biiisa tertawa." – Branden.
"Walau hidup ini susah, namun jangan kau menyerah, meraih masa depan cita bahagia." – Khansa.
"Buang saja masalah mu, janganlah ragu-ragu, ikut bersamaku." – Ikhsan.
"Bukalah mata, lihat dunia, dan sadarilah." – Frans.
"Tiada guna, hidup selalu, berduka cita." – Revin.
"Mari bergembira, hey. Gembira bersama, hey hey. Mari bergembira bersamaaa." – Kompak.
"HOBAHHH." – Branden.
"Let's have fun together. Let's have fun together. Let's have fun together. Let's have fun together."
"Hey! Let's have fun together. Let's have fun together. Let's have fun together. Let's have fun together."
Lagu mereka selesai. Tepuk tangan bergemuruh diiringi tawaan para penonton.
Dengan bangga mereka tersenyum senang. Setelah mengucapkan terimakasih, mereka kembali.
"Cakep juga suara gue." Ujar Branden.
"Pedeannn bangett luu!"
"Astaghfirullah, sayaangg."
"Hahahaa!"
^^^Lagu Ridho Rhoma –^^^
__ADS_1
^^^Let's Have Fun Together.^^^