Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 96 Dagang cendol di KUA


__ADS_3

19.00


"Dek, Fi. Kamu belum makan dari tadi, makan dulu nih"


"Fiana udah makan bang, tadi pizza"


"Satu potong doang kamu makannya. Cepet makan dulu"


"Mau abang suapin?" Yesha menggeleng sambil cengengesan.


"Abang gak keluar main?"


"Gimana abang mau keluar main kalau kamunya gak ada keluar kamar. Mama papa khawatir itu sama kamu"


"Serem tau kalau abang kamu kamu-an" Danial menggelengkan kepalanya mendengar respon Yesha.


"Tadi abang ketemu Boy, dia...."


"Dia?"


"Dia cabut dari rumah"


"Hahh?? Di usirr?? Sebegitu bencinya om Bastian sama papa?"


"Nggak di usir, tapi dia cabut atas kemauan sendiri. Boy bilang bukan cuma karena masalah ini, Boy capek jadi bonekanya om Bastian. Dia capek nurutin kemauan om Bastian"


"Terus, kalau gini gimana? Bukannya restu semakin jauh??" tanya Yesha sambil menutup mukanya dengan selimut.


"Boy masih usaha, jangan nethingan"


"Boy serius sama kamu, dia udah tau ini bakal terjadi. Selama di New York dia kerja keras, bukan cuma belajar. Dia disana jarang nongkrong, bahkan kerja paruh waktu demi ngumpulin duit"


"Bang, duit doang tapi gak punya restu sama aja susah"


"Abang udah bilang gitu ke dia, dan Boy jawab dia bakal cari cara untuk dapetin restu itu."


"Jadi sekarang, kamu makan. Jangan nyiksa diri!"


"Gak laperr"


"Makann cepat atau abang rusakin pintu biar mama papa bisa masuk?!" Yesha menatap sinis Danial lalu mengambil piring dari tangan Danial.


"Abang juga bakal berusaha biar kamu di restui"


"Caranya?"


Tok.. Tok..


"Fia, jangan gini nak. Ayo keluar yok, makan. Kamu belom makann dari tadii" bujuk mamanya.


"Fia, dengerin papa. Kamu tau kan Bastian rival papa, coba kamu bayangin kalau kamu nikah sama Boy tapi karena rasa benci Bastian sama papa kamu yang dapat kekerasan fisik. Papa gak mau itu terjadi, makanya papa larang. Kamu gak inget apa yang dia bilang, hm??"


Danial berfikir, "papa bener ca."


▪▪▪▪


"Morning baby"


"Gak usah sok maniss kamu, mau apaa?!" tanya Diva sinis pada suaminya.


"Astaghfirullah sayangg, kamu tu su'udzon ajaa yaaa" protes Branden sambil memeluk erat Diva.


"Isss mau cari cewek baru yaa??"


"Hm? Kok gituu?!"


"Ya kamuuu meluk erat aku gak bisa nafass, aku gak bisa nafas mati terus kamu cari cewek baru. Gitukaaaan?!"


"Su'udzon lagii, masih pagi loh sayang"


"Gak ada yang bilang siang"


"Galak amat cantikku"


"Ada maunya pastii?!"


"Kasih yang enak-enak kek pagi-pagii" Diva tersenyum smirk. "Lepas dulu"

__ADS_1


Branden melepas pelukannya, Diva mengambil gulingnya lalu memukuli Branden dari atas hingga bawah di atas kasur.


"Enakkann?!"


"Enakk darimanaaa, berdosa ini mah" jawab Branden kesal.


"Dahlah, bangunnnn"


"Sekarang??" tanya Branden.


"Besok sayangg!" Branden terkekeh pelan.


"Pms kamu?"


"Nggakk, aku emosi sama kamu. Udah sana mandiii, kuliah kann?"


"Iyaa, kamu gak usah masak ya. Kita sarapan di kantin" Branden langsung masuk ke kamar mandi.


Sedangkan Diva kembali merebahkan tubuhnya di kasur.


Drrt.. Drtt...


-- Ciah --


"Assalamu'alaikum ci.ah, ada affah?"


📞 "Waalaikumsalam lidah jamet. Lu dimana?"


"Dirumah, kenapa?"


📞 "Gapapa, cepat ke kampus"


"Ada apa?"


Tut tut..


Alika langsung mematikan panggilan.


"Stresss ni anakk"


Reflek, Diva melempar bantal ke arahnya kemudian bersembunyi di balik selimut.


"Kebiasaan tau gaasiii!"


"Heyy, kita udah sahh"


"Bodoamat, gak mau liat"


"Nanti malam ku unboxing ya" goda Branden.


"Gak bakal pulang aku!!"


▫▫▫


"Haiiiii"


"Hai hai taik, capek nunggu luu" omel Alika.


"Lah kenapa anjrit??" tanya Diva heran.


"Echa ngilang dari peredaran semalam, tadi bang Febri mau cerita, tapi dengan syarat semuanya ngumpul. Eh lu telatt"


"Berasa orang venting saya di tunggu" ujar Diva sambil mengibas rambutnya.


"Iya ya, si Echa kemanaa?"


"Kagak kuliah kah??"


"Nyariin gue?" Yesha muncul dengan kacamata hitam di matanya.


"Ngapain lu pake kacamata?!"


"Bengeb mata guee"


"Hah?? Kenapaa?" Belom sempat Yesha menjawab Danial datang, ia memberikan semangkuk mie ayam pada Yesha.


"Ada apaan dah? Gue dari tadi bertanya-tanya" ujar Khansa kepo.

__ADS_1


"Semua udah keciduk, hubungan Echa sama Boy diujung tanduk"


"Maksudnyaa?? Bokap--"


"Iyaa, udah pada tauu" jawab Danial memotong ucapan Branden.


"Yahhh, jadi gimanaaa?? Boy dimanaa?" tanya Nara.


"Boy masih usahaa" Mereka langsung menatap Yesha yang makan dengan santai.


"Udah gak makan berapa hari??"


"Lima belas jam, kalau diitung dari semalam sampe sekarang"


"Gilaa, auto tinggal tulang lu goblokkk" cibir Alika. Yesha diam sambil memakan mie ayamnya.


"Pesan gue cuma satu ca," Yesha menoleh ke arah Revin.


"Jangan kabur dari masalah, setiap orang punya masalah, dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya."


▪▪▪


Semenjak keluar ke kampus, Yesha lebih suka keluar rumah dari pada di rumahnya. Ia keliling sendirian sambil menikmati udara segar. Memakan semua yang ingin ia makan.


Dengan sukarela Danial menyodorkan kartu kreditnya pada Yesha, dan dengan senang hati Yesha mengambilnya.


Semua tempat Yesha datangi kecuali klub dan sejenisnya, Yesha tidak ingin menambah masalah lagi.


Sekarang pukul setengah empat sore, ia berada di kafe, tempat Boy kerja paruh waktu dulu.


"Putus sama Boy, nikah sama gue" Refleks Yesha menoleh ke belakang.


David tersenyum lebar di belakangnya, Yesha mendorong muka David. David pun mundur dengan senyum merekah.


"Buat lu" David memberikannya bunga.


"Gue belum mati, gak usah kasih bunga!"


David tidak merespon lagi, ia memilih duduk di depan Yesha. "Ck, kenapa lu disini sih?!"


Yesha beranjak pergi, David menahan tangannya. "Jangan pergi, plis"


"David--"


"Gue bisa buat lu bahagia juga ca, bokap nyokap gue juga bakal ngerestuin kita. Kasih gue kesempatan"


"Gak ada kesempatan kedua di kamus gue" Yesha menghempas tangan David lalu pergi dari kafe.


Yesha membawa mobilnya menuju desa, tempat dimana Boy menenangkan Yesha dari David dulu.


Tiba di desa, Yesha langsung menuju sungai biasa untuk mancing ikan. Yesha diam menikmati pergerakan ikan. Ia teringat dengan semua kenangannya disini.


"AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!" Yesha berteriak melepaskan keluh kesahnya.


Sungai memang cukup jauh dari pemukiman warga, bisa di pastikan warga tidak mendengar teriakan Yesha.


"Don't cry, baby" bisik seseorang dari belakang sambil memeluk Yesha.


Yesha berusaha melepasnya kemudian berbalik, "Boy?"


Boy tersenyum, ia mengelap air mata Yesha dengan jarinya. "Iya ini aku, Boy."


Yesha langsung memeluknya, Boy membalas pelukan Yesha.


"Jangan nangiss, sayangg."


"Aku rinduu" Boy mengeratkan pelukannya.


"Aku juga rindu sama kamu. Sabar yaa, kita pasti bisa lewatin ini"


"Aku bakal cari cara biar bisa dapet restu"


"Setelah dapet restu, kita langsung ke KUA"


"Ngapain??"


"Dagang cendol, sayang."

__ADS_1


__ADS_2