
Nara dan Wisnu pun masuk ke dalam sambil bergandengan.
"Pa ma" mereka tiba di ruang keluarga, Nara masih menunduk menatap ubin.
"Kenalin, ini pacar Wisnu. Nara" Nara mendongak.
"Assa--" ucapan Nara terhenti. Terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Benar-benar suatu rahasia yang besar.
Nara tak pernah menyangka, ternyata Wisnu....
Berbeda agama dengannya.
Nara melihat jelas kalung tanda salib milik ibu Wisnu. Nara melihat sekelilingnya.
Terdapat tanda salib dan juga lukisan orang non-muslim.
( Guys maap banget kalau salah penulisannya ini yang tentang non-muslim )
Tidak hanya Nara. Ketiga temannya yang berada di mobil juga terkejut.
"Halo?" Papa Wisnu mengulurkan tangannya. Nara tersadar.
"Nara om" Nara menyalami tangan mama papa Wisnu.
‘Anjirrr.. ini beneran? Naa? Lo mau nikah beda agama?’ Nara mendengar suara Diva melalui earpiece.
Nara diam agar tak menimbulkan kecurigaan, earpiece yang dipakainya tertutup dengan rambut.
Nara menyadari satu hal, mama Wisnu menatapnya dari atas kebawah. Dan tatapan itu sangat sangat intens.
"Duduk dulu nak Nara" suruh papa Wisnu.
"Iya om" Nara duduk.
"Mau minum apa Nara?" tanya mama Wisnu.
"Gak perlu repot repot tante"
"Ah nggak ngerepotin kok, tante bikinkan dulu ya"
‘Lah kan ada pembantu?’ itu suara Yesha.
Nara memperlihatkan pada mereka kalau mama Wisnu juga menarik Wisnu ke dapur.
"Nak Nara kamu disini aja ya. Om mau keatas sebentar"
"Iya om" jawab Nara sambil tersenyum. Papa Wisnu pun pergi.
‘Hooolll, beneran ini besar banget rahasianya na gila!!’
‘Lo tetep mau nikah na?’ tanya Alika.
‘Kagak la ogeb. Sumpah syok banget. Gue gak tau kalau Wisnu nonn!!’ jawab Nara pelan.
Nara mengingat waktu waktunya dengan Wisnu. Nara baru sadar.
Wisnu sangat jarang mengucapkan salam.
Lamunan Nara buyar ketika mendengar suara Wisnu.
"Ma.. Nara itu anak baik!! Mama lihat wanita dari segi apa sih?!" tanya Wisnu.
"Dari mukanya mama udah tau kalau dia itu miskin dan bisanya manfaatin harta kamu doang!!"
‘Miskin pala kau petak, harga diri kau juga bisa kita belik mak lampir!’ ceplos Alika. Nara tersenyum sekilas mendengarnya.
"Kamu gak liat? Dia culun, dia pakai kacamata. Gaunnya. Mama yakin itu gaun kw belinya di pasar loak"
‘Woi mak lampir anjingh!! Itu buatan gua bangsatt. Wah.. ngajak ribut’ kali ini Yesha.
"Make up-nya. Make up ketebalan Wisnu, dia menor!! Buka dong mata kamu!!"
‘Dip, lu mau gue bunuh ngemakeup gajelas?’ ujar Nara.
‘Eh anjirr itu mak lampir katarak woi. Lo itu cantik banget gilakk!! Itu MAK LAMPIR KATARAKK’ Diva ngegas dong.
__ADS_1
‘Dip bisa tuli noh si Nara’ ujar Alika.
‘Mon maap khilap! Kesel abis coy’ balas Diva.
Lagi lagi, Nara tersenyum sekilas.
‘Na, Lo mau samperin?’ tanya Yesha.
‘Yes! Why not?’
‘Aa na---’
"Halo tante"
"Kamu nguping?!" tanya mama Wisnu.
"Lebih tepatnya saya mendengar semuanya tanpa menguping"
"Mas Wisnu.. Nara gak nyangka sih mas sembunyiin hal besar kayak gini"
"Maksud kamu?" tanya Wisnu.
"Mas gak pernah bilang kalau kita beda agama" Wisnu diam terpaku.
"Ngg--"
"Kita hentikan disini ya?"
"Na.."
"Kita ibarat minyak dan air... Gak bisa bersatu"
"Na.." Wisnu menatap sendu Nara.
"Biar lah Wisnu! Dia itu beda agama, miskin juga! Kamu gak bakal bahagia sama dia!"
"Mamaa!!" Nara tersenyum miring.
Dia membuka tas selempang yang dipakainya. Nara mengeluarkan kartu namanya.
"Ini tante" Nara menyodorkannya pada mama Wisnu. Mama Wisnu menerima lalu melihat kartu nama itu.
"Tante pasti tau cgrvls kan? Nah, saya pemilik kafe yang di lantai atas"
"Oh iya baju ini, buatan teman saya di lantai dasar. Butik yang dibawah"
"Make-upnya juga di make up sama teman saya yang profesional, salon sebelah butik"
"Kacamata.." Nara melepas kacamatanya.
"Mata saya sehat sempurna, tanpa min atau plus. Kacamata ini kacamata fashion tante" Nara memakai kacamatanya kembali. Mama Wisnu hanya diam.
"Tante.."
"Lain kali, kalau mau hina orang. Perhatikan terlebih dahulu ya"
"Saya dan tante.... sepertinya lebih kaya saya"
Nara pergi.
"KURANG AJAR!!" bentak mama Wisnu mengejar Nara. Nara berhenti, mama Wisnu juga berhenti.
"Saya jago tarung tante. Kalau tante gak mau mati cepat. Sebaiknya.. jangan cari gara-gara" Nara tersenyum lalu benar benar keluar dari rumah Wisnu.
"Nara.. naraaaa" Wisnu ingin mengejar Nara, namun tangannya di tahan mamanya.
"Nggak ada pilihan lain, kamu mama jodohkan!!"
-
Disisi lain
"Naraaaaa huhhu" Crazy bacot berpelukan tepat di depan pintu mobil.
"Mau nangis gak usah ditahan na" Nara pun mengeluarkan air matanya.
"Sakit di bohongi. Sakit bangett hikss hikss.."
__ADS_1
"Kita ngerti kok perasaan lo" mereka masih berpelukan.
"Kita semua ngerti na, ngerti gimana rasanya. Lo boleh terpuruk, tapi gak boleh lama-lama. Ada kita disini. Kita selalu ada buat lo. Kapan pun dan dimana pun"
"Makasih.. hiks hikss.. gue beruntung punya kalian.."
- • ~ • -
Keesokan paginya
"Jadi gimana pertemuan kemaren?" Khansa datang menghampiri Nara yang sendirian di kantin.
Mereka hanya berdua.
Yang lainnya sedang ada kelas, sedangkan Diva, Yesha, dan Alika masih dirumah.
"Puas ya?" tanya Nara sinis.
"Sebenci itu lo sama gue?" Nara dan Khansa bertatapan.
"Gak juga" Nara memutuskan tatapannya.
"Sakit tau. Lo bayangin, dua tahun lebih gue pacaran sama dia, dan dia gak pernah jujur hal itu ke gue"
Khansa menatap Nara disebelahnya yang sedang mengaduk makanan.
"Sakit banget kan? Nangis bukan sesuatu yang kekanak-kanakan kok" Nara menatap Khansa.
Khansa melebarkan tangannya, menawarkan pelukan.
Nara pun memeluk Khansa sambil sedikit terisak.
"Nangis sekarang, tapi jangan nangis sesudahnya. Gue gak suka liat lo nangis" Khansa merasakan anggukan kepala Nara.
Dari kejauhan, Yesha memandang mereka berdua. Dia teringat dua tahun yang lalu ketika dirinya dijadikan taruhan dan Boy yang sukarela menawarkannya pelukan.
Yesha tersenyum membayangkannya, dia memilih pergi ke kelas daripada mengganggu dua sejoli itu.
Sedangkan Nara, beberapa menit kemudian tangisannya mereda. Nara melepas pelukannya. "Jelek banget lo isss! Gak usah nangis lagi lah" Khansa mengelap air mata Nara dengan bajunya.
"Ada tissue juga kenapa pake baju lu coba?" tanya Nara.
"Bodo amat" jawab Khansa.
"Ngeselin bangett" cibir Nara. Khansa cengengesan.
"Nah makan" Khansa menyodorkan satu baksonya pada Nara.
Nara membuka mulutnya, Khansa memasukkan bakso itu.
"Lo tau sejak kapan?"
"Gue sama Wisnu tetanggaan, dulu" jawab Khansa.
"Kenapa gak pernah bilang sih?"
"Udah pernah gue jawabkan. Gue gak mau lu makin benci sama gue. Gue tau lu gak suka sama gue, kalau gue kasih tau hal ini, lu bakal beranggapan aneh aneh, dan bakal mikir kalau gue penyebar fitnah"
Nara menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya di bahu Khansa.
"Gue baru sadar, kayaknya gue suka sama lo dari dulu"
"Apa?"
"Hah? Apa?" Nara menarik kepalanya dari bahu Khansa.
"Nggak lo tadi ngomong apa?" tanya Khansa.
"Ngomong apa?"
"Na jujur, gue gak denger tadi. Lo ngomong apaan?"
"Ih gue ngomong apa si? Gue gak ngomong apa apaa juga" Nara melihat jam tangannya.
"Gue ada kelas, gue duluan" Nara pergi.
"Na woi naa!! Nana dalemm!!" Nara tak berbalik.
__ADS_1
Pipinya memerah, 'gue ngomong apasih tadi?!'