Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 76 Pasar Night


__ADS_3

Disisi lain..


Diva, Branden, Radit, Radot, Yesha, dan Khansa berada di kafe. Sebelum ke pasar malam, mereka memilih untuk mengisi perut.


"Nana kenapa?"


"Woi aenjeaye! Lu kenapa tiba tiba muncul cia, gaib banget!!!" protes Yesha. Alika tertawa.


"Jam karet!!" Alika cengengesan.


"Ya maapp diipp, ada insiden kecil tadi" jawab Alika.


"Lu ngapa pake masker?" tanya Radit.


"Abis baku tumbuk" sahut Frans.


"APAA?!" spontan, Yesha dan Diva teriak.


Seluruh penghuni kafe memusatkan perhatian ke meja mereka.


"Kuat banget tulhul!!" protes Khansa.


"Spontan" jawab Yesha dan Diva barengan. Lagi.


Radot yang gak sabar langsung membuka masker Alika. Mereka melihat luka di sudut bibir Alika.


"Gak cuma itu" Frans menunjukkan luka di jidat Alika, dan siku Alika.


"Lutut nya juga ada" Alika hanya cengengesan.


"Lu kenapa bisa gini anjirr?! Kenapa gak telepon kitaa?! Lu gak anggep kita?!" tanya Diva.


"Kagak usah baper! Tengkarnya juga dadakann. Tadi pas gue ke supermarket di hadang sama human. Abistu gelut, baku hantam. Awalnya luka gue cuma di muka doang, ehhh pas mau balik Elina bawa motor malah masok parettt. Auto lecet lah" jelas Alika.


"Udah jatoh ketimpa tanggaa" ujar Khansa.


"Hooh, kalau jatuh ketimpa duit mending" sahut Radot.


"Duit mulu otak lu Radot!" protes Yesha, Radot tertawa.


"Btw, itu tadi Nana kan?" Yesha berdehem.


"Nana kenapa?" tanya Alika.


"Ya gak tauu, dia telepon tanya dimana. Gue sharelock doang" jawab Yesha.


"Tapi feeling gue dia gak baik-baik aja deh" ujar Diva.


"Feeling gue juga gitu, apa beneran putus karena mau di tinggal rabi?" tanya Alika.


"Ya bagus kalau putus, Wisnu gak baik buat dia" sahut Khansa.


"Real musuh Nana lu ya!!"


"Nggak, bukan karena gue benci Nara. Tapi yang gue bilang bener. Wisnu gak baik buat Nara, Wisnu itu bed--"


"Halo kalyan" Nara datang dengan senyuman.


"Fake smile" ujar Radit.


"Bed apa sa? Bed cover?" tanya Radot.


"Lah ngelawak!!" Mereka tertawa.


"Bahas apa kalian?" tanya Nara.


"Bahas lu! Dah jujur sekarang, lu kenapa? Ada apa?!" tanya Branden.


"Beneran ditinggal kawen?" tanya Frans gantian.


"Lah lu bedua tau darimana?" tanya Yesha.


"Nyimak kalian lah" jawab Frans dan Branden kompak.


"Kalian belajar ngompak dimana si anjim?" tanya Radit heran. Mereka menyedikan bahu lalu tertawa.


"Jadi kenapa na?" tanya Alika.


"Hee'eem.. Wisnu di jodohin"


"Serius?!!!" Alika, Yesha, Diva memasang muka serius.


"Iyaa gue serius. Dia bisa tolak pernikahan kalau dia ngenalin satu cewek ke depan ortunya dan tadi dia ngajak gue"


"Ya oon, terus ngapain lu kesini?!" tanya Branden.


"Lu kira gampang apa? Susah brand. Gue takut mereka malah gak terima gue. Gue juga gak mau nikah secepat ini" protes Nara.


"Jadi mau lu apa?" Radot bersuara.


"Gue masih mau bebas, i love freedom" jawab Nara.


"Perkenalan doang kan? Kenalan dulu loh na" ujar Diva.

__ADS_1


"Bokap nyokapnya jodohin Wisnu karena ngebet punya cucu! Ya kalau udah ketemu gue, mereka suka, abistu nikah.. dan ya gitulah ahh!! Gue masih belum mauuu" ujar Nara.


"Belom tentu bonyoknya suka sama lu" sahut Khansa.


"Lu jatohin mental orang mulu ya sa?" tanya Yesha.


"Bukan begitu ca... Gue kenal gimana gimana nya Wisnu"


"Mending lu terima tawarannya aja dulu buat ketemu bokap nyokapnya Wisnu. Lu bakal tau rahasia besar mereka nantinya" ujar Khansa.


"Kenapa gak lu bilang sekarang?" tanya Nara.


"Gue gak mau lu makin benci sama gue. Gue tau lu gak suka sama gue, kalau gue kasih tau hal ini, lu bakal beranggapan aneh aneh, dan bakal mikir kalau gue penyebar fitnah" jawab Khansa lalu menyeruput minumnya.


"Yang bilang gue gak suka sama lu siapa?" Khansa tersedak.


"Lu suka sama gue?"


"Suka. Suka dalam artian pertemanan. Bagi gue lu orangnya beda, ya gak tau kenapa bisa beda, intinya gue seneng main sama lu" ujar Nara.


"Na.. lu serius?" tanya Radit.


"Boong mungkin" jawab Nara santai.


"Aaaahh kuyang!!"


"Hahaha"


~


"Woi kuy naik itu" Radit menunjuk bianglala.


"Mon maap gak berani bang" Yesha mundur.


"Apaan cemennnn.. masa gitu aja mundur. Tau nih gue kelemahannya si Echa apaaan" ledek Branden.


"Diem lu diem!!"


"Ishh dah ayok" Alika menarik tangan Yesha.


"Aaaa jebal jeball jeballl, gue gak beraniii" Yesha menahan badannya ditarik.


"Ahh cemen amat, gak mo tau lu harus naik" balas Diva.


"Gue gak mau beli tiket pokoknya!" kata Yesha.


"Gue bayarin, gue yang bayar semua" ujar Khansa.


"As taii lu" Khansa tertawa. Dia pun membeli tiket untuk menaiki bianglala.


"Ayokk pokoknyaaa" Nara dan Alika menarik tangan Yesha.


"Penyiksaaannn" mereka tertawa. Khansa kembali dengan beberapa tiket.


Satu keranjang berhenti, Diva Branden Khansa Nara dan Radit naik.


"Gue kabur pokoknyaaa" Yesha berancang-ancang.


"Aaa tidak bisa" Alika menariknya dibantu Frans.


"Sungguh tega kalyannn" Alika tertawa.


Selang satu keranjang dari keranjang Diva dan yang lain, Yesha Radot Frans dan Alika masuk.


"Aaa astaghfirullah subhanallah mati gue mampusss" Yesha menutup matanya.


"Lebay lu setan" ledek Alika. Yesha membuka matanya, dilihat Alika dan Frans pegangan.


"Yaiya lu kagak takut, ada Frans buat pegangan" ujar Yesha, Alika cengengesan.


"Pegangan tangan gue aja" Radot mengulurkan tangannya.


"No, thanks" jawab Yesha.


Namun tiba-tiba, bianglala berhenti. Posisi mereka berada di paling atas. Yesha yang ketakutan secara refleks memeluk Radot.


Alika dan Frans yang melihat itu tertawa.


"Gue mending masuk rumah hantu dari pada naik ini sumpah, lu pada tega bangett" keluh Yesha.


"Tandai echaa" ujar Alika. Yesha menatapnya datar.


Tiba-tiba bianglala berputar kembali.


"Emang kampret, gak bisa konfirmasi dulu gitu kalau mau jalan, gatau orang syok apa?!" dumel Yesha.


"Bawel mulu sih" protes Frans.


"Diem lu curut" mereka tertawa.


Beberapa putaran kemudian mereka turun.


Yesha yang ketakutan pun merasa lega setelah turun dari sana.

__ADS_1


"Jadi gak tega liat echa" ujar Diva.


"Bacott lu"


"Hahaha"


"Lagian ada Radot juga tadi buat pegangan masih takut?" tanya Nara.


"Kagak pegangan na, pelukan malah" kata Frans.


"Aisshh, salah teknis"


"Gue laporin boy lu ca mampussss" Khansa mengambil ponselnya.


"Wagilasi lu pada tega bet sama gue"


"Gak peduli gakk" Khansa menekan tombol. Yesha menendang ponsel Khansa lalu menangkapnya.


"Jangan atau gue lempar ni hp"


"Halo.." Yesha mengecek ponsel Khansa.


"Gak ngerti kenapa dia begoo kebangetan, padahal itu suara Branden" ledek Diva.


"Sialan lu padaaa!!!"


"Hahahaha"


"Eh betewe, tadi echa bilang dia ngajak masuk rumah hantu" kata Alika.


"Gak ada gue ngajakin lu ya setan" Yesha menunjuk Alika.


"Setan teriak setan ini mah" kata Radot.


"Matamuii" Yesha dan Alika kompak.


"Lu ngakak kan ca? Kuy lah kuyyy masuk rumah hantu" ajak Radit.


"Nggak jadii" ujar Yesha.


"Ada kata nyerah ternyata di kamus lu ca?" tanya Branden.


"GAK" Yesha pergi menuju rumah hantu.


'punya temen ngapa laknat semua sih?!' batin Yesha kesal.


"Eh chaaa tunggu dongg, gue bayar tiketnya nih" kata Radit. Mereka semua mengikuti Yesha.


Radit membeli tiket masuk rumah hantu untuk mereka bersembilan.


"Lu pada berpasangan ya kampret, gue doang yang sendiri" keluh Yesha.


"Gue kan sendiriii njirr" sahut Nara.


"Ada Khansa lu," jawab Yesha.


"Ngacoo"


"Tenan o"


"Dah lu sama gue aja sementara" kata Radot. Yesha menatap Radot.


"Apa?" tanya Radot.


"Muka lu aje udah mirip setan, takut duluan gue" jawab Yesha.


"Asukkk ngakakkk" mereka tertawa.


"Sabar sabar" Yesha tertawa lagi. Tak lama kemudian, Radit membawa tiket dan memberikan satu persatu pada mereka.


"Selamat menikmati teman-teman" ujar Nara. Mereka masuk perlahan.


Yesha dan Radot masuk terakhir. "Moga aja setannya takut sama gue"


Waaaa - setan mengageti.


"Aaaaaaa taiii lu" Yesha kaget terlambat. Dia sudah melihat itu setan sebelum masuk.


"Gak penakut lu mah" ujar Radot.


"Emang kagak aaaaaaa" Yesha refleks memeluk Radot lagi. Setan tiba tiba muncul dengan topeng yang mengerikan.


"Kampret kamprett" Radot tertawa.


Rintangan-rintangan di rumah hantu terlewati, mereka keluar dengan selamat.


"Sumpah ya, setannya macem asuu ngagetin mulu" keluh Alika.


"Setan ya setan begoo! Ngapa jadi asuu?" tanya Radit.


"Ah bacot, ngomong sama lu kagak ada gunanye"


"Asuu koe"

__ADS_1


"Hahaha"


__ADS_2