
22.35, Malik family baru pulang ke rumah dari pesta Danial.
"Kamu besok libur kann?!" Tanya Diva pada Branden yang sedang menggendong baby mereka.
"Kenapa emang?"
"Kok kenapa sih?? Fauzul tu pengen main juga sama papinya."
"Kok ngamok?!"
"Ishh, au ahh."
Branden tertawa kecil, "iya mamii. Besok liburrr, mau kemanaa kitaa?"
"Terserahh."
"Lah ngambekkk. Gimana kalau Fauzul titip sama nenek, terus kita buat adeknya Fauzul."
"Jangan ngadi-ngadi kamu! Fauzul masih satu tauunn udah mau buat adek lagi? Emang gak kasian sama maminya?"
"Nggak lah, ngapain kasiann."
"Ishh, laki siapa ini? Minta di tendang!" Branden cengengesan.
"Aku taro Fauzul ke tempatnya dulu."
"Gak tidur bareng ajaa?"
"Aku pengen berduaan sama maminyaa."
"Modus lu!" Diva pergi ke dapur, melihat pipi merah Diva membuat Branden gemas.
Branden membawa –Muhammad Fauzul Malik– anak tercintanya masuk ke kamar.
"Good night jagoan papii."
Setelah meletakkan Fauzul, Branden keluar untuk menemui istrinya.
Di dapur, Diva sedang membuat indomie. Branden datang langsung memeluknya dari belakang.
"Bukannya baru makan tadi??"
"Beberapa jam yang lalu itu. Udah laper lagiii," jawab Diva santai.
"Nggak takut gemuk?"
"Nggak jugaa, kalau aku gemuk tinggal overthinking. Kan jadi kurus," Diva nyengir sambil menatap Branden sekilas.
"Tips kurus darimana itu?!"
"Dari hatii."
"Dasarrr. Aku juga mauu miii," pinta Branden.
"Bikin ndiriiii."
"Astaghfirullah, kok gitu?"
"Karena gituuu. Ujul dah tidurr?"
"Hm." Branden membalik tubuh Diva, tangannya juga mematikan kompor.
"Kenapa demen amat manggil Ujul? Namanya bagus-bagus Fauzul punn."
"Kan kerennn, Ujul."
"Keren darimana?"
"Dari sananya. Dah dehh, papi Ujul diem duluu!" Diva berbalik lagi, ia menuangkan mienya di mangkuk.
"Papi Ujul, awassss." Branden malah pura-pura tidur sambil memeluk Diva.
"Nanti tumpah iniii mienyaaa."
"Bran–" Belum siap Diva bicara Branden langsung pergi ke kamar karena mendengar suara Fauzul menangis.
"Papi siagaaa." Diva tersenyum melihatnya, ia membawa semangkuk indomie ke ruang keluarga.
"Liat tu mamii makan, Fau mau makan??"
"Au mamm." Diva melihat Branden turun bersama dengan Fauzul.
"Ujul makan roti aja yaa, mau roti kan?" Fauzul mengangguk.
"Gemesinn bangett Ujulll. Bentar mami ambil rotinya," Diva pergi ke dapur.
Branden memegang Fauzul sambil bermain dengannya.
"Nihh," Diva memberikan roti untuk Fauzul. Diva juga menyuapi Fauzul dengan roti itu.
"Sini, biar papi yang suapin. Mami lanjut makan aja, nanti mie nya gede gak enak." Diva memberikan rotinya pada Branden lalu lanjut makan.
"Ujul kok bangun??"
"Jadi maksud mami gak bangun?" Branden yang menjawab.
"Papi mu ngajak baku hantam, Julll." Mendengar itu Fauzul tersenyum menampakkan empat gigi depannya.
"Mami makan aja dehh, nanti kalau Fauzul tidur kita baku hantam."
"Firasat saya tidak enak pemirsaa." Branden cengengesan.
Fauzul mengambil roti di tangan Branden, ia mencoba berdiri lalu berjalan perlahan-lahan menuju boneka di sofa seberang.
Fauzul mengambil bonekanya lalu tidur diatas perut boneka itu.
"Gemes bangett siii kloningann mamiii."
"Oh tidak, Fau kloningan papinya. Gak liat gitu dia mirip sama papinya?"
"Kloningan maminyaa."
"Papinya."
"Kloningan mami nya, valid no debat!"
"Pap—"
"Sstt, Ujul tidurrr."
"Gemesin bangettt siii. Siapa yang ngajarin anak setaun segemes itu?" Tanya Branden.
"Gak ada yang ngajarin, kegemoyan Ujul nurun dari mami nya."
"Iyain aja iyainnn." Branden mendekati Fauzul yang tidur, ia mengecup pipi Fauzul karena terlalu gemas.
"Mana rotinya tadi?"
"Abis di makan keknya."
"Tapi kan itu gedee, yang bener aja sekali ngapp?!"
__ADS_1
Branden melihat sekelilingnya, "eh ini di bawah bonekaa." Diva berohria.
"Kecapekan kayaknya baby Fau."
"Dari tadi di gendong sana-sini apa nggak capek? Bawa ke kamar sanaa, nanti aku nyusul." Suruh Diva.
"Berani sendiri?"
"Aku udah siap makann, beresin rotinya bentar baru naik."
"Yaudah, buruan beresin. Aku sama Fau tunggu disini." Diva meletakkan mangkuknya ke tempat cucian piring lalu membersihkan roti yang di makan Fauzul tadi.
"Udah?" Diva mengangguk.
"Matikan lah tipi nya, ayo masuk."
Diva mengikuti Branden ke kamar. Ia terus memperhatikan Branden yang mengelus punggung Fauzul dengan lembut.
Diva tidak pernah menyangka akan menjadi ibu di usia muda.
"Tidur bareng aja Ujull nya."
"Tadikan aku bilang mau berduaan sama maminya."
"Kan udah seringgg."
"Apa pulak? Kamu lebih sering sama Ujul daripada sama ku."
"Terus, cemburu sama Ujul?"
"Iyalah, Ujul kan laki-laki juga."
"Ujul tu anak lu, begee."
Branden terkekeh kecil, "lupaa."
Diva mengambil Fauzul lalu memindahkannya ke atas kasur. Meletakkannya di tengah-tengah.
"Cakep banget anak guee."
"Siapa dulu yang buatt."
"Dih dihhh." Branden tertawa lagi.
"Udah tidurr, jam sebelas inii." Diva mengangguk.
"Good night mamii, good night jagoan papiii." Diva tersenyum mendengarnya.
Ia terus menatap Branden dan Fauzul, muka mereka benar-benar sama. Fauzul adalah Branden versi kecil.
"Tidurr, kenapa masih melek?" Branden dengan mata tertutup tiba-tiba berbicara.
"Gapapaa."
Branden membuka mata, "gak capek kamu, hm? Tidurr. Jangan sampe kamu kurang tidur."
"Iyaa iyaa." Branden menutup matanya lagi.
"Aku tau aku ganteng, jangan di tatap teruss. Aku gak bakal pergi kok. Kalaupun pergi, kamu tempat aku pulang."
"Yekk, moduss!"
❃❃❃
Minggu pagi, Branden terbangun ketika merasakan ada yang memukul-mukul wajahnya.
Ketika ia membuka mata, ternyata Fauzul di atas dadanya dan memukul-mukul pelan wajah Branden.
Dalang di balik semuanya adalah mami Ujul. Ia sudah tertawa geli melihat ekspresi wajah Branden.
"Iya sayang, papi udah bangunn." Branden memeluk Fauzul.
"Anaknya nyuruh bangun tuh buruan bangunn. Mandii terus sarapaann," ajak Diva bersemangat.
Branden bangkit dari tidurnya, tentu saja sambil memegangi Fauzul agar tidak terjatuh.
"Kamu masak?"
"Iyaa. Buruan mandi sana, biar Ujul aku mandiin."
"Gak ah, Fau papi aja yang mandiin."
"Bisa??"
"Oh ya jelass! Kamu siapin aja baju ku sama baju Ujul, biar aku mandiin Ujul." Branden membawa Fauzul ke kamar mandi.
"Kemaren protes anaknya di panggil Ujul, ini demen juga manggil Ujul." Ledek Diva sambil memperhatikan Branden.
Diva menyiapkan baju mereka lalu ikut ke kamar mandi.
"Bis– astaghfirullah, kenapa ngelepas baju??"
"Ya kan aku emang mau mandiii, kamu ngapain masukk?!"
"Papi mandi lamaa! Kasian ntar Ujul nunggunya kedinginannnnn."
"Oh iya, yaudah mandiin Ujul dulu abistu ntar kamu pakein bajunya."
Mereka berdua kompak memandikan Fauzul. Fauzul yang lasak mengakibatkan kedua orang tuanya ikut basah terkena air.
"Kamu pakein baju Ujull gih, ntar masuk lagi."
"Dih, ngapain?"
"Mandiin aku lah."
"Mimpiii!"
Diva keluar kamar mandi. Branden yang masih di dalam tertawa geli karena pipi merah Diva.
Diva memakaikan baju kemeja putih lengan pendek dan celana berwarna mocca. Setelah itu Diva membawa Fauzul turun.
Ia mendudukkan Fauzul di kursinya kemudian membuatkan makanan untuk Fauzul.
"Mi mamm, mamm."
"Iya bentar ya, sayangg."
"Miii, di tungguin kok gak masuk-masuk?" Diva menoleh ke arah tangga, Branden sedang turun.
Ia mengenakan baju yang sama dengan Fauzul.
"Baju yang aku pilihin tadi bukan ituu deh, kenapa ganti??"
"Biar kompak lah sama Ujull. Kamu tadi basah juga kan? Kenapa gak ganti bajuu?"
"Udah gantii."
"Kapan? Semalem? Gak usah ngadi-ngadii, ganti sanaa."
"Iyaa iyaa. Bentar ya Ujulll," Diva mengecup kening Fauzul sekilas lalu pergi mengganti baju.
__ADS_1
Sambil menunggu Diva, Branden memberikan roti gandum untuk Fauzul.
"Ujull, kita ganteng banget yekann?"
"Pii, pii mamm."
"Iyaa bentar ya, tunggu mami."
Gak lama kemudian, Diva turun mengenakan sweater berwarna navy blue dan celana berwarna hitam. Diva lanjut menyiapkan makanan.
Ia memberi sepiring nasi goreng untuk Branden dan memberikan sepiring kecil nasi beserta sayuran untuk Fauzul.
Fauzul yang aktif enggan untuk di suapi, ia ingin makan sendiri. Diva dan Branden membiarkan nya makan.
"Mo main kemana hari ini, baby Fauu??" Tanya Branden setelah selesai makan.
Fauzul malah berceloteh yang tidak di mengerti Branden. Branden mengajaknya ke ruang keluarga.
Begitu di turunkan dari gendongan, Fauzul merangkak menuju box yang berisi banyak mainan. Sekuat tenaga Fauzul mengeluarkan semua mainannya dari box.
Branden tertawa melihat ekspresi Fauzul yang sedang keberatan ketika memegang mainan pesawatnya.
"Bukannya di bantuu, malah ketawaa. Papi mu ajaib emangg," Branden cengengesan.
Diva meletakkan buah di atas meja lalu memasukkan kembali mainan Fauzul.
"Miii mii."
"Kenapa, sayang?? Jangan di serak yaa, masukin aja okee?"
"Masukinn."
"Ukinn." Branden mencubit pelan pipi Fauzul karena gemas, Fauzul memberontak melepasnya.
"Papiii."
"Gemesinn bangett sihh," ujar Branden.
"Ya tap–" Branden memasukkan buah ke mulut Diva.
Ia langsung tertawa. Fauzul yang seolah-olah paham pun ikut tertawa.
Diva mengunyah buah itu kemudian menghampiri Branden untuk menyubitinya. Berkali-kali Branden menghindar, Diva terus mengejarnya.
Bruk!
"Huaaaaaaa!"
"Ujulll!!" Mereka berdua langsung menghampiri Fauzul.
Fauzul terjatuh. Ia berpegang pada box yang hanya terisi satu pesawat kecil ketika ingin berdiri.
Melihat anaknya nangis, Branden langsung menggendongnya dan menenangkannya.
"Cup cuppp. Tenang ya, sayaangg." Branden membawanya keluar rumah.
"Duhh benjol jidatnyaa. Maafin mamii yaa, sayangg." Diva kembali masuk ia mengambil pisang lalu memberikannya pada Fauzul.
Seketika Fauzul terdiam sambil memegangi pisang itu.
"Ambilin kunci mobil gih, sekalian kunciin pintu."
"Mau kemana?" Tanya Diva. Ekspresinya terlihat jelas sedang merasa bersalah.
"Ambilin aja. Oh iya, sekalian ambil topinya Ujul." Diva pun masuk.
"Nahhh," Branden menerimanya kemudian memberikan Fauzul yang anteng pada Diva.
"Mau kemanaa?? Ke rumah sakit?"
"Nggakk, ayo ikut aja." Diva pun masuk ke mobil.
Di mobil Diva terus memperhatikan Fauzul yang asik memperhatikan pisang di tangannya. Mungkin Ujul sedang terheran-heran.
"Aku minta maaf, ya. Fauzul jatoh gar–"
"Aku juga minta maaf. Kita sama-sama lengah tadii, jangan salahin diri kamu sendiri yaa. Toh juga, Fauzul gak kenapa-kenapa. Cuma jidatnya doang benjol dikitt," Branden mengelus pipi Diva bergantian mengelus punggung Fauzul.
"Terus ini mau kemanaa?"
"Kamu maunya kemanaa? Liat muka kamu tadi aku gak tega, padahal kita sama-sama salahh."
"Supermarket mau nggak? Jajan apa aja terserah kamu," tawar Branden.
"Yaudah ke supermarket. Snack Ujul juga abisss."
Branden membelokkan mobilnya ke arah supermarket. Diva keluar sambil menggendong Fauzul.
Branden menghampirinya, "Ujul biar aku gendong. Nanti kamu yang pilih pilih jajann." Diva tersenyum, ia memberikan Fauzul pada Branden.
Mereka pun masuk menuju supermarket. Diva mengambil beberapa snack untuknya, untuk Fauzul dan juga untuk Branden.
"Ujul masuk sini cobaa, biar aku yang dorong."
"Ngadi-ngadii, jatuh ntarr." Omel Diva sambil tertawa kecil.
"Nggak, sans aja mamii." Branden meletakkan Fauzul ke troli lalu mendorongnya sambil berlari.
Fauzul tertawa-tawa di buatnya.
"Dahla capekk." Branden berhenti, ia menoleh ke belakang. Diva tertinggal jauh.
Bruk!
Troli mereka di tabrak, pelakunya...
"Tante Ciaaa durjana." Alika tertawa.
"Aiiii Ujulll."
"Aii tante durjanaa!" Branden menjawabnya.
"Kamprett!"
"Belanja bulann kalian?" Diva muncul.
"Iyaa. Si Ujul abis nangiss?" Tanya Frans.
"Hooh, jatuh dia pas mo bediri. Jidatnya benjoll tuh," jawab Branden.
"Gapapa, tetep gemoy!" Alika mencubiti pipi tembemnya Fauzul.
Se-gemoy itu emang Fauzul!
"Udahh, pipi anak gue ada time nya buat di cubit. Melebihi waktu, bayar!" Protes Branden.
"Dih dihh, minta di tampoll."
"Apa? Gak suka? Buat sendiriii lu sonoo!"
Alika menatap kesal Branden.
__ADS_1
"Udah, by, biarin aja. Nanti kita buat sepuluh!"
Alika langsung menatap Frans, "are you crazyyy?!!"