Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 60 Bagi tugas


__ADS_3

19:05


"Aku fikir kau tidak akan menjemputku kak" ujar Bianca, saudara kembar Bryant. Boy lahir lebih dulu, disusul Bianca dan Bryant.


Boy memilih diam dan melajukan mobilnya. "Kak Boy??" panggil Bianca. Boy masih diam.


"Kau.. tidak akan berbicara padaku? Sampai kapan?"


"Kak Boy ayolah!!!" Rengeknya.


"Saya tidak akan berbicara pada orang yang tega membunuh adiknya sendiri" ujar Boy. Bianca menatapnya.


"Hya!! Apa maksudmu. Kak, jangan menyalahkan orang lain atas kepergian Bryant. Bryant mat-- eh maksudnya meninggal karena penyakit yang dialaminya" jelas Bianca. Dengan cepat Boy meminggirkan mobilnya.


"Bryant gak akan meninggal kalau anda tidak menyetujui untuk mencabut alat penopang hidupnyaaaa!" bentak Boy.


"Kak, apa kau tega melihat adik yang kau sayangi menderita akibat menahan penyakitnya?"


"Dia harusnya masih hidup kalau waktu itu anda tidak cabut alat penopang hidupnya!" Boy emosi.


"Wah.. Kak, aku baru tiba di Indonesia. Aku di LA sendiri dan menyendiri. Aku kembali bukan untuk berdebat hal ini denganmu!"


"Kembalilah kerumah sendiri" Boy melepas seat beltnya beranjak keluar. Bianca menahan tangannya.


"Kak, Bryant udah tenang disana. Jangan memperkeruh suasana. Ayok kembali kerumah bersama" ajak Bianca. Boy menghempas tangan Bianca lalu keluar.


Bianca memperhatikan Boy yang berjalan begitu cepat. "Mereka bilang kau baik baik saja karena aku tidak ada disini, tapi sekarang? Aku disini. Apa aku benar benar melakukan kesalahan besar sampai kau membenciku seperti ini?"


----------


Boy terus melangkahkan kakinya, sampai akhirnya dia tiba di kafe tempat dia bekerja. "Boy? Lo udah balik?" tanya pria yang merupakan bos sekaligus temannya.


"Maaf, gue terlalu lama bolos kerja Nat" ujar Boy.


"Gak masalah, yaudah sana ganti baju lo" suruh Natha. Boy pergi menuju ruangannya dan mengganti baju.


Boy keluar dan menuju tempat chef. Dia hanya memainkan pisau besar yang ada ditangan kanannya. Pikirannya mengingat insiden setahun yang lalu.


Sebenarnya, kejadian itu tidak sepenuhnya kesalahan Bianca.


Waktu itu keputusan untuk melepas penopang hidup Bryant bergantung di Boy. Boy tidak memperbolehkan hal itu meskipun sudah di bujuk sedemikian rupa.


Bianca yang tidak sanggup melihat kembarannya menderita, akhirnya turun tangan dan menyuruh pihak rumah sakit melepas penopang hidup Bryant.


Bianca bilang pada Boy, "Akan lebih baik jika Bryant pergi, dengan begitu Bryant tidak akan merasakan sakit lagi"


Tapi Boy tidak perduli dan sangat marah atas tindakan Bianca.


Sejak saat itu, Boy tidak pernah memperdulikan Bianca. Bianca memilih dipindahkan ke LA agar dia bisa menerima kenyataan pahit yang dialami.


"Pisau itu akan memotong tanganmu jika kamu melamun seperti itu" ujar seseorang pada Boy. Boy mengalihkan pandangannya.


"Caca?"


"Jadi ini ruangan chef yang super itu?" tanya Yesha sambil mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


"Kamu kok disini?" tanya Boy tanpa menjawab pertanyaan Yesha.


"Caca lihat Koboy tadi, karena Caca lagi laper jadi Caca mampir" jawab Yesha yang sudah disamping Boy. Dia mengambil pisau dari tangan Boy dan meletakkan baik baik.


"Ada masalah apa hm?" tanya Yesha sambil mengelus pipi Boy. Boy menjatuhkan kepalanya di bahu Yesha.


"Tenanglah" Yesha mengelus rambut Boy.


Adegan mereka dilihat pekerja lainnya. Banyak karyawati yang sakit hati karena mengetahui Boy yang tampan memiliki kekasih.


Tujuh menit kemudian, Boy mendongak menatap Yesha yang tersenyum. "Makan yuk, kamu pasti belom makan" ajak Yesha sambil menggandeng tangan Boy.


"Oy pak manager" ujar Yesha memanggil Natha.


"Kita kenal?" tanya nya.


"Gue penggal pala lu!!" Natha tertawa. Yesha mengenal Natha karena Natha adalah tetangga depan rumah Yesha, mereka berdua cukup dekat.


Yesha juga baru menyadari hal itu tadi. "Mau makan apa?" tanya Natha.


"Apapun" jawab Yesha.


"Yoda tunggu" Yesha mengangguk, Natha pergi. Yesha menatap Boy. Boy menggenggam tangan Yesha.


"Caca tau kok tentang Bryant. Bang Danial udah cerita"


"Koboy, Bianca gak salah"


"Keputusan Bianca bisa dikatakan benar. Bukankah lebih baik seperti itu? Bryant.. tidak akan merasakan sakit lagi" Boy tetap diam.


Boy mengelap kasar air matanya. "Ahh Boy, ada apa dengan muu?!" tanya Boy pada dirinya sendiri. Yesha tertawa.


"Kamu kok disini bukannya persiapan?" tanya Boy.


__________________


"Lama amat buk, beli bahannya dimana sih?!" tanya Diva kesal karena Yesha telat.


"Yee maap lama, jumpa Koboy tadii" jawab Yesha cengengesan.


"Lah kita lagi latihan dia enak enak mojok" protes Nara.


"Peace" ujar Yesha mengangkat dua jarinya sambil tersenyum pepsodent.


"Dah dah. Kita bagi tugas ya" ujar Alika yang baru selesai memperagakan gerakan dance Blackpink.


"Jadinya yang ‘How You Like That’ ?" tanya Diva.


"Mending itu aja, Cia tutornya diakan udah hafal, udah masuk yutupp juga" sahut Yesha. Alika menatap sinis Yesha yang cengengesan.


"Jadi bagi tugas nya gini. Gue tutor sekalian bantu desainer bajunya sama si Echa. Dipsi, tugas lu cuma di hari H. Nanti lu yang mekapin kita. Nah Mak Nana dalem, lu yang siapin makanan, minuman dan sejenisnya. Deal?!" tanya Alika.


"Oke deal!!!" jawab mereka serentak.


 ∆∆

__ADS_1


07:00


"Ahh capek gue" keluh Nara saat mereka sarapan di kantin. Mereka pergi sekolah pagi sekali. Menyempatkan diri untuk sarapan.


"Gue kira cuma gue yang capek" sahut Diva.


"Woi ca" panggil Alika pada Yesha yang matanya ingin terpejam.


"Oy apa?" Yesha tersadar.


"Masih ngantuk lu?" tanya Nara.


"Hmm.. mata gue pengen merem lagi" jawab Yesha. Alika cengengesan.


"Tidur jam berapa sih? Ini juga tumben berangkat pagi" sahut Boy yang langsung meletakkan kepala Yesha di dada bidangnya.


"Tidur jam 1 pagi" jawab Diva.


"Gila yaa?? Ngapain aja sampe jam segitu baru molor??" tanya Branden.


"La - ti - han!!" jawab Nara.


"Maklum aja mereka belom terbiasa" sahut Alika.


"Iya lu mah udah jadi makanan sehari-harii" sahut Diva. Alika cengengesan.


"Liat noh si Echa dah molor. Anteng banget lagi" kata Alika.


"Ngantuk berat dia kayaknya. Gue bolosin aja ya, ajak UKS" izin Boy.


"Yoda sono bawa, ntar kita yang izinin" suruh Diva. Boy beranjak ingin menggendong Yesha, tapi terhenti.


"Gue gak mau bolos, yakali gue bolos sendirian. Gue disini ajaa, bangunin kalau udah bel" ujar Yesha dengan mata terpejam.


"Dia mimpi kali ya?" tanya Khansa. Mereka tertawa.


"Eh btw na..." Diva sedang mengunyah.


"Telan dulu baru ngoceh" ujar Branden. Diva menelannya sambil menatap sinis Branden.


"Hm? Kenapa?" tanya Nara.


"Mamas mu kemana? Kok gak pernah keliatan?" tanya Diva.


"Gak tau, dah dari semalam ngilang" jawab Nara.


"Serius? Dan lo santai aja??" tanya Alika. Nara mengangguk santai.


"Tololl benerr" cibir Alika. Nara pura-pura tidak mendengar.


"Bosan kali sama lu?" tanya Branden.


"Bosan mah manusiawi. Tapi, kalau bosan ngilang dan tiba tiba pergi itu namanya manusiaBABI!!" sahut Yesha. Yesha membuka matanya, dia bangkit dari sandarannya lalu menyambar minuman Boy.


"Kerasukan setan apa ni anak?" tanya Khansa.

__ADS_1


 


__ADS_2