Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 56 Penyuluhan


__ADS_3

"Bikin dedek bayi gak kemaren?" tanya Naufal pada Boy. Boy Yesha saling tatap tatapan.


Pletak


Pletak


Dua sentilan pedas mendarat tepat di kening Naufal.


"Bangsulll.. lo pada bener bener deh tega banget sama nopal" Naufal mengelus keningnya.


"Lo sih punya otak isinya ++ mulu" ujar Boy dan Yesha bersamaan.


"Naufal tanpa ++ bagaikan sayur tanpa garam" sahut Frans dan Alika bersamaan.


"Hambar!!"


"Hahahaha"


"Mampuss lu mampuss, dibuli kan lu mampuss" ledek Ikhsan.


"Hiks hikss, jahattt" Naufal sok dramatis.


"Hahahahahah"


"Eh? Danial mane?" tanya Revin.


"Filipina" jawab Boy.


"Kapan??"


"Tadi pagi" jawab Yesha.


"Tunggu.. jadi lo bener bener cuma berdua?" tanya Khansa. Yesha dan Boy mengangguk santai dengan watados.


"Amjim, aku benci pikiranku" Nara menggetok kepalanya sendiri.


"Kita satu server" sahut Diva. Mereka bertos.


"Otak kalian tu ya bener bener, tapi.. masa iya lo kagak ngapa ngapain si Echa boy?" tanya Khansa.


"Lelaki gentle itu menjaga bukan merusak" sahut Yesha.


"Top!!" Boy dan Yesha bertos. Mereka semua menatap sinis Boy dan Yesha.


"Kalian bener bener udah sehat apa? Kenapa sekolah?" tanya seseorang dari belakang.


"Maass wisnuu" Nara berlari menuju Wisnu. Wisnu merentangkan tangannya. Nara berhenti ketika berlari tiga langkah.


"Eh kenapa berhenti?" tanya Wisnu menatap Nara. Nara diam. Wisnu menarik tangan Nara lalu memeluknya.


"Ini sekolahhh masss" ujar Nara mencoba lepas.


"Sekolahnya punya mas. Sultan mah bebas" jawab Wisnu mengelus pipi Nara. Pelukan mereka sudah lepas.


"Ah nyamuk, dalah. Cabot kantin" ajak Naufal.


"Ikot pal ikot" sahut Ikhsan. Mereka berdua pergi. Yang lain tertawa melihat tingkah mereka berdua.


------


"Wanjay, kantin kenapa penuh banget sih??" tanya Khansa.


"Jam sarapan ini tu. Berarti, banyak yang gak sarapan dari rumah" sahut Revin.


"Lo sarapan kantin?" tanya Boy pada Revin.


"Kagak, cuma beli roti dua maybe sama susu" jawab Revin.


"Itu namanya sarapan oonn bin tolloll" sahut Ikhsan. Revin cengengesan.


"Eh itutuh, sepi" Alika menunjuk satu meja.


"Yoda yok" ajak Frans. Mereka menuju meja itu.


"Pada beli apa? Gue biarin" ujar Naufal.


"Bisa bisanya gue punya temen segoblokk ini. Gue tabok mau lo?" tanya Branden ngegas.


"Sello santuy mamank" Naufal cengengesan.


"Ta, nanti jam 9-an ada penyuluhan tau. Katanya penyuluhan narkoba gitu"


"Ya syukur deh gak ulangan Ekonomi"


"Eh eh.. kalian berdua" panggil Diva.


"Kita?" tanya nya.


"Ya lo lah, masa setan!" balas Alika ketus. Mereka berdua menunduk.

__ADS_1


"Ke- kenapa kak?" tanya nya masih menunduk.


"Kalian bilang ada penyuluhan? Kata siapa?" tanya Diva.


"Kan tadi dia ngomong ngapa ditanya siapa yang ngomong?" tanya Naufal polos.


"Lo mau gue tabok?" tanya Frans.


"Oh tidak jangan muka gue masih mulus" jawab Naufal.


"Tangan gue gatel pengen gebukin lo pal" Revin menatap sinis Naufal. Naufal cengengesan.


"Ahh udah gak jelas gak jelas. Jadi tadi kata siapa??" Yesha bertanya pada dua siswi tadi.


"Eh, itu tadi ada di mading kak" jawabnya.


"Penyuluhan apa?" tanya Nara.


"Maksudnya tentang apa?" sahut Diva.


"Narkoba kalau gak salah kak"


"Oh yauda sana" suruh Alika. Dua adik kelas mereka pun pergi.


"Dia kenapa si?" tanya Diva pada Nara.


"Kerasukan hantu SMA Erdven" jawab Nara asal.


"Hahahahaha"


_________________________


"WOI!!! BALIK KALIAN SEMUAA!!!!" teriak Pak Wanto.


"Ah gaswat, ketauan" ujar Branden.


"Kita gagal, sepertinya memang harus berbalik" sahut Boy. Mereka berbalik lalu cengengesan. Pak Wanto langsung menghampiri.


"Ckckck.. kalian ini kenapa kabur sih?!!!" tanya Pak Wanto kesal.


"Aelah pak, kita kan gak pake narkoba. Kita juga udah ngerti narkoba" ujar Naufal.


"Emang apa narkoba?" tanya Pak Wanto.


"Nara kokasihnya bang wisnu, disingkat narkoba" jawab Naufal.


"Goblokkk!!" cibir mereka bersamaan. Naufal cengengesan, pak Wanto menepuk jidat.


"Ehhh mo kemana?!" tanya Pak Wanto.


"Cabut pak!" jawab Alika. Frans menariknya. Yesha ditarik Boy, Wisnu menarik Nara, dan Diva ditarik Branden.


"Demen amat bolos, ayok" mereka berempat ditarik paksa oleh para kekasih.


"Oh ayolah, ini membosankan!!" protes Yesha.


"Tau tuh, tiap taun pasti ada noh penyuluhan. Mana kagak ada yang masuk ke otak gue" sahut Diva.


"Setidaknya hadir!!" balas Branden.


"Udah dehh gak usah sok gituu. Lo aja maleskan sebenarnya" protes Nara.


"Ehh!! Sudah sudah!! Kalian itu nanti juga di tes narkoba atau tidak. Lebih baik kalian keruang perkumpulan sekarang!!!" pak Wanto pergi duluan.


"Kalau coba kabur lagi, kalian di DO!!" ujar Pak Wanto tanpa berbalik.


"Gak ada pilihan lain, sepertinya kita emang harus ke ruang perkumpulan" kata Boy.


"Ayok"


~---


Setelah mengambil sedikit darah untuk sampel di ruang laboratorium, mereka semua pergi ke ruang perkumpulan.


Ruangan itu sudah ramai. Tempat untuk duduk siswa siswi di pisah. Siswa disebelah kanan, dan Siswi di sebelah kiri. Crazy Bicit berpisah dengan kekasihnya.


Mereka berempat memilih duduk di pojokan, pojok, paling pojok. "Tidur dah gue kalau gini" ujar Diva.


"Udah rame gini gak dimulai mulai juga acaranya, herrrran" protes Nara.


"Mbok yo sabar ngopo toh" sahut Alika.


"Wei medok" ledek Diva.


"Eh apa lo cadel" balas Alika.


"Apaan sih lo bedua?" tanya Yesha.


"Diem lo cempreng" Alika dan Diva kompak.

__ADS_1


"Gak jelas, bagus suara gue lah lembut" sahut Nara.


"Lembut dari Hongkong, suara kek abang abang dikata lembut" protes Alika.


"Masih ku pantau, belum ku tabok"


"Hahahaha"


-


"Cek cek cek satu dua tiga.."


"Halo anak anak.. selamat pagi..."


"Kok gue berasa jadi anak teka ya?" bisik Diva.


"Bener bener, gue juga berasa anak teka" sahut Alika berbisik.


"Kita adalah anak teka yang besar" bisik Nara. Mereka berempat tertawa pelan.


"Udah wei syut syut" kata Yesha. Mereka kembali diam.


"Apa kabar kalian? Semoga sehat selalu ya"


"Persis kea anak teka kita" bisik Alika. Mereka tertawa pelan lagi.


"Perkenalkan nama saya Suyatmi"


"Gak ada yang nanya woi" Yesha berbicara pelan. Ketiga temannya yang mendengar tertawa cekikikan.


"Udahh diam ege tulul" bisik Diva.


"Kami dari tim penyuluhan narkoba..."


"Udah tau bu, ngapain ngomong lagi?!" protes Nara berbisik. Mereka tertawa untuk kesekian kalinya.


Tim penyuluhan itu memang sedari tadi memantau mereka berempat. Tetapi crazy bicit tidak menyadari itu.


"Yang berempat di pojokan! Kenapa ketawa terus?!" tanya Bu Suyatmi dengan mic. Satu sekolah memperhatikan mereka.


"Ini Bu lawak, abis liatin kecoa joget dangdut oplosan" jawab Nara asal. Satu sekolah tertawa mendengarnya. Nara ditatap sinis oleh pak Wanto.


"Mampuss gua mampuss, mata pak Wanto sudah menyeramkan" bisik Nara kepada tiga temannya. Ketiga temannya melihat pak Wanto lalu tertawa.


"Kalian berempat!! Maju!!" suruh Bu Suyatmi.


"Ngapain Bu? Kita disuruh keluar atau gimana?" tanya Alika.


"Maju saja!" pak Wanto bersuara. Karena mereka memakai baju Olahraga, mereka menuju Tribun sambil meroda. Semua memperhatikan mereka berempat sambil sesekali memuji.


"Pening juga pala gue, dah lama gak kek gitu" ujar Diva.


"Fyuhh.. ada apa Bu?" tanya Nara.


"Kenapa kalian tertawa dipojokkan?!" tanya Bu Suyatmi.


"Kan tadi udah dijawab Nara Bu. Ada kecoa joget dangdut oplosan" jawab Yesha santai.


"Yesha, Diva, Nara, Alika!!" geram pak Wanto.


"Ampun deh pak, mau dihukum apa nih pak?!" tanya Alika.


"Kalian membuat mood saya hancur untuk mengajar" ujar Bu Suyatmi.


"Alhamdulillah, gak jadi penyuluhan" balas Alika.


"Kata siapa gak jadi? Kalian yang akan meneruskan penyuluhan ini!!" ujar Bu Suyatmi.


"Sudah kuduga, ini bukan hal yang menguntungkan" kata Diva.


"Dia yang disuruh malah nyuruh kita" gumam Nara.


"Apa Nara?" tanya Pak Wanto.


"Kecoanya pergi pak" jawab Nara asal. Lagi lagi satu sekolah tertawa.


"Sudah cepat" suruh pak Wanto.


"Ini pake powerpoint kan bu?" tanya Alika. Bu Suyatmi mengangguk. Mereka berempat naik ke tribun dan melihat materi yang akan disampaikan.


"Okeee, wasap geng!! Ketemu lagi sama gue, Nara"


"Gue Yesha"


"Gue Alika"


"Dan gue Diva"


"Kami disini akan menjelaskan tentang penyuluhan narkoba" mereka serentak. Setelah itu mereka bergantian menjelaskan dengan sangat mudah materi apa saja yang seharusnya diberikan. Sesekali juga memberikan lelucon agar tidak terlalu garing atau membuat kantuk.

__ADS_1


"Mereka siswi yang pintar, hanya saja akhlak mereka kurang pintar. Saya rasa mereka tidak punya akhlak?"


__ADS_2