Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Forcragi • 107 Bye-Byee <33


__ADS_3

Pagi hari di rumah Branden dan Diva.


Dengan senyumannya yang merekah, Diva memasak sarapan untuk Branden dan Ujul.


Baginya menyenangkan bisa memasak makanan untuk orang yang ia sayangi.


"Mi Mii..."


"Ehh, sayangnya mami udah bangun?"


Diva menghampiri Fauzul yang ada di gendongan Branden. Ia mengecup pipi Ujul, mengabaikan Branden.


"Pagii, ganteengg." Sapa Diva dengan senyuman, Ujul tertawa-tawa menggemaskan.


Melihat istrinya begitu ceria, Branden menarik tangan Diva lalu mengecup bibirnya.


"Morning, sayangg." Sapa Branden genit.


"Diww diwwww!"


Branden tertawa melihat ekspresi Diva.


"Duduk gih, biar aku tata dulu sarapannya di meja."


Branden tersenyum.


Ia membawa Fauzul ke meja makan.


"Kamu kerja?" Tanya Diva.


"Iyaa. Tapi ntar pulangnya cepet," jawab Branden.


"Kenapaa?"


"Boy bikin surprise katanya di pantai. Pas aku kerja nanti, kamu beli baju aja. Baju baru, couplean kita bertiga."


Diva menatap heran Branden, "surprise apaan di pantai??"


"Surprise yaa surprise." Jawab Branden cengengesan.


"Pi piii.. numm."


"Anak papi haus, yaa? Nih minum." Branden membantu Fauzul minum. Setelah selesai, Branden meletakkannya lagi ke meja.


Ujul sendawa pelan.


"Alhamdulillah, Fauzul sarapan enak pagi iniii." Kata Branden sambil mengelus perut Ujul. Ujul tertawa kegelian.


"Ehh, udah jam segini. Papi kerja dulu ya, Fauuu. Nanti kita ke pantai okee?" Seolah-olah paham, Fauzul mengangguk sambil tersenyum.


Branden mendekat dan mengecup pipi Fauzul gemas. Lalu mendekati Diva dan mengecup keningnya penuh cinta. Aww<33


"Udah mau berangkat?" Branden mengangguk.


"Tunggu dulu. Boy mau surprise apaann?!"


"Ntar juga kamu tau, sayangg."


"Surprise buat siapaa?"


"Yang jelas bukan buat kamu sii." Diva menatap kesal Branden, Branden nyengir.


"Ntar kamu tau kok. Aku pergi dulu," Branden beranjak pergi tapi berbalik lagi karena Diva menarik bajunya.


"Kenapaa?"


Diva tidak menjawab. Tangannya merapikan kerah baju dan dasi yang dikenakan Branden.


"Sejak kapan rambut kamu melebat beginii???" Tanya Diva sinis.


"Ha tu lah kan, yang diperhatiin Fau teruss. Papinya jarang diperhatiin. Kan kemaren udah aku bilang, aku mau gondrong." Jawab Branden.


"Ihh, kapann?!"


"Kemarenn itu aku bilangg, kamu juga jawabnya iyaaa."


Diva mencoba mengingat.


"Gak ada, ya!!"


"Ada, sayangg. Aku izin sama kamu kemaren," jawab Branden kekeh pendirian.


"Ahh ga mo tau pokoknya dipangkas. Jelek tau ayy diginiinnn." Ledek Diva.


"Astaghfirullah, aku sering ngaca sayang. Kaca dirumah kita gede, segede gaban. Jadi aku tau, aku ganteng."


"Dihw."


"Kalau aku gak ganteng, Fauzul gak seganteng itu."


"Pede banget."


"Oh ya jelas." Jawab Branden sangar.


"Kamu tu bapak-bapak anak satu, gak usah gondrong-gondrongan deh. Jelek tauu!"


"Ganteng gini, ayyy."


"Sayang, gak lucu kan kalau kita lagi ngelakuin 'itu' terus aku nya ngejambak rambut kamu terus kamunya yang teriak kesakitan?"


Branden diam membayangkannya.


"Kok lawakkk?"


"Makanya ituuu! Cukurr!"


"Oke, ntar pulang kerja ku cukur."


"Sekarang!"


"Belum buka lah, sayang."


"Heyy, istri kamu buka salon."


Branden menatap mata Diva, "mau diapain nih aku?"


"Pangkas cepak!!"


"Astaghfirullahalazim, jangan mengadi-ngadii."


Diva senyum misterius.


"Auto ganteng lah, sayang."


"Nggak sayang, nggak. Gondrong aja kalau gitu, di jambak juga gapapa."


"Ah gak asikk. Males ah males."


Diva menghampiri Fauzul yang dari tadi diam menonton lalu membawanya ke kamar.


Branden mengejar mereka.


"Pangkas tapi gak cepak, deal?"


"No. Cepak kerenn tau!"


"Sayang, jangan cepak ya?" Bujuk Branden.


"Botak aja gimana?" Usul Diva bersemangat sambil meletakkan Fauzul di kasur.


Branden menatap datar istrinya.


"Gak lah, gak jadi. Gondrong aja udah, terserah kamu mau di jambak apa gimana." Branden langsung pergi meninggalkan Diva dan Fauzul.


Diva menatap heran Branden.


"Apakah dia merajuk?"


"Tak apa. Ntar balik lagi." Diva menghampiri Fauzul, mengajaknya bermain mobil-mobilan bersama.


"Astaghfirullahalazim, aku ngambek lho ini! Gak ada niatan bujukkk?!"


Dan ya! Branden balik.


"Pangkas cepak," kata Diva tanpa menoleh.


"Pangkas ala idol mu aja gapapa deh, jangan cepak."


"Gak mau."


"Yaudah terserah. Gak bakal mau aku, bye!" Branden pergi lagi.


"Agaknya dia marah betulan kali ini."


Diva menggendong Fauzul lalu mengejar Branden.


"Gak cepak deh gak cepakk." Kata Diva sambil menarik tangan Branden.


Branden menatap Diva tanpa ekspresi.


"Jadinya apa?"


"Kita botakin sajaa."


"Gak, makasih. Bye!"


"Yahh, ngambekk. Tandai lu yee! Balik sekarang dehh, ntar malem gue pake lingerie kalau lu pangkas cepakkk!" Teriak Diva setelah menutup telinga Fauzul.


"BODOAMAT, NTAR AKU CARI JANDA."


"Hehhh!!"


◑◑◑


10.34, di cgrvls.


"HAHAHAHHAAA, NGAKAKKK. Beneran cari janda ntar gimana, Dip?" Tanya Alika menggoda.


"Diem dah lu ah! Gak gak, gak bakal. Ntar pulang pasti udah pangkas cepak."


"Terus kalau dia pangkas cepak, lingerie lu?"


"Gue pake lah."


"Gila gilaaaaa. Ngeri kali si Dipaaa!" Ledek Alika.


"Nyali dia gede weh. Mama muda emang beda."


Diva tertawa.


"Btw, ada surprise apaaan?" Tanya Nara sambil menatap Yesha.


"Gue juga gak tauuu. Boy gak ada kerumah, cuma nganterin paket doang lewat jasa kurir."


"Paket apa?"


"Buket doang sama coklat."


"Misteriuss. Pasti para lakikk tu tauu." Kata Nara yakin.


"Jelasss tauu."


"Tapi apaa gitu lho?"


"Bodo ah, gak usah di pikirin. Mending kea Ujul yang asik main pesawat."


"Keknya dia demen banget deh sama pesawat. Jadi pilot ntar, Julll."

__ADS_1


Diva meniru suara Fauzul.


"Gak mau jadi pilot ah, aunty. Ntar Ujul jadi suaminya anak tante ajaa."


"Wahanjayyy, modussss sekali epribadiii."


Di sisi lain, para pria itu berkumpul di pantai yang sudah di tentukan.


"Bini gue penasaran mulu anyinggg." Kata Frans sambil membantu dekorasi.


"Samaa. Bini gue juga bikin kesel penasarannya." Sahut Khansa.


"Bini gue beda. Dia bikin kesel level max, masa minta gue pangkas cepak cokk." Adu Branden kesal.


Mereka tertawa ngakak.


"Kocak bet bini luuu." Ledek Boy.


"Wih gak tau lagi gue, kenapa kudu cepak gitu?"


"Tapi agak keren juga pangkas cepakk, lu cobain deh." Titah Frans.


"No. No. Makasih."


Mereka tertawa lagi melihat ekspresi Branden.


"Ehh, bisa aja bini lu ngidam lagi coyyy! Kan waktu hamil Fauzul dia pengen lu pangkas macemm Lee Min-ho." Kata Khansa.


"Nggak-nggak. Ngaco bangett!" Bantah Branden.


"Heh, bisa ajaaa tauu!"


"Si Boy aja baru nikah woiii, masa anak gue udah mau duaaa."


"Salah lu juga lah anjirrrtt, siapa suruh sering bikin?" Sindir Frans.


"Macam gak pernah merasakan bikin lu, Frans."


"Gue tau gue tau, Frans everyday buat." Ujar Khansa heboh.


"Sotoyyy asuu! Dahla, malah bahas anak mulu. Kasiaj yang belum nikah ni." Ledek Frans sambil melirik Boy.


"Taiii taiii. Agak meresahkan lu berdua. Skippp skipp!" Mereka bertiga tertawa.


"Setelah gue inget-inget ya, bini gue tu cute banget kalau kepo." Kata Frans kesemsem.


"Cute gimana anjirrt?"


"Yaa cuteee. Dia mijetin gue, godain gue, teruss manja-manja ke gue. Demi ke kepoannya itu."


"Wanjaayyy. Bini gue keren kepo nya." Sahut Khansa tak mau kalah.


"Gimana dia?" Tanya Branden.


"Semua barang dibantingii. Natap gue sinis banget kek mau ngebunuh. Keren kan?"


"Puft.. hahahahahaaa!"


Benar-benar tawa meledek.


"Serius lu di gituin?"


Khansa mengangguk pasrah.


"Tapi dia tetap gemoy sii, tetep cinta gue mahh."


"Kalau lu bilang gak cinta, gue langsung laporin sekarang." Sahut Branden.


"Ahh cepu lu anjrittt. Untung gue bilang tetep cinta."


"Nyatanya gimana? Memang cinta apa nggak?"


"Oh ya jelas cinta lahh!!"


"ALAH ALAHH, MACEM BETUL KALI YANG KELEN BILANG ITU." Mereka menoleh, Danial beserta kedua temannya datang.


"Eh bang, dateng juga lu." Sapa Boy sambil bersalaman ala-ala pria.


"Geli banget gue dengernyaa. Sok-sok manggil abangg," cibir Danial. Boy tertawa, "ya kan calon abang iparrr."


"Masih calonn ye masih calonn." Ledek Ikhsan.


"Iri lu yaa? Yyy. Gue tau lu iri, wahahaha."


"Maklumin aja Boy, Ikhsan tuu jones gitu. Gak ada yang mo sama diaa, makanya ngeledekin lu."


"Anjirrr lu pada!! Fakyuu!"


"Sekali nyerbu barengan, ngajak betumbuk."


Mereka tertawa.


"Gak ada yang bilang ke Echa kan?" Tanya Boy mewanti-wanti.


"Gue sama sekali belum liat Echa, Echa juga gak ada chat gue." Jawab Revin.


"Nah sama, di gue juga."


"Oke fiks, aman."


"Tapi gak tau si kalau bini gue yang beberin."


Mereka auto natap Khansa.


"Lu bilang surprise apaan?!!"


"Nggak."


"Oasu. Ikut gue yuk, Sa." Ajak Branden sambil tersenyum.


"Motong pala lu, nyabut otak lu. Kasian gak berguna, gak lu pake."


"Branden anak ngen–."


"HWAHAHAHA. Astaghfirullah, keep halal brother."


◑◑◑


Menjelang siang hari, Diva pulang bertepatan dengan Branden pulang. Keduanya masuk ke rumah bersama.


Oh iya, Branden gak jadi pangkas cepak.


"Udah siap cari janda?"


Branden terkekeh, "ngapain nyari janda. Kan ada kamu."


"Diwhh."


Aslinya Diva salting.


"Katanya pulang cepet."


"Inikan udah cepet, sayangg. Biasanya mau maghribkan?"


"Iyaaa. Gak inget pulang, gak inget anak istri." Branden tertawa, "ingett aku tu inget. Kalau gak inget, ngapain aku kerja? Kan aku kerja untuk anak istri."


"Alah siaaa, moduss!" Diva membawa pergi Fauzul ke kamar. Branden sendiri pergi ke dapur sambil tertawa melihat ekspresi istrinya tadi.


"Udah jam segini, ntar telat pulaa."


Branden berlari ke kamarnya.


"Yangg! Ayangg?"


"Mandiii, kenapaa?" Teriak Diva dari kamar mandi.


"Gapaapaa."


Branden melepas jas, dasi dan atribut lainnya lalu mengambil handuk di gantungan. Setelahnya, ia masuk ke kamar mandi menggunakan kunci cadangan.


"HEH PENYUSUP! Untung saya sudah selesai mandi!"


Di sisi lain, Yesha baru saja mengganti bajunya dengan baju tidur. Ia juga baru pulang dan rencana ingin lanjut tidur.


Kepalanya agak pusing karena tadi tidur di cgrvls dalam kondisi kepala ngegantung. Macem kayang tapi bukan kayang:v


"Fianaaa."


Yesha menoleh, "eh abang. Kenapa?"


"Ayok ikut abang." Ajak Danial antusias.


"Dih, mau kemanaaa? Males!"


Danial menatap kesal adiknya lalu menghampiri dan menggendong Yesha seperti karung beras.


"Abaangg!!"


"Diem toh, jangan ngeyel!"


"Ishh, mau kemanaaa sii? Kak Hanin mana?"


"Udah disanaa."


Yesha pun terpaksa diam di gendongan. Tiba di mobil Danial meletakkannya.


Jduk!


Yesha kejedut.


"Abang, sakit!!!"


Danial malah tertawa, "sakit dikit doang tu. Maaf yaa adek cantiknya abangg."


"Ahshsh, ada udang banget ini mah." Danial nyengir lalu menuju kursi kemudi.


Di dalam mobil, Danial memasangkan penutup mata. Kali ini, Yesha diam tidak ingin protes.


Setelahnya, mobil mulai melaju.


"Fia, kamu pilih gold or white?"


"Euummm, white."


"Natural or agak berlebihan?"


"So pasti natural."


"Okee. Jangan buka penutup mata kamu."


"Iyee!"


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di butik.


Danial membantu Yesha berjalan.


"Test dulu, ini berapa?" Danial tidak mengangkat jari manapun.


"Dua?"


"Kosong. Berarti gak liat apapun."


"Ya emang kagak! Gelap, bangg." Danial tidak merespon dan terus menuntun Yesha. Setibanya di dalam butik Danial memberitahu istrinya tentang pilihan Yesha tadi.


"Fia, duduk sini dulu ya. Jangan buka!"


"Iyee."

__ADS_1


Yesha menunggu di kursi.


Cukup lamaa, Yesha sampai ketiduran.


Ternyata mereka kelamaan memilih desain dan riasan.


"Agak bagus sih dia tidur, jadi gak ketara." Ujar Hanin.


"Puas banget dia tidur tu, jangan sampe kebangun." Hanin mengangguk sambil tersenyum.


Hanin mendekat dan merias wajah Yesha.


Yesha benar-benar tidur sangat lelap, terbukti karena sampai riasan selesai Yesha masih tidur.


"Bangunin aja kali, ya?" Tanya Hanin setelah menutup kembali mata Yesha.


Danial mengangguk. "Bangunkan aja. Pelan-pelan, sayang. Dia agak betingkah kalau dibangunin."


Hanin tertawa kecil lalu menyenggol tubuh Yesha.


"Caa, Echaa?"


"Eumh? Kak Haninn?"


"Iyaa, kamu bangun ya. Terus ikutin kakak," kata Hanin. Yesha menganggukkan kepala.


Mereka berdua pergi ke ruang ganti.


"Buka baju kamu."


"Ihh, ngapainn?"


"Udah buka aja."


"Iii gak mauuu, kakk. Maluu!"


Hanin menatap Danial menanya jawaban.


"Okee, kalau gitu ikutin kakak lagi deh ya." Yesha mengikuti Hanin kembali ke mobil.


Danial membawa barang Yesha dan memasukkannya ke mobil bagian belakang.


"Let's go!"


Danial mengendarai mobilnya cukup laju.


Yesha di depan terombang-ambing dibuatnya.


Untung saja pakai seat belt.


"Bang, mau kemanaa?"


"Anak kecil gak boleh kepo!" Jawab Danial.


"Anak kecil lah pulaa, Fiana dah gedek!"


Danial dan Hanin tertawa melihatnya.


"Iya deh iya, udah gedekk."


"Kak Hanin?"


"Iya, Echa. Kenapa?"


"Kita mau kemanaa?"


"Gak tau kakak, tanya abang kamu aja."


"Sekongkol kalian bedua! Fiana buka ya ini."


"Eits, no!"


"Okay-okay."


Yesha diam.


Lama perjalanan membuatnya tertidur lagi.


Bukan Yesha yang kebo tapi ngantuknya yang nyerang terus:^


Mereka sampai.


"Udah rame ajeee." Kata Danial.


"Yang penting kita gak telat." Jawab Hanin.


"Terus ini dia gimana? Gak ganti bajuu?"


"Biarin aja. Dia gak mau tadi," Hanin berohria.


"Fianaa. Bangun, dekk."


"Fiaaa!"


"Haaa iyaa!!"


"Ayok turun." Danial dan Hanin membantu Yesha berjalan. Mereka semua kumpul di tepi pantai itu.


"Astaghfirullahalazim, kenapa gak ganti bajuuu?!" Tanya Alika tanpa suara. Dirinya dan teman-temannya yang lain sudah tau surprise Boy.


"Dia gak mau." Jawab Danial juga tanpa suara.


"Yaudahlah, duduk aja." Suruh papanya.


"Gibahin Fia pasti. Ngapain sih, bang??"


"Kepo. Udah duduk sekarang," Yesha nurut.


Ia tidak sadar kalau sedang duduk berdampingan dengan Boy yang nervous.


"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau...."


Yesha tersadar, ia langsung membuka penutup mata dan melihat sekeliling. Betapa shocknya dia dengan apa yang dilihat.


Yeah! Keramaian di tengah acara ijab kabul.


'WOIII! INI MANTEN PAKE BAJU TIDUR GIMANA CERITANYAAAA?!' Batin Yesha ingin teriak.


Yesha tahan karena Boy masih mengucapkan ijab kabulnya. Yesha benar-benar terkejut.


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sahhh!" Penghulu pun membacakan doa yang biasa dibaca ketika selesai ijab kabul.


Yesha sendiri seperti orang dongo.


Dia pasrah sekarang.


Do'a selesai.


Boy menghadap Yesha menahan tawanya.


"Ini beneran apa ecek-ecek sii? Mo nangis rasanyaa. Ada pula orang nikah pake baju tidurr." Rengek Yesha kesal.


Mereka yang disana tertawa.


"Gapapaa, beda dari yang beda!!"


"Saya maluuuuu~"


◑◑◑


Acara berlangsung sampai malam hari. Yesha sudah berganti baju dengan gaun-gaun menakjubkan. Tempat mereka juga pindah ke suatu gedung yang lumayan megah.


Ini luar biasa.


"Nyiapin berapa lama kamu?" Bisik Yesha.


"Ndak boleh kepo. Siapin aja mental buat nanti."


Yesha menatap sinis Boy, "mau ngapain lu?!" Boy malah tertawa. "Ndak boleh kepo."


"Aish!!!"


"Yakk tatap-tatapan teross. Ada tamu ni," ujar Branden.


"Sejak kapan lu tamu? Nyuci piring sana!"


"Fuckk u, Boy!" Boy tertawa.


"Cie yang udah dinikahinnn, cie cieee." Ledek Alika.


"Paan sii ah! Gue masih malu tadi pake baju tidur pas ijab kabul."


"Lu nya gak mau ganti baju."


"Riweh njemm!" Mereka tertawa.


"Boy, jaga betul-betul bestie kami ni! Awas aja kalau sampe lu macem-macem," ancam Nara.


"Wopp, selo. My Queen akan dijaga dengan sepenuh hati jiwa dan raga say—"


"Bacot, diem!" Boy auto tatap sinis Nara, Nara dan yang lain kembali tertawa.


"Ehem."


Mereka menoleh kebelakang.


"David?"


David tersenyum, ia maju mendekati Boy dan Yesha. "Happy wedding! Sorry buat kelakuan gue selama ini. Gue janji gak bakal ganggu lu berdua lagi. Kemarin-kemarin juga niatnya bukan buat ganggu, tapi buat mastiin aja keseriusannya Boy. Dan ternyata dia tulus dan serius sama lu."


Yesha tersenyum tipis.


"Thank u pengujiannya."


"Sama-sama. Boy, lu jaga dia baik-baik ya. Kalau sampe dia nangis, gue bersumpah bakal rebut dia dari lu."


Boy tersenyum smirk.


"Sampe kapan pun, gue gak bakal buat dia nangis."


David senyum tipis, "baguslah. Echa menemukan orang yang lebih baik dari gue."


"Yaudah kalau gitu, gue mau pulang. Sekali lagi happy wedding." David tersenyum ikhlas lalu pergi.


Mereka hanya menatap kepergian David.


David sendiri berjalan dengan sok cool, kenyataannya dia begitu patah hati melihat Yesha berdampingan dengan pria lain.


"Huftt! Cinta itu butuh pengorbanan. Ketika Sang Pencipta tidak mengizinkanmu bersanding dengan dia, maka kau harus berkorban untuk kebahagiaannya."


...—·—Ending—·—...


Kyaaa!! Finally ending.


Nggak tau ini di baca berapa orang, but, saya sangat berterimakasih karena masih bertahan menunggu updatenya.


By the way, kalau selama ini banyak salah kata atau ada kata-kata yang menyakitkan di hati readers, saya pribadi meminta maaf yang sebesar-besarnya.


Udah gitu ajaa ya hehe.


Sekali lagi, makasih buat yang masih stay! ♡♡


Yang terakhir, kalian stay safe yaa! Jangan lupa jaga jarak, cuci tangan dan pakai masker. Sehat-sehat ya orang baik, xixi.


See u in another story, bye-byee <33

__ADS_1


__ADS_2