Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 24 Nana baperrrr


__ADS_3

Saat Wisnu dan Arya menuju ke kelas.


"Khulll, mantap ya sikap mereka?" ujar Arya.


"Diluar dugaan gue" balas Wisnu.


"Kalau menurut gue sih bagus blak blakan gitu dari pada ngomong dibelakang"


"Iya sih, tapi.." Wisnu menjeda ucapannya dan berhenti dijalan.


"Oi" panggil David. Dia berjalan, tangannya dimasukkan ke saku celana. David, Arya dan Wisnu. Mereka itu teman saat SMP, sampai sekarang mereka masih berteman dengan baik.


"Apaa?" tanya Wisnu kalem.


"Darimana?" tanya David.


"Ruangan pak Wanto, kenapa?" tanya Arya balik.


"Ngapain? Oh iya voli ya?" tanya David. Wisnu mengangguk.


"Lo mau kemana?" tanya Wisnu.


"Samperin adeknya Febri. My girlfriend" jawab David.


"Set dah, ada yang mau sama Lo?" tanya Arya meledek.


"Apa pula gak mau, gue ganteng gini loh"


"Pede amat si nj·ir" ledek Arya, David tertawa.


"Lo kenapa?" tanya Arya pada Wisnu.


"Febrian punya adek? Siapa? Kelas?" tanya Wisnu.


"Namanya Yesha, kelas IX IPS 4"


"Loh? Bukannya yang tadi kan ya?" tanya Arya.


"Eh, kalian ketemu?" tanya David.


"Pak Wanto suruh gue sama Wisnu ngajarin mereka voli." jawab Arya.


"Loh, bukannya mereka tim basket putri??" tanya David.


"Smada Persatuan cancel basket putri" jawab Wisnu.


"Yahh, gagal latihan bareng sama ayang beb" David kecewa.


"Lo demen? Kok bisa? Cewek cantik banyak bro, kenapa yang cuek bebek, songong, dingin gitu yang Lo pilih?" tanya Arya.


"Lo aja yang gak tau sensasinya. Yesha sama tim nya itu, eumm.. luar biasa." jawab David.


"Luar biasa apanya pak Wanto sampe dilawan?" tanya Wisnu kesal.


"Ketularan si David mereka tuh" sahut Arya sambil cengengesan. David cuma senyum senyum aja.


.


"Kalau dia terima Lo apa adanya ya lanjut, kalau nggak ya mundur, kok susah" Yesha sedang ceramah dengan Nara. Mereka berdua disuruh ke perpustakaan untuk mengambil buku. Tanpa mereka sadari, didepan mereka ada David, Arya, dan Wisnu.


"Eh oi, sayang!!" panggil David, dengan gayanya yang sok cool dia berjalan menghampiri Yesha, diikuti Wisnu dan Arya.


"An·jir, gue salah jalan na, ada kembarannya kuyang" ujar Yesha saat melihat David.


"Sembarangan, suami sendiri dikata kembaran kuyang" balas David.


"Kalian bahas apa sih? Kutang?" tanya Arya.


"Ehh anak laknat, otak lo isinya gunung semua ya" cibir Wisnu. Arya tertawa.


"Kuyang be·go, kenapa jadi kutang?!" tanya David ngegas. Arya cengengesan.


"Mo kemana yang?" tanya David.


"Halu mulu David astagaaaa" cibir Nara.


"Eits, tua-an gue loh" kata David.


"Terus?" tanya Nara datar.


"Tuh kan, susah gue lawannya"


"Mau kemana sayang? Mau aa' David antar?" tanya David.

__ADS_1


"Najisun, hahahahahah" ledek Wisnu. David menatapnya sinis.


"Berisik kak, sana ih" suruh Yesha sambil mendorong David, mereka berdua pun pergi meninggalkan David, Arya, dan Wisnu. Eh, ntah kebetulan atau emang direncanakan. David menarik tangan Yesha bersamaan dengan Arya menarik Nara. Mereka berdua pun ketarik, mendekat dan jadi sangat sangat sangat dekat. Bahkan, Arya dan David memegang pinggang mereka berdua. 'sial, ada kak wisnu' batin Nara.


"Apaa sih?! Lepas!" suruh Nara, Arya menatapnya, lalu melepaskan pegangannya. Lain dengan Nara dan Arya, David dan Yesha malah pandang pandangan saat itu.


"Ehem.." Nara dan Wisnu bersamaan.


"Pandang teros pandang!" ledek Arya. Yesha memaksa lepas pegangan David, tapi David menariknya hingga mereka berpelukan.


"Ada apa sih sama Lo? Kok gue deg degan liat Lo?" tanya David.


"Eh?" tanya Yesha heran. Untuk kesekian kalinya, Yesha memaksa lepas pelukannya. David melepaskannya.


"Ihh gemesss pengen cium" ujar David. 'david minim akhlak' batin Yesha.


"Bacot! Geser, mo ke perpus" suruh Yesha, dia pun berjalan kembali sambil menarik tangan Nara.


"Mau aa' David bantu nggak?" tanya David.


"Kagak perlu ntar Lo nyusahin" balas Yesha.


"Eh kampret" kata David.


"Hati hati sayangqueee" kata David sedikit berteriak, Yesha mengacungkan jempol nya.


"Ya, Nu, gue duluan ke kelas." pamit David.


"Eh barengan lah" pinta Arya.


"Kalian duluan ya, gue lupa sesuatu" suruh Wisnu.


"Oke" jawab Arya, Arya dan David pun pergi duluan.


—∆


Wisnu pergi mengikuti Nara dan Yesha. Lelah mencari Nara, Wisnu menunggu kakinya ditempelkan satu di dinding, sambil bersidekap dada.


"Akhirnya jumpa" ujar Wisnu, dia melihat Nara yang kesusahan mengambil buku, yang posisinya tinggi sekali. Wisnu menghampirinya dan mengambilkan untuk Nara. Nara tidak melihat Wisnu, karena Wisnu berada tepat dibelakangnya.


"Makasih" kata Nara. Saat Nara berbalik, dia langsung berhadapan dengan Wisnu, sangat sangat dekat.


"Ka...k Wisnu" Nara terkejut, tapi dia berusaha bersikap normal.


"Ng.. nggak" jawab Nara gugup.


"Kenapa gugup gitu hm?" tanya Wisnu lagi.


"Kakak ngapain disini?"


"Panggil abang aja gitu atau mas. Jangan kakak" pinta Wisnu


"Iyain, mas Wisnu ngapain disini?" tanya Nara lagi, posisi mereka masih tetap seperti tadi.


"Gak ngapa ngapain, perpustakaan bebas untuk siapa aja sayang" jawab Wisnu.


"Eh iya deng" balas Nara.


"Mas mo tanya, kenapa kamu jadi kayak badgirl gitu, suka ngebantah ?" tanya Wisnu, kali ini Wisnu memegang kedua pipi chubby Nara. 'kamu?' kata kata itu selalu terbayang difikiran Nara.


"Eiyy"


"Eh iya mas?"


"Kenapa, jawab dong?" pinta Wisnu.


"Bukan badgirl mas, Nara tuh cuma nunjukkin diri Nara yang sesungguhnya. Kalau mas gak mau deket sama Nara lagi gak masalah kok" jelas Nara, dia hendak pergi. Tangannya ditarik oleh Wisnu, dia berbalik. Wisnu langsung memeluknya, Nara membalasnya.


"Mas gak bakal jauhin kamu, jangan kemana mana ya. Mas juga gak suka kamu tadi deket banget sama Arya. Oke?" tanya Wisnu, dia memeluk sambil mengelus rambut Nara. Nara cuma mengangguk. Mereka terus berpelukan sampai akhirnya setan muncul.


"Udah 10 menit, pelukan terus. Pak Erik cariin bukunya gue gak tanggung jawab" ujar Yesha.


"Heh, keponakan dugong. Lo tu ya" ledek Nara setelah melepas pelukannya Wisnu. Yesha mengangkat dua jarinya tanda damai, lalu pergi.


"Jangan bandel bandel banget ya, jangan deket deket sama cowok lain. Mas pergi dulu" pamit Wisnu, dia pergi. Nara melihatnya.


"Mas Wisnu!" panggil Nara, Wisnu berbalik.


"Kenapa kalau Nara deket sama yang lain?" Nara bertanya, Wisnu menghampirinya.


"Wisnu Marcelino..... Cemburu" bisiknya lalu pergi tanpa berbalik. Nara terkejut, Nara tersipu. 'astagaaaa,' batin Nara berteriak. Dia melihat kepergian Wisnu. Ketika sudah diluar, Wisnu melihat ke arah Nara, Nara juga melihatnya. Wisnu melambaikan tangannya, begitupun dengan Nara.


"Skuy balik kelas" ajak Yesha, Nara pun mengikuti ajakan Yesha.

__ADS_1


|★—★|


Di kelas..


"Lama kali yang ngambil buku, menyimpang kemana mereka?" tanya pak Erik bingung. Dia mengecek ponselnya, setelah itu melihat ke arah murid muridnya.


"Eh, ada apa dengan Diva?" tanya pak Erik saat melihat Diva yang anteng, dia menyembunyikan wajahnya disela sela tangan.


"Nggak tau pak" jawab Branden.


"Di cek coba, suruh bangun kalau tidur" suruh pak Erik.


"Dip, Dipa?" panggil Branden. Branden menyentuh lengannya.


"Loh pak, panas banget ini" ujar Branden.


"Kok bisa?" tanya pak Erik, dia menghampiri meja Branden dan Diva. Pak Erik mengeceknya dan ternyata suhu badan Diva panas.


"Tim kesehatan kelas siapa?" tanya Erik.


"Yang putri Fera, yang putra Gery pak" jawab Panji.


"Gery, bawa Diva ke UKS!" suruh pak Erik.


"Nggak usah pak, saya aja." cela Branden.


"Lo diam aja disana Ger, biar gue aja" kata Branden.


"Loh tapi..." ucapan Gery terhenti.


"Assalam... Loh diva kenapaaa?" tanya Nara panik. Nara dan Yesha buru buru meletakkan bukunya di meja pak Erik. Setelahnya, mereka menghampiri Diva.


"Cia mana cia?" tanya Yesha.


"Cia siapa? Murid baru?" tanya Fahmi.


"ALIKA FLOWRENCIA!" balas Yesha.


"Ngegas" cibir Fahmi.


"Alika ke toilet" jawab Milly.


"Duhhh" keluh Nara.


"Kenapa?" tanya pak Erik. Yesha bergerak ingin menggendong Diva.


"Gue aja ca, geser Lo" suruh Branden, Yesha pun membiarkan Branden menggendong Diva lalu membawanya keluar kelas.


"Diva, biar saya, Yesha sama Alika yang urus pak. Kita izin!" pamit Nara.


"Kenapa harus bertiga?!" tanya Pak Erik.


"Solidaritas pak" jawab Yesha. Mereka pun langsung pergi. Yesha menyusul Alika yang ke toilet.


Di dalam UKS, Branden dengan telaten merawat Diva. Dia tidak mengizinkan Yesha, Nara ataupun Alika yang melakukan itu.


"Diva kenapa sih? Pingsan?" tanya Branden.


"Diva lemes, ada beberapa hal kemungkinan dia kayak gini. Yang pertama, dia kelelahan. Yang kedua, dia salah makan. Yang ketiga, mungkin dia banyak pikiran. Atau yang keempat, dia kurang istirahat." jelas Alika.


"Jadi, ini gimana?" tanya Branden lagi.


"Diva cuma butuh istirahat," jawab Nara.


"Kalian ke kelas aja, soal Diva gue yang urus" kata Branden.


"Yang bener Lo?! Awas aja kalau Lo gak becus. Gue permaluin Lo dilapangan" ancam Yesha. Nara mengangkat tangannya untuk bertos, diikuti Alika.


"Iya iyaaa" balas Branden. Alika, Nara, dan Yesha menghampiri Diva.


"Dipsilalapoo, kalau lo lagi capek harusnya lo libur" ujar Yesha.


"Dipeeh uwu ku, mestine nek koe akeh pikiran iso cerito karo aku, nara, echa. Ojo mbok pendem dewe" sahut Alika.


"Dipohul hull, lo itu kudu banyak istirahat biar gak tepar kek begini" sambung Nara.


"Cepet sembuh samyang" kata mereka bertiga kompak


"Jaga baik baik bran, awas aja Lo" ancam Alika. Branden mengangguk. Nara, Yesha, Alika pergi dari situ.


"See dip, temen lo super banget. Gue jadi iri sama lo. Gue juga punya sih temen kek begitu. Hehe."


"Lo kenapa sih gak bilang ke gue kalau sakit? Lo cepet bangun ya!" Branden berkata sambil mengelus tangan Diva. Branden pun menunggu di UKS sampai Diva sadar.

__ADS_1


__ADS_2