Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 65 Restu


__ADS_3

"Assalamualaikum" ujar Diva.


"Waalaikumsalam" maminya datang memakai celemek. Mukanya juga banyak terkena tepung.


Sepertinya, si mami lagi buat percobaan. Pikir Diva.


"Divaaa.. darimana aja kamu ha? Astaga, papi mami panik" ujar maminya alay. Dia belum menyadari keberadaan Branden.


"Tapi tunggu.. bukannya tadi malam kamu pakai baju--" omongannya terhenti ketika melihat kaki pria disebelah kaki anaknya. Mami Diva mendongak.


"Siapa pria ini?" maminya menatap sinis Branden.


"Ah.. halo tante, saya Branden Narendra, pacarnya Diva" Branden mengulurkan tangannya dengan senyuman manis. Mami Diva menyambut uluran tangan itu.


"Farah, mami Diva"


"Kamu apakan anak saya hah??!!" tanya Maminya setelah berjabat tangan.


Branden benar benar terkejut dengan pertanyaan maminya Diva yang tiba tiba. Ditambah dengan suara nyaring si mami, Branden jadi gelagapan.


"Mii.." panggil Diva.


"Nggak! Mami harus telepon papi" ujarnya. Lalu mengambil ponselnya di saku celemek.


"Mi.. is mami dengerin Diva" diva menarik tangan maminya.


"Apa?" tanya Maminya.


"Ini pacarnya Diva. Namanya Branden. Nah tadi malam Diva, Nana, Cia, sama Echa kan mabuk, ketemu sama bang Febri sama teman temannya bang Febri, juga ada Branden"


"Karena kami dah mabuk jadi bang Danial suruh buat kami di apartemen nya Boy, pacar echa. Disana juga ada bang Febri. Kalau soal baju, ini diva ganti baju sendiri ma. Bajunya dibelikan bang Febri" jelas Diva.


"Oo begono. Yaudah, nak Branden silahkan duduk. Mau minum apa?" tanya maminya kalem sekarang. Maminya menyuruh Branden untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Cih si mami" kata Diva lalu pergi.


"Oy balik!" suruh Maminya. Diva berbalik lalu duduk di samping Branden.


"Kalian emang serasi," ujar maminya.


"Hah?" tanya keduanya. Maminya senyum pepsodent.


"Mau minum apa Branden?" tanya maminya lagi.


"Eh, gak usah Tante. Jangan repot-repot" jawab Branden gak enak.


"Ah gak usah sungkan gitu. Ini juga permintaan maaf Tante karena tuduh kamu yang nggak-nggak tadi"


"Nggak apa apa tan" kata Branden sambil tersenyum.


"Oh iya. Branden mau izin bawa diva boleh gak tan?" tanya Branden.


"Mau kemana?" tanya Maminya.


"Mau daki gunung Tante. Sama bang Danial juga kok" jawab Branden.


"Danial?"


"Bang Febri ma, mereka panggil bang Febri bang Danial" jelas Diva.


"Mau daki gunung ya? Tante gak bisa izinin. Kamu izin sama om aja ya" suruh maminya.


"Mami??"


"Mami takut kasih keputusan yang salah diva" jawab Maminya.


"Yakali Branden tungguin papi pulang?" protes Diva.


"Telepon, SMS, video call, atau datangin ke perusahaan papa sekarang kan gampang" jawab maminya.


"AFD Company ya Tante?" tanya Branden. Maminya mengangguk. Branden beranjak lalu salaman ke mami Diva.


"Branden mau izin dulu ke om Tan. Branden pergi ya Tante. Assalamualaikum" Branden pergi.


"Eh?" Tanya Maminya heran.


"Mami restui kamu Diva!"


★★

__ADS_1


Disisi lain.


"Eh kak Wisnu. Apa kabar kak?" tanya Nanda.


"Dih, eSKaeSDe banget sii?!" cibir Nara.


"Syirik mulu dah mbak Toyib! Masuk sono lu. Disidang sama Daddy!!" Nara panik.


"Ya Allah, bantu Nara ya Allah" ujar Nara lalu masuk meninggalkan dua pria di hadapannya.


Nanda cengengesan melihat muka panik Nara. "Bohong?" tanya Wisnu. Nanda mengangguk sambil senyum pepsodent.


"Jahil banget ya" Nanda tertawa. Mereka berdua pun masuk ke rumah Nara.


Nara masih di balik pintu dengan kegugupan yang menyelimuti. Dia menghela nafas lalu benar benar masuk.


"Nara balik" suaranya tidak sekencang biasanya.


"Salam Nara!!" suruh Mommy-nya.


"Udah mom" bantah Nara.


"Kapan?"


"Assalamualaikum"


"Barusan mom" jawab Nara. Mommy-nya menatap sinis. Nara hanya cengengesan.


"Kamu sendiri? Balik sama siapa?" tanya Mommy-nya.


What the hell? Mommy-nya gak marah? Apa ini tipu daya doang untuk pemanasan? Atau.. Nanda yang nipu?!!! Tanya Nara dalam benaknya.


Nanda yang tertawa masuk bersamaan dengan Wisnu. Nara bertanya dengan kode pada Wisnu.


Wisnu yang paham hanya mengangguk. "Adek shialann!!" Nara menghampiri Nanda lalu mencubit perutnya


Nanda meringis kesakitan. "Naraa" Nara melepas cubitannya lalu senyum dengan wajah tanpa dosa.


"Huhuu mommyy.. liat tuh kak Nara seremm banget" adu Nanda langsung berlindung di balik mommy-nya.


"Apa ini ribut ribut?" tanya Daddy-nya.


"Kenapa kamu cubit adikmuu, naraa?" tanya Daddy-nya.


"Yee.. dia kang nipu dadd" jawab Nara.


"Siapa suruh gampang ditipu" balas Nanda.


"Sabar Nara sabar" lirih Nara sambil memejamkan matanya.


Kedua orangtuanya tertawa melihat tingkah anaknya.


"Eh ini siapa?" tanya Daddy-nya setelah menyadari kalau ada tamu.


"Ini pacar Nara. Namanya Wisnu" jawab Nara.


"Halo om, tante, saya Wisnu" ujar Wisnu sopan sambil bersalaman.


"Ooooo~"


"Duduk nak Wisnu" suruh Daddynya. Mereka beralih ke sofa.


"Nara, bikin minum dong buat pacarnya. Gimana sih?!" suruh Daddynya.


"Iya Daddy iyaa" Nara pergi.


"Kamu tinggal dimana?" Daddy Nara memulai interogasi.


"Di rumah om" jawab Wisnu.


"Iya bener juga sih" ujar Daddy-nya. Sesama somplak ya gini:v


"Berapa lama pacaran sama Nara?"


"Udah lama om" jawab Wisnu.


"Ketemu Nara dimana?" tanya Daddy-nya lagi.


"Adik kelas saya om"

__ADS_1


"Kok bisa suka sama Nara?" kali ini mommy-nya yang bertanya.


"Buset dah, kayak wawancara ajaa dah" kata Nara.


"Nara, kamu ini. Kan udah dibilang jangan menyela pembicaraan orang tua!" ujar Daddy-nya.


"Emang Daddy udah tua? Daddy kan masih 24 tahun" Nara santai duduk di dekat Wisnu setelah meletakkan teh untuk Wisnu dan kopi untuk Daddy-nya.


"24 tahun darimana?! 42 tahun iya!!" sahut Mommy-nya. Mereka tertawa, termasuk Nanda dan Nessi.


"Eh iya om. Mumpung om sama tante disini, saya mau izin ajak Nara daki gunung besok. Rame kok om, ada Yesha, Alika, Diva, Febri sama teman temannya Febri" izin Wisnu.


"Berapa hari?" tanya Daddy-nya.


"Bukan mendakinya, tapi izin bawa anak sayanya berapa hari?" jelas Daddy-nya.


"Kurang lebih seminggu om" jawab Wisnu.


"Saya izinin. Jaga anak saya baik baik. Jangan sampai dia pulang ada anggota tubuhnya yang hilang, sekalipun sehelai rambutnya!"


_____________


Alika dan Frans baru tiba dirumah Alika. Frans mencoba menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan.


"Kenapa sih? Keknya gugup banget?" tanya Alika saat masih di dalam mobil. Alika merasakan itu dari tadi karena Frans selalu menggenggam tangannya erat walaupun sedang menyetir.


"Nggak apa apa" jawab Frans.


"Jangan bohong!" Frans menatap Alika.


"Gue gak bohong" Alika tersenyum manis.


"Yaudah ayok keluar" ajak Frans.


Sebenarnya Alika masih malas kembali ke rumah. Dia masih tidak ingin bertemu dengan Elina. Tapi mau bagaimana lagi, dia juga harus meminta izin agar tidak terjadi hal-hal buruk saat mendaki esok.


Mereka berdua keluar dari mobil lalu masuk kedalam. "Assalamualaikum" ujar mereka berdua bersamaan.


"Alikaa akhirnya kamu kembali nak" bundanya langsung memeluk Alika. Alika membalas pelukan bundanya.


"Bunda panik, bunda khawatir. Kamu baik baik aja kan?" Bundanya memutar tubuh Alika. Alika tersenyum.


"Makasih udah anterin Alika ya" kata bundanya. Frans tersenyum manis.


"Ada tamu?" tanya seorang pria yang tak lain adalah ayahnya.


"Alika?"


"Kemana aja kamu? Kamu gak apa apa kan?" tanya Ayahnya.


"Alika baik baik aja ayah, bunda" jawab Alika.


"Ini kenalin, pacar Alika. Namanya Frans" Frans menyalami tangan ayah bunda Alika.


"Makasih udah anterin Alika nak Frans" Frans tersenyum.


"Sama sama om" jawab Frans.


"Mana Elina?" tanya Alika.


"Ayah suruh bodyguard kurung Elina di apartemennya. Kalau kamu belum balik ayah gak akan melepasnya. Tapi karena kamu sudah balik, ayah mengganti hukuman untuk mencabut semua fasilitasnya" jelas Ayahnya. Alika hanya mengangguk setuju. Frans bernafas lega.


"Ayok duduk. Jangan berdiri terus kan capek" suruh bundanya. Mereka duduk ke sofa ruang tamu.


"Bibi, buatin minum untuk calon mantu saya!!" teriak bundanya. Frans jadi malu malu.


"Kelas berapa nak Frans?" tanya Ayahnya.


"Sebaya Alika om" jawab Frans.


"Oh iya, kamu kok bisa ketemu Alika? Tadi malam saya keliling cari Alika gak ketemu" kata ayahnya.


"Emm.. saya ketemu Alika di club om. Dia mabuk" jawab Frans.


"Rusuh lagi kamu" Frans menatap Alika. Alika cengengesan.


"Alika stress paaa. Alika baru pulang nah si Elina langsung nyerocos. Dia bilang Alika cari om om!!" keluh Alika.


Om om? Maksudnya Alika jalangg? Bukannya dia yang gitu?' Batin Frans bertanya-tanya.

__ADS_1


Dia benci Elina, tapi dia mencintai Alika. Apa yang harus Frans lakukan? Memperjuangkan atau merelakan?


__ADS_2