
"Alika, Diva, Nara, Yesha" panggil pak Wanto. Mereka terpaksa menghadap pak Wanto karena terlambat. Itu ulahnya Yesha yang bangun kesiangan. Teleponan mereka kemarin, berlangsung selama 1 jam lebih.
"Bapak panggil nama kita terus, kenapa sih?" tanya Alika.
"Iya pak, kalau mau kasih hukuman ya jangan kelamaan" sahut Nara.
"Alika naraaaa" panggil Diva kesal.
"Tuh kan, jiwa emak emaknya terkuak" sindir Nara. Alika, Nara, Yesha bertos sambil tertawa.
"KALIAN?!" teriak pak Wanto.
"Kalau mau kasih hukuman, kasih ke saya aja pak, saya yang salah" ujar Yesha.
"Apaan sih? Kita telat bareng, kena hukum bareng bareng lah" kata Nara.
"Setuju gue sama Lo" sahut Alika. Nara dan Alika bertos.
"Kalian murid kesekian yang terlambat, bapak tidak tau mau kasih kalian hukuman apa." ujar pak Wanto.
"Selamat ulang tahun ya pak" ujar Yesha tiba tiba.
"Doa yang terbaik untuk bapak, karena bapak baik jangan hukum kami ya" bujuk Yesha. Ketiga temannya kebingungan.
"Kamu tau darimana saya ulang tahun hari ini?" tanya pak Wanto.
"Rahasia dong pak, kita kan baru hari ini nih telat pak, itupun karena kecapekan latihan basket pak, toleransinya dong pak" bujuk Alika gantian.
"Oke okee, saya tidak akan menghukum kalian." kata pak Wanto. Crazy Bacot pun bertos.
"Bagaimana anggota baru?" tanya pak Wanto.
"Gak susah susah amat kok pak di ajarin, pak Ahmed kok cepet banget nemuin nya?" tanya Diva.
"Dia jago sewaktu SMP, jadi dia yang ditunjuk pak Ahmed untuk jadi tambahan kalian" jawab pak Wanto.
"Oh gitu pak, kalau gitu kita pamit dulu ya pak. Udah telat 15 menit" ujar Nara. Pak Wanto mengiyakannya, mereka pun pergi.
-
"Lo tau darimana pak Wanto ultah?" tanya Alika pada Yesha, mereka sedang dalam perjalanan menuju kelas.
"Tatapannya memancarkan sesuatu yang membahagiakan, dan seakan-akan berkata ‘Saya ulang tahun, saya ulang tahun’ gitu. Tapi tadi gue asal nebak doang sebenarnya" jawab Yesha.
"Aneh Lo emang" cibir Alika. Yesha cengengesan.
"Belum lagi siraman rohani dari pak Erik, maaf ya ini salah gue" ujar Yesha.
"Kagak usah gitu deh ah." suruh Nara.
"Tau tuh, santai aja." sahut Diva.
"Utututu, baek banget kalian sama gueee" ujar Yesha dramatis.
"Gak usah alay bangke" cibir Alika. Mereka pun tertawa. Beberapa menit kemudian mereka tiba di kelas.
"Assalamualaikum pak" ujar mereka bersamaan.
"Anak kembar udah datang? Duduk!" suruh pak Erik.
"Gak ada hukuman kan pak?" tanya Diva.
"Uwaahh, bapak makin makin gantengnya. Mirip sama Lee Min-ho" ujar Nara asal.
"Tapi gantengan Lee Min-ho pak" sahut Alika. Teman teman sekelas mereka pun tertawa.
"Kalian ini, sudah silahkan duduk, kita lanjutkan pelajaran." suruh pak Erik. Mereka pun kembali ke kursi masing masing.
·–♪–·
"Gue denger, katanya lo pada ditunjuk pak Wanto untuk tanding persahabatan basket sama SMA 2 Persatuan" ujar Revin, mereka berada di kantin.
"Iya bang, males banget gue. Dihadapan banyak orang lagi" sahut Nara.
__ADS_1
"Cieilahh, kenapa emang?" tanya Khansa.
"Ya, you know aja lah, tampang kami terlalu imut kalau dipertontonkan" sahut Alika.
"Dih dih, ngadi ngadi" ledek Branden. Alika tertawa.
"Gue sama yang lain kemaren nyusulin kalian waktu latihan" ujar Danial.
"Hm? Serius?" tanya Nara.
"Iya," jawab Revin.
"Kenapa gak masuk?" tanya Diva.
"Ada David ngapain kita masuk?" tanya Naufal.
"Ehmm..." Yesha bersuara ditengah mengunyah.
"Be·go harusnya kalian masuk, biar David minggat, ih aneh" kata Yesha.
"Ya mana kita tau, buktinya kalian main sambil becandaan mulu" sahut Bryant.
"Sepertinya ada benih benih cinta antara David sama Yesha" kata Ikhsan.
"Hah?" tanya Yesha terkejut. Ikhsan malah tertawa.
"Jangan ngaco lo," suruh Yesha.
"Tapi.. feeling gue Lo demen sama David" kata Alika.
"Kagak woi astagaa" balas Yesha. 'kayaknya' batin Yesha.
"Iyain aja dahh" kata Ikhsan.
"Semangat deh ya kalian latihannya" ujat Frans sambil melihat Alika.
"Ah iya makasih" kata Alika.
"Ehenmm" Diva mengode.
"Apaan? Sotoi!" balas Diva.
"Lo mau soto?" tanya Naufal.
"Udahh lamaaaaa banget gue mau ngomong ini sama Lo fal" ujar Nara.
"Ngomong apa?" tanya Naufal sambil meminum minumannya.
"Gue mau mau... MAU NABOK LO!" jawab Nara kesal. Naufal kaget, yang lain malah tertawa.
"Eh kalian kok masih disini?" tanya Daffy, wakil ketua OSIS.
"Belum bel juga" jawab Diva acuh.
"Kata siapa? Udah bel sejak 10 menit yang lalu" jawabnya.
"HAHH? YANG BENER AJA LO?" tanya Alika ngegas sambil berdiri. Daffy mengangguk.
"Cepat balik ke kelas" suruh Daffy, dia pun pergi darisana. Yesha menarik tangan Alika.
"Jangan teriak teriak ya, ntar gue panggilin Bambang mau?" tanya Yesha.
"Echaaa, ih malah guyonan" sahut Diva.
"Yaudah ayok ke kelas aja" ajak Branden sambil menarik tangan Diva. Diva mengikuti Branden.
"Buset dah, yang bener aja" ujar Naufal terkejut.
"Ayok" ajak Khansa pada Nara.
"Uwu banget dahh" sahut Alika.
"Ntar gue buat novel ‘Cinta teman sekelas’ mantep ekan?" tanya Yesha. Alika tertawa, mereka bertos.
__ADS_1
"Tadi nyolot nanya yang bener aja, eh ini malah leha leha" sindir Ikhsan.
"Ya kan gu—" omongan Alika terhenti, Frans menarik tangannya menuju kelas. Diikuti Khansa yang menarik Nara.
"Loh gue? Gue begimane anj?? Kan ditinggal kan, au dahh" ujar Yesha masih sambil memakan cemilannya.
"Heh, anak sengklek. Balik ke kelas!" suruh Ikhsan.
"Lo pada?" tanya Yesha.
"Kita jam kosong" jawab Revin.
"Ya udah gue ikut," balas Yesha.
"Ngadi ngadi, ayok" ajak Bryant sambil memegang tangan Yesha. 'yesha, lo kenapa deg degan be`go?!' batin Yesha sambil melihat tangannya digenggam Bryant.
"Maaf pak terlambat," ujar Bryant saat masuk kelas, Yesha dari tadi hanya diam. Bryant menyenggol lengannya, diapun tersadar.
"Eh? Iya pak, maaf saya sama Bryant telat" ujar Yesha.
"Ya udah silahkan duduk, pegangan tangannya dilepas dulu ya" suruh pak Erik.
"Hah?" tanya Yesha kaget. Bryant melepas pegangan tangannya. Mereka pun duduk dimeja mereka.
—
"Lo kerasukan?" tanya Diva pada Branden. Branden hanya menggeleng. Diva menatapnya heran. Ponselnya bergetar, dia mengeceknya.
—Crazy Bacot <3—
Ikaciaa; Pada kerasukan yaaa?? Kenapa pada aneh sih?
Echacuu; iya kan? Heran gue.
Nadede; eh, gara gara kak Daffy datang tadi mungkin? Ada hawa miztiz nya.
Ikaciaa; mistis ege..
Nadede; gue kreasikan lah jadi miztiz hahaha.
Dipha; tadi gue tanya sama branden, katanya gak kerasukan njr wkwk.
Dipha; [stiker pentol ketawa]
Dari meja masing masing mereka cengengesan sambil melihat ponsel. Pak Erik yang kesal menggebrak mejanya.
"Astaga dragon, terkejut dedek" kata Nara, Diva, Alika, dan Yesha tertawa.
"DIVA, NARA, ALIKA, YESHA!! KENAPA KALIAN MAININ PONSEL SAAT SAYA MENJELASKAN PELAJARAN?!" tanya Pak Erik ngegas.
"KHANSA, FRANS KALIAN PINDAH. KALIAN JUGA MALAH MABAR DISITU" lanjutnya.
"Astaga pak, bapak kan ganteng, jangan teriak gitu dong pak" pinta Nara.
"Iya pak, jangan pindahkan kami ya pak ya?" kata Alika.
"Sudah diam kamu, Alika pindah ke meja Frans. Khansa kamu pindah tempat Nara" suruh pak Erik. Alika, Nara, Diva, dan Yesha pun terkejut. Tempat mereka berjauhan sekarang. Sambil memegang tangan Nara, Alika berlagak dramatis.
"Gudbay samiang," ujar Alika.
"Hiks hiks, gud bayy" balas Nara. Diva dan Yesha mau tertawa melihat tingkah mereka. Pak Erik menepuk jidatnya pelan.
"Dih lebay amat sih" cela Lisa. Nara, Diva, dan Alika menatapnya sinis dan tajam. Yesha menatapnya dengan tatapan dingin seolah ingin membunuh. Tatapan yang diberikan yesha, berpengaruh kuat sehingga menciptakan hawa hawa yang mencekam.
"Kok gue merinding?" tanya Gery.
"Perang nih, wah kacau" ujar Fahmi.
"Buset dah" sahut Aji.
"Nah kan, dalah tidur aja gue" kata Kiki. Mendengar itu, Bryant menutup mata Yesha dan mengubah pandangannya menjadi kehadapan papan tulis, Branden juga melakukan hal yang sama dengan Diva. Frans bergerak, dan menarik tangan Alika. Khansa bergegas duduk disamping Nara.
"Tunggu aja, tanggal mainnya" ujar Nara, Alika, Yesha, dan diva bersamaan sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Emm, oke kita lanjutkan pelajaran" ujar pak Erik. Suasana mencekam perlahan mulai menghilang.