
"Udah udaaaah, sakit perut guee ngakak abis" kata Alika masih sambil terkekeh.
Semuanya sedang tertawa melihat Branden menjawab game menggunakan lagu mama muda tidak lupa dengan jogetnya yang membahenol.
Diva yang melihat suaminya seperti itu bukannya malu, malah dia yang terkekeh lebih dulu, terkekeh sampe bengek!
"Dipp laki lu gini amat sih?" tanya Nara sambil menghapus air matanya karena tertawa.
"Nggak tau kenapa bisa gini hahaha"
"Bengek gue anjirrr" keluh Khansa.
"Udah diem diem diem" Yesha berusaha menahan tawanya lagi, namun gagal. Dia kembali tertawa.
"Nyuruh diem tapi masih ngakak. Mana ketawanya nular" balas Alika sambil memegangi perutnya.
"Udah diem. Jadi bahan perhatian kan gue. Tapi ya maklum lah, gue ganteng pasti diliatin terus" kata Branden dengan pedenya.
Mereka makin tertawa melihat Branden yang urat malunya udah putus. "Dip, gue harap lo bertahan aja deh ya sama dia" ujar Yesha.
"Diusahakan" jawab Diva sambil tertawa.
"Diusahakan ndasmu" protes Branden. Mereka makin tertawa ngakak.
Di sela-sela tertawa, ponsel Yesha berbunyi.
"Angkat. Lama amat" suruh Diva.
"Nomor luar negeri"
"Berapa?" tanya Alika.
"+1"
"Amerika tu, bisa aja bang Boy" jawab Frans.
"Kalau beneran dia males ah" Yesha membalikkan ponselnya. Deringnya mati.
"Ih gblok, sini" Alika mengambil paksa ponsel Yesha.
"Dalam itungan ke tiga, dia bunyi lagi"
"Satu"
"Dua"
Drrtt... Drrtt..
"Belum tiga udah bunyi, oke geser tombol ijo" Alika mengangkat panggilannya tak lupa me-loud speaker nya.
"Halo?" suara Alika mendahului.
📞 "Hello, can I speak to Miss Ayesha?"
"Ca, besuara lo!" bisik Diva.
Yesha menghela nafas. "Yes, i am Yesha"
📞 "I'm his friend Boy, want to tell you if Boy had an accident" (Aku temannya Boy, mau kasih tau kalau Boy mengalami kecelakaan)
Mata Yesha terbelalak, dia menyambar ponselnya.
"Seriously?! How is the condition??" tanya Yesha kedengaran panik. Disana, tidak ada suara.
"Halo! Are you kidding?!"
"Woii!!!"
Matanya sudah berkaca-kaca sekarang.
Yesha mendengar suara tertawa diseberang.
"What is so funny?!"
📞 "Kamu panik ya sayang?"
"Boy sialan!" Yesha menutup teleponnya lalu menenggelamkan wajahnya di antara tangan dan meja.
"Lah??"
"Beneran gak sih sebenernya?" tanya Branden.
"I don't know and i don't care!" jawab Yesha ngegas.
Ponselnya berbunyi lagi, Yesha langsung menolak panggilannya. "Wah parah, giliran gak muncul mello, pas muncul ngamuk, gimana sih lo?" tanya Khansa.
"Shut up! You don't know that it's like to be me!" jawab Yesha menatap mata Khansa dengan emosinya yang membuncah.
"Oke oke maap" Khansa mengangkat kedua tangannya sambil cengengesan.
Drrrt... drttt..
Ponselnya berbunyi lagi, kali ini Yesha mengangkatnya tanpa melihat panggilan.
📞 "Ini kenapa itemmm" Yesha melihat ponselnya. Ternyata video call!!
__ADS_1
"Mo apaaa berisik tau nggak!"
📞 "Ngambek ciee.. sebelumnya, Assalamu'alaikum sayang"
"Cabut dah gue cabut" kata Alika.
"Gue ikut dah" sahut Diva.
"Apapaan lu beduaa" tanya Yesha sinis.
"Oke gak jadi" mereka kembali duduk.
"Gajelassss" keduanya cengengesan.
📞 "Jawab salam"
"Iyaa, waalaikumsalam"
📞 "Lagi apa, dimana?"
"Ngumpul di kafe"
📞 "Rame nggak?"
"B aja"
📞 "Ada Danial?"
"Gak"
📞 "Singkat padat ya sayang? Masih ngambek yaaa?"
"Bodo amat"
📞 "Gaboleh gitu dosa tau"
"Gak perduli"
Boy malah tertawa melihat muka kesal Yesha. Mereka yang juga di sana berbicara sendiri tanpa memperdulikan Yesha dan Boy yang melepas rindu.
📞 "Jangan ngambek dongg"
Yesha meletakkan ponselnya mencari headset dari tasnya. Lalu yesha memakai headset itu.
"Kamu kemana coba ngilang berhari-hari??"
📞 "Jangan nething ya kamu. Mas Marsel yang ganteng ini ngejelasin dulu"
"Pede amat" Boy tertawa.
"Sibuk apaa?"
📞 "Ada acara ditambah aku panitia pentingnya, aku yang koordinasi semuanya. Makanya gak sempet kabarin kamu, maaf ya"
"Terus?"
📞 "Nah kemaren waktu mau telepon kamu, jari udah tinggal mencet tombol panggil, ehh tiba-tiba dipanggil sama dosen. Hapenya tegeletak lah di meja. Terus, aku samperin yang manggil. Sampe sore, aku lupa kalau hape aku ketinggalan di tempat tadi"
📞 "Pas aku cari, hapenya ilang"
"Cerobohnyaaaaaa" Boy cengengesan.
📞 "Kemaren udah beli hape baru, ehhh baru keluar konter hapenya udah di serobot maling"
"Emang ada disana yang kayak gitu?"
📞 "Ya ada"
"Terus gimanaa hapenyaa?"
📞 "Dikejar gak nemu, akhirnya beli baru lagi. Yaa yang dipake sekarang ini"
"Ceroboh banget, heran liatnya! Lain kali hape tu jangan asal letak, mubazir tu beli hape muluu"
📞 "Iya maaf calon nyonya Narendra"
"Apaan sih" Yesha salah tingkah. Boy yang memperhatikannya senyum-senyum.
"Gak usah liatinn" Yesha jadi senyum-senyum.
📞 "Lucu kamu tuh. Jadi makin sayaangg"
"Prett" Yesha cengengesan.
📞 "Gitu kek dari tadi. Jadi semangat ni"
"Semangat apa?"
📞 "Semangat apa ajaa"
"Wahh gombal sekali kamu sumajii" Boy tertawa.
📞 "Aku rindu banget sama kamuu"
"Tisu basah bayii"
__ADS_1
📞 "Tisu basah bayii?"
Yesha menunjukkan tisu basah bayi yang ada di meja. Tertulis disitu 'mitu baby'.
📞 "Aiisshh, gak kuat kek gini gak kuatt. Pengen pelukkkkk"
"Cepet balik makanya, jangan selingkuh"
📞 "Pikirannya jelek banget. Pasti kemaren mikir aku selingkuh"
"Enggak kan?"
📞 "Ya nggak lah. Ngapain jugaa?!"
"Yaaaa kali ajaa. Disanakan ceweknya cantik, seksi seksi"
📞 "Terus?"
"Kali aja nyantol sama kamu"
📞 "Negatif thingking terus kamu tuh"
📞 "Denger ya! Aku itu cintanya sama kamu, sayangnya sama kamu. Nggak usah mikir macem-macem!!"
☢☢
"Frans"
"Hm.. kenapa sayang?" tanya Frans sambil menoleh pada Alika. Mereka berdua di dalam mobil menuju jalan pulang kerumah.
"Nggak jadi deh"
"Kenapa? Ada apa? Kamu sembunyiin sesuatu?"
Alika menggeleng. "Jadi apa?"
"Aku males dirumah. Males ketemu Elina. Kemana dulu gitu kek biar baliknya lebih malem. Kan masih jam sembilan"
"Kamu ada masalah sama Elina?" Alika mengangguk. Frans menggenggam tangan Alika dengan tangan kirinya.
"Sayang, dengerin aku. Kabur itu gak nyelesaiin masalah. Kalau kamu punya masalah, aku saranin kamu buat ketawa"
"Ketawa? Biar apa?"
"Kalau kamu ketawain masalahnya, masalah itu bakal malu, dan memilih kabur gak nyamperin kamu"
"Teori darimana ya pakk?"
"Teori dari pilemm"
"Sudah kuduga" Frans tertawa.
"Tapi aku tetep gak mo pulang. Males sayang sumpahh"
"Jadi mau kemana? Ke rumah atau ke apartemen aku?"
"Ya nggak kesitu jugaaa kambing"
"Yaudah kesitu yok" Frans membelokkan mobilnya kesebuah taman yang cukup ramai.
Disana ada mobil gowes, banyak yang ngantri ingin naik.
"Kamu mau naik itu?" tanya Frans.
"Masih ngantri" jawab Alika.
"Tenang aja ada aku" Frans langsung menghampiri om om yang punya mobil gowes.
Frans berhasil mendapatkan satu mobil gowes yang di khususkan untuk berdua. "Licik banget bapak" Frans tertawa.
"Itu namanya strategi"
"Halahh"
Mereka pun mulai meng-gowes, mengelilingi taman sebanyak lima kali. Selama putaran itu mereka bernyanyi, tertawa bersama, dan menikmati indahnya malam.
Kadang mereka macet dijalan karena supir mobil gowes amatiran. Sampai akhirnya lima putaran terlewati, mereka berdua pun turun.
"Nyetir mobil pandee, nyetir mobil gowess macet, gimana kamu ini"
"Kan beda sayang" jawab Frans sambil menggandeng tangan Alika.
"Mau ituu" Alika menunjuk penjual harum manis.
"Malem-malem makan gituan?" Alika mengangguk.
"Yaudah yok belik" Frans menarik tangan Alika mengajaknya membeli harum manis, Frans juga membeli minuman untuknya dan Alika.
Setelah membeli makanan dan minuman, mereka mencari kursi yang nyaman. Bukan di keramaian juga bukan di kesunyian.
"Itu bukannya kak Fiery ya? Sama cewek loh" Alika menunjuk Fiery yang bergandengan tangan dengan seorang wanita.
Frans menghela nafas, tidak siap untuk ini. "Sama siapa itu?" tanya Alika.
Frans menggeleng. "Kak Fiery!!" Fiery dan cewek itu berbalik.
__ADS_1
"E- Elina?"