Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 67 Putar balik pindah haluan


__ADS_3

Gagal,


Gagal,


Dan


Gagal!


Mereka gagal untuk naik ke puncak Mahameru. Sudah dua hari mereka di tempat penginapan.


Mereka selalu menunggu hujan reda agar bisa mulai mendaki, namun sampai saat ini hujan belum kunjung reda.


"Sepertinya Allah tidak mengizinkan kita untuk mendaki" kata Diva dramatis.


"Kenapa?" tanya Naufal.


"Kenapa pula. Ya lu liat aja, udah dua hari kita disini man dua hari tapi hujan mulu, hujan mulu" jawab Diva kesal.


"Ya emang kayaknya Tuhan gak izinin makanya hujan terus" sahut Ikhsan.


"Sungguh kuterpuruk dalam lamunann" Nara nyanyi.


"Avv korban tiktok" sahut Alika.


"Orang orang pada unduh among us, si Echa malah unduh Pou. Goblokk emang" cibir Ikhsan ketika melihat ponsel Yesha yang dibiarkan di ubin.


"Ya mending Echa unduh Pou coy, lah si Nara unduh tik tok" sahut Alika.


"Mo jadi seleb dia" sambung Diva.


"Seleb? Bukan, bukan jadi seleb. Saleb yang ada" kata Khansa.


"Hahahaha"


"Dia kalau urusan buli membuli paling favorit emang" Nara menatap sinis Khansa. Khansa malah tertawa.


"Jadi aneh situasi nya kalau si Echa diem aja. Kerasukan apa dia?" tanya Alika sambil melirik Yesha yang diam tanpa ekspresi.


"Hawanya juga nggak bagus, kok jadi serem?" tanya Naufal.


"Kagak usah ngaco lo" sahut Frans.


"Ajaibb, Echa jadi kalem gan" cibir Branden.


"BACOT!!"


"Anjg kaget!!!" Latahnya Nara. Mereka serentak menatap Nara lalu tertawa.


"Golok mana golok?! Suka banget ngagetin orang! Udah tau gue kagetan orangnya" protes Nara.


"Yaa maapp" Yesha cengengesan. Dia menyandarkan kepalanya dipundak Boy.


"Mesra-mesraan teross, sakit mata gue liatnya" protes Ikhsan.


"Jones sih" ledek Diva.


"Laknat!!" Mereka tertawa lagi.


"Masih ada niat ke puncak kalian?" tanya Yesha.


"Niat gue tinggal 30%" jawab Alika.


"Gue masih 50%" sahut Nara.


"Gue 40%" sambung Diva.


"Lo?" tanya mereka kompak pada Yesha.


"0%" jawab Yesha.


"Dalam artian dia memang udah gak niat" kata Ikhsan.


"Kalau kalian?" tanya Yesha ke geng serigala.


"Ada niat, ya cuma gak banyak" jawab mereka.


"Batalin aja kali ya? Tahun depan aja lagi" tanya Frans.


"Sia-sia kita disini, gak kemana-mana cuma rebahan" keluh Nara.


"Ya bagus lah, setidaknya kalian ada waktu buat istirahat kan sibuk mulu" kata Wisnu.


"Namanyaa orang penting, ya sibukk laaa" jawab Alika. Crazy Bacot bertos ria.


"Masih mau disini? Apa kita balik?" tanya Danial.


"Balik aja lah yok" ajak Revin.

__ADS_1


"Ah gak asik, masa balik" protes Diva.


"Yaa jadi mau lu begimane?" tanya Naufal ke Diva.


"Ya kemana dulu gitu" jawab Alika.


"Desa aja kuy" ajak Boy.


"Desa mana?" tanya Branden.


"Aaa.. desa yang waktu itu?" tanya Yesha yang masih bersandar di pundak Boy. Boy berdehem sambil mengelus rambut Yesha.


"Yang mana anjim?" tanya Nara.


"Yang waktu itu tragedi menjancokkan di mall, taruhan. Kan gue dibawa ke desa sama Koboy" jawab Yesha.


"AAAAAAAA.. itu inget gue inget. Emang ada apa disitu?" tanya Diva.


"Yaaa banyak hal bisa dilakuin sih enak juga disana sebab desa itutu masih nuansa tradisional banget. Disana ada sawah, air terjun juga ada" jelas Yesha.


"Boleh juga, kuy lah" ajak Naufal sambil menatap yang lain.


"Gue mah ayok ayok aja" jawab Khansa.


"Eh bang ican? Ntar bang icann sakit hati gegara gak jadi muncak" kata Yesha.


"Gak usah lebay. Gue juga udah gak mood mau muncak" balas Ikhsan.


"Aaaa~ yang bener?" goda Alika.


"Summmpah" Alika dan Yesha cengengesan.


"Yaudah kuy lah" ajak Naufal.


"Ujan goblokk" kata Branden.


"Nggak woi, da berentii" kata Nara yang melihat keluar.


"Serius?" tanya Danial. Nara mengangguk. Mereka bersamaan mengecek keluar.


"Jam berapa sekarang?" tanya Revin.


"Dua belas" jawab Frans.


"Siang banget ya, udah gak sempat kalau mau muncak. Karena diatas puncak lewat jam 9 kan gak boleh" kata Revin.


"Berapa jam sana sini?" tanya Danial.


"Lebih kurang, dua atau tiga jam" jawab Boy.


"Naik apa?" tanya Branden.


"Pada mau nggak ni? Kalau emang pada minat, gue bisa ntar sewain mobil pick up" kata Boy.


"Pick up? Mobil bak gitu kan?" tanya Diva. Boy mengangguk.


"Aaa, skuy! Besiappp" ajak Nara. Mereka kembali ke kamar masing-masing.


"Gue kira bakal nolak loh" kata Revin.


"Udah gue bilang, mereka itu cewek jadi-jadian" sahut Danial.


"Gibahin kita denda 80 jutaa!!" teriak crazy bacot bersamaan.


Mereka tertawa


 


15:05


Mereka tiba di desa.


"Bagus sii baguss, pemandangannya indah. Suka ni gue" kata Nara, mereka sedang jalan kedalam perumahan.


"Emang bagus banget" jawab Yesha.


"Eh ntar, kita tidur dimana?" tanya Alika.


"Gue punya rumah kontrakan disana. Ya ntar, yang cewek disitu, yang cowok kita nginep dirumah temen gue" jawab Boy.


"Emang boleh? Kita rame boy, mana mau dia" cela Revin.


"Mau mau, dia itu cuma berdua sama adiknya dirumah. Ya rumahnya gak terlalu besar juga gak terlalu kecil, gue jamin deh muat untuk kita. Tidurnya aja disana, barangnya di rumah kontrakan gue" jelas Boy sambil jalan.


"Eh mas boy, bawa temen lagi. Eh neng geulis pacarnya mas boy makin cantik aja" sapa penduduk desa.


"Ahh ibu bisa aja" Yesha malu malu.

__ADS_1


"Gosa sok malu-malu kucing" bisik Boy. Yesha memukul lengan Boy. Boy tertawa.


"Ibu mau kemana?" tanya Boy. Temannya yang lain hanya diam.


"Mau ke depan cari kebutuhan, ibu duluan ya"


"Hati hati ya bu" ibu itu tersenyum lalu pergi. Mereka kembali jalan.


"Saha?" tanya Naufal.


"Penduduk sini" jawab Boy.


"Populer juga lu disini" kata Branden.


"Ya jelas, gue kan ganteng"


"Dih, NARSIS!!"


–·


16:39


Yesha terbangun dari istirahat nya. Teman temannya yang lain masih tertidur.


Mereka semua ketiduran di ruang tamu rumah kontrakan Boy.


"Kok bangun?" sapa Boy yang baru kembali dari dapur.


"Laper, Lo sendiri?" Boy menatapnya datar.


"Eh, maksudnya. Kamu sendiri?"


"Laper juga" jawab Boy.


"Gak ada makanan?" Boy menggeleng.


"Mancing aja yok, mau gak kamu?" tanya Boy.


"Yakin dapet? Lama tau prosesnya" keluh Yesha.


"Kita cari kolam pancing yang bayar. Yakin deh cepet dapatnya" jelas Boy.


"Yaudah kuy" ajak Yesha.


"Cuci muka dulu sana, muka bantal banget"


"Tunggu lohh! Jangan tinggal" Boy cengengesan.


"Nggak bakal ditinggal, dah buruan" Yesha pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Setelah selesai dia menghampiri Boy. Mereka pun pergi menuju kolam pemancingan ikan.


"Ehh ada teh echa sama aa' boy. Mau kemana?" tanya Gendis, mereka bertemu Gendis di jalan.


"Eh Gendis, ini mau cari kolam pancing yang banyak ikannya. Dimana ya?" tanya Boy.


"Kalau itu teh gendis gak tau a'. Aa' tanya aja sama a' Guntur" jawab Gendis.


"Aa' gunturnya dimana?" tanya Boy lagi.


"Di sawah a'. Ngomong-ngomong teh echa sariawan? Kok diam aja" tanya Gendis.


"Hah? Eh? Baru bangun tidur tadi, nyawanya teh belum ngumpul semua" jawab Yesha.


"Haha, teh echa bisa aja. Yaudah kalau gitu gendis mau ke rumah dulu" pamit gendis.


"Eh gendis, ntar malam tidur dirumah kontrakan Boy mau gak?" tanya Yesha.


"Ada apa teh? Teteh mau nginep?" tanya Gendis.


"Iya, teteh sama temen temen teteh tidur di kontrakan Boy. Biar boy sana temen temennya tidur dirumah kamu" jawab Yesha.


"Oo begitu, yaudah nanti gendis tidur dirumah teteh, eh rumah a' Boy"


"Makasih ya gendis"


"Sama sama teh, gendis pergi duluan ya. Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


"Udah cocok kamu mah jadi orang Sunda" bisik Boy. Yesha tertawa. Mereka berdua kembali berjalan.


"Kebawa aja gitu, bahasanya kan kalem gitu orang Sunda jadi enak" jawab Yesha.


"Yaudah kalau gitu teh, eneng pegangan sama aa' sini biar gak jatuh" kata Boy.


"Apaan sih? Geli ah dengernya" protes Yesha. Boy tertawa.

__ADS_1


__ADS_2