
17:37
Alika sedang berada di kamarnya seorang diri berteman dengan guling dan bantal. Karena bujukan Frans tadi, dia mau langsung pulang kerumah.
Sebenarnya saat ini, dia baru bangun dari tidurnya lima menit yang lalu karena di jahilin Elina.
Alika pergi mengambil lalu membuka laptopnya, mencari drama-drama Korea untuk di tonton ditengah kegabutan melanda.
Ketika menemukan yang diinginkan, Alika beranjak mengambil persediaan makanan dan cemilan yang selalu disembunyikan dari Elina.
"Yah tinggal segini mana cukup" keluh Alika. Dia mengambil cemilan itu, kemudian kembali ke tempat tidur untuk menonton.
Saat asik menonton drakor tiba tiba ponsel Alika berbunyi. Panggilan gabungan Crazy Bacot.
📞 "Yowasap gess!!!" Suara diva yang melengking terdengar.
"Yowwaa!!" Balasan Crazy bacot kompak.
📞 "Jadikan nanti malam?" tanya Diva.
📞 "Kemana?" tanya Nara
📞 "Na lu ikut kan?" tanya Diva balik.
📞 "Ya kemana woi? Gue gak tau" tanya Nara lagi.
📞 "Pasar malem, kuy lah" ajak Yesha.
📞 "Bukan apa-apa, tapi gue gak bisa. Mas Wisnu ngajak temu deluan katanya penting" jawab Nara.
"Yah.. min satu dong" Alika bersuara.
📞 "Ntar deh kalau bisa gue susulin"
📞 "Mau ngobrolin apaan sih?"
📞 "Gue juga gak tau ca, mencurigakan gitu. Pas balik dia tanya tentang Khansa gimana, abistu dia bilang ngajak bicara serius ntar malem"
"Wah.. lu mau diputusin? Atau.. lu mau ditinggal rabi?" tanya Alika.
📞 "Gue juga punya firasat kalau dia mau di jodohin dan gue ditinggal rabi. Nyesekk!! Kisah cinta kita punya dilema masing-masing" ujar Nara.
📞 "Positif thinking, mungkin aja bukan itu. Bisa aja kan lu yang di ajak nikah sama dia, terus dia tanya kepribadian Khansa karena lu deket sama Khansa" sahut Yesha.
"Nah bisa jadii" Alika dan Diva kompak.
📞 "Dah pokoknya jangan negatif thinking na, lagian kalau lu emang bener mau ditinggal rabi, ada kita kok. Ada abang abang angkat lu juga yang pastinya bakal hibur lu" sahut Diva.
📞 "Iya iyaaa, bangga banget gue punya kalian" kata Nara.
"Dah tauu!!!" Yesha, Alika, dan Diva kompak.
📞 "Eh gue matiin dulu ya, mauu mandi" pamit Yesha.
📞 "Kagak usah dimatiin ca, kita ganti video call aja yaa, terus lu mandi" ujar Diva.
"ASTAGHFIRULLAH DIPSII YADONG!!!" teriak Alika, Nara dan Yesha.
📞 "Bedosa kali kalian sama maknae!!" kata Diva kesal. Mereka pun tertawa.
📞 "Daa bay muaah" Yesha mematikan panggilannya.
Diikuti Diva, Nara, dan Alika terakhir.
Alika melanjutkan streaming drakor. Saat lagi seru menonton, Alika meraba tempat tidurnya mencari jajanan yang di bawa tadi.
Tidak menemukan apapun, Alika mempause drakor kemudian melihat ke arah tempat tumpukan jajan.
"Astaghfirullah, tinggal sampah"
- -
Alika turun dari kamar menghampiri ayah dan bundanya. Dia sudah mengganti baju.
"Ayah minta duit" pinta Alika.
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Al mau beli cemilan ayah, stok dikamar udah habis" jawab Alika. Ayah Alika pun mengeluarkan dompet dan mengambil dua lembar uang berwarna merah.
"Nah" Ayahnya menyodorkan uang itu pada Alika.
"Kurang tiga lembar yah" ujar Alika.
"Mau beli apa sampe lima ratus ribu? Boros!!" cibir bundanya.
"Astaghfirullah bundaa, itu untuk stok sebulan. Janji deh gak belik lagi sampe bulan depan" Alika merayu sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
Ayah Alika menghela nafas lalu mengambil dompetnya kembali. Alika berbalik tidak ingin melihat.
"Nah" Alika kembali menghadap ayahnya.
"Loh?"
"Kan tiga lembar kamu bilang" jawab Ayahnya.
Yang diberikan ayah Alika benar tiga lembar. Tapi bukan tiga lembar uang berwarna merah. Melainkan dua lembar uang berwarna hijau dan satu lembar warna ungu.
"Udahhh sanaa, atau ayah ambil lagi semua!"
"Ampun deh yah ampun" Alika berpindah.
"Bund--"
"Gak ada duit" potong bundanya.
"Siamah bunda pelit banget sama anak" ujar Alika.
"Bukan pelit, bunda gak mau boros! Lagian kamu beli jajan berapa banyak sih? Dua ratus lima puluh ribu aja kurang. Mau gendut?" tanya bundanya.
"Beli jajan yang banyak dong bundaa, Alika bukan kak El yang udah macam babii bunting" jawab Alika sambil menoleh ke kakaknya yang bermain ponsel di sebelah sang bunda.
"Kampret kau adek laknat!!" Elina melempar bantal yang ada di tangannya. Alika tertawa. Sedangkan ayah dan bunda mereka hanya menggelengkan kepala.
"Oke deh, alika pergi dulu"
"Kau tulikah?" tanya Alika. Elina menatapnya datar.
"Mau ke supermarket lohhhh" jawab Alika ngegas.
"Ikot ikot"
"Dih"
"Tunggu gue ganti baju, jangan tinggall!!!" Elina pun berlari menuju kamarnya.
- -
Piuittt adekk..
"Cieeee kau digodain noh sama abang abang buluqq" goda Elina pada Alika yang sedang membawa motor.
"Kau yang digodain goblokkk mereka liatnya kau, aku loh pake helm pake masker lagi. Paokkk mendarah daging elina emang" balas Alika kesal. Elina menggetok helm Alika.
"Peyang pala ku dodol" Elina tertawa.
Tujuh menit kemudian, mereka tiba di supermarket. Alika mengambil troli lalu berkeliling mencari jajanan.
Tak lupa juga susu stroberi favoritnya.
Sedangkan Elina, berkeliling mencari skincare dan sejenisnya. Skincare by supermarket:v
Alika yang sudah selesai dengan jajanannya menuju kasir.
"Totalnya dua ratus tujuh puluh lima mbak" Alika mengambil dompet lalu mengeluarkan kartu kredit.
Yahh!! Crazy Bacot punya kartu kredit sendiri untuk menyimpan hasil kerja keras mereka.
"Dihh.. kalau gitu lu ngapain minta ayah?!" tanya Elina kesal.
"Sekali kali" jawab Alika cengengesan.
__ADS_1
"Ini mbak" mbak kasir itu memberikan kartu Alika juga belanjaannya.
"Buruan ato gue tinggal" Elina berdehem. Alika pun pergi keluar duluan nunggu di depan supermarket.
Beberapa menit kemudian, Elina keluar dengan barang belanjaannya.
"Dahkan?" Elina berdehem. Alika menghidupkan mesin motornya. Lalu pergi menuju arah pulang.
- -
"Al.. itu siapaaa?!" Elina panik melihat tiga atau empat human memakai masker menghalangi jalan. Alika tampak santai, tapi juga sedikit panik.
"Mana saya tau, saya kan tidak tau" jawab Alika.
"Stop stopp!!" salah satu human bermasker itu menghentikan laju motor Alika.
"Mau apa?!" tanya Alika dengan nada datar.
"Gue gak ada urusan sama lo, tapi sama orang dibelakang lo" Alika berbalik menatap Elina.
"Siapaa?!" Elina menggelengkan kepalanya.
"Mau perlu apa?"
"Bawa dia" human yang sepertinya ketua geng itu menyuruh human lain untuk membawa Elina.
"Mau mati?!" Human itu tertawa.
"Al, al, gapapa al. Udah biar gue dibawa aja"
"Ngotak Lo! Kalau di apa-apain gimana hah?!" bentak Alika. Elina diam. Alika turun dari motor juga menarik tangan Elina untuk berdiri dibelakangnya.
"Mau bawa dia?"
"Langkahin dulu mayat gue!!"
"Gue gak bisa lawan cewek" ujar human bermasker.
"Gak bisa atau... Takut?"
"Sialan lu!!!" human itu menendang Alika, Alika menghindar lalu memukul human human gak berbudiman.
Matahari terbenam, namun perkelahian masih terjadi. Alika yang lumayan jago beladiri bisa melawan mereka hingga mereka tumbang dan rebahan santuy di tanah.
Sekarang tinggal Alika dan human yang diyakininya sang ketua.
"Wahh.. hebat juga lu" Alika tersenyum miring. Maskernya sudah terbuka karena ditarik paksa oleh salah satu human.
"Bacot!!" Alika melompat lalu menendang kepala si ketua human.
"Aaaggh dasar bit*h!!!" ketua human bangkit.
"Ulangi!!"
"Your bit*h" Alika menendang masa depan ketua human. Sang ketua human terjatuh sambil meringis kesakitan.
"Bit*h pala kau ijo!!"
Elina menghampiri Alika.
"Lu gak papa?"
"Aman kok!"
"Apaanyaaa aman?! Bibir lu bedarahh!! Ini jugaa jidat lu. Aghhhh alikaaa, ayok balikk" Elina menarik tangan Alika. Mereka bertukar posisi Alika jadi penumpang dan Elina yang membawa motor.
"Lu bisa bawa motor gua?"
"Bisa!!" jawab Elina tegas. Elina perlahan menghidupkan motor Alika. Membawanya perlahan namun tiba tiba...
Bruk!!!
Elina menabrak parit, mereka terjatuh bersama.
"Oh Elina bangsattul" Elina cengengesan.
__ADS_1