
"Ada kabar??" tanya Nara saat tiba di rumah Alika. Mereka habis berpencar mengelilingi kota.
"Gue gak nemu apapun" jawab Yesha pasrah.
"Gue juga gak nemu" kata Diva lesu.
"Lo?" tanya Radit. Nara menggeleng.
"Gue udah cari di seluruh hotel juga gak nemu" jawab Nara.
Mereka memusatkan pandangan pada Frans yang terus menunduk. "Sabar, Alika pasti baik-baik aja" Khansa menepuk pelan pundak Frans.
"Lagian gue heran, kenapa lu harus nyembunyiin ini?" tanya Radot.
"Gue gak tau kalau mereka juga bertahan lama!"
"Fiery pacaran paling lama dua hari bukan dua tahun" jawab Frans.
Tiba-tiba sebuah mobil merah datang.
"Udah nemu?" Ternyata Fiery dan Elina di dalamnya. Frans melihat keduanya dengan tatapan jijik. "Gak usah sok peduli"
"Apa salahnya gue nanya?"
Frans bangkit. "Lo tanya salah lo?"
"Lo tanya salah lo?!" Frans sedikit berteriak.
"Ya, apa salah gue?"
"Salah lo? Salah lo yang buat dia kabur kek gini"
"Mana sisi pakboy lu buayaaa?! Kenapaaa lo harus setia sama kakaknya pacar gueee?!!!!"
"Kenapa lo selalu ngerusak kebahagiaan gueee Fiery, kenapaaa?!!"
"Jawab gue, jawab" nada bicara Frans melemah. Dia memukul mukul dada Fiery.
"Gue.. gue minta maaf"
"Gue gak tau kalau ternyata Elina kakak pacar lo. Gue minta maaf"
Frans tertawa receh, "Maaf? Maaf taii kucing sama lo"
Frans pergi menuju mobilnya. "GUE....." Frans berhenti.
"Gue.. gue lepas Elina. Gue bakal pergi sejauh mungkin, setelah Alika ketemu. Ini semua demi lo, gue minta maaf"
Frans tidak meladeni Fiery, dia kembali berjalan menuju mobilnya. Frans pergi ntah kemana arahnya.
Fiery yang masih disana, menatap Elina. "Aku sayang sama kamu, tapi aku lebih sayang sama Frans. Aku terlalu jahat sama dia, karna aku dia jarang bahagia"
"Kita ngalah ya"
"Kamu cari, pria yang lebih baik dari aku"
Fiery memeluk Elina, mata Elina berkaca-kaca. Satu persatu cairan bening meluncur dari kelopak matanya. Fiery mengelap air mata Elina dengan jempolnya setelah melepas pelukan. "Jangan nangis"
Fiery melepas cincin couple mereka berdua lalu mencampaknya sejauh mungkin. "Aku pergi"
Fiery kembali ke mobil merahnya, pergi begitu saja. Sedangkan Elina langsung masuk ke rumah sambil menahan air mata.
"Gue berasa nonton drakor" cibir Radit.
"Bedosa kali emang" Radit tertawa.
"Kak Fiery gak seburuk yang gue bayangkan" ujar Diva.
"Gue juga gak nyangka sih kalau dia mau ngorbanin Elina demi Frans"
"Merasa bersalah sama Frans paling"
"Malah gosip lu pada, si Alikanya ini kemanaa?" tanya Radot.
"Telepon gue di tolak terusss, ini yang ke dua ratus lima belas kali" sahut Yesha.
"Lo gila?" tanya Nara. Yesha tertawa.
"Nggak sampe segitu sih, seratus dua lima kali kalau gak salah. Nyambung, tapi gak diangkat" kata Yesha.
"Ck, tu anak kemana sih?" tanya Diva kesal.
Tin..
Mobil Frans datang.
"Lah njirr, lo kemana?"
"Laper, nyari makan" Frans meletakkan kotak nasi untuk mereka semua.
"Kesambet, fiks" cibir Branden. Frans menatapnya sinis.
"Lo gak makan, Ca?" tanya Radot.
"Duluan aja, gue belum laper" jawab Yesha masih sambil menghubungi Alika.
"Lu nelpon siapa?" tanya Frans.
__ADS_1
"Cia"
"Bonyoknya nelpon aja kagak diangkat apalagi lo" kata Frans.
"Iya sih"
"Eh," semua menatap Yesha.
"Cia bawa kredit card kan?"
"Yaa.. mungkin bawa, kenapa?" tanya Khansa.
"Bekukan kredit cardnya, abistu telepon lagi. Pasti dia angkat"
"Tumben lo pinterrr" puji Diva.
Dengan pede-nya Yesha mengibas rambutnya. "Yesha gitu loh"
"Kok gue kesel liatnya?"
♨♨
Alika sedang berada di kedai es krim, menikmati es krim stroberi favoritnya. Alika terheran melihat ponselnya yang terus bergetar. "Gak capek apa? Gue yang di telpon aja capek" keluh Alika.
"Sendiri mbak?" seseorang menghampirinya lagi.
Alika menghela nafas, "Gak bisa apa gue sendiri? Diganggu terus" keluh nya.
Alika mendongak, dia kira itu Ajef tadi, ternyata bukan.
"Keliatannya?"
"Berdua sama saya" jawabnya.
"Meja nya banyak mas, ngapain disini?" tanya Alika sinis.
"Ya pengen aja nemenin mbaknya"
"Oh" Alika berpindah. Pria itu juga berpindah sambil membawa es krim nya.
Alika berpindah lagi, pria itu mengikutinya. "Saya mau sendiri mas!"
"Cewek gak baik sendiri mbak"
"Saya bukan cewek"
"Jadi apa mbak?? Cowok?? Ah ya nggak mungkin mbak cowok, mbak bukan cewek tapi wanita. Yakan?"
"Bodo amat" jawab Alika.
"Mbaknya galau?"
"Mbak nya galak, tapi cantik"
Alika diam tak merespon, orang di depannya ini meresahkan. "Mbak, mbak punya pacar?"
"Punya SUAMI" jawab Alika tegas.
"Saya jadi simpenan juga gak apa-apa mbak. Mau ya?"
"Najis" Alika pergi ingin membayar dengan kartu kreditnya namun pelayan kedai itu mengatakan tidak bisa.
Alika yang kebingungan pun memilih membayar dengan uang cash lalu pergi.
Sedangkan pria tadi memandang Alika, setelah dirasa Alika cukup jauh. Pria itu menelpon seseorang. "Ini gue"
"Gue ketemu cewek itu"
◻◻◻
"Lo bekuin kartu gue, Ca?"
📞 "Satu-satunya cara, ciii. Aah, lu sih, dah gede malah main petak umpet. Pulang sini!"
"Gue gak bakal balik"
📞 "Lo dimana?"
"Spanyol"
📞 "HAHAHAHAHAH"
"Dih ngakak"
📞 "Hoodie putih, arah jam sembilan"
Alika langsung menoleh.
Ternyata di seberang rame orang, mereka semua ada disana.
📞 "Jangan kabur ya cil, capek nyarinya" itu suara Khansa.
"Gak peduli" Alika mematikan teleponnya lalu berlari.
Melihat Alika ingin pergi, Frans mengejarnya. Ia berlari tanpa melihat kanan kiri, tiba-tiba mobil menabraknya.
Alika yang mendengar tabrakan berbalik lalu berlari menghampiri mereka.
__ADS_1
"Frans, Frans. Bangun"
"Bangun Frans"
"Frans"
"Frans bangun!"
"Frans"
"Frans!! Bangun atau gue bunuh lu sekarang"
"Bangun Frans.. hiks hiks bangun!!" Alika memeluk Frans yang tergeletak santuy di aspal.
"I miss you, baby" Alika terkejut, perlahan ia mendongak.
"Frans"
"I miss you. Do you miss me?"
"M- muka lo.. k- kenapa b aja?"
Alika melihat teman-temannya. Semuanya santai, tak merasa panik.
Alika berdiri. "Ini.. maksudnya apa?"
Mereka semua diam. "Lo pada.. ngeprank gue?"
Alika melihat si penabrak, ternyata itu pria yang di kedai es krim tadi. "Lari gak nyelesain masalah, nona"
Alika menatap mereka semua kesal. "Pranknya gak lucu!!!!!" Alika pun pergi.
Buru-buru Frans bangkit menarik tubuh Alika lalu memeluknya. "KUA yuk" bisik Frans.
Sekuat tenaga Alika mendorong Frans, namun dia tidak berhasil melepas pelukan itu.
"Lepas!!!"
"Lepas!! Gue benci sama lo, gua benci!!"
"Benci?? Bener-bener cinta maksudnya?" bisik Frans.
"Gue benci dibohongi, gue benci di prank, gue benci.. gue benci liat muka lo!!"
"Benarkah? Tapi hati lu berkata lain"
"Dia bilang, lu rindu gue"
"Hahaha halu"
"Lepasin guee" Frans diam.
"Kalau lo gak lepasin, gue gak bakal mau ketemu sama lo!"
"Gak usah boong, gue tau lo pengen banget ketemu gue"
"Frans"
Frans mengecup kening Alika. "Gue juga kok"
"KEPEDEAN!!" Frans cengengesan.
'gue gak bisa gini, gue.. gue harus ngalah. demi Elina'
Alika kembali memberontak lalu terlepas dari pelukan Frans, dia hendak pergi. Frans kembali mengejarnya dan kembali memeluknya.
"Penghalang di hubungan kita udah gak ada"
"Fiery ngalah, dia di pesawat menuju Jepang sekarang. Dia ngalah demi kita"
"Aku mohon, jangan pergi. Semua masalah dimasa yang akan datang, harus kita hadapi sama-sama. Jadi, jangan berfikir untuk pergi lagi, ya?"
"Jangan kabur, kamu itu susah di kejar"
Alika pun membalas pelukan Frans. Alika memeluknya erat, sangat erat. Dia merasa tenang sekarang, dia merasa lega.
Jika disuruh jujur, Alika benar-benar tak bisa melepas Frans sampai kapanpun.
"Kamu tadi nanya kan? Do i miss you?" tanya Alika setelah melepas pelukan. Frans mengangguk.
"Jawabanku... yes I miss you, really miss you"
Frans tersenyum lebar. "Aku tau kok"
Mereka berdua tersenyum manis sambil tatap-tatapan, sesekali Frans mengelus rambut hitam Alika.
"Oke, gue cabut" Yesha menyadarkan mereka berdua. Frans dan Alika cengengesan melihat Yesha.
"Kasian sekali kamu joness" ledek Radit.
"Mon maap, saya pejuang LDR bukan jones kayak bapak" jawab Yesha sombong.
"Lu... kalau ngomong suka bener, ya"
"Hahahahaha"
____________________________
__ADS_1
Maapp gengs baru up, gatau kenapa riviewnya lama bangetttt, udah dari kemaren pun gamasuk-masukk. maappin okee, happy reading ♡♡