
"Saaaa, perayaan cgrvls di rumah boleh kagak?"
"Boleh boleh ajaa. Kapan? Mau ngajak orang ramee?" Nara menggeleng.
"Cgrvls member ajaa. Paling ntar tambahannya Radit Radott," jawab Nara.
"Gak sekalian tambah Wisnu?"
"Apaan sih?! Masih aja bahas Wisnu!"
"Kali aja mau ngajak Wisnu."
"Au ah. Males aku ngomong sama kamu!" Nara pergi meninggalkan Khansa sambil berkomat-kamit.
Khansa sendiri menatap Nara sambil tertawa-tawa kecil.
"Kamu marah??"
"Gak tau, bodo amat! Gak perduliii!"
"Kok gituuu sii? Sayaangg."
"Naraa, sayaang?"
"Gak usah ngomong sama ku! Tidur di luar aja nanti malam!!"
"Berdosa bangettt!" Nara tidak memperdulikan Khansa, ia berjalan menuju taman belakang. Khansa masih tetap mengikutinya.
"Jangan marah mulu eyy, ntar cepet tuakk!"
"Y."
"Singkat padat menyakitkan."
"Sayaang?"
"Ohh, obatnya panggil Wisnu nih pasti."
Nara berbalik, "jangan sampe aku tampar kamu karena bawa bawa Wisnu terus, ya!!"
"Tes."
Tangan Nara yang melayang langsung di tarik Khansa, Khansa malah bersilaturahmi di bibir Nara.
Merasa Nara tidak membalas, Khansa melepasnya.
"Maaf. Aku cemburu bangett liat kamu masihh ketemu sama Wisnu. Aku takut kamu kepincut lagi sama Wisnu. Aku takut kamu diambil sama Wisnu. Aku gak mau pisah dari kamu apapun itu alasannya."
"Maafin aku kalau aku kekanak-kanakan ginii." Khansa menunduk.
"Aku milih kamu, bukan dia. Jadi kamu gak perlu takut, yaa."
"Kamu tau kenapa kaki ada dua?"
Khansa menggeleng. "Kenapa?"
"Karena yang sepasang itu hanya ada dua, bukan tiga, empat ataupun satu."
"Maafin akuu, sekali lagi maafin aku."
"Gapapaa, asal jangan diulangiii."
"OKE CUT!!"
"Bangsattt, lu kira gue lagi main drama apa?!" Tanya Nara kesal karena Boy dan Yesha yang tiba-tiba muncul.
"Gimana caranya lu bisa ke belakang??" Tanya Khansa sinis.
"Mendadak begoo ahahshaaaaa. Kan lu punya pembantu, tololl!" Ledek Boy.
"Cem anjj emangg!"
"Caa, lu gak capek apa sama dia?? Gak capek apa digantung muluu?"
"Gue lebih capek dengerin suara lu ngebacot, Na. Dahh daripada lu nanya yang gak jelas, mending siapin tempat buat party nanti malam." Suruh Yesha.
"Party apaa?" Tanya Khansa.
"Pelupa bangett, kasian mana masi mudaa." Ledek Boy lagi lalu menarik Yesha, mengajaknya pergi.
"Woii nak anj!!"
"Gak usah sok kenalll!"
"Astaghfirullah! Sabarr bangett gue ngadepin dua manusia ituu." Nara tertawa kecil.
"Party apaa?"
"Kan udah aku bilang, party perayaan cgrvls."
"Eumm, sekarangg?"
"Ya nanti malamm."
◒◒◒
"Boyy."
"Hmm?"
"Kita kapan sah nya?" Boy yang tadinya menyetir langsung menatap Yesha.
"Mau dipercepat??"
"Yaaa ngga gitu juga. Aku cuma tanya."
"Secepetnya ya, byy."
"Khansa, Franss, mereka cepet embat Nara sama Alika karena takut diambil ora–"
"Overthinking lagi?"
"Bukannya ngebet banget pengen nikah. Aku cuma mikir aja gitu, apa mungkin aku kurang penting bagi kamuu ata–"
"Nggakk gituuu. Kamu tu penting buat aku, penting banget malahh. Tapii mau gimana lagi? Asal didiskusikan papa gak ada, kadang juga Danial yang ngehambat semuanya."
Yesha menghela nafas.
"Stopp!" Boy tiba-tiba berhenti.
"Aku turun disini aja, byee!" Yesha turun tanpa persetujuan Boy. Ia langsung menyebrang tanpa lihat kanan kiri, untungnya tidak terjadi apa apaa.
Boy yang khawatir dengan Yesha, pergi menyusulnya. Namun karena Yesha yang teramat sangat lincah, Boy kehilangan jejak.
Boy menelepon Yesha berkali-kali, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Boy pun menuju mobilnya dan menunggu Yesha kembali.
Disisi lain, Yesha memasuki kafe yang jauh terlewati tadi. Ia duduk dengan santai sambil memegangi kepala.
__ADS_1
"Boleh gue duduk disini? Tempat lain penuh." Yesha mendongak.
Lagi-lagi David!
Tanpa menunggu jawaban Yesha, David langsung duduk.
"Lu ngikutin guee?!"
David mengedikkan bahu sambil cengengesan.
"Lu kenapa?"
"Sakit?"
"Diemm!" David diam sejenak.
"Dah gue bilang, kan? Berubah pikiran lah sebelum telat. Mau lu di maduu?"
"Dieemm!"
"Dia belum sah-in lu karena dia pusing, banyak cewek lain yang bilang hal serupa ke dia."
"Diam, David, diamm!"
"Seneng denger lu manggil nama guee." Yesha menatapnya sinis.
"Kalau gue jadi Boy mah langsung masuk KUA, tanpa mikir apapun."
"Daripada lu bacot mulu mending pergi." David malah diam di tempat dan terus menatap Yesha.
"Ca??"
"Ehh, Dipp."
"Lu ngapain berduaan sama David?" Tanya Branden sinis.
"Dia yang tiba-tiba datang samperin gue."
"Mending lu pergi deh, Vid!"
"Apa hak lu ngusir gue?"
"Apa hak lu duduk disini?" David terdiam mendengar jawaban Diva.
Tanpa bersuara lagi, David pergi. Diva, Branden dan Fauzul duduk bersama Yesha.
"Lu kenapa lagi?" Tanya Branden sambil mengambil alih Ujul dari maminya.
"Gapapaa."
"Gue tau lu bohong. Ada masalah apalagi?"
"Gak adaa."
"Cak, kita temenan udah bertahun-tahun. Gue jelas tau kalau lu lagi bohong, jadi, bagus lu jujur ke gue. Lu cerita sama gue."
"Gadapapa sumpahh."
"Gue tau apa yang ada dipikiran lu."
"Gak usah sotoy!"
"Papinya Ujul ni cenayang!" Yesha tertawa kecil hanya karena ucapan Diva.
"Kenapa kalian demen banget kabur kalau ada masalah?? Masalah itu ada buat ukur seberapa dewasa kaliann, kalau ngadepin masalah kabur kaburan kek gini kapan selesainya? Kapan dewasanyaa?"
Branden membiarkan Yesha bermain dengan Ujul, tanpa sepengetahuan Yesha ia mengambil ponsel dan menghubungi Boy.
"Nanti malam jadi party kann??" Tanya Yesha, ia mengalihkan pembicaraan.
"Heemm, di rumah Mak Nar."
"Gue tadi kesana tauuu, mereka abiss adu mulutt."
"Njirr, malah ngupingg." Cibir Branden.
"Bukan nguping tapi kedengaran."
"Ributin apaa?" Tanya Diva.
"Wisnu maybe, soalnya mereka pake kata dia gak pake nama."
"Yaa bisa ajaa Wisnu."
"Ehh, Dip, gue ketemu Ajef tau kemaren."
"Ngapain? Dimana?" Branden malah bertanya.
"Nemu dia di pinggir jalann, lagi dagang cendol." Branden terkekeh.
"Untungnya kamu sama ku kan, kalau nggak pasti gak ada bayi seimut Ujul. Dan lagii, pasti kamu dagang cendol di pinggir jalan."
"Ujul tetep imut karena keimutannya dari mami!"
"Nggak nggak, ketampanan anak nurun dari bapaknya. Kalau bapaknya Ajef, pasti jelek."
Yesha yang di tengah hanya menatap mereka berdua, tidak ada yang tidak adu mulut hari ini.
"Ajef jelek, maminya jadi jelek juga karena dagang cendol."
"Ssstt!!! Gausa bahas Ajeff, bahas dia bikin guee merasa bersalah sama Cia."
"Bilang aja gamonn!" Sahut Branden.
"Jangan cari masalah mulu dehhh!" Branden tersenyum meledek.
"Jull, mami mu gamon."
"Brandenn!"
"Apaa, sayangg?"
"Dihhh, parahh!"
Drrtt.. Drttt..
"Hp lu tuh bunyi mulu lohhh, angkat napassii!" Yesha menatap sinis Diva lalu meraih ponselnya.
📞 "Assalamu'alaikum! Susah kali ku tengok kam geser panel ijo tu!"
"Waalaikumsalam, bangg. Gak usah pala ngamuk."
📞 "Pulang cepat!"
"Wi ah, ngapain?"
📞 "Gak usah lagi bawel, pulang kam cepat!"
__ADS_1
"Yaa!"
Danial langsung mematikan panggilan.
"Dah mo ujan pulakkk."
"Kenapaa?"
"Disuruh balik sama Danial."
"Oh yaudah, hati-hati. Jangan lupa nanti malam!" Yesha mengangguk.
"Gue duluan, yaa!"
"Babayy Ujull!"
Yesha pun pergi meninggalkan mereka.
Tepat ketika keluar dari kafe, bunyi gemuruh terdengar.
"Aahh, gak ada payung pula."
Yesha melihat ke sampingnya, ada Boy yang sedang bersandar di tiang sambil hujan-hujanan.
"B-Boy?" Boy membalasnya dengan senyuman. Ia menghampiri Yesha.
"Maaf."
"Untuk?"
"Segalanya." Boy menatap lekat Yesha.
"Bukan aku gak mau kita cepat-cepat nikah. Aku udah ngebet banget dari dulu, pengen tidur bareng kamu, pengen peluk kamu terus tiap hari. Tapi aku sadar, aku masih banyak kurangnya."
"Aku belum punya rumah, kerja juga masih nerusin perusahaan papa yang belum tentu bakal jadi punya ku. Kalau kita cepet-cepet nikah, takutnya aku ngajak kamu susah susah."
"Aku gak mau itu terjadi. Aku mau, selama kamu sama aku selalu seneng seneng, selalu bahagiaa, selalu ceria. Makanya aku ngulur waktu teruss."
"Maaaff. Udah salah paham."
"Aku ngertii. Ditambah lagi omongan David yang gak pernah difilter. Aku udah jelasin ke kamu kan kemarin? Aku gak pernah selingkuh sama siapapun."
Yesha langsung memeluk Boy.
"Aku basahhh heyy, ntar kamu ikutan basahhh." Yesha tidak menjawab.
"Harusnya aku gak usah dengerin apa kata David."
"Lebih diharuskan dia gak muncul lagi ke hadapan kamu. Kata Branden tadi dia ganggu kamu."
Yesha melepas pelukan. Lalu menatap Branden yang ternyata sudah tidak di tempatnya.
"Branden bilang gitu??"
"Hmm. Tapi tenang, David udah mati."
"Nggak sihh, belum mati. Mungkin sekarat."
"Hahh??!"
◒◒◒
16.47
"Franss, aku cocok pake baju ijo atau ungu?"
"Pink, sayang."
"Jangan ngaco deh!"
"Kamu yang jangan ngaco! Gak ada warna lain?? Ijo ijo kek ratu pantai selatan, ungu cem janda. Bagus pink!"
"Iya juga yaaa. Tapi pink warna babii." Frans langsung menatapnya cengo.
"True, kann?"
"Karepmu. Pokoknya jangan Ijo ataupun ungu!"
Alika kembali mencari baju dengan warna lain.
"Byy, kamu udah berantakin baju dari jam empat, sekarang udah mau jam lima. Belum selesai jugaa?"
"Kan kamu dari tadi juga protes muluu! Bilang seksi kali lahh, keketatan lahh, norak lahh, gak cantik lahh, pokoknya apaa yang ku tanya kamu tolak."
Frans cengengesan.
"Bagus kuning aja udahh."
"No. I don't like it, macam taiii. Mocca gimanaa?"
"Putih aja, yang ini."
"No. I don't like it. Abu-abu??"
"Hitam?"
"No. I don't like it. Navy blue?"
"Deal!"
"Akhirnyaaa! Capeeekk akutuhh!" Alika mendempetkan badannya dengan Frans.
"Pulaknya nyari baju aja sampe sejam. Bukannya mau ke acara besarr."
"Eh, iya juga ya?? Kalau gitu pake daster aja gimana?"
"Karepmu, byy!" Alika terkekeh.
"Aku milih baju sejam, kamu juga main game udah sejam. Berhenti!" Alika menarik ponsel Frans.
"Dikit lagii menangg, byyy. Minta duluu."
"No no."
"Sayaangg, siniin duluu." Alika geleng-geleng kepala sambil menjauhkan ponsel Frans.
Frans yang licik langsung beralih keatas tubuh Alika. Alika terkejut melihatnya.
Perlahan Frans mendekatkan wajahnya ke wajah Alika. Akan tetapi...
ITU HANYA PENGALIHAN PERHATIAN ALIKAAA!
Frans mengambil ponselnya lalu kembali ke tempat sebelumnya.
"Bye!" Alika pergi dari kamar.
"Ngambek pulaaa."
__ADS_1
"Dahla kalahh, bini ngambekk. Macam jatuh ketimpa tangga."