Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 103 Recok teross


__ADS_3

"Btw, kapan nikah?" Tanya Frans.


"Besok!!"


"Serius besok??"


"Ya nggak lahh gilaaa. Issh, kok bisa punya temen gini sih kamu, by?" Tanya Boy kesal.


Yesha menggeleng, "akupun gak tau kok bisa punya temen kea dia."


"Kamprett lu bedua!"


Yesha dan Boy tersenyum smirk.


"Bang Febri sama kak Hanin di rumah lu, cha?" Tanya Alika.


"Iyaa, kenapa?"


"Nggak denger kah?" Tanya Frans.


"Denger apaa?"


"Masa gak dengerr?"


"Denger ap– HEHH ANJJJ, ASTAGHFIRULLAH!!!" Mereka bertiga tertawa.


"Denger gak, by??"


"Booyy!!" Boy terkekeh.


"Kedap suara ya, Cak?"


"Istighfar lah wahai makhluk bumiiik!" Mereka tertawa lagi.


"Btw, kalian nanya kapan nikah tadikan? Kalian sendiri kapan punya babyy?" Tanya Boy balik.


Frans dan Alika saling bertatapan dengan senyuman misteri.


"Jangan jangann udahhh?!"


"Eemm.. no komen," jawab Alika.


"Mencurigakan!!"


"Udah bro?" Tanya Boy pada Frans.


"No komen."


"Udah keknya nii."


"Tutorrr cara buatnya, ya. Di videoinn," pinta Boy.


"Cak, calon laki lu goblokkk!"


✾✾✾


07.35, keesokan paginya.


"Morningg!" Yesha keluar dari kamarnya.


"Morning too! Boy jadi main kesini, Caaa?"


"Mungkin iya maa."


"Gitu aja gak tauu."


"Diem! Gak usah sok kenall!" Danial menatap kesal Yesha.


"Gue makann juga ntar lu!"


"Dih dih. Maaa, bang Al bukan manusiaa!"


"Aihh, kalian berdua inii! Sehari gak gelut gabisa?"


"Nggak, Ma." Jawab keduanya kompak.


Ting.. Tong..


"Itu Boy keknya, biar Fiaa bukain."


Yesha menuju pintu utama. Dan ternyata benar, itu Boy.


"Morningg, sayangg."


"Morning too," jawab Yesha sambil tersenyum. Yesha pun mengajak Boy masuk ke rumah.


"Pagi, Om, Tantee."


"Pagi, Boy. Makin ganteng aja ya kamuu." Kata Deokhwa terpesona. Boy tertawa mendengarnya.


"Kalau Boy gak ganteng, Caca malu ntarr punya Boy."


"Mengadi-ngadi ishh."


"Hahaha."


Mereka mulai sarapan, setelah selesai mereka kumpul bersama di ruang keluarga.


"Jadi, kalian kapan mau diresmiin?" Tanya Deokhwa, papanya Yesha.


"Papa bilang tunggu beliau pulang dari New York, Om. Nanti di bicarakan juga bareng om Deo." Deokhwa berohria.


"Gak usah cepet-cepett."


Mereka menatap Danial heran.


"Kenapa?" Tanya Hanin.


"Yaa nanti kasiann si Boy nikahin bocil."


Bruk!


Yesha melemparnya bantal sofa.


"Adek laknat!" Yesha tersenyum puas.


"Tapi kasiann lah Fianaa, temen temennya udah pada nikah. Bahkan sii Diva udah punya anakk."


"Diva udah gedek, beda sama Fiana yang masih bocil."


"Luu, ish!! Pengen gue jadiin gado-gadoo!" Danial tersenyum manis.


"Gausah sok ganteng! Najis gue liatnya."


"Adek laknatt!" Part duaa.


"Bocil darimana nya sii? Fiana udah gedek gituu."


Yesha memberikan finger heart pada Hanin yang selalu membelanya.


"Tu tu, liat kek bocil. Masih bocil diaa, bocill."


"Emang lu gak bocill?!"


"Ya nggak lah," Danial ngegass.


"Lagian lu ngapain nikah cepet-cepet, hah? Ngapainn?"


"Iyyy... yaaa, biar terhindar dari zina lah!" Jawab Yesha.


"Halah bacritt."


"Lu ngapain nikah cepet-cepet gue tanyaa?! Ngapainn? Paling juga pengen nganu doang."


"Cangkemmu suu!" Yesha cengengesan.


"Jadii kapan bang gue harus nikahin Caca??" Tanya Boy.


"Tunggu dia gedek."


"Kapan?"


"Ya nggak tauu."

__ADS_1


"Ni anak minta di sepak emang!" Yesha geram.


"Lu kata gue bola?"


"Emangg! Pala lu kan botakkk, cocok jadi bola buat di sepakk!" Mereka tertawa kecuali Danial.


"Udah udahhh, kalian tuu beranteem ajaa. Nanti gak ketemu kecariann." Omel Mamanya.


"Nggak. Gak bakal kecarian." Jawab Yesha.


"Fiaa, kamu tau kenapa bang Al bilang kamu bocil terus?"


"Kenapa, Pa?"


"Dia bilang kamu bocil karenaa di mata dia kamu bocill teruss. Bocill yang suka minta permenn. Selain itu dia gak mau kamu nikahh, takut kehilangan adeknya. "


"Heiii, papa mengadi ngadi~"


"Lohh, benerkann?"


"Jelas tidak. Yaudah kalau gitu besok aja nikahnya!"


"Ehh, jangan besok. Kecepetan. Lagian besok gue mau nonton dangdut di Indosi*r."


"Astaghfirullahalazim. Kenapa gue bisa punya abang modelan beginii?!"


"Harusnya lu bersyukur punya abang kek gue. Cakepp, bisa dapetin cewek cakep jugaa, baik lagi."


"Dihh, gelii gue liatnya."


"Adek durhaka ya gini!"


✾✾


"Om Tian ke New York sama Bia juga?"


"Nggakk, Bianca di rumahh. Dia semalam cuma ngeprank doang."


"Hp kamu kan pake password, kok dia bisa buka?"


"Dia tau passwordnya."


"Emang apa passwordnyaa??"


"Caca cantik sayangnya Boy."


"Dihh, mengadi-ngadiii!" Boy tertawa.


"Passwordnya itu pin. Tanggal lahir ku, tanggal lahir kamu. Disatuinn."


"Uuuwww."


Boy tersenyum sambil mengelus rambut Yesha.


"Kamu mo beli buku apa?"


"Buku novel."


"Astaghfirullah sayaangg, aku kira kamu mau beli buku edukasiii gituu." Yesha tertawa.


"Buku edukasi untuk apaa? Kan ada buku kamuu yang dari New York, tinggal di bawa balikk ajaa."


"Kok pinter bangett hmm?"


"Oh yajelass, Yesha gitu lohh." Boy mengacak rambut Yesha gemas.


Yesha mulai berhenti di satu buku. Ia membaca sinopsisnya di bagian belakang. Suka dengan isinya, Yesha mengambil buku itu.


Yesha menoleh sekeliling karena Boy hilang tiba-tiba. Ternyata Boy sedang mencari buku juga.


Yesha kembali mencari buku. Ketika ingin mengambil buku itu, tangan yang lain ikut memegangnya. Yesha menarik tangannya dan bergeser kemudian menoleh.


"D-David?"


"Eyy, haloo. Lama gak ketemuu," David begitu friendly.


Ada apa ini? Kenapa Yesha merasakan sesuatu yang anehh??!


"Kan toko buku, ya gue nyari buku lah. Lu sendiri?"


"Udah bel– David?"


"Oo sama Boy. Halo, lama gak ketemu."


Boy menatapnya sinis, "mau apalagi lu?"


"Gak adaa, gue kesini cuma mo beli buku. Gak usah su'udzon gituu lah." Jawab David sambil tersenyum.


Yesha buang muka melihat senyumnya.


"Oh iya, gue denger lu berdua belum nikah juga padahal yang lain udah berbulan-bulan nikah. Kenapa gak diajak ke KUA, Boy?? Masih bingung pilih cewek yang mana?"


"Jaga omongan lu sialann!"


"Lohh, kok ngegas? Beneran punya simpenan?"


Yesha kebingungan.


Benarkah Boy punya simpanan? Yesha tidak yakinn.


"Berubah pikiran lah, Ca. Sebelum telatt. Gue masih setia nungguin lu."


"Eiyyaa, nomor gue masih yang lama." David tersenyum lalu pergi sambil membawa satu buku.


"Aahh! Tau bakal gini kedepannya aku larang Danial buat mancing-mancing dia jadi baik waktu SMA!"


Yesha terdiam.


"Bener kamu punya simpanan?"


"Kamu percaya sama diaa?" Yesha menggeleng pelan.


"Sayang, dengerin aku. Dua puluh empat per tujuh ku habis buat kerja, juga buat ketemu sama kamu. Dia ngomong kayak gitu cuma mau bikin kita bertengkar, kalau kita bertengkar dia bahagia."


Yesha diam lagi.


"Deeerr!!"


"Astaghfirullah, Biaaaaaa!" Bianca tertawa.


"Ada apa neee, kok keliatan seriuss gitu situasinya?"


"Nggak, gapapa kokk."


"Heummm, mencurigakan."


"Lu sejak kapan disini?!" Tanya Boy kesal.


"Barusan ewkwkw."


"Nguntit kan lu?!"


"Astaghfirullah Boy, su'udzon banget sama adek lu!"


"Sopan dikit sama guee. Tua lu?!"


"Iya iyaa maap orang tuaa!"


"Caa, Boy abis marahin lu ya?"


"Hah? Nggakk."


"Jujur ajaaa, kalau iyaa gue laporin ke mama papa biar mampuss tu anak."


"Heh tuyul!" Bianca memeletkan lidahnya, meledek Boy.


"Ca, kerumah kuy. Gue udah lamaa pengen main sama luu, cuma Boy larang muluukk."


"Lohh, kenapaa???"


"Kecapekan nanti kamu main sama tuyul ini. Dia gak bisa diem, byy." Jawab Boy.


"Gosa sok by by annn!" Bianca mengambil buku Yesha, menumpuknya dengan buku yang ia pilih lalu memberikannya pada Boy.

__ADS_1


"Bayar! Gue sama Caca tunggu di mobill." Bianca langsung menarik Yesha pergi.


"Astaghfirullah, untung adek guee kan."


Boy membawa kedua buku itu menuju kasir. Ia membayarnya lalu menyusul adik dan kekasihnya.


Sebelum itu Boy mampir ke toko ice cream dan permen di sebelah. Boy membeli dua ice cream rasa coklat dan satu vanilla.


Boy juga membeli satu lolipop. Meskipun kesusahan Boy bisa membawanya sampai ke mobil.


"Nih. Vanilla punya lu ya, Bia!"


"Eumm, mantap!" Boy memberikan satu yang rasa coklat pada Yesha.


"Itu loli buat siapa?" Tanya Bianca.


"Buat Caca lah, yakali buat lu."


"Ishh anjirrr banget emang!!"


"Beli sendiri sono, nah duitnyaa." Dengan muka kesalnya Bianca keluar mobil membeli lolipop.


"Kenapa beli satu doangg?"


"Ya sengaja, biar ninggalin Bianca."


"Astaghfirullah, tega bener bapak!" Boy tertawa lalu mengendarai mobilnya dan pergi meninggalkan Bianca yang sedang beli lolipop.


"Makasih, Pak." Bianca keluar toko.


"Mobil bang Boy kemana ye? Eh itu yang jalan..."


"EDDDAHHHH, BOY KAMPRETTT!!"


✾✾✾


"Assalamu'alaikum, mbakk, Boy udah pulangg?!"


"Udah, dee. Lagi di taman belakang sama Cacaa."


"Ishh, Boy sialan emang." Bianca berlari menuju halaman belakang.


"BOYYYYY!"


"Astaghfirullahalazim astaghfirullah..." Boy mengelus dada.


"Sayang, kamu denger iblis teriak gak?" Tanya Boy, Yesha malah tertawa.


"Anjirrr banget lu yaaa ninggalin gue! Gue laporin mama mampusss lu."


"Yah yahhh, ngaduan yaahh. Belum layak nikah luu!"


"Gue emang gak mo nikah!"


"Loh kenapa anjritt? Serius kagak nikah lu?!" Tanya Yesha.


"Hooh, gue di tinggal rabi. Jadi maless buat ketemu cowok!"


"Emang siapaa??"


"Chen Exo."


"Mati aja dah lu sana!" Bianca cengengesan. Bianca duduk di tengah-tengah Boy dan Yesha.


"Gitu banyaknya tempat ya, Biaaaa, kenapa lu kudu di tengah-tengah?!!!!"


"Dosa bang lu dempetan sama Caca. Syukur adek lu yang cantik ini mau menengah." Boy menatapnya sinis lalu kembali menoleh laptopnya.


"Btw, Chen EXO yang papa muda itu kan ya?" Bianca mengangguk.


"Kalau jadi orang kedua ga dosa, udah masuk tengah gue."


"Pertanyaan gue sekarang gini... emang dia mau sama lu?"


Bianca menatap sinis abangnya lalu berdiri.


"Beneran gue laporin mama lu, ya! Awas aja!" Bianca masuk ke rumah. Boy terkekeh melihat ekspresi kesal Bianca.


Yesha sendiri geleng-geleng kepala karena Boy tertawa.


"Demen amat si lu gangguin Biaa."


"Lu lu, aku tampol mauu?" Yesha nyengirr dengan wajah tanpa dosa.


Sambil memegang laptopnya, Boy bergeser ke Yesha lalu bersandar di pundaknya masih sambil menatap laptop.


"Berattt, ishhh."


"Apa yang berat?"


"Beban hidup." Boy tertawa, ia tidak lagi bersandar dan kini sedang menatap Yesha yang sedang memakan lolipop sambil baca buku.


"Serius banget yaa baca bukunya? Sampe aku dikacangin ginii."


"Heemm, hal yang tidak bisa di tunda adalah.. menyelesaikan bacaan buku novel."


"Harus di selsein sekarang juga itu?" Yesha menoleh kearah Boy.


"Kenapa emang?"


"Mau bahas tentang David tadii."


"Udah, lupain aja."


"Nggakk, jangan. Aku nggak mau kamu nya salah paham."


Yesha menatap Boy menunggu penjelasan.


"Mungkin selama ini David ngawasin kita berdua, bisa jadi dia mergokin aku. Jujurrr, aku nggak selingkuh. Aku emang sering keluar sama sekretaris buat ketemu klien di kafe, dan mungkin itu yang David tauu."


"Tapi aku gak selingkuh sama dia. Cuma sekedar partner kerja doangg. Kalau kamu masih gak percayaa atau masih raguu, besok aku ganti sekretarisnya biar cowok aja."


"Hah? Segitunya? Gak usah deh. Aku percaya kok."


"Biar kamu lebih percaya sama aku. Lagipula kalau aku selingkuh juga udah dari duluu, dari aku di New York. Cewek sana cantik cantikk, sek–"


"Bodoamattt, Boy! Mo samperin Biaa, bye!"


"Yah yahh, ngambekk. Becanda doangg," Boy menariknya untuk duduk kembali.


"Sini aja yaa, jangan kemana-mana."


"Iyaa, awas dulu bentarr. Ituu bunganyaa tumbang."


Yesha membetulkan bunga itu. Ntah mengapa tiba-tiba matanya terasa gatal, ia langsung menguceknya padahal tangan Yesha berpasir.


"Kenapaaa?"


"Gatell, perih jugaa." Boy menghadap Yesha lalu menghembus matanya.


"Jangan di kucek terusss, merah tuh matanya."


"HEYAHHH, uwu uwuan tidak tau tempat!" Sejak kapan Bianca dan Amel di kursi taman?


"Berisik luu, Jamila!" Yesha menuju mereka berdua.


"Matamu kenapaa, Ca? Diapain sama Boy?" Tanya Amel.


"Kagak usah su'udzon, gue lempar lu ntar!" Amel nyengir.


"Gapapa, cuma kelilipan."


"Badewayy, Frans ganteng yaa. Gue demen dehh," ujar Bianca.


"Gak usah sok susah deh lu. Jadiin laki orang inceran, macem orang susah tau nggak!" Cibir Boy.


"Ehhh, apaan? Kok ngamokkk! Frans nya bukan Frans ayang si Alikaa, bukaaan. Frans yang inii," Bianca menunjukkan Frans yang lain.


"Gak bilang sih."


"Lu nya aja su'udzon peakk!"


"Abang adek yang gak pernah akur. Recok teross lu bedua, stress gue dengernya!!"

__ADS_1


__ADS_2