
"*Keren banget lo bisa taklukin Yesha. Congratsssss lah, dapet juga tuh Lamborghini dari Valdi" ujar Rudi.
"Dia selalu menang taruhan heran gue" sahut Valdi.
"Eh kamu masih berurusan sama cewek miskin itu? Yang bener aja?" tanya seseorang bermanja ditangan David. David hanya diam*.
-
Iyaaaa!! Mereka lah yang membuat Yesha sakit hati. 'gue? gue bahan taruhan Lamborghini?' tanya Yesha dalam hatinya. Tanpa sengaja ponsel yang ia pegang terjatuh. David menoleh kebelakang.
"E- Echa" ujar David. Yesha yang tidak biasanya menangis karena hal sepele. Ntah mengapa dia menangis, dia pun berlari tak menentu, dan membiarkan ponselnya yang jatuh.
David melepas kasar cewek yang bermanja dengannya. David mengambil ponsel Yesha lalu mengejar Yesha.
"Yesha gblok, Yesha to*lol!! Bisa bisanya ketipu! To*lol to*lol to*lol!!!" umpat Yesha disepanjang larinya.
"Yesha, aku bisa jelasin."
"Ini gak seperti yang kamu bayangkan" teriak David terus menerus.
"LO GAK PERLU CAPEK CAPEK-IN KAKI BUAT NGEJER CEWEK MISKIN KAYAK GUE" balas Yesha teriak sangat keras. Yesha terus berlari sampai dia keluar dari mall. Tanpa membawa mobilnya dia masih berlari.
"To*lol, gblok!!" umpat Yesha terus menerus. Dan masih sambil berlari. Tepat di depan sebuah kafe, tiba tiba saja kakinya terasa sakit. Dia pun masuk ke situ dan memilih lantai atas untuk bernafas perlahan.
"To*lol Yesha! Yesha gob*lok. Lo bener bener gblok" umpat Yesha dengan suara pelan, dia terus menerus mengucapkan itu tanpa henti. Seorang pelayan pun datang menghampirinya.
"Lo gak gob*lok lo gak to*lol" ujar pelayan itu. Yesha mendongak.
"Bryant" panggil Yesha. Bryant duduk disamping Yesha. Bryant memang pelayan dikafe itu.
"Gue gak bakal kasih tau bang Danial kalau lo disini. Tenangin diri lo ya, gue tinggal sebentar" kata Bryant setelah menghapuskan air mata Yesha. Bryant hendak pergi, tapi Yesha menahannya. Yesha memeluknya, lalu menangis dengan kencang. Bryant membalas pelukan Yesha.
"Lo boleh nangis sekarang, tapi setelah ini jangan ada lagi air mata. Karena yang gue tau, lo bukan cewek lemah " balas Bryant sambil mengelus punggung Yesha.
∆×∆×∆
Di mall tadi..
Saat Yesha berlari dan David mengejarnya. Tiba tiba Alika menjegal kaki David sehingga David terjatuh. Setelah David terjatuh, Alika menarik kasar David dibantu ke dua temannya.
"GBLOK! TLOL!" bentak Nara. Mereka berada di belakang mall, kedua tangan David terikat di pohon kecil.
"Gue bisa jelasin" kata David.
"Jelasin apa?! Gue denger sendiri vid. Gue denger kalau Yesha itu LO JADIIN SEBAGAI TARUHAN LAMBORGHINI!" bentak Alika.
Bugh!!
Bugh!!!
Danial datang dan langsung menggebuki David. Ikhsan dan Revin membantu menghentikan Danial.
Mereka bertiga bisa tau karena tadi berada di dalam mall.
"Anjg lo,bgsat! Gue udah restuin lo. Gue relain adek gue. Tapi lo malah mainin seenaknya. Gak ada otak lo emang" maki Danial.
"Gue nyesel sekarang NYESEL!!"
"NYESEL SENYESEL-NYESELNYA KARENA BIARIN DIA DEKET SAMA LO!!" bentak Danial.
"De- dengerin dulu penjelasan gue" pinta David.
"D- dulu emang gue taruhan Lamborghini sama Rudi. Gue coba deketin Yesha sebagai target..."
Bugh!!
Mana sempat keburu ditumbuk, heem mana sempat :v. [ anggap aja iklan biar gak greget banget hehe ]
"Febrian sabar" suruh Nara.
"Bang Febrian maksudnya" lanjut Nara.
"Tapi itu dulu, sekarang.. sekarang gue beneran jatuh cinta sama Yesha. Gue sayang sama Yesha" jelas David.
"Gue gak bakal percaya lagi sama lo sampai kapanpun!"
"Kalau ada apa apa sama adek gue.... Lo gue bunuh!" ancam Danial. Danial pun pergi dari sana. Diikuti yang lain. Alika melepas ikatan tangan David.
__ADS_1
"Yesha.. ma- maafin gue." lirih David.
★__-
Cukup lama Yesha menangis, entah kenapa dia begitu beg*o sampai menghabiskan banyak air mata.
"Lo udah tenang? Gue ambilin minum dulu ya sebentar" pamitnya lalu pergi.
Yesha mencoba menghentikan tangisannya dan mengelap air matanya dengan tissue.
Gak lama kemudian Bryant datang dengan secangkir teh hangat.
"Minum dulu, ini bisa bikin lo lebih tenang" kata Bryant.
"Makasih" balas Yesha dengan suara pelan. Bryant tersenyum. Setelah Yesha meletakkan gelasnya di meja. Bryant mengambil tissue lalu mengelap bekas bekas air mata Yesha.
"Jangan ada tangisan lagi oke?" tanya Bryant. Yesha mengangguk sambil tersenyum sedikit.
"Lo kerja disini?" tanya Yesha. Bryant mengangguk.
"Bukannya, lo anak holkay?" tanya Yesha.
"Yaa.. gitu, gue cuma mau cari kerja sendiri" jawab Bryant.
"Lo kenapa bisa sampe disini?" tanya Yesha. Yesha tersenyum sambil menunduk, mengingat kejadian tadi.
"Gue beg*o banget bry" ujar Yesha.
"Lu nggak beg*o" balas Bryant tegas.
"Gue bodoh karena percaya omongan David. Gue.. gue cuma bahan taruhan Lamborghini." ujar Yesha. Bryant tampak kaget, tapi dia berusaha bersikap biasa aja. Dia memegang dagu Yesha, lalu menaikkannya agar Yesha tidak menunduk dan tidak menangis lagi.
"Gak boleh nangis. Mana Echa yang dulu?" tanya Bryant. Yesha senyum.
"Makasih tadi pelukannya" kata Yesha.
Ting..
Ting..
Ting..
Ting..
Ting..
"Tentang gue kan? Bang Danial pasti udah tau" kata Yesha. Bryant mengangguk.
"Gue ke toilet dulu ya" pamit Yesha lalu pergi.
Bryant langsung mengechat Danial.
✉️
Bryant;
Lo gak perlu panik bang! Yesha ada di gue. Gue izin ajak dia ke desa.
Bang Danial 😏;
Jaga adek gue baik baik*!
Bryant hanya me-read pesan Danial.
"Lo mau gue ajakin ke suatu tempat? Gue jamin lo bakal suka" ajak Bryant pada Yesha. Yesha sudah kembali.
"Kemana?" tanya Yesha.
"Ada deh.. yaudah tunggu bentar, gue ganti seragam." Yesha menahan tangan Bryant.
"Gak usah, Lo lagi kerja, nanti lo dipecat gimana?" tanya Yesha.
"Nggak bakal, tunggu disini. Jangan kemana mana" Bryant langsung berlari.
Yesha menunggu Bryant.
Tiga belas menit kemudian, Bryant keluar dengan celana hitam, hoodie abu abu dan sepatu putih.
__ADS_1
"Loh kok sama abu abu? Kok sama sepatu putih?" tanya Bryant.
"Lo ikut ikut gue" balas Yesha.
"Iya mungkin" jawab Bryant dengan muka anehnya. Yesha malah tertawa. 'akhirnya lo ketawa' batin Bryant.
"Kita pergi?" tanya Bryant.
"Ayok" ajak Yesha sambil senyum.
Bryant menjulurkan tangannya. Yesha pun membalas ulurannya. Bryant senyum lalu mengajak Yesha berlari. Kaki Yesha sudah tidak sakit lagi sekarang.
"Kita naik apa?" tanya Yesha. Mukanya sudah sedikit bersemangat. Dia tidak dengan tatapan dingin, datar, cuek atau sejenisnya.
"Pake motor, gak apa apa kan." tanya Bryant.
"Gak apa apa, santai aja" jawab Bryant. Bryant pun menuju parkiran lalu mengeluarkan motornya.
"Bisa naiknya?" tanya Bryant.
"Gue pake celana, bisa kok" jawab Yesha. Yesha pun naik.
"Pegangan, gue mau ngebut" suruh Bryant. Yesha pun memegang erat jaket Bryant.
~•ו~
Beberapa jam kemudian mereka sampai di sebuah desa. Bryant memarkirkan motornya ditempat khusus.
"Capek? Jauhkan?" tanya Bryant. Yesha mengangguk.
"Ini belom sampe, kita harus jalan dulu" ajak Bryant.
"Yaudah ayok" ajak Yesha semangat.
"Dih semangat amat" ledek Bryant.
"Bodoamat" Yesha berjalan duluan.
"Eh emang tau jalannya?" tanya Bryant.
"Kagak" balas Yesha sambil cengengesan.
"Kuylah" Bryant menggenggam tangan Yesha lalu mengajaknya ketempat yang dimaksudkan.
"Eh sama siapa nih mas. Tumben mas Boy bawa pacarnya" goda ibu ibu yang mengenali Bryant.
"Boy?" tanya Yesha.
"Penduduk sini panggil gue Boy" respon Bryant.
"Bukan pacar Bu, ini temen" jawab Bryant.
"Temen apa temen sampe gandengan"
"Mas Boy tuh gak pernah bawa siapapun kesini loh mbak. Mbak yang pertama kalinya. Cieee.. mbaknya spesial" lanjut ibu. Yesha tersenyum canggung.
"Ah ibu jangan gitu dong hehe.. Boy sama Echa ke sungai dulu ya" pamit Bryant lalu pergi.
Disepanjang jalan, Bryant banyak menyapa para penduduk.
"Kayaknya lu populer ya disini" kata Yesha.
"Gue paling ganteng" jawab Bryant sombong.
"Puft.. hahahaha.. gak yakin gue" ledek Yesha.
"Dih kok ngeyel," balas Bryant.
"Iyain dah. Lo gimana bisa tau tempat ini?" tanya Yesha.
"Emm gimana ya.. gue pernah nyasar gitu. Terus di tolongin sama ibu ibu yang baik pake banget." jelas Bryant.
"Oo, jadi sekarang kita kemana?" tanya Yesha.
"Mancing" jawab Bryant.
"Mancing keributan?" tanya Yesha dengan muka santainya.
__ADS_1
"Gemes gue sama lo, pengen gue cemplungin ke sungai" kata Bryant kesal. Yesha malah tertawa ngakak.