Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 52 Kecoaaaaaa


__ADS_3

Pukul 16:37


Alika terbangun dari tidurnya, dia mengambil minuman dingin di kulkas apartemen Danial.


Yhaa.. siang sampai sore hari, mereka tidur di apartemen Danial. Untung saja para orang tua tidak marah ketika mereka jarang pulang, hanya saja di kasih petuah untuk jaga diri baik baik.


Orang tua mereka tau, kalau pertemanan anaknya begitu dekat dan orang tua mereka juga saling mengenal satu sama lain.


"Apa Yesha bakal ke New York ikut sama Boy? Aaa.. gue gak mauuu. Tapi, kalau dia disini.. dia juga bahaya dekat David. Yhaaa.. eechhaaa" ujar Alika.


"Wuy" panggil seseorang.


"Eh Frans, lo gak tidur?" tanya Alika.


"Bangun gegara kebelet kamar mandi tadi" jawab Frans.


"Lo sendiri?"


"Kebangun juga gak tau kenapa" Frans menghampiri Alika setelah mengambil minuman.


"David sama kayak lo ya" ujar Alika.


"Beda sih, gue ketika sadar langsung berusaha lepas. Kalau David, dia sadar tapi dia biarkan gitu aja" jelas Frans.


"Jadi sekarang lo gimana?" tanya Alika.


"Berkat lo, gue bebas" jawab Frans.


"Itu karena lo niat, bukan karena gue"


"Thank you" Frans menatap lekat wajah Alika.


"Kenapa liatin mulu? Jelek? Muka bantal? Maklumin ajaa, namanya baru bangun" celoteh Alika.


"Lu cantik, pake banget. Apalagi muka bantal gitu," puji Frans.


"Dih mulai mulai" ledek Alika.


"Diantara tiga temen lo lainnya, tinggal lo sendiri kan yang single? Mau gak tuh gue yang isi?" tanya Frans. Alika malah tertawa.


"Apaan sih ngaco lo" Alika cengengesan.


"Gue serius juga"


"Becanda lo mah, kalau nyatain cinta ke orang tu yang serius. Kalau ekspresinya kayak lo gini, mana yakin gue"


"Jadi? Gue ekspresi gimana? Keringet dingin, maksa senyum gitu? Kayak orang kebelet boker Al" Alika tertawa ngakak.


"Jangan kuat kuat, yang lain tidur" Alika ngangguk.


"Lagian lu nya aneh" Frans mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Cincin berwarna silver.


"Gue serius sama lo. Percayalah, cinta gue ke lo udah besar. Dan.. perkataan Boy waktu itu bener, gue udah suka sama lo dari kelas sepuluh. Tapi gue terlalu pengecut buat ngutarain semuanya. Sekarang, gue beranikan diri dari pada gue nyesel di kemudian hari."


"Gue letak cincin ini di sini, kalau lo tarik cincinnya berarti lo terima gue dan kalau......" Alika menarik cincinnya. Frans menatap Alika. Alika langsung menyodorkan tangannya. Frans dengan wajah sumringahnya memasangkan cincin itu ke jari Alika.


"Ini cincinnya beli di pinggir jalan itukan?" tanya Alika.


"Ngaco lo, gue nitip abang gue dia beli dari Korea"


"Gumawo" Frans tersenyum.


"Saranghae" bisik Frans.


"Nado saranghae" balas Alika.


·.–…–…–…–.·


"Selamat sore princess" sapa Boy.


"Whaaaa" teriak Yesha. Boy meletakkan jarinya di bibir Yesha.


"Kenapa teriak? Mas gak ngapa ngapain" ujar Boy. Yesha melihat kedalam selimut, huh.. pakaiannya utuh.

__ADS_1


"Yeshaa lu kenapa sih?! Bangun tidur cowok samping lu beda beda mulu, kayak...." lagi lagi Boy meletakkan jarinya di bibir Yesha. Menghentikan ucapan ngawurnya.


"Masih mabuk kamu hm? Ngomong asal aja. Mas gak suka ya kamu gitu. Kemaren kamu gak tidur sama David. David tidur dikamar sebelah, dia masuk pagi nya sebelum kamu bangun terus pintunya di kunci dari luar"


"Jadi.. orang pertama yang tidur disebelah kamu, cuma mas!" ceramah Boy.


Yesha menatap Boy. "Beneran?" tanya Yesha.


"Ya beneran lah, mas liat di cctv" jawab Boy. Yesha memeluk Boy.


"Syukurlah" Yesha tersenyum senang.


"Eh iya, Caca kenapa disini ya?" tanya Yesha.


"Kamu mabuk berat tadi, gara gara minuman yang dipaksa minum ke kamu" jelas Boy.


"Hah? Serius? Hyaaa, semua perjanjian dari papa Yesha ingkarii" Yesha nangis.


"Tenangg sayangg, itu kecelakaan" balas Boy.


"Ya tapikan...." Omongan Yesha terhenti karena orang diluar berteriak.


"Kenapa itu?" tanya Boy. Yesha menggeleng lalu mengusap air matanya. Mereka berdua keluar dari kamar.


Pandangan pertama yang dilihat Yesha adalah Diva yang memeluk Branden. "Ngapa si woi?!" tanya Boy.


"Kecoaaa" jawab Nara. Nara berada di balik badan Khansa.


"Mana?" tanya Boy.


"Di dekat kaki Yesha" jawab Alika. Yesha menahan tanduknya. Eh bukan tanduk, apa ya namanya? Yang didepan kecoa kayak lele? Ah itu lah pokoknya.


"Mas ambil"


"Gak mau ah, itu jorok" jawab Boy.


"Ya gak pake tangan sayangku. Pake itu" Yesha menunjuk sapu kecil serta toples. Boy mengambilnya, menyapu kecoa hingga masuk ke toples.


"Hiii, gimana si lo bang? Apartemen ada kecoanyaa!!" keluh Yesha.


"Ditanya nanya balik, gak jelas" cibir Yesha. Danial cengengesan.


"Eh betewe, dip kecoanya udah ilang. Masih betah pelukan?" tanya Nara. Diva melepas pelukannya lalu cengengesan.


Drrtttttt wing wing wing wing..


Ponsel Yesha berbunyi.


"Ganti nada dering makin aneh" cibir Nara Yesha cengengesan.


—tn. mandor bangunan—


📞 mandor; halo, nona yesha?


Yesha; ada apa pak?


📞 mandor; pembangunan gedung sudah selesai, sesuai dengan keinginan anda.


Yesha; hah? serius pak??


📞 mandor; iya nona, kami juga sudah mengecat warnanya sesuai keinginan.


Yesha; aaaaa, oke pak saya kesana sekarang. terimakasih pak ( mematikan teleponnya )


"Kenapa muka sumringah gitu?" tanya Boy.


"Konstruksi cgrvls udah selesai bersih" jawab Yesha.


"HAH SERIUS??" Alika, Diva, Nara antusias. Yesha mengangguk.


"Aaaaaaa.. aye ayeee" mereka berpelukan.


"Skuy liat" ajak Nara.

__ADS_1


"Kuy lah kuy" sahut Alika.


"Ehh, ini cgrvls maksudnya apaan?" tanya Branden.


"Eaak.. gak tau ya? ini tu tempat penghasil uang. Penasaran? Ayok ikut" ajak Diva. Mereka bersiap siap. Alika mengambil salah satu kunci mobil mereka.


"Ini kunci mobil siapa? Kita pinjem" Alika dan ketiga temannya pergi.


"Ag... woi tihatii" teriak Ikhsan. Kunci mobil yang diambil Alika adalah kunci mobil Ikhsan. Yang lainnya mengikuti kemana mereka pergi.


- -


Mereka baru saja tour keliling tempat penghasil uang, cgrvls. Saat ini mereka berada di lantai dasar.


Tiba tiba, ada bunyi gemuruh dari perut Diva dan Alika.


"Bisa samaan gitu?" tanya Nara. Mereka berdua cengengesan.


"Al, lu bandar" suruh Naufal.


"Lah kok gue?" tanya Alika.


"It's okay, kalau lo gak mau, Frans yang bandar" sahut Ikhsan.


"Lah?" tanya Branden.


"Mereka baru jadian" jawab Naufal.


"Hah? Hyaaaaaa, chukaeee" balas Diva. Alika malah cengengesan.


"Yey gak jomblo lagii yey yey" ledek Nara.


"Diem lu pada" Alika malu malu.


'-'


"Lo kok tau mereka jadian?" tanya Nara pada Naufal. Mereka semua sedang berada di kafe.


"Cincin" mereka serentak melihat jari manis Alika.


"Cincin itu sering dibawa sama Frans di saku bajunya. Dipegang kadang ditatap gitu. Waktu gue tanya tu cincin buat siapa, dia jawabnya 'Buat orang spesial yang ada di sisi gue'. Nah, pas tadi ada kecoa, gue liat tuh sih Alika pake cincinnya. Ya jadi gue buat kesimpulan kalau mereka jadian, dan ternyata bener" jelas Naufal.


"Yang tau cincinnya kok cuma lo pal?" tanya Diva.


"Gue sama bang ican. Itu waktu nongkrong tapi yang lain kagak on time" jawab Naufal lagi.


"Okey, pokoknya hari ini makan makan ditraktir sama nona muda Anandika" ujar Ikhsan.


"Eh, Anandika?" tanya Yesha.


"Kan Frans Anandika" jawab Revin.


"Baru tau gue. Kalau si Anand apa?" tanya Nara.


"Ananda Zeno Alsyahky" jawab Diva.


"Kok hapal?!" tanya Branden.


"Hah? Nggak, cuma keinget" jawab Diva ngeles.


"Alesan alesan" sahut Khansa.


"Diemm gue tabok ntar lo" Diva menatap tajam Khansa. Mereka tertawa bersamaan.


"Hiii lama bet pesanannya datang. Gue lapar, belum mandi" ujar Nara.


"Lapar kok mandi? teori dari mana?" tanya Khansa sinis.


"Dihh" Nara menatap Khansa.


"Maksudnya tuh.."


"Gue tauu" balas Khansa.

__ADS_1


"Wahh, lu ngeselin banget ya? pengen gue jotos deh sumpah"


"Hahahaha"


__ADS_2