
Dua hari setelahnya..
Mereka semua pulang pagi kemaren menggunakan mobil masing-masing yang diantarkan para supir.
Mereka –kecuali Wisnu– tidak langsung pulang kerumah, melainkan nginap kembali di basecamp serigala. Pagi ini mereka baru kembali kerumah.
"Boy, lu balik ke New York besok kan?" tanya Ikhsan.
"Hah? Hari ini. Ntar malem kalau gak salah" jawab Boy.
"Hari ini? Bukannya kemaren-kemaren lo bilang tiga hari lagi?" tanya Nara.
"Gue bilangnya kan dua hari yang lalu, hitungannya ya dari hari itu" jawab Boy.
"Ah gak asik lo, parah. Cepet banget sih?!" sahut Khansa. Boy tidak menjawab malah menyedikan bahunya.
"Ca, are you ok?" tanya Danial.
"Em? I'm fine" jawab Yesha sambil senyum. Boy melihatnya, dia tau itu senyum paksaan.
"Dah ah, gue mau balik. Gue duluan" ujar Yesha lalu pergi.
"Kalian slek apa gimana dah?" tanya Branden pada Boy.
"Nggak mungkin slek tetep deket kayak jari telunjuk dan jari tengah" sahut Nara sambil mengangkat dua jari yang disebutkan.
"Iyaa bener lu na" sambung Alika.
"Yee, di depan kita. Dibelakang? Siapa tau slek" sahut Khansa.
"Nggak kok, mana ada slek. Baik-baik aja" jawab Boy.
"Si Echa cuma gak mau nangis aja maybe makanya balik duluan" sahut Revin.
"Bisa jadi"
"Yeaaa, kalau gitu gue balik juga deh. Adek gue udah cariin mulu" ujar Ikhsan.
"Gue juga mau balik. Bisa di gibeng bokap kalau gak balik balik" kata Branden.
"Pokoknya, ntar lo chat kita aja jam berapa berangkat ntar kita anter ke bandara okee" suruh Revin
"Dih pake dianter segala" balas Boy.
"Gosa bacot, ikutin aja" ujar Ikhsan. Boy cengengesan.
"Aman aman, ntar gue chat grup" kata Boy.
"Oke. Kalau gitu, gue balik dulu" mereka pergi satu persatu.
Ruangan tengah basecamp serigala tersisa Danial dan Boy.
"Jadi mau kenalin Echa ke bokap nyokap lo?" tanya Danial.
"Jadi, kalau dia mau anter gue" jawab Boy. Danial menghela nafas.
"Kenapa?"
"Gue cuma takut ntar kalau lo udah naik pesawat dan bokap lo tanda sama echa, echa malah di caci-maki" jawab Danial.
"Gue juga takut hal yang sama. Tapi ntar gue bilang sama Bianca" balas Boy.
"Okelah kalau gitu, kalau dia gak mau gue yang bujuk. Ntar gue kasih tau yang lain biar kita anter lu cuma sampe mobil terus echa yang bakal anter lu sampe naik pesawat"
"Ahh.. thank you lah abang ipar, baik banget lu emang" puji Boy.
"Dih" Boy cengengesan.
·_-
"Parah banget, liburan lama kagak ajak gue" keluh Bianca saat menemukan Boy sedang minum di dapur. Cara bicaranya berubah menjadi ‘’lu gua‘’ seiring berjalannya waktu.
"Ribet ngajak lu, bawel lagi" jawab Boy.
"Kampret"
"Lama amat lo muncak? Tumben aja. Jangan-jangan, lo muncak sama doi ya makanya betah?"
"Kagak jadi muncak, tau sendiri cuaca gak bagus. Eh beda lokasi deng"
"Ya gak jadi muncak pasti liburan lah. Lo muncak sama doi kan?" Boy diam tidak menjawab. Bianca menyentuh ponsel Boy yang otomatis hidup ketika disentuh.
Yang dilihatnya adalah wallpaper muka Boy dengan Yesha saat mereka di desa. Mereka semua banyak berfoto disana menggunakan kamera baru Alika.
"Ini pasti doi lu.. familiar banget" Boy mengambil ponselnya.
"Woi, itu sahaa?! Kak Boy!!!!" Bianca membuntuti Boy.
"Tebak sendiri. Jangan ikutin gue, gue mau mandi!"
"Aaaa.. kasih tau dulu siapaaa?!"
"Woi, manusia"
"Mel, bantu gue. Gue kepo sama doinya kak boy" pinta Bianca.
"Boy punya doi? Sejak kapan? Muka pas-pasan gini?" ledek Amel.
"Sepupu bangsattt emang" Amel tertawa.
"Oh iya, lu dipanggil suruh keruang bawah tanah sama bokap" kata Amel.
"Hm" Boy masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Boy punya doi? Cantik?" Amel mengulang pertanyaannya.
"Cantik. Tapi mukanya familiar banget. Gue kayak pernah liat" jawab Bianca.
"Siapa ya? Kok mau sama Boy?!"
"Woi lu bedua gibahin gua masuk buku kasus!!!"
"Bacottt!!!"
·
"Kenapa pa?" tanya Boy yang sekarang di ruang bawah tanah.
Papanya memberikan tiket pesawat.
"Nanti malam. Dan jangan lupa janji kamu untuk tunjukkan siapa pacar kamu" ujar Papanya.
"Insyaallah, dengan satu syarat"
"Apa itu?"
"Boy pergi bawa mobil sendiri"
"Nanti kamu kabur?!"
"Nggak bakal lah, negatif aja ah"
"Oke, oke papa turutin"
"Oke, Boy mau packing" Boy keluar begitu saja lalu menuju kamarnya.
·
"Kayaknya gue bisa kenal deh"
"Kaget gua anjirr bangkeee" Bianca tertawa.
"Kenal apa?" tanya Boy.
"Cewek yang di hp lu"
"Kalau lo kenal, coba kasih tau gue siapa?"
"Menurut mata gue, doi lu itu gak punya alis, alisnya kek gak ada kehidupan, idungnya setengah-setengah. Setengah mancung setengah pesek. Gue simpulin itu temen bocil gue, Ayesha"
"Bingo"
"Hah?? Serius kak? Beneran Yesha?" tanya Bianca. Boy mengangguk santai.
"Ntar dia anterin gue ke bandara. Gue harap lu gak terlalu over heboh biar bokap gak curiga. Lu tau sendiri hubungan bokap sama bokapnya Caca"
"Aman kalau itu mah. Wih beneran Caca? Ketemu dimana? Aww kakak ipar gue Caca"
"Berat kan pasti? Woiyalah. Aah kasiannyaa"
"Keluar" Boy menatap Bianca datar.
"Ampun bang jago!" Bianca lari keluar kamar Boy.
·–––
19:17
📞 "Ca, lu ikut anterin Boy kan?" -Alika.
📞 "Ikut dong caa!!" -Diva.
📞 "Gak yakin gua mah dia ikut" -Nara.
"Gue pergi kok"
📞 "Serius?" -Diva.
"Hmm"
📞 "Berat ya ca?" -Alika.
"Gitu deh"
📞 "Kasiannya yang mau ditinggal eLDeeR" -Nara
"Kampret"
Mereka tertawa.
📞 "Masih ada wa, gugel meet, classroom kok. Jadi santai aja masih ada alat komunikasi buat ku sama Boy" -Nara.
📞 "Gugel meet sama classroom untuk apa goblokk?!" -Alika.
📞 "Gila emang, Nana dalem randomnya makin-makin" -Diva
"Hahahaha" -Crazy Bicit.
📞 "Hiburan woi" -Nara
📞 "Ya pokoknya lu positif thinking aja ca, Boy bukan tipe tukang selingkuh si menurut gue. Dia pasti setia lah sama lu" -Nara.
📞 "Nara sok bijak guyss!! Hahahaha" -Alika.
"Keknya dia cocok deh buat jadi emak diantara kita"
📞 "Bener lu caa, emakk naraaa uy!!" -Diva.
__ADS_1
📞 "Anjirrrr lu pada" -Nara.
"Hahahaha" -Crazy Bicit.
📞 "Besiap guys, bentar lagi berangkat nih" -Alika.
📞 "Gue udah stand by, nunggu jemputan" -Diva.
"Fia" panggil Danial.
"Eh bang"
"Guys, gue matiin dulu. Bye!!" Yesha langsung mematikan teleponnya.
"Lu ikut kan?" tanya Danial. Yesha mengangguk.
"Yaudah besiap, Boy juga ntar bakal ngenalin lu ke bokap nyokap dia"
"Hah? Serius? Ntar kalau om Tian kenal gimana?" tanya Yesha.
"Belum tentu kok. Ntar ada Bianca juga, amanlah. Besiap aja ya, yang cantik tapi jangan menor"
"Widii, lu kira gue si Thalia apa" Danial tertawa.
"Ya kali aja"
"Dah buruan" Danial keluar.
~•~•~
"Jangan lupa balik Indonesia pokoknya" ujar Danial. Mereka sudah di depan bandara.
"Jangan lupain kita dah ya" sahut Ikhsan.
"Kagak bakal dah, gue pergi dulu ya" Boy memeluk beberapa dari mereka ala ala pria.
"Tihati kak!!" ujar Diva.
"Awas aja lu main main dibelakang echa" ancam Alika sambil memperagakan tangannya membunuh di leher. Boy tertawa.
"Nggak kok, santai aja" jawab Boy.
"Dah yaa" satu tangan Boy melambaikan tangan, satunya menggandeng Yesha.
"Eh gue juga ikut ke New York tau, bye bye" Yesha juga melambaikan tangan.
"Bacot!!" Yesha tertawa.
___
"Pa, ma, ini pacar boy. Namanya Ay--- Echa"
"Ha- halo om, tante" Yesha menyalami tangan mama papa Boy.
"Not bad, cantik. Pinter juga kamu pilih cewek" puji mamanya.
"Bener apa kata mama, echanya kok mau sama kamu?" sahut papanya.
"Bener kan om? Kok bisa mau sama Boy" Amel bersuara.
"Boy pelet pake pelet ikan" jawab Boy. Mereka tertawa.
"Aaaaa echaaa" Bianca datang lalu memeluk Yesha. Yesha membalas pelukan.
"Long time no see. How are you?" tanya Bianca.
"Hehe, nice to meet you again. I'm fine" jawab Yesha.
"Kalian... Saling kenal?" tanya Papanya.
"Yaaa gitu deh pa" jawab Bianca. Mereka berbincang-bincang santai dilengkapi canda tawa.
Tiba-tiba terdengar suara pengingat keberangkatan pesawat yang akan dinaiki Boy.
Boy berpamitan pada keluarganya.
"Jangan selingkuh ya, awas aja!! Jangan sampe gak bisa dihubungi!!" ujar Yesha. Boy memeluknya sembari tertawa kecil.
"Lepasss woy, sedddah" suara Yesha didengar oleh keluarga Boy. Mereka tertawa.
"Gapapa nak Echa, om sama tante juga pernah muda kok" ujar Papanya. Yesha sedikit cengengesan.
"Nggak bakal selingkuh dan pasti bisa dihubungi. Kamu juga jangan selingkuh, jangan genit!" ujar Boy masih sambil pelukan.
"Kamu kali yang genit" Boy melepas pelukannya.
"Ngga ada yang genit deh udah" Yesha tertawa.
"Aku pergi yaa" Yesha mengangguk pelan.
"Jangan lupa kembali" Boy tersenyum.
"Ma, pa, bi, mel, Boy pergi" mereka mengangguk. Sambil membawa kopernya Boy pergi.
Sudah sedikit jauh, Boy meninggalkan kopernya lalu berlari kearah Yesha. Dia memeluknya lagi.
"Bakal rindu berattttt.." suara Boy pelann. Yesha tersenyum kecil dan membalas pelukan.
'fix, boy sayang banget sama echa' batin mereka
"Love you sayang" bisik Boy.
"Love you too" bisik Yesha sangat pelan. Boy tertawa kecil lalu melepas pelukannya lagi. Dia berjalan mundur sambil melambaikan tangannya. Yesha juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
See you next time Koboy!’ Yesha.