
"Dikasih uang saku kagak. Di beliin makanan kagak. Ih kesel guaa" dumel diva di kantin.
"Gak apa apa dip santai. Setidaknya kita sudah berjuaanggg" sahut Yesha.
"Meski tak pernah ternilai dimata merekaa" balas Nara.
"Judul lagu anjim" ujar Alika.
"Tahan Nara tahan, jangan jangan hujat" kata Nara. Mereka berempat tertawa.
"Wah wah wah.. bahagia banget jadi biang rusuh ya" sindir Lisa.
"Wah wah wah.. bangga banget jadi perebut pacar orang ya" balas Yesha sinis. Lisa menatapnya sengit.
"Apa? Hah apa?? Mau adu mulut? Ayok! Mau baku hantam? Gue jabanin!!!" tantang Yesha. Lisa diam tanpa suara.
"Jadi perebut pacar orang lain mending sih ca. Lah ini, pacar temennya sendiri loh. Wagilasi. Parah." sahut Nara. Mereka tertawa lagi.
"Heh pembuat onar!! Kenapa kalian gak pergi aja dari sekolah ini?! Buat malu nama sekolah aja!!!" kata Thalia.
"Heh cewek menor!! Kenapa lo suka banget gangguin kita?!! Ngefans lu hah?!" balas Alika sinis.
"Sans teman teman ku. Biar dipsi yang imut ini maju dulu" ujar Diva dengan kepedeannya yang diatas rata rata.
"Kasih paham dip!!" sahut Yesha. Diva senyum sinis.
"Kami.. Kami berempat. Kami emang pembuat onar, suka cari keributan, dan suka ngelawan guru. Tapi kami juga sering buat bangga sekolah!!"
"Emang nya lo yang bisanya make up menor, pamer TiTi kemana mana, rusuh, sok paling berkuasa ujungnya gak ada hasil" Thalia diam.
Ketiga temannya bertepuk tangan. "Wah.. Dipsi dah gede ternyata" ujar Nara. Diva tertawa.
"Mau labrak mikir dulu musuhnya siapa. Biar gak jadi bumerang!!" sulut Nara.
"Eh betewe Lis, jadi lu dapet gak tuh pacarnya Enjel?" tanya Alika. Lisa menatap mereka dengan tatapan tajam. Yesha, Nara, Diva dan Alika menanggapinya dengan tertawa.
"Heran sih. Beribu-ribu pria di bumi, disetiap sudut negri pria pasti ada. Kenapa harus ngembat punya temennya sendiri gitu loh?!" tanya Nara.
"Kayaknya bibit pelakor tertanam dalam dirinya" sahut Diva. Mereka tertawa lagi.
"Siala---" tanya Lisa ingin menampar Diva. Tetapi dari belakang, Branden menahannya. Dibelakang, Wolfbr –kecuali Revin, Ikhsan, dan Danial– muncul dengan gayanya yang sok cool.
"Mikir dulu lah. Lo tampar bini gue nanti ujungnya gelut disini. Masuk ruang BK. Siapa yang susah? Bini gue lagi" ujar Branden.
"Bini bini pala kau ijo" balas Diva sinis.
"Gak usah malu gitu sayang" jawab Branden.
"Sabar Nara sabar. Jangan hujat jangan hujat" kata Nara lagi.
"Hahahaha"
"Mending lo pergi dari sini sebelum gue sama yang lain buat lu makin malu. Oke?!" suruh Frans.
"Tunggu pembalasan kita"
"PEMBALASAN TAII KUCING!!!!" teriak Alika keras. Tim Thalia mendongak kebelakang dan menatap Alika sinis. Tanpa disadari didepannya ada pohon. Thalia menabrak pohon.
Crazy Bicit yang melihat itu tertawa terbahak-bahak, tawa yang benar-benar mengandung unsur ejekan.
Thalia bangkit lalu berlari meninggalkan tempat kejadian. "Wah menghibur" ujar Yesha sambil menyeka air matanya.
"Emang tukang rusuh" cibir Naufal, Crazy bacot tidak memperdulikannya.
"Mana kecoanya?" tanya Boy.
"Kecoa apa?" Yesha kembali pada makanannya. Begitupun ketiga temannya.
__ADS_1
"Tadi? Kecoa joget dangdut oplosan" jawab Boy.
"Oh itu bang. Kecoanya udah pergi, mau dangdutan ditempat lain, ada job katanya" kata Nara asal. Crazy Bicit tertawa lagi.
"Gak abis abisnya kelakuan kalian ya. Ada aja tingkah aneh kalian, ada aja bacotan kalian" ujar Khansa.
"Hehh bapak. Jangan lupa, anda juga punya kelakuan yang sama!!" balas Nara. Khansa cengengesan.
"Eh guys, itu bang Xano kan? Pacarnya Thalia?" tanya Diva sambil menunjuk orang menggunakan garpu ditangannya. Terlihat ada seorang pria bernama Xano dan juga ada Thalia.
"Iya njirr" jawab Alika.
"Pindahan?? Ah kambinglah" balas Nara kesal.
"Bukannya dia kelas dua belas? Ngapain pindah?" tanya Diva.
"Dia kelas dua belas. Tapi emang sekolah disini. Keseringan home schooling" jawab Frans.
"Sepertinya bapak serba tau ya. Apa bapak ini koran berjalan?" tanya Alika.
"Sejenisnya" jawab Frans cengengesan.
"Gue baru tau kalau dia emang sekolah disini" ujar Nara.
"Ah gue punya ide nih" ujar Alika. Dia bangkit dari duduknya.
Tangannya ditarik hingga dia terjatuh duduk di lantai. "Mau kemana?!" tanya si penarik, yang tak lain adalah kekasihnya, Frans.
"Nyari kecoa baru" jawab Alika. Lalu bangkit. Dia pergi lagi. Namun, Frans menarik tangannya lagi. Alika kembali jatuh di lantai.
"Gak usah berulah!!" Frans menahan kaki Alika.
"Mending kita tonton nih. Perasaan gue mengatakan akan ada pertumpahan air mata" ujar Diva. Mereka kembali menonton. Dugaan Diva sedikit benar, mata thalia berkaca kaca.
Mereka melihat Thalia menampar Xano. "Sungguh teganya kamu mas, mengkhianti aku!!" ujar Diva memulai adegan anehnya.
"Deng dere deng!" ujar Naufal. (Anggap aja nadanya serupa>_<)
Thalia menatap sinis geng Nara di kantin. Sedangkan Xano menatap seseorang disana dengan tatapan yang tidak bisa diutarakan.
"Xano liatin siapa amjim?" tanya Alika.
"Bodo amat dah" balas Diva. Mereka kembali melihat kearah dua pasangan itu. Thalia pergi meninggalkan Xano.
"Kenapa Xano kesini?!" tanya Boy bingung. Yesha seharusnya mengingat hal ini. Xano merupakan sepupu Boy, entahlah. Setahu Boy, Xano pernah menyukai Danial.
Eh? Beneran Danial?
Hmm.. Danial. Dia suka Danial karena dia gay. Tapi, ntah mengapa sekarang dia menyukai wanita.
"Hai" sapanya. Tidak ada satu orang pun yang membalasnya. Mereka kembali pada kesibukan masing-masing.
"Lama tidak berjumpa Boy" sapa Xano.
"Saya tidak mengenal mu" jawab Boy. Xano tertawa receh.
"Aku yakin kau mengenalku" jawab Xano. 'dia masih serupa. persis seperti banci kaleng' batin boy.
"Siapa?" tanya Yesha pada Boy. Boy membisikkan jawabannya pada Yesha. Yesha menutup mulutnya karena terkejut.
"Apa mau lo?!" tanya Khansa.
"Tidak ada. Hanya ingin menyatakan perasaan ku pada Diva" jawabnya.
"Gue? Sorry sorry aja. Gue punya pacar!!" jawab Diva ketus. Xano mendekat ke Diva.
"Kau tidak ingin denganku?" tanya Xano memegang dagu Diva. Diva langsung menendangnya.
__ADS_1
"Jangan lancang! Jaga tangan anda baik baik!!!" bentak Diva. Xano bangkit, dia mendekat lagi tapi tertahan karena tangan Branden menahan bajunya.
Branden memukulnya berkali-kali. "Bran udah bran!!" lerai Khansa. Branden mengatur nafasnya lalu mendekat ke Diva.
Branden mengusap dagu Diva yang dipegang Xano. Tatapan mereka bertemu. Diva seolah-olah mengatakan ''jangan berkelahi, biar kami saja''. Branden yang rada paham tertawa pelan.
Setelahnya dia berbalik melihat Xano. "Lo punya Thalia! Ngapain deketin bini gue hah?!!! Bikin tambah ribut aja!!!" bentak Branden.
"Dahlan bran, gosa diurusin. Mending kita cabut" ajak Nara.
"Jangan macem macem sama gue lu. Gue gak bisa tinggal diam kalau orang terdekat gue diusik. Paham!!"
Branden menggandeng tangan Diva lalu pergi meninggalkan kantin. Yang lain juga mengikutinya kecuali Yesha dan Boy.
"Alangkah baiknya jika kau tidak berbuat hal hal yang menjijikkan Xan!!" ujar Boy.
"Akan kuusahakan" jawab Xano tersenyum sinis.
Boy menggandeng tangan Yesha lalu pergi. Tanpa berbalik dia berhenti dan berkata, "Lebih baik jika banci kaleng seperti mu tidak ada disekolah ini"
"Jangan cari ribut padaku!!" balas Xano kesal. Boy tersenyum sinis.
"Kau yang memulainya terlebih dahulu!!" Boy kembali berjalan masih menggandeng tangan Yesha.
"Ahh.. first day gue jadinya baku tumbuk" keluh Xano sambil memegang sudut bibirnya yang berdarah.
_________________
"Ada apa dengan kalian?! Mengapa suka sekali mencari keributan?! Tidak bisakah satu hari saja kalian tenang?!!!!!" tanya Pak Wanto.
Oh yeah! Mereka diruangan pak Wanto lagi. Mereka? Mereka siapa?
Mereka adalah Crazy Bacot bersama Wolfbr tanpa Danial, Ikhsan, Revin, dan Naufal.
Mereka bertengkar lagi karena Xano. Xano datang mendekati Diva beserta ketiga temannya. Branden melihat itu dan menghajar kembali Xano. Bukan hanya Branden, tapi ketiga teman Branden juga melakukan hal yang sama.
Thalia yang kesal karena Xano mendekati Diva dan tiga temannya mulai mencari ribut dan berkata jika Crazy Bacot tidak lebih dari seorang jalanng. Jelas saja Crazy bacot marah dan memulai pertengkaran.
Mereka disini sekarang. Ruangan pak Wanto. Tapi.. hanya mereka, sang pemancing keributan tidak dipanggil saat ini.
"Ahh.. benar benar tidak adil" keluh mereka.
"Kalian ini memang tidak punya akhlak atau bagaimana?!!" tanya Pak Wanto lagi.
"Punya lah pak" jawab Nara ngegas.
"Cuma udah mau expired pak" sahut Alika. Mereka tertawa di dalam ruangan pak Wanto.
Brak
Brak
Brak
Pak Wanto menggebrak mejanya.
"Diam" senggak pak Wanto. Mereka pun diam.
Sidang berlangsung cukup lama. Pak Wanto banyak menanyakan hal yang cenderung berulang-ulang.
Crazy Bicit dan Wolfbr menjawab dengan candaan. Pak Wanto mulai stresss.
"Sudah!! Hukuman kalian akan double double!" ujar pak Wanto.
"Apa aja tuh pak?!" tanya Diva santai.
"Bersihin lapangan bola kaki yang cowok bola basket yang cewek. Dan juga bersihkan semua toilet disekolah!!" suruh Pak Wanto.
__ADS_1
"Wah kayaknya bapak mulai gila" cibir Yesha lalu keluar diikuti temannya yang lain.
"Untung berprestasi jika tidak sudah saya tepak kalian dari sini" kata Pak Wanto setelah mereka pergi.