Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 77 Yora


__ADS_3

Keesokan harinya..


"Naraa"


Ekspresi Nara yang tadinya tertawa dengan ketiga temannya berubah menjadi ekspresi datar bercampur senyum yang terpaksa.


"Na, jangan gitu gitu amat" bisik Diva.


"Au tuh, gaboleh gitu bedosa" sahut Alika.


"Emang gue gimana?" tanya Nara berbisik.


"Muka lu muka muka nahan boker" jawab Yesha.


"Amnnjiing" mereka berempat tertawa.


"Rileks aja, abistu bilang lu siap kapan oke" Alika menangkat jempolnya.


"Heeem" Nara membalasnya. Nara pun berbalik.


"Kenapa mas?" tanya Nara.


"Kamu.. jauhin mas?" tanya Wisnu balik.


"Nggak kok mas" jawab Nara.


"Jujur.. kamu jauhin mas kan?" tanya Wisnu lagi.


"Nggak kok mas Wisnu sayangnya naraa"


"Guys, cabut" bisik Diva, mereka pun pergi.


"Jadi apa jawaban kamu?" Wisnu maju mendekat ke Nara.


"Em.. kapan ketemu mamanya mas?" tanya Nara.


Nara memikirkannya semalam, sebenarnya dia masih sangat tidak siap bertemu dengan orang tua Wisnu, tapi.... dirinya penasaran akan perkataan Khansa tentang rahasia besar Wisnu.


"Jadi kamu setuju?"


"Pertemuan dulu kan kata mas?" tanya Nara.


"Kalau gitu... Nanti malem gimana?" Nara terkejut, namun sebisa mungkin mengontrol untuk bersikap biasa aja.


"Nanti Nara kabarin" Nara berbalik ingin mengajak temannya pergi, namun apalah daya temannya pergi duluan.


Tiba-tiba saja Wisnu memeluknya dari belakang. "Mas rindu di dekat kamu, mas rindu senyum kamu, mas rindu kedekatan kita. Kenapa sekarang mas ngerasa kamu jaga jarak sama mas?" tanya Wisnu berbisik.


"Pertama.. mas ini kampus, jangan macem-macem" Nara melepas pelukan Wisnu lalu berbalik menatap Wisnu.


"Kedua.. Nara bukan jauhin mas, tapi Nara mau yakinin diri Nara untuk milih jawaban yang tepat"


"Dan yang ketiga..... Nara juga rindu sama mas" Nara memeluk Wisnu.


Wisnu tersenyum melihat Nara yang langsung menghambur ke dalam pelukannya. Wisnu membalas pelukan begitu erat sambil mengelus rambut Nara.


"Woi kampus woi" Khansa muncul.


"Ngerusak suasana" cibir Wisnu.


Sengaja bro, anggep ini pelukan terakhir lu ya!' batin Khansa.


Khansa langsung pergi.


"Nara lupa ini kampus, yaudah Nara mau ke kelas" pamit Nara.


"Perlu mas antar?" Nara menggeleng.


"Nanti mas jemput ya pas mau kerumah mama" Nara mengangguk.


Wisnu mendekat ke Nara lalu mengecup keningnya. "Belajar yang bener" Nara senyum sambil mengangguk lagi.


Nara melambaikan tangannya kemudian pergi meninggalkan Wisnu.


Wisnu mengambil ponselnya.


📞 "Ma, Wisnu pulang nanti. Bawa calon istri"

__ADS_1


Wisnu mematikan panggilannya.


- -


"Woii ah ilahh.. nyontek napasii" pinta Diva.


"Lagi? Otak lu udah hilang seperempat?" tanya Fathan.


"Nggak seperempat coi, udah hampir hilang" sahut Radit.


"Ash, diem lu" kata Diva.


"Dip, nyontek gue nih tapi ntar malem jalan sama gue" tawar Zaky.


"Wahahah ngakak, mon maap deh, gue udah punya calon suami"


Tok tok tok


Semua melihat ke pintu termasuk Diva.


"Branden?" Diva menuju Branden. Branden terlihat sendu dan tidak bersemangat sama sekali.


"Kamu kenapa" tanya Diva sambil meletakkan kedua tangannya di pipi Branden.


"Rindu" Branden memeluk Diva.


"Ah woi kalian berduaaaa!!" teriak Radit.


"Jones diem" jawab Diva. Diva melepas pelukannya.


"Kita ke taman aja yaa, kasihan banyak yang jones" Branden mengangguk.


"Anjimmmm bangettt, pengen cubit ginjalnya" kata Radit. Satu kelas tertawa.


"Gue pergi dulu"


"Dip kuliah lu?" tanya Fathan.


"Santai aja, ntar gue telepon dosennya"


Dosen nya oom gue, santai dong' batin Diva lalu pergi bersama Branden.


"Kenapa? Ada apa?"


"Nggak apa apa"


"Jujur deh! Pake rahasiaan segala"


"Jujur pake banget, cuma rindu sama kamu"


"Nggak yakin. Kamu mah rahasiaaan"


Drrrtt.. drrrtt


Ponsel Branden berbunyi.


📞 "Assalamualaikum Branden"


"Waalaikumsalam bang, kenapa?"


📞 "Kakak lo.. kakak lo kecelakaan. Sekarang di rumah sakit xxyg"


"HAH?! GUE KESANA SEKARANG" Branden mematikan teleponnya.


"Kenapa??"


"Kak Yora... kecelakaan" jawab Branden.


"Kunci mobil kamu"


"Untuk?"


"Ayok kerumah sakit, aku ikut" Branden diam tanpa menjawab perkataan Diva.


"Apalaagiiii? Ayok!!" ajak Diva. Branden masih diam.


"Aaiishh" Diva merogoh kantong celana dan baju Branden, dia menemukan kunci mobil di saku celananya.

__ADS_1


"RS mana?"


"xxyg" Diva menarik Branden, mereka pun pergi sambil sedikit berlari.


Di dalam perjalanan, diva di telepon Yesha.


📞 "Cukk, Lo dimane?"


"RS,"


📞 "Siapa sakit? Lo sakit? Sakit apaaa?!"


"Bukan guee, kakak Branden. Dah gue lagi nyetir bye" Diva mematikan teleponnya.


"Sayang.. biar aku yang stir" ujar Branden.


"Diem di tempat, aku tau kamu lemas" Diva melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.


~• 


"Kenapa ca?" tanya Nara.


"Kakaknya Branden kecelakaan katanya" jawab Yesha.


"Serius?? Yora?" tanya Danial, dia datang bersama Revin dan Ikhsan.


"Iyaa, kok abang kenal?" tanya Yesha.


"Kan pacar gueee!!" Danial pergi menuju parkiran kampus, kedua sahabatnya itupun juga ikut bersama Danial.


"Apa apa gimana? Kakaknya Branden pacar bang Febri??? Sejak kapannn?!" tanya Alika heran.


"Gue shock tolong" ujar Yesha.


"Shock apa muka nyantuy gitu?" tanya Khansa.


"Ngehujad aja kau bujangg" ledek Nara. Khansa tak perduli.


"Gue kaget.. sejak kapan bang Febri punya pacar?" tanya Frans.


"Kalau kapan dia punya pacar gue tau. Udah pernah dibawa kerumah juga itu ceweknya. Ya gue demen, cantik. Tapi.. gue gak tau kalau itu kakaknya Branden" jawab Yesha.


"Terus ini gak mo nyusul kah?" tanya Radot.


"Ayokk" Alika menarik Yesha dan Nara. Yang lain juga mengikuti.


-


"Gimana keadaan kakak saya dok?" tanya Branden.


"Nona Yora mengalami cedera di bagian kakinya"


"Kak Yora lumpuh dok?" tanya Diva.


"Bukan lumpuh, nona Yora hanya tidak bisa berjalan"


"Sama aja begoo! Mau gue pecat lu?!" sahut seseorang dari belakang.


"Bang Febri?"


"Mana Yora??" Branden menunjuk Yora. Danial langsung masuk.


Beberapa menit kemudian, Yesha dan yang lain tiba di rumah sakit.


"Eh kalian?"


"Mana.. bang... Danial?" tanya Yesha.


"Di.. dalem, dia kenal kak Yora?" tanya Diva.


"I don't know.. katanya pacar dia"


"Ngaco lu!! Kakak gue udah mau nikah sama cowok lain woi. Yakali itu Danial, masaiya kita iparan?" sahut Branden.


"Gue juga gak yakin" Yesha mengintip. Seketika dia jatuh, Radot menangkapnya.


"Itu.. bukan orang yang dibawa bang Al kerumahh bangkeee, itu bukan pacar bang Al" ujar Yesha.

__ADS_1


"Lahhhh?!"


"Makin aneh, jadii sahaaaa?!"


__ADS_2