
"Lo kenapa si ca?!" tanya Nara
"Kenapa lo pergi sendirian gak ngajak kita?!" sahut Alika
"Semua panik ca!!" omel Diva.
Sidang!
Saat ini Yesha sedang di sidang teman temannya. Bukan hanya teman temannya, tetapi teman abangnya juga ikut menyidang Yesha termasuk kekasihnya, Boy.
Yesha sedari tadi menunduk, dia takut. Takut Danial dan Boy ngamuk besar besaran.
"Yeah i'm sorry" jawab Yesha menunduk.
"Ngapain liat kebawah? Gak ada duit dibawah" ujar Danial ketus. 'kan kan kan, dalah dah mampuss dah' batin Yesha. Dia masih tetap menunduk.
"Apa alesan Caca pergi sendirian?" tanya Boy lembut. Dia jongkok di depan Yesha.
"Tadi kata yang telepon kalau caca pergi ajak orang, caca gak bisa liat mama papa lagi" ujar Yesha menunduk.
"Terus? Setibanya lo di tempat yang disuruh. Lo diem aja gitu iya?!" tanya Danial ketus.
"Al, gak usah sekeras itu juga lah" tegur Boy.
"Abisnya dia.. kalau lo telat tadi ntah apa yang udah terjadi sama ni anak" ujar Danial.
"Apa guna kita kita kalau lo sembunyiin semuanya kek gini? Kalau lo bilang dan lo kasih tau ada ancaman, kita bisa cari cara. Bukan pergi sendiri sendiri. Kalau lo kenapa kenapa gimana yeshaaaa. Bisa dibunuh papa gue" lanjut Danial.
"Ya maapp.. lagian kalian tadi pada tidur, gue gak enak mau banguninnya"
"Ya udah, lain kali jangan bikin orang lain khawatir. Kalau ada apa apa cerita jangan diem aja oke?" Yesha mengangguk. Boy pun memeluknya.
"Duh kan, mata gue liat yang uwu uwu lagi. Gue phobia keuwuan" keluh Ikhsan.
"Udahh kita senasib kok bang" sahut Naufal. Mereka tertawa.
"Jadi sekarang gimana? Ini bokap David yang beraksi malah" tanya Revin.
"Gak tau gue, lagian kenapa ni anak di jemput gitu sama ajudan bokap David" ujar Danial. Mereka berfikir keras.
"Tadi tu kan pas di kamar David. Gue liat kaki sama tangan David di gips, terus tu kepalanya di perban" Yesha bersuara.
"Apa? Kamar David? Jadi lo tidur berdua sama David?!" tanya Boy.
"Ya maap, Caca juga gak tau tadi tiba-tiba ada di kamar nya dia" Boy nyosor kecup bibir Yesha. Yesha melotot terkejut.
"Boyy" panggil Danial.
"Lu tau sendiri tadi David udah nyosor duluan. Punya gue ya punya gue, gue gak mau berbagi. Gue udah tahan tiap hari buat gak nyosor, eh malah anak gila itu yang duluan" jawab Boy.
"Jadi tadi..?"
"Iyaa, kita tau tadi lo di sosor sama makhluk gaib itu" jawab Diva.
"Jangan bilang papa ya bang" Danial berdehem.
"Eh oi, menurut penelitian gue nih ya bang, bokap David jemput Yesha buat bicarakan hubungannya sama David. Soalnya nih, gue baru liat di hp nya Alika kalau David itu terjun dari lantai atas perusahaan bokapnya, makanya dia di gips di perban" ujar Frans.
"Bukannya bokap David tegas orangnya? Kalau misalnya emang mau bicarakan hal itu, bisa aja kan Yesha di nikahin sama David?" tanya Khansa.
"Jangan ngawur lu sa" sulut Boy.
"Ada kemungkinan perkataan lo pada bener, tapi, emang David terjun dari lantai atas gara gara diputusin Yesha?" tanya Danial.
__ADS_1
"Yaa.. bisa aja kan? Kalau nggak kenapa bokap David jemput Yesha?" sahut Branden.
"Agh.. gue gak mau adek gue dapat suami kek David" keluh Danial.
Drrtt... Drt...
Ponsel Boy bunyi. Ternyata, teman kampusnya yang di New York menelpon.
—Edward—
Boy; Why are you calling?
📞 Edward; When will you come back to New York?
Boy; Next year, why?
📞 Edward; It's okay, hurry back
Boy; Do you Miss me?
Yesha menatap tajam Boy.
📞 Edward; Obviously not !!
Boy; I'll be back in New York next year, take it easy
📞 Edward; Okay I am waiting for your arrival ( mematikan teleponnya )
"Who is that? what is your lover?" tanya yesha
"No, this is my college friend. My lover is only you, and will still be you" jawab Boy sambil senyum ke Yesha. Yesha menatapnya datar.
"Gosa sok sok an bahasa Inggris deh" cela Ikhsan.
"Hehhhh lo tuh ya kalau ngomong suka bener," mereka tertawa.
"Ee.. boy lo ngampus di mana?" tanya Danial.
"Columbia University, New York. Kenapa?" tanya Boy.
"Aaaaa, gue duluan" Danial menyambar kunci mobilnya lalu pergi.
"Kenapa dia?" tanya Revin bingung. Semua mengangkat bahu tanda tidak tau.
Dua menit Danial keluar, dia masuk lagi.
"Yesha, lo disini aja. Jangan kemana mana, kalau mau pergi ajak Boy. Branden, Frans, Khansa, lo jaga Diva, Alika, Nara. Kalau mau pulang anterin sampe rumah, takutnya karena Yesha gak dapat mereka bertiga dijadiin pancingan. Naufal, Revin, Ikhsan bantu lindungilah ya abang abang. Yaudah gue pergi" Danial pergi.
"Eh woi, lu mau kemane?!" teriak Ikhsan. Danial malah melambaikan tangannya.
"Laknat" mereka tertawa.
"Hii woi, balik skuy, gue pengen mandi" ajak Nara.
"Gue anter sesuai arahan Danial" pinta Khansa. Nara berdehem.
"Kami duluan" pamit Khansa. Mereka berdua pun pergi. Gak lama kemudian yang lain menyusul. Tinggal Boy dan Yesha di sana.
"Mas Marsel gak marah kan?" tanya Yesha pada Boy yang melemparkannya minuman kaleng.
"Mas mau marah percuma juga. Yang ada kamu marah balik" jawab Boy.
"Mas paling pengertian, jadi sayang" balas Yesha cengengesan.
__ADS_1
Boy menghampiri Yesha, dan sekali lagi dia nyosor ke Yesha. "Biar higienis" ujar Boy.
"Cari kesempatan dalam kesempitan" kata Yesha, Boy cengengesan.
Boy pun duduk di samping Yesha. Dengan manjanya, Yesha menyandarkan kepalanya di bahu sandarable Boy.
"Mas.. di New York banyak cewek cantik kan? Mas punya pacar gak disana?" tanya Yesha.
"Mas di New York serius kuliah, gak mikirin cewek cantik. Mas juga jarang keluar, kalau keluar paling cuma nongkrong doang itupun temennya cowok semua. Nah, kalau pacaran, kamu pertama dan akan jadi yang terakhir di hati mas" jawab Boy.
"Heleh, iya Caca pertama tapi apa ya mungkin yang terakhir?"
"Mungkin lah, mas saaayangg banget sama kamu. Mana mau mas berpaling"
"Gombal"
"Love you sayang" ujar Boy.
"Love you too" balas Yesha.
-----
"Apa bener Yesha mau di nikahin sama dapit?" tanya Alika pada Frans, mereka berdua di dalam mobil Frans yang menuju rumah Alika.
"Itukan cuma asumsi belaka, tapi bisa aja kan?" tanya Frans.
"Nggak gue restui. Cowok itu ya, sekalinya selingkuh ya bakal terus selingkuh apa lagi modelnya kea dapit." celoteh Alika.
"Massa? Kan bisa berubah"
"Ahh.. kalau modelan dapit gue gak percaya. Cuma manis dimulut doang, kebanyakan makan gula makanya omongannya semanis itu"
"Lagian tuh ya, kan masih kelas 2 SMA yakali main nikah nikah aja"
"Hey, udah banyak yang nikah muda sayang" ujar Frans. 'bangkee keceplosan' batin Frans.
'kan kan, punya pipi murahan banget, di panggil sayang langsung panas. pasti merah' batin Alika.
Ekhem..
Alika menetralkan suasana.
"Ya emang udah banyak, tapi ya gak maulah Yesha nikah muda. Diva kemaren aja gue gak mau"
"Kalau lu yang nikah muda sama gue mau kagak?" tanya Frans.
"Apaan sih? Ngaco" Alika cengengesan.
"Yee.. gue mau cari yang beda. Mereka kan cuma pacaran, kalau gue langsung ke pelaminan" goda Frans.
"Canda mulu lo mah" balas Alika. Frans menatap Alika.
"Kalau gue serius gimana?" tanya Frans masih menatap Alika. Jantung Alika maraton.
"Hm?"
"Ya kalau gue serius gimana? Bisa aja gue besok kerumah lo bawa cincin, terus tiba tiba langsung SAH gimana?"
"Ngaco, udah ah nyetir aja lu" suruh Alika yang mulai salting, dia mengalihkan pandangannya keluar mobil.
"Makin imut aja kalau lagi salting gitu" goda Frans.
"Bacott lu ah" Alika dan Frans tertawa.
__ADS_1