
08.53, di apartemen Diva dan Branden.
"Kamu dari mana tadi malam?" tanya Branden sambil sarapan.
"Mall bentar"
"Ngapain? Sama siapa aja?"
"Pertama sama Cia abistu Nana sama Echa nyusul"
"Terus beli apa?"
"Kamu kenapa jadi wartawan?!"
"Nggakk.. keknya kamu bahagia banget semalam pulang" jawab Branden dengan nada sinis.
"Ulu uluuu, suami akuu cemburu"
"Jawab jujur deh, kamu ngapain semalam?"
"Cari ribut"
"Cari ribut?" beo Branden. Diva mengangguk.
"Sama siapaa?"
"Thalia lah. Balesin dendamnya Echa karena di jegal semalam di kampus"
"Terus balas dendamnya gimana??"
Flashback on ✔
"Besiapp deh lu padaa"
"Bentar bentar, kita butuh atribut lagi" Alika pergi meninggalkan mereka.
Tiga menit kemudian dia kembali dengan empat kacamata hitam. "Macem orang buta gue" cela Nara.
"Gak usah protes lu mak"
Mereka memakai kacamata hitam itu. "Skuy ahh eksekusi mati"
"Eksekusi mati apa?" tanya Diva polos.
"Dah skip dah, otaknya ijo lagi loading" Diva menatap Alika datar, sedangkan Nara dan Yesha tertawa kecil.
Mereka pun mulai mengenakan topi dan kacamata yang dibeli tadi secara bersamaan.
"Cia Echa depan, gue sama Dipi belakang"
Cia dan Echa menoleh kearah Nara, "Oke"
Mereka pun berubah posisi, di depan mata terlihat Thalia dan Enjel yang sedang berjalan sambil bermain ponsel.
Jarak antar keduanya tinggal tiga meter. Alika melihat Yesha, begitupun sebaliknya.
"Lu juga jegal si Enjel" bisik Nara.
"Tenang mak"
Satu
Dua
Tiga
Brukk...
Enjel dan Thalia terjatuh setelah Diva dan Nara menyenggol kuat bahu keduanya.
Mereka berdua menjadi pusat perhatian, "Woi!!"
Crazy bacot tidak berbalik, mereka berjalan tidak lagi berbaris melainkan bersampingan.
"Misi selesai, dan saya puas. Hahahahah"
"Aigoo, dasar human human jahad"
Flashback off ✔
"Wahh... bener bener kalian tu suka banget cari ribut"
"Gak ribut gak hidup sayang" jawab Alika sambil menatap Frans.
Mereka berdua di mobil menuju kampus. "Kamu ada kelas jam berapa?" tanya Frans.
"Jam sepuluh keknya"
"Keknya?" Frans menatap Alika, Alika cengengesan.
"Cek ponsel kamu dulu, nanti udah telat pulaa"
"Kalau udah telat?"
"Kita keluar kota"
"Ngapain?"
"Cari jas sama gaun buat nikah"
"Ngacooo" Frans tersenyum pepsodent.
"Cek dulu buru"
"Kamu pegang tangan aku gimana mau ngecek" Satu tangan Frans memang menggenggam tangan Alika dari tadi.
Satu tangannya yang lain sibuk di setir bulatnya. "Ya masa gak bisa"
"Susah, lepas dulu makanya"
__ADS_1
"Gak akan" Alika memanyunkan bibirnya.
Masih di genggam Frans tangannya juga tangan Frans masuk ke dalam totebag Alika mengambil ponsel.
"Lahhh, jam nya di batalinnn" keluh Alika.
"Nah kan, keluar kota kita ni? Mau nggak?"
"Kamu kuliah jan bolos, ngulang lagi kapok"
Frans diam sambil nyengir.
Ting
Ting
Ting
"Susurupris?"
Alika mengklik grupnya, grup chat line tanpa Yesha.
Naranaade
Gue gak tau...
Dipsiicute
Tau apa sanjayy??
Naranaade
ECHA ULTAH WOI BEGEEE
Ciaaimutt
S-serius??
Dipsiicute
Typing nya bikin gue gagap juga
Naranaade
Iyee seriuss, mari buat susurupris. Dia selalu bikin susurupris kalo ada yang bday.
Ciaaimutt
Gue gtau kasi apa. Lu tau darimana?
Naranaade
Bang Febri, tadi bang Febri bilang bakal ada kado gede buat si echa. Nah abistu gue cek kalender dan ternyata dia bday.
Dipsiicute
Ciaaimutt
Gue yakin si, dia juga lupa bdaynya.
Naranaade
2^
Dipsiicute
Iya jugaa, echa kan pikun.
Naranaade
Bangga bangedd sama maknae kita yang laknat ini
Alika cengengesan membaca chat Nara.
"Asik sendirian ya? Aku dicuekin? Jadi supir doang? Oh gitu"
"Dihh paan ngambek, ngga gitu lo sayang"
"Jadi gimana?"
"Gimana apanya?"
"Gak usah ngomong lah udah"
"Ih ngambek ih ihh.. Lucu bangett tau nggak kamu kalau ngambek"
"Gak ngaruh" jawab Frans ketus.
"Susah emang bujuk cowok yang pms"
▪▪▪▪▪▪
Ting..
maqnana
CA, LU DIMANA SAMA SIAPA NGAPAIN AJA?? CEPAT JAWAB!
"Kerasukan setan dimana ni anak?" tanya Yesha bingung.
Yeshaa
gue dijalan deket parkiran mau keperpus sendirian, kenapa?
maqnana
Gapapaaahh
"Super gajelas"
__ADS_1
Yesha memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya lalu berjalan menuju perpustakaan dekat parkiran.
"Whaa sepi bangett gila, ini perpus ngapa jadi horor?!"
"Oh iya lupa, perpus yang di sana lebih lengkap. Gue ngapain di sini sebenernya?" Yesha terus bermonolog seperti orang gila.
Saat sedang mencari buku, tiba-tiba lampu di dalam perpus mati. Lampunya memang dihidupkan karena cuaca mendung yang menyebabkan adanya kegelapan.
"Tidak ada yang lebih menakutkan daripada kegelapan. Makin horor aja, ah"
Yesha berjalan meraba-raba menuju pintu keluar. Ntah apa yang terjadi, lampu di perpustakaan ber-kelap-kelip, alias hidup mati.
Yesha merinding melihatnya, dia terus meraba-raba mencari pintu keluar.
"Akhirnya ku menemukan muu" Yesha membuka pintu.
Byurrr
"Happy birthday!!!"
"B-bangkeeeee, airnya dinginnn" keluh Yesha. Mereka tertawa.
Yesha melihat ke depannya, Diva sedang memegang kue. "Gue ultah?? Kapan? Harini?"
"Kan udah gue bilang, dia pasti lupaa" ujar Alika.
"Gue ga ingett coyy"
"Yaudah skip, tiup lilinnya" suruh Nara. Tidak meniup lilinnya, Yesha malah mengipas-ngipaskan tangannya sampai api mati.
"Echa da tuaa"
"Masi muda woii"
"Mudaan gueee" sahut Diva.
"Iyaaa iyaa" Diva cengengesan.
"Happy birthday deh buat luu, semoga yang diinginkan selalu tercapai. Jangan berubah dan jangan lupa sama kita. Kita sayang sama lu kok ca, tapi boong"
"Bangsatttt"
Tawa mereka menggelegar. "Sedihnya adek gue, gak ada yang ngucapin makanya lupa. Happy birthday ya adek abanggg"
"Yahaaaa, makasiii abangggg"
"Lu sebenernya inget gak si hari ini ultah?" tanya Khansa.
"Ntah, gue ngerasa aneh sendiri si harini. Kek ada sesuatu gitu"
"Gue saludd lu pelupa melebihi pelupa" ledek Branden sambil cengengesan.
"Emang gajelass" protes Ikhsan.
"Dingin bangett, lu pada kasi es batu ya tu air. Terus, lu pada juga kan yang mati kan lampu. Yakan?"
"Ya jelassss" jawab Nara, Diva dan Alika bangga.
"Wahh sumpah ini dingin bangett" keluh Yesha.
Tik tik tik..
Tetesan hujan turun satu persatu. Yesha memandangi hujan tersebut, tanpa sadar Yesha merindukan Boy.
'dia juga lupa kali' batin Yesha.
"Btwwww, makasiiii susurupris nya temen temennn, gue juga sayang kaliann"
"Gak usah pelukan lu basah"
"Kan ulah lu padaa"
"Iya sihh" mereka pun berpelukan.
Ditengah turunnya hujan, mobil sport berwarna hitam masuk ke area parkiran kampus.
"Siapa ya?" tanya Alika. Pelukan mereka sudah lepas.
"Ntah, anaknya presiden kali" jawab Yesha asal.
Satu kaki turun dari mobil dan kaki lainnya menyusul, dia keluar sambil memegangi payung. Perlahan payungnya naik memperlihatkan siapa orang itu.
"B-b-boy?"
"Gak, gak mungkin gue mimpi"
"Mau gue tampar?" tanya Alika.
Pria itu tersenyum sambil melambaikan tangannya lalu disambut lambaian tangan Danial. Yesha menatap Danial.
"Itu Boy. Asli, lu gak mimpi"
Senyuman terbit di bibir Yesha, dia mencampakkan tas-nya lalu berlari menerobos hujan.
Yesha memeluk Boy, memeluknya dengan erat. Sangat erat.
Boy juga melakukan hal yang sama, ia Yesha begitu erat, ia membiarkan payungnya terjatuh tak perduli jika harus basah kuyup karena hujan.
"I miss you babyy, really miss you" bisik Boy.
"Miss you too, I miss you too" bisik Yesha masih sambil berpelukan. Sedari tadi interaksi mereka berdua di lihat para penghuni kampus.
Boy melepas pelukannya, ia berlutut lalu merogoh kantongnya mengeluarkan satu kotak kecil.
Boy membuka kotak itu, dalamnya ada cincin yang ia beli di New York beberapa bulan yang lalu.
"Ca...."
"Will you marry me?"
__ADS_1