Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 99 Finally


__ADS_3

19.35


"Banggg, Fiana beneran takut loh ini. Kenapa coba mama papa ngajakin makan di luarr?" tanya Yesha ketika masuk ke kamar abangnya.


"Masuk itu ketuk pintu, fiaaa"


"Aishh, telupaa. Gelisah pulaknyaaa" Yesha menuju tempat tidur abangnya. Abang nya berada di meja, sedang bermain game.


"Banggg"


"Naonn dekkuu??"


"Isshhh, cemana inii?!"


"Cemana apanyaa? Gak bakal terjadi apa-apa, mama papa ngajak makan di luar supaya kamu gak frustasii"


"Tapi mencurigakan!! Abang pasti tau sesuatu kaann?!" Yesha menatap sinis abangnya.


"Fianaaa!!"


"Di panggil mama tuh, dateng sanaa"


"Awas aja abang yaaa, Fianaaa tandai pake tindakan warna hijauu!" Danial cengengesan melihat adeknya.


"Udah sonooo." Yesha keluar dari kamar Danial, melihat adeknya sudah pergi Danial tersenyum misterius.


"Kenapaa maa?" tanya Yesha setelah menghampiri mamanya.


"Kenapa apanya?? Kan mau makan di luarrr, kenapa kamu belum siap-siapp?" tanya mamanya sinis.


"Lahh, kan udah siapp" jawab Yesha.


"Nak, kita mau makan di luar. Mama papa udah pake baju rapi, kenapa kamu pake baju tidur?" tanya papa nya keheranan.


"Style pa"


"Style style ndasmuu, ganti cepatt"


"Iya maa iyaa" Yesha kembali ke kamarnya. Ia bingung baju apa yang akan di pakai, karena kebanyakan baju Yesha adalah kaos.


"Pake inii!" Mamanya masuk sambil memberikan gaun pesta tertutup berwarna peach.


"Gaun?" Mama nya mengangguk, "kenapa dengan gaun? Mama kan juga pake gaun"


"Ma, jujur sama Fiana, kita kenapa makan di luar?"


"Kan udah lama gak makann bareng, fiii"


"Iyaa emangg, tapi kenapa harus pake gaunnn?"


"Ih udah cepet gantiii, kelamaan mikir kamunya!" Mama Yesha langsung keluar dari kamar.


Yesha terpaksa mengganti baju dengan gaun pemberian mamanya tadi. Setelah selesai, ia keluar dari kamar nya.


"Anjirrrr kenapaa lu cakeppp bangett dek?" tanya Danial.


"Dih dih.. bacot lu"


"Abang mu itu muji kamuuu" ujar mamanya mendekati Yesha.


"Iya ma tau, cuma kan kalau bang al muji tuh pasti ada aja maunyaa"


"Minta di lempar ni anak" Yesha cengengesan.


"Rambut kamu di gerai aja yaa" Yeira membuka ikatan rambut Yesha lalu merapikan rambutnya.


"Cantik banget putri papaaa"


"So pasti cantik lahh, siapa dulu mamanya"


"Narsistik ya mamaa" cibir Danial, mamanya tertawa kecil.


"Bang al gak ikut?? Kalau makan-makan biasa kenapa bang al gak ikut?" tanya Yesha masih curiga.


"Bang al mau ngedate sama pacarnya, udah ayooo" ajak papa nya.


"Al, hati-hatii!"


"Okee siapp maaa, hati-hatii jugaa maaa paa" Kedua orang tuanya tersenyum lalu keluar rumah, Yesha mengikutinya.


"Kamu kenapa pake sneakers??"


"Mana adaaa cewek udah cantikk pake gaunnn alas kakinya sneakers. Gantii!" protes mamanya.


"Astaghfirullah maa, emang orang merhatiin sampe bawah? Lagian ketutupan sama gaunnyaa. Fiana gak bisa pake high heels, nanti jalan kek orang mabok."


"Pake flat shoes iniii, nahhh"


"Musti kali samaa warnanya" gumam Yesha, ia melepas sepatu sneakers nya lalu memakai flat shoes pemberian mamanya.


"Udah?? Ayookk pergii"


✾✾


Setelah dua puluh lima menit perjalanan, mobil yang di bawa papa Yesha tiba di tujuan. Mereka bertiga turun bersama.


Yesha mengaca sebentar di kaca mobilnya, "cakep juga gue."


"Fianaa, ayok. Malah ngaca muluu" Yesha cengengesan lalu mengikuti mamanya.


"Udah berapa kali ngomong ayok? Bosen Fia dengernya" gumam Yesha pelan.


"Sstt, jangan bawel" Yesha terdiam.


Ia melihat sekeliling, tiba-tiba kedua orang tuanya berhenti di salah satu meja. "Boy???"


"Ehh, Caca??"


Yesha melihat mama papanya lalu menoleh ke arah mama papa Boy.


"Duduk Dee, sampe kapan berdiri teruss??" tanya Bastian.


Deokhwa tersenyum lalu duduk, "udah lama nunggu?" tanya Deokhwa.


"Nggak lama kalii sih"


"Maap-maap aja nih, Fiana nya nyeleneh tadi. Makanya lama" sahut Yeira.


"Haha, iya gapapa. Btw, Caca cantik bangett yaaa" puji Bellina.


Boy dan Yesha terpelongo, "ini maksudnya cemana sii?? Bukannya papa sama om Deo slek??" tanya Boy bingung.


Mereka berdua tertawa, "mulai detik ini, kami berdua restui kalian."


"Hahh?? Seriuss??" tanya Boy memastikan.


Keduanya mengangguk, "maaf udah buat kalian menderita. Dan papa pribadi minta maaf sama kamu, Boy. Maaf selama ini papa terlalu mengekang kamu."


Boy tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Ahh, cengeng banget gua jadi cowokkk" ujar Boy. Mereka tertawa kecil melihatnya.


Yesha yang masih tidak percaya menatap papa nya, "papa sama om Tian udah baikan, fia. Dan sekarang, kami udah restui kalian berdua. Papa minta maaf karena selama ini jarang ada waktu buat kamu."


Yesha menunduk sebentar lalu mendongak, "papa.. papa kejedut dimana??"

__ADS_1


"Aihh, anak siapa si ini?" tanya Yeira kesal.


Yesha cengengesan, ia mendekat ke Deokhwa lalu memeluknya.


"Makasiii banyakk papaaaa" Deokhwa membalas pelukan nya.


"Boy, jaga cewek manja ini baik-baik yaa"


Boy tersenyum, "pasti bakal Boy jagain om."


"Udahh sana dudukk ke tempat kamuu" protes mama nya.


"Cemburu yaa, ciee" Mereka tertawa. Yesha menuju tempat duduk nya yang berada di sebelah Boy.


Mereka bertatapan sambil tersenyum, "zina mata heh!" protes Bastian.


"Nanti kalau saah aja tatap-tatapan!" sahut Deokhwa.


"Ngebett banget tuh, makanya gituu" ledek Bellina.


"Astaghfirullah maa" Mereka tertawa lagi.


"Papa sama om Tian baikannya kapann?? Kok bisaaa baikann?" tanya Yesha bingung.


"Berterimakasih lah sama abang kamu, dia yang buat papa sama om Tian baikan."


"Bang Al??"


Flashback--


09.45, kemarin.


"Al, kenapa ngajakin papa ke sini??" tanya Deokhwa bingung. Danial membawa nya ke restoran tempat semuanya terungkap.


"Sarapann, paa"


"Tapi tadi pagi udahh" Danial tidak merespon lagi. Ia mengajak papa nya menuju ruangan vip.


Sesudah masuk, makanan yang Danial pesan pun datang. Gak lama setelah itu, seseorang datang.


"Maaf lam-- Deokhwa??"


"Bastian? Mau apaa kau?!"


"Aihhh, tenang duluu dong paa, om!"


"Saya gak ada waktu kalau untuk bertemu kalian berdua!" Bastian beranjak keluar namun tidak bisa.


"Udah di kunci," kata Danial sambil tersenyum.


"Mau kamu apaaa Al?!" tanya Deokhwa.


"Makanya tenang duluu. Om sama papaa tenang dulu, duduk dulu. Kita bicara baik-baik"


Bastian menghela nafas lalu duduk tepat di depan Deokhwa.


"Jadi, maksud kamu manggil saya kesini apa?" tanya Bastian sinis, Danial malah santai makan sedari tadi.


"Sarapan dulu om"


"Saya sibuk, bisa langsung bicara" Danial pun menyudahi makannya.


"Apa tujuan om ataupun papa gedein Boy sama Fiana sampe sekarang?"


"Ya.. karena kami sayang lah!" Jawab keduanya kompak.


"Sayang dengan cara mengekang? Sayang dengan cara jarang ada waktu buat ngumpul bareng? Gituu?" tanya Danial lagi. Keduanya terdiam.


"M**asalah beberapa tahun lalu. Boy yang udah kasih tau tentang bagian masa kecil dan om Tian bilang bukan cuma perkara itu om sama papa slek. Danial tauu masalah ituu"


"Masalah proyek besar itu kan? Proyek yang harusnya untuk om Tian malah diambil sama papa."


"Kayaknya Al bener, om sama papa sama-sama diam."


"C'mon paaa, omm. Cuma masalah satu proyek, om sama papaa sampee slek bertahun-tahun! Padahal sekarang udah sama sama sukses."


"Kamu gak bakal ngertii, itu proyek yang seharusnya bisa buat perusahaan saya maju!"


"Dan sekarang lebih maju," balas Danial.


"Ayolaaahh, lupakan masa lalu. Yang udah terjadi biarkan terjadii. Liatt sekarang, karena masa lalu ituu Boy sama Fiana jadii gimana?"


"Boy kabur dari rumah omm, Fiana jadi pendiam."


"Coba renungin, gimana sikap om sama papa selama ini ke mereka."


Mereka berdua pun berfikir, kembali mengingat bagaimana sikap-sikap mereka kepada anaknya.


"Baikan lah pa, om. Udah tua jugaa kenapa masih marah-marahann kek gituu" Danial kembali makan sushi nya.


Bastian dan Deokhwa bertatapan, "aku minta maaf sama mu untuk masalah yang dulu dulu" ujar Deokhwa.


"Aku juga minta maaf, kayaknya aku berlebihan selama ini." Mereka berdua pun berjabat tangan.


Danial tersenyum gembira, "bicara dari hati ke hati emang manjuurr" gumamnya bahagia.


"Om sama papa mau jadii orang tua yang baik kann? Mau perbaiki semuanyaa?" Kedua nya mengangguk.


"Danial tau caranyaa"


"Apa??"


"Restuin hubungan Boy sama Fiana."


Flashback off--


✾✾


12.45


"BRANDENN!!!"


"Astaghfirullahalazim ayyy, kenapaa teriak-teriaak?" tanya Branden heran.


"Kamu tu kebiasaan banget yaaa! Pulang ngampus tuu tas nya taro di tempatnyaa, sepatu jangan asal letakkk. Ishh, baju juga berantakan. Kamu kenapa gak pake bajuuu siii?!"


"Panass sayaangg"


"Hiihh! Untung sayang!" Diva menatap kesal suaminya itu lalu meletakkan barang-barang Branden yang berserak.


Branden yang tadinya tidur jadi tidak bisa tidur lagi karena di bangunin. Ia beranjak keluar kamar menemui sang istri.


"Ayy.. kamu dimanaa?"


"Planet marss!" Jawab Diva kesal, ia berada di sofa depan televisi.


Branden pun menuju sumber suara, ia langsung membanting tubuh di sofa dan menjadikan paha Diva sebagai bantal.


"Berdosa gitu sama suami, di tanya betul-betul jawabnya nyeleneh." Omel Branden.


"Salah sendiri ngeselin!"


"Yaaa maapp" Branden kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


"Pake bajuuu kenapaa sii, astaghfirullah. Sok sixpack bangettt gak pake bajuu!"


"Aku emang gak sixpack tapi eightpack!"


"Ngadi-ngadi, kamu mah kea bapak-bapak hamill" ledek Diva sambil cengengesan.


Branden menatap sinis Diva, "bapak dari calon anak kita iyaa."


"Widiii" Branden tertawa.


Diva kembali fokus menonton televisi, membiarkan Branden yang manja.


"Pijitin kepala ku sayang" pinta Branden.


"Kok manjaaa?"


"Manja sama bini sendirii kan kagak salahh," Diva mengangguk pelan, "bener siii."


"Duhh jadi makin ngantuk akuu, ke kamarrr ayok!" Ajak Branden.


"Ngapain??"


"Masak gado-gadoo! Ya tidurr lahh" Diva terkekeh.


"Nggak mau ahh, kalau tidur siang ntar malem gak bisa tidurrr"


"Bisaa, kan tidurnya sama akuu"


"Dihhh"


"Lohh kan benerrr, emang kalau malem kamu tidur sama siapa? Kuntii?"


"Astaghfirullah sayang!!" Diva mencubit lengan Branden.


"Kan aku nanyaaa, udahh ayoook ke kamarrr"


"Kamu aja sana kalau mau tidurrr, aku nggakkk."


"Ahh gak enakk, gak ada kamu"


"Tadii kan gak adaa, bisa nya tidur sendiriann"


"Beda ceritaa ituu"


"Emang dasar lu nya ajeee modusss," Branden cengengesan.


"Awaass, aku mo masak mie."


"Nahh, masakin aku sekalian" Pinta Branden.


"Nggak jadi, udah kenyang"


"Huh.. ayoo Branden, perbanyak istighfar! Branden penyabar kokk, penyabarr" Diva terkekeh lagi melihatnya.


Tingg.. Tingg..


Diva meraih ponselnya.


Maknanaa


oiii busuu, laki lu selingkuh.


gue liat dia tidur ama cewek


Divaa


Hah?? Seriuss makk?


Maknanaa


mau gue kirim buktinya??


Diva menatap Branden sekilas, ia menghela nafas lalu membalas.


Divaa


Kirim makk


Maknanaa


[Send pict monyet tidur beduaan]


Divaa


ANJJJJ!! MAKK, ASTAGHFIRULLAH


Gua udah nething anjiiiirrrrr


Maknanaa


HAHAHAA MAMPUSSS LU NYING


ngakakk sii iniii, awalnya gue di prank samaa Khansa. teruss nyobain ke lu betigaa


pada ngamuk anjirrr


Divaa


Ya luu gileee, jelas diamuk laaaa


Maknanaa


wkwkakak, maap bun muach


Diva menggelengkan kepalanya, ia mengelus dada sambil beristighfar.


"Kenapa kamu?" tanya Branden keheranan.


"Gapapa"


Branden menatapnya intens, "jujurr kenapa??!"


"Kamu jahat!"


"Jahatt? Aku kenapa?? Kamu lagi peemes? Apa gimana?"


"Kamu jahatt! Kamu selingkuh"


"Heh ngada-ngadaa. Manaaa mau aku selingkuh sayaangg, bini ku aja secakep inii. Ngapain aku selingkuh, hm??"


"Halahhh, cowok kan gak pernah puas sama satu cewek!"


"Ayy ngomong apa sih??" tanya Branden heran. "Aku gak selingkuh, benerann."


"Aku punya buktinyaaa!"


Branden bangun dari rebahan nya, "mana lihat." Diva membuka foto tadi di galeri, "ini apaa?"


Branden memegang kepalanya, "Branden depresi. Branden depresi. Branden depresi. Hastag, Branden depresi" Diva terkekeh.


Ekspresi Branden benar-benar lucu, Diva sakit perut karena terus tertawa.


"Puas ketawanya, by?" Diva menahan tawa nya lagi, ia mengangguk.

__ADS_1


"Terima hukuman sekarang!" Branden langsung menggendong Diva.


"Ehh ehh ehhhh.. mo kemanaaaa? Mo ngapaiiinn?? Sayangg bercanda doangg, astaghfirullah!! Yah.. yahh.. mampussss gueeee!"


__ADS_2