Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 83 Khansa gaje!


__ADS_3

"Galau apaan ngaco banget"


"Di dalam kamus besar hidup gue, gak ada kosakata galau" jawab Yesha.


"Gue gak yakin sih" balas Nara.


"Bodoamat" kata Yesha. Nara pun tertawa.


"Galau kenapa?" tanya Revin.


"Nggak bang, gak apa-apa kok. Nara aja suka ngaco" jawab Yesha.


"Fia, lo nyembunyiin sesuatu dari abang?" tanya Danial.


"Nggak bang, suer deh nggak ada" jawab Yesha.


"Pandai menipu dan pandai tertipu" gumam Nara.


"Kenapa?" tanya Danial.


"Nggak bang, gapapaa" jawab Nara.


"Na, lo sama Wisnu. Masih ada rasa?" tanya Ikhsan.


"Nggak juga sih bang. Kenapa?"


"Yaaa..."


"Yaa, ikhsan mao majulah" sahut Danial.


"Maju gimana?" Khansa bereaksi.


"Iyya maju. Maju memperjuangkan sesuatu yang ingin digapai" jawab Revin.


"Apaan? Mau deketin Nara gitu maksudnya?"


"Mungkin"


"Enak aja! Gue aja masih nahan karena dia masih mellow" ceplos Khansa. Khansa tersadar, dia keceplosan!


Semuanya mengerti maksud pancingan Danial. Namun, Nara malah bersikap seolah-olah anak umur dua tahun yang tidak tau apa-apa.


"Nahan? Nahan gimana nih maksudnyaa?" tanya Frans.


"Yaa.. nahan lah"


"Nahan apa bambang suraji?!" tanya Branden.


"Nahan nahan lah pokoknya" kata Khansa.


"Nahan apasih gak jelas banget" ledek Revin.


"Nahan apaa woi sumpah dah. Lu kalau gajelas Ikhsan maju" sahut Danial.


"Ck!"


"Nahan apaan sih?" tanya Nara.


"Nahan cinta gue ke lu! Puas?!" Nara terbelalak.


"Kok kayak gak ikhlas gitu ya bang?" ledek Diva.


"Tunggu, ini maksudnya gimana sih?" tanya Nara.


Khansa menghela nafas. "Naraa. Gue sadar, gue banyak kurangnya. Gue tau, gue gak ganteng, muka gue standart meskipun masih gantengan gue dari pada bang Ikhsan..."


"Tahan can tahan" bisik Danial cengengesan melihat Ikhsan yang hendak protes. Ikhsan yang takut merusak suasana mencoba untuk bersabar sambil mengelus dada.


"Orang ganteng emang harus sabar" gumam Ikhsan.


Khansa tersenyum sekilas.


"Dan gue ngerti, gue orang yang kasar, gak selembut Wisnu. Tapi.. gue janji, gue gak akan pernah nyakitin hati lo dan selalu jujur sama lo"


"Gue tau ini gak ada romantisnya sama sekali karena ini di kantin kampus, but, ini kesempatan gue. Gue gak mau nunda lagi"


"Na.." Khansa bangkit dari tempatnya lalu jongkok dihadapan Nara.


"Will you marry me?"


Semua orang tercengang, termasuk geng mereka. Ini diluar ekspetasi. Mereka hanya mengira Khansa akan mengajak pacaran. Namun realitanya Khansa mengajak Nara...


MENIKAH!


Bahkan, Khansa menunjukkan cincin cantik dilengkapi dengan kotak.


Nara menatap Khansa. "Sa, kalau lo ngelawak ini gak lucu"


"Gue nggak lagi stand up comedy ya maimunah. Lu gak liat muka gue udah mandi keringet gini?"


"Gue serius Nara! Serius pake banget"

__ADS_1


"Gue mau yang berbeda. Gue mau hubungan yang halal, gak kayak mereka ni, hubungan berdosa" Khansa menunjuk Alika dan Frans.


Alika dan Frans menatap Khansa datar.


"Dia ini kesambet apaan sih?" tanya Yesha bingung.


"Gue jadi Nara gak bakal yakin kalau Khansa serius" kata Revin.


"Ck, anak gaib ngompor-ngompori" Revin tertawa.


"Raut wajah lo sih ketebak, kalau lo gak mau. Okelah, gue buang aja ni cincin"


"Eehhh tungguu" Khansa menatap Nara.


"Gue mau lo nunjukkin cara biar gue bisa percaya kalau lo serius"


"Lo mau gue lakuin apa biar lo percaya kalau gue serius?"


"Cium tembok, seratus kali"


"Kalau udah, lo terima?" Nara mengangguk.


"Daripada nyium tembok. Mending gue ciumm..."


Cup~


"KHANSAAAA!!"


✡✡✡


Nggak tau ada angin apa, malam ini Khansa kerumah Nara. Bokap, nyokap, sama kedua adek Nara keliatan akrab banget sama si Khansa. Bener bener akrab kayak sering jumpa gitu.


Nara juga bingung, padahal kalau dipikir-pikir mereka jarang ketemu, cuma beberapa kali mungkin.


Tapi kenapa bisa seakrab itu woi?! Ah dalah bodoamat' batin Nara.


Saat ini Nara berdua sama Khansa di ruang keluarga.


Bokap nyokap nya tadi mendadak pergi karena ada urusan. Kedua adeknya juga, katanya ada kerja kelompok. Nara jadi horor berduaan doang sama si Khansa.


"Lo mikirin apa? Nggak lagi mikirin malam pertama kan?" tanya Khansa berbisik.


"Gila lo, keknya gue harus mikir ulang mau nikah sama lo"


"Gue jamin lo nyesel kalau nolak gue"


"Gue nggak nyesel!"


"Tau darimana? Emang lo cenayang?"


"Ohiya" Khansa tertawa.


"Lo ngapain kesini? Udah sejam gak balik-balik"


"Lo ngusir gue?"


"Ya... nggak sih. Cuma kan serem gitu kalau kita beduaan doang di rumah"


"Yaudah kalau gitu, keluar yok" ajak Khansa.


"Kemanaaa?"


"Kemanapun lo mau"


"Mager"


"Lo maunyaa apaa sii. Gemes gue jadinyaa pengen ci--"


"Otak lo sa, otak lo!! Kita cuma bedua disini"


Khansa ketawa lagi. Ni anak kalo ketawa gantengnya nambah! Sumpah gak boong' batin Nara lagi.


"Yaudah jadi maunya apa sayang?"


"Em.."


Ting..


Nara mengambil ponsel yang ada di meja.


Ciaabangke


Gue capek dirumah ladeni Elinaa!!! Pliss, ajak gue cabut sekarang!!


Echaaib


Gue di kafe biasa.


Busudipsi


Lo disana? Sendiri?

__ADS_1


Echaaib


Hm. Gue gabut banget dirumah. Tadinya mau ngajak kalian, tapi gue ngerti lu pada lagi beduaan, jadi gue ndiri.


Ciaabangke


Kasiannya kamuu. Gue nyusul setelah dijemput Frans!


"Apaan asik sendiri" Khansa menarik ponsel Nara. Membaca isinya.


"Muk kesana?" Nara mengangguk.


"Gue ikut"


"Yaudahh.Tunggu sini, gue ganti baju" Khansa mengangguk. Nara pun pergi ke kamarnya.


Saat Nara di kamar, ponselnya bergetar ada panggilan masuk. Panggilan dari Wisnu. Khansa yang mengangkatnya.


📞 "Na, aku mohon. Tolak Khansa, kita mulai semuanya. Aku rela pindah agama demi kamu. Tolong"


"Lo telat, harapan lo untuk ngubah bubur jadi nasi itu mustahil. Karena bubur gak bisa kembali jadi nasi. Lebih baik lo cari yang lebih dari Nara. Nara udah ada gue, jangan ganggu kebahagiaan Nara kalau lo beneran sayang sama Nara"


Khansa pun langsung mematikan teleponnya.


⚛⚛


"Haiiyy mas, lagi apa?" Diva dan Branden tiba di kafe. Mereka langsung menghampiri Yesha yang bersama Alika dan Frans.


"Mas mas kepalamu botak" Diva tertawa. Diva memanggil pelayan kafe lalu memesan minuman, Branden juga melakukan hal yang sama.


"Sumpah lo tau gak dip, dia sendirian disini kayak anak anak ilang gitu. Anak yang di buang gitu. Persis banget. Ngenes pokoknya" ledek Alika.


"Suka atimu cii, terserah" Alika tertawa


"Lo masih galau gegara Boy?" Khansa dan Nara datang.


"Gue mah yakin dia disana selingkuh sama mama muda yang seksi" kata Khansa.


"Jih, Khansa ajg" Khansa tertawa.


"Nggak nggak. Positif thinking aja, logikanya gini. Ngapain dia ngejer lo disini padahal yang lebih dari lo banyak di New York?"


"Iya sih, yatapikan"


"Yatapikan betina otaknya nethink teros" sahut Branden melirik Diva.


"Apaa pula matamu gak sur" balas Diva kesal.


"Ulangi"


"Hahh? Nggak kok sayang"


"Hooo busuuu dipsi bucin akuttt" ledek Nara. Mereka tertawa bersama melihat muka kesal Diva.


"Dah, dari pada bucin men gem yok" ajak Alika.


"Game apa ni?"


"Game abc"


"Mainannya bocil?" tanya Khansa.


"Alah masih bocil gosah sok gede" sahut Frans.


"Bacot bangett kamu ya prans" ledek Khansa. Mereka tertawa lagi.


"Cara mainnya gini. Kan abc gitu pake jari, abistu nanti kalau misalnya dari huruf A nyanyii satu lirik lagu yang awalannya. Nah, yang gabisa jawab digetok sama yang bisa jawab" jelas Alika.


"Oke, gue ikut" kata Yesha.


"Gue juga" Sisanya bersamaan.


"Sok kompak"


"Oke kita mulai"


"Abc lima dasar!" mereka semua meletakkan tangan dengan jumlah jari bervariasi di meja.


Mereka menemukan huruf C.


"C apa woii?!" tanya Yesha.


"Cicak cicak di dinding" kata Nara.


"Is gak lagu anak-anak laa, lagu pop ato gak lagu dangdut gitu" kata Alika.


"Oke gue tau gue tau!!" semua menatap Diva.


"Ehem ehem.."


"Culametan met met culametan met met culametan met met culametan, si gana mah..."

__ADS_1


"Kalau ada makanan dimeja, mejanya yang kumakan telolet telolet" Crazy bacot nyanyi bersamaan.


"Begooo nya overdosis" ledek Khansa sambil tertawa. Mereka tertawa bersama. Pengunjung kafe juga ikut tertawa mendengar lagu mereka.


__ADS_2