
"Ayo jelasin sekarang jelasin!!" ujar Yesha kepada abangnya. Mereka semua berada di kafe dekat rumah sakit.
"Em anu hehehe.."
"Apaa si bang? Buruan, gajelas banget. Heran" cibir Yesha.
"Bang, kak Yora mau kawin bang. Lu jangan gitu dong" sahut Branden.
"Lah emang gue apain njirr?" tanya Danial.
"Aissh.. berasa ngomong sama Patrick beneran" kata Khansa.
Danial cengengesan.
"Emm.. lo pada inget tahun lalu yang gue hampir mati di tabrak mobil besar?" tanya Danial.
"Yang waktutu di desa?" tanya Frans.
"Iya"
"Terus?" tanya Diva.
"Kak Yora yang tolongin gue waktu itu. Dia tarik gue kepinggir. Dia nyelamatin gue walau dia tau dia juga dalam bahaya"
"Waktu itu ya emang kita gak saling kenal, tapi dia baik banget mau tolongin gue"
"Gue juga tau calon suaminya. Gue kenal, kenal banget. Deket malah. Ya sejak saat itu, gue kenal sama kak Yora dan juga calon suaminya"
"Terusss kenapa tadi lo bilang kak Yora pacar lo Samsudin?!" tanya Yesha.
"Gue pernah demen sama kak Yora. Kak Yora juga tau itu, dia suruh gue mundur perlahan terus dia malah tawarin adek kelasnya buat jadi pacar gue. Gue tolak lah tu cewek"
"Definisi sok kegantengan" cibir Khansa.
"Pengen nabok sumpahh" ujar Danial.
"Mangga bang, ikhlas saya. Sangat sangat ikhlas" ujar Ikhsan menyodorkan muka Khansa.
"Abang abang laknat" mereka tertawa.
"Terus, kata Yesha lu punya pacar beneran? Lo gitu banget Danial astagaaa.. rahasiaaan" ujar Revin.
"Parah si dia, parah banget parah" sahut Ikhsan.
"Bukan begito!! Is.. gue malu lah ngomong sama kalian" jawab Danial.
"Halah.. malu malu anjingh" ledek Alika.
"Malu malu kucing oon. Kenapa jadi anjingh?" tanya Diva. Alika cengengesan.
"Lu bedua demen sama gue? Kok kecewa gitu mukanya?" tanya Danial pada Ikhsan dan Revin.
"Danial, lo perlu ke rumah sakit jiwa deh. Gue anterin ya" ujar Ikhsan.
"Dih.."
"YA LU GILAA?! GUE NORMAL BEGOO!!"
"Amnjing ngegasss dong" ledek Alika.
"Hahahaha"
"Maklum, bang can pms kan ya?" tanya Khansa.
"Pms kepala lo satu! Lo pikir gue betina?" Tanya Ikhsan balik. Khansa cengengesan.
"Makin yakin gue bang ikhsan pms" sahut Branden.
"Heeee ngapa ngomongin PNS sih? Sejak kapan bang Ikhsan jadi PNS?"
"Dipaa.. mau dijotos?" Tanya Alika.
"Apa salah dedek astaghfirullah.. kan bener PNS. Pegawai Negeri Sipil" ujar Diva.
"Pengen beneran di jotossssssssss" Nara mengepalkan tangannya lalu meletakkan tangannya itu didepan muka Diva.
Diva cengengesan.
"Dip.. pms dip pms, bukan pns" kata Revin.
__ADS_1
"Aaoo.. pms"
"Bang ikhsan pms?" tanya Diva.
"Ho'oh" jawab semuanya kecuali Ikhsan.
"Gue cowok woi astaghfirullah!!!"
"Abang ganti kelamin?" Tanya Alika. Ikhsan menatapnya datar.
"Liat matanya" suruh Yesha.
"Kenapa matanya coy?" Tanya Radit.
"Ada dua" jawab Yesha sambil tertawa. Mereka menatap datar Yesha lalu ikut tertawa.
"Astaghfirullahaladzim.. Astaghfirullahaladzim... Punya dosa apaaa gue di masa lalu kenapa bisa ketemu kalian? Dan makhluk darimana kalian ini, kenapa pengen banget di lempar ke kandang buaya" keluh Ikhsan.
"Kasian bang ikhsan, ngenes banget" ledek Frans.
"Hahahaha"
Ting..
Ponsel Danial berbunyi, chat WhatsApp masuk dari sang kekasih.
"Gue pergi duluan ya. Bran, klo ada berita terbaru tentang kak Yora kabarin gue" ujar Danial.
"Oke bang"
"Gue juga balik duluan ya, ada janji sama Agnes" pamit Revin.
"Gue juga mau ngasih makan ayam"
"Ketara banget jonesnya bang. Kasian lo" ujar Khansa.
"Lo juga jones monyet" ledek Ikhsan.
"Kurang ajar"
"Bwahahaha"
"Yoda yoda yaa.. gue pergi, Assalamualaikum" mereka bertiga meninggalkan kafe.
"Waalaikumsalam"
"Nara mau rapat," jawab Alika.
"Rapat apaan?" tanya Diva lagi.
"Oke gue mulai rapat paripurna nya" kata Nara
"Anjirr paripurna dong" ledek Frans.
"Ssst diem sayang. Rapat serius ini" balas Alika.
"Kita cabut aja gimana?" tanya Khansa.
"Ide bagus" jawab Radit.
"Kalian mau kemana?" tanya Nara.
"Balik rumah atau balik rs. Kita mah tau lu pada mau nge-gosip" jawab Radit.
"Rapat dikata gosip, emang pendengaran dia bermasalah" ledek Diva.
"Nyenyenye"
"Gue pergi yaa byee, assalamualaikum" Radit pergi duluan di susul Khansa dan Radot.
"Pulangnya aku jemput?" tanya Frans apada Alika.
"Nggak usah, ntar balik sama Yesha"
"Bener nih?" Alika mengangguk.
"Yaudah.. jangan lasak lho"
"Iya bawel" Frans mengecup kening Alika.
__ADS_1
"Aku duluan, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Frans pun pergi. Branden mengikutinya.
"Branden" Diva mengejar Branden.
"Lo mau kemana?"
"Balik ke kamar kak Yora. Kenapa?"
"Ntar aku susul" Branden mengangguk.
Branden mendekat ke Diva lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Bedosaa woi" teriak Alika. Branden cengengesan lalu pergi menyusul Frans.
"Kampret emang tu anak" Diva balik ke meja sambil mengelus dada.
Ketiga teman Diva hanya tertawa melihat ekspresinya.
"Jadi rapat apa buk Nana?" tanya Yesha.
"Gini"
"Lo pada denger kan yang Khansa bilang kemaren?" tanya Nara. Mereka bertiga mengangguk.
"Gue takut sendirian" Nara cengengesan.
"Gue takut ntar ada yang bahaya. Gue takut pokoknya. Kek gue gak siap terima kenyataan dari rahasia besar itu"
"Jadi, maunya lo begimana?" tanya Diva.
"Gue mau lo pada ikut gue, tapi nunggu di mobil"
"Gue ntar pake kacamata kamera yang kemaren kita beli itu, biar kalian bisa lihat apa rahasianya"
"Lo serius?" tanya Yesha.
"Kenapa?"
"Bukan kita gak mau na, tapi itukan privasi hubungan lo sama Wisnu" jawab Alika.
"Lu pada sahabat gue, gak masalah kan kalau kalian tau? Plis, gue takut. Gimana ya, susah tau ngutarainnya"
"Jadi, lo mau kita ikut tapi ngintai dari dalam mobil?" Nara mengangguk.
"Firasat gue kagak enak, kek bakal ada hal menyakitkan bakal terjadi. Gue gak mau sendiri. Kalau itu beneran terjadi dan saat itu ada kalian, gue pasti bakal lebih kuat"
"Oke. Kita ikut lo. Kita intai lo, kita dengerin, kita lihat apa yang terjadi nanti dirumah Wisnu. Semoga aja gak ada hal buruk yang terjadi" kata Alika.
"Semoga aja gitu"
• - - •
19:57
Nara sudah tiba di depan pintu rumah orang tua Wisnu. Dia tampak cantik malam ini.
Seperti permintaannya tadi, tiga ciwi crazy bicit yang lain menunggu di mobil hitam Yesha yang berada diseberang rumah Wisnu.
"Tenang ya" ujar Wisnu. Nara mengangguk.
"Kamu kenapa pake kacamata sih?" tanya Wisnu.
"Em... Gak apa-apa kok" jawab Nara.
"Yaudah yok masuk" Wisnu menggandeng tangan Nara lalu memencet bel.
"Sebentar den" itu suara pembantu.
Pintu terbuka
Nara dan Wisnu pun masuk ke dalam sambil bergandengan.
"Pa ma" mereka tiba di ruang keluarga, Nara masih menunduk menatap ubin.
"Kenalin, ini pacar Wisnu. Nara" Nara mendongak.
"***--" ucapan Nara terhenti. Terkejut dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Benar-benar suatu rahasia yang besar.
Nara tak pernah menyangka, ternyata Wisnu....