Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 80 Emang jodoh mau gimana?


__ADS_3

Lain halnya dengan Dipi.


Diva Dipi Dipoy Dipsi..


Satu orang yang sama. Dia sedang berada dirumah dengan baju lengan pendek dan celana selutut di kamar sambil menikmati drakor favoritnya.


Diva menonton ini sudah lebih dari sepuluh kali, tapi dia tetap menontonnya terus menerus.


Mau gimana lagi, namanya juga sudah terfavorit!


Diva tidak kuliah hari ini karena memang tidak ada kelas. Dia ingin menjaga kak Yora namun Branden melarang dan menyuruh Dipi untuk menunggunya selesai kelas.


Diva pun menurut dan tetap dirumah.


Di rumah aja.


"Divaa sayangg, ada nenek nak" teriak maminya.


"Iyaaa mii bentar" balas Diva. Diva men-double baju pendeknya dengan cardigan rajut setelah itu keluar menghampiri neneknya.


"Aaa cucuku" neneknya itu menghampiri Diva.


"Nenek kenapa kesini? Kan nenek lagi dirawat di rumah sakit" Diva memeluk sang nenek tercinta.


"Nenek baik-baik ajaa. Kamu kenapa gak pernah main lagi sama nenek? Kamu lupa sama nenek ya?"


"Nggak nek, diva sibuk nek. Kan kuliah" Neneknya mengangguk-angguk.


"Mama duduk dulu" ujar mami Diva.


Fitriyah –Nenek Diva– pun duduk di sofa ruang keluarga.


"Diva ambil minum dulu ya" Diva pergi kedapur membuatkan minum untuk nek Fitri.


Diva kembali dengan secangkir teh untuk neneknya.


"Nih nek, diminum dulu" nek Fitri pun meminum teh buatan Diva.


"Cucu nenek udah gedek ya.."


Diva tersenyum.


"Diva ikut nenek yuk" ajak nek Fitri.


"Mau kemana nek?" tanya Diva.


"Ayuk ikut aja" Nek Fitri menarik tangan Diva.


Diva mengode maminya menanyakan kemana dia akan dibawa. Maminya yang benar-benar tak tau hanya mengangkat bahu.


"Mau dibawa kemana Diva ma?" tanya Farah.


"Kesuatu tempat. Kamu ikut juga yuk" nek Fitri pun menarik mama Diva.


Mereka hanya ikut dengan nek Fitri.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di suatu salon.


"Nek, kalau mau nyalon di salon Dipa juga bisa" ujar Diva.


"Kamu diem aja. Duduk disini ya" nek Fitri memanggil pekerja yang ada disana.


Dia menyuruh untuk me-make-up Diva. Diva pasrah, ini demi neneknya.


Mamanya Diva juga melakukan hal yang serupa. Sedangkan neneknya itu hanya menunggu di ruang tunggu.


Beberapa menit kemudian, mereka selesai. Nek Fitri menarik mereka lagi. "Nek mau kemana lagi?" tanya Diva.


"Ikut aja hayukk" jawab nenek nya.


"Nek, dipa cuma pake celana lusuh sama baju kek gini lo nek. Diva juga lupa bawa ponsel. Kita mau kemana?" tanya Diva lagi.


"Sssttt, kamu diem aja ya"


"Ya gak bisa gitu dong nek. Masa iya Diva diem aja?" tanya Diva.


"Tenang ya"


"Pak, lanjut ke tempat berikutnya" suruh nek Fitri pada supirnya.


"Baik nyonya"


Mobil kembali jalan.


"Mi, mau kemana sih? Mau ngapain?" bisik Diva.


"Ya mami juga gak tau. Nenek kamu aja datangnya dadakan" jawab maminya.

__ADS_1


"Adoy mii.. begimana dong??"


"Udah ikutin aja apa kemauan nenek. Kamu tau sendiri nenek lagi sakit" Diva pun mengangguk pasrah.


Dia gak masalah ditarik kemanapun. Namun, yang jadi dilemanya Diva lupa membawa ponsel.


Anak jaman sekarang tanpa ponsel, rasanya seperti menjadi Ironman eh... Heheh:v


Lima menit perjalanan, mereka tiba di sebuah butik.


Bedosa sekali dipa temennya punya butik malah beli di tempat lain' batin Diva.


"Ayok turun" ajak sang nenek.


"Nek, Diva kayak begini persis setelan orang stress nek. Nenek aja deh sama mami yang kesana" ujar Diva.


"Kamu kok gitu sih sama nenek?" tanya neneknya Diva.


Mati gua, salah ngomong!!' batin Diva.


"Eh? Nggak kok nek, ayok deh" ajak Diva sambil tersenyum paksa.


Diva membantu neneknya jalan untuk masuk ke dalam butik.


"Eh nenek, mau ambil gaun ya?" tanya pelayan butik.


"Iya, yang udah saya booking ya"


"Untuk yang mana nek?"


"Cucu saya" nek Fitri menunjuk Diva.


"Ayo ikut saya" ajaknya. Diva tersenyum canggung lalu mengikuti pelayan toko.


"Ada apa sih ma? Mama mau ngapain kok repot repot begini?" tanya Farah.


"Repot dari mana? Nggak kok nak. Kamu juga pilih baju dan ganti ya"


"Tapi ma---"


"Jangan bantah mama dong yaa"


Farah menghela nafas lalu tersenyum. "Yaudah iya" Farah pergi berkeliling.


Sedangkan nek Fitri duduk lagi di ruang tunggu.


Diva yang dibawa sang pelayan butik kebingungan memakai gaun yang mana.


"Loh, bukannya emang mau nikah ya mbaknya?" tanya sang pelayan.


"Hah? Nggak kok mbak. Nggak tau juga deng. Saya aja ditarik paksa" jawab Diva sambil senyum canggung.


"Kayaknya sih mau nikah mbaknya"


Kalo beneran.. gimanaaa?! Branden maafin aku ya sayangg' batin Diva.


"Mbak?"


"Mbak?"


"Eh iya?" tanya Diva.


"Ini mbaknya mau coba yang mana?"


"Yang ini aja deh, gak terlalu terbuka juga atasnya" jawab Diva. Dia mengambil gaun itu lalu mencobanya.


Tujuh menit kemudian, Diva keluar menghampiri nenek dan maminya. Maminya juga sudah berganti baju dengan gaun berwarna peach.


"Cantiknya cucuku. Kamu emang cantik kayak nenek" ujar nek Fitri. Diva tersenyum melihat senyuman lebar neneknya.


"Emang mau apa sih nek?" tanya Diva.


"Ahh.. agh.."


"Nenek? Nenek?? Nenek kenapaaa??"


"Tolong, mbakk tolong bantu bawa nenek saya kerumah sakit!!" Diva dan maminya panik.


Satu penjaga keamanan butik pun datang membantu mereka. Diva ikut ke RS tetap memakai gaunnya. Diva lupa melepas gaun itu.


"Buruan pak buruan!!" Perintah maminya.


"Iya bukk, sebentar" jawab pak supir.


Gak lama kemudian mereka tiba di RS. Nenek diva di gendong oleh supir sampai ke dalam ruangannya sendiri.


Diva menjaga disebelah neneknya dengan harap-harap cemas, dia takut kehilangan neneknya.

__ADS_1


Sangat takut! Neneknya itulah yang menjaga Diva saat kedua orangtuanya sibuk.


"Nek.. nenek jangan pergi dulu. Nek, hiks nekk" Diva menangis.


"Diva.. diva.."


"Diva disini nek, disini" ujar Diva.


"Diva.. umur nenek udah gak panjang lagi. Nenek mau lihat kamu nikah sama orang yang nenek pilihkan. Kamu mau ya?"


Udah gue duga, ternyata bener' batin Diva.


Diva menghela nafas, berfikir keras. Apapun yang dipilihkan neneknya adalah yang terbaik untuknya. "Nenek jangan bilang gitu dong. Nenek pasti kuat kok"


"Kamu mau ya.. nenek mohon"


"Iya nek.. diva mau kok. Tapi nenek jangan pergi dulu yaa" Neneknya tersenyum.


Branden.. maapinn akuuu' batin Diva berteriak.


Pintu terbuka, kedua orang tua Diva masuk.


"Kamu siap nak?" Tanya papinya. Diva hanya mengangguk pasrah.


Pikirannya berkelana, ahh tidak!! Jangan sampai om om lagi!! Itulah isi pikirannya.


Pintu terbuka kembali, penghulu dan juga calon besan mami papinya juga datang. Diva gak mau lihat. Tidak. Tidak!!


"Diva nak, sini" panggil mami Farah. Diva menurut namun tetap menunduk. Dia disuruh duduk di sebelah mempelai laki-laki.


Acara ijab kabul cukup sederhana. Mereka melakukannya di dalam ruangan nek Fitri.


Diva sama sekali tidak mendengar apapun yang mereka bicarakan. Pikirannya tertuju pada Branden dan dia merasa sangat tidak enak pada ketiga temannya.


Tanpa Diva sadari ijab kabul selesai. Diva tersenyum paksa lalu menyalami tangan suaminya.


Suaminya mengecup kening Diva. Diva memejamkan matanya. Tak mau melihat siapa pria ini.


Setelah selesai, Diva kembali ke sebelah neneknya. "Makasih ya sayang kamu mau turutin permintaan nenek" ujar nek Fitri. Diva hanya tersenyum sambil menggenggam tangan neneknya.


- -


Malam pun tiba, Diva tak mau beranjak dari tempat duduknya. Bahkan, dia tidak makan apapun hari ini.


"Diva, pulang dulu gih. Barang-barang kamu udah di rumah suami kamu" ujar maminya.


"Diva gak mau pulang mi"


"Pulanglah dulu, kamu juga belum lihat suami kamu. Mami papi jaga nenek disini" Diva menghela nafas.


"Yaudah, Diva pulang dulu"


"Jangan bandel sama suami ya" ujar papinya. Diva tersenyum paksa lalu pergi. Di depan sudah ada supir yang akan mengantarnya.


- - • - -


Diva tiba dirumah suaminya, lebih tepatnya apartemen.


Diva masuk ke kamar dengan terpaksa. "Kenapa gak balik-balik sih? Ditunggu juga"


Tunggu..


Diva kenal suara ini. Diva mendongak.


"Loh? Branden??"


"Apa? Kamu gak sadar dari tadi??"


"Ah nggak diva. Lo emang merasa bersalah sama Branden. Tapi kenapa sampe ngayal suami lu Branden sih?!" gumam Diva yang di dengar suaminya.


Suaminya tertawa lalu menghampiri Diva. "Suami kamu ya pacar kamu! Aku Branden tau"


"Kok bisa kamu?" Tanya Diva.


"Kita itu jodoh sayang. Emang jodoh mau gimana?"


"Ah mimpi"


Branden nyosor!


Diva membelalakkan matanya karena terkejut.


"Percaya aku Branden?" Diva memukul lengan Branden.


"Bedosa banget jadi manusia!!"


Branden tertawa, "Berdosa dari mana? Kita udah sah loh di agama ataupun negara"

__ADS_1


"Kita lakuin sunah rosul juga gak bakal berdosa" bisik Branden.


Diva memukul Branden. "MESUMM!!"


__ADS_2