Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 106 Susuruprisss apanii?


__ADS_3

"HAIII, ALIKA YANG CANTIK MACAM BIDADARI DATANG DENGAN SEJUTA KEIMUTAN."


"Najis goblokk."


"Astaghfirullahalazim. Berdosa!" Nara cengengesan.


"Rindu banget gue kumpul berempat tanpa para lakikkk." Kata Alika sambil duduk santai disebelah Diva.


"Bilang aja lu rindu sama gue." Sahut Yesha dengan kepedean seribu persen.


"Oh tidak tidak. Saya tidak punya waktu untuk merindukan anda."


"Oalah, jancokk!" Mereka terkekeh.


"Salut gue sama diri sendiri. Bisa keluar dalam ketenangan, wahahahaha." Kata Alika sombong.


"Hahaha, belum tau apa? Lebih tenang gue daripada luu." Jawab Yesha.


"Yaaa benerr. Lu gak mikir apapunn, karena masih digantung."


"Aw."


"Hahahahaa!"


"Sialandd! Kudu banyak besabar gue kalau kumpul berempat." Keluh Yesha, mereka terkekeh lagi.


"Overthinking tiap malem kan lu? Mampusss."


"Serius ga tuhhh, si Boii sama luuu? Di phpin mampussss!" Diva ikut meledek.


"Berisik monyettt!"


"Lu tiap hari tidur sendiri, ya? Gue tiap hari tidur meluk suamii, wlee!" Ledek Nara.


"Tul betull. Dia bangun juga masih ngecek hape, kita bangun langsung dapat kecup dahi. Hahahaayy!"


"Bangsatt!"


Mereka terkekeh melihat wajah kesal Yesha.


"Yang sabar, yaa. Emang yang paling enak tu angek-angekiinn lu!"


"Fuckkk. Astaghfirullah!" Diva cengengesan.


"Btw, lu kemaren bilangnya mau keluar kota, Naa." Ujar Alika sambil menoleh kearah Nara.


"Udah, dan ternyata bentaran doang. Cuma nginep dihotel sekali."


"Nginap dihotel sekali lalu membuat produk berkali-kali dan mencoba gaya-gaya. Betul bukan?"


"Maknae agak kurang warasss, cokk!" Sinis Nara.


"Kebanyakan bikin adeknya Ujul."


"Anjirr lu!" Mereka tertawa lagi.


"Gak boleh ngomong kasar. Lu tu seorang ibuu," omel Alika.


"Gue juga gak mau ngomong kasarrr, tapi lu pada kea setan!!"


"Kan lu yang ngomong kasar anyingg, kenapa jadi kami yang diomelin?" Tanya Yesha sinis.


"Karena gue ketularan kalian."


"Dahlah mampuuuss. Suka hati emak emak ini aja la, yaa! Oke skip, kemana kita?" Tanya Alika antusias.


"Mall?"


"Deall!"


"Pake satu mobil ajaa, biar seruu!"


"Mobil gue."


Mereka pun menuju mobil Yesha dan pergi bersamaan menuju mall.


"Gue keinget dulu pas SMA, coyyyy."


"Yah, malah diingetiinnn. Gue jadi pengen balik ke masa SMAAA."


"Pengenn liat Echak sama Dapitt mejengg." Ujar Diva.


"Sianjirr. Malah pengen liat gue sama David." Cibir Yesha.


"David masih hidupkan?"


Yesha mengangguk, "masih sehat dia. Cuma otaknya agak terganggu."


"Gue lumayan ngeship lu sama David siii, tapi guee lebih suka lu sama Boy." Kata Diva santai.


"Gue gak nanya."


"Echakk bangs— astaghfirullahalazim." Yesha cengengesan santai.


"Kalo dipikir-pikir nih, yaa. Gantengan Dapit daripada Boy. Ya gak sii?" Tanya Alika.


"Iyaa betul, tapi lebih manisan Boy. Dapit gantengan doang sih, kalo si Boy paket lengkap." Jawab Diva.


"Lu pada kenapa dahh? Pengen Echak ama David? Gak inget David ngapain aja dulu pas SMA. Tak payah neko-nekoo, Echak with Boii!" Omel Nara.


"Aww emakk, lop sekebon sawit."


Yesha tersipu.


"Ehh.. Si Echa juga cocok sama Radot anjirrr. Keknya diship sama siapapun masok ni anak!"


"Anak cantik gitu lohh. Sama Cha Eunwoo aja cocok begetee." Kata Yesha sombong.


"Matamuiii. Kasian Cha Eunwoo menderita punya cewek kek lu."


"Emak bangkee!"


Mereka tertawa mendengarnya.


"Setelah memuji terbitlah memakii."


Setelah lama diperjalanan, mereka tiba di mall. Tempat pertama yang dituju adalah area permainan.


Emang suka lupa usia:'


"Moment ketika para emak-emakk holideee."


"Echaak! Astaghfirullahalazim~"


Yesha nyengir, "gue yang tercantik gaiss."


"Cantik doang, tapi digantungin."


"YAAHAHHAHAA!"


"Kitheart gue!"


Mereka tetap tertawa.


Puas di area permainan, mereka berpindah mencari tas.


"Keknya kalo di cgrvls gue tambah toko tas bagus dehh." Kata Nara.


"Sabi juga tuh, makk. Kenapa gak dari dulu ajaaa bikin toko tas?"


"Baru teringattt." Nara cengengesan.


"Guee mau beli tas lemess."


Mereka keterangan sambil natap Alika.


"Tas apa?"


"Tas lemes."


Mereka tetap bingung!


"Yang mahal bodoo, gitu aja gak tau."


Mereka berfikir lagi.


"OOO HERMESS! Eddan bangett temen gue. Hermes jadi lemes, tololll!"


"Variasi lah, gak kreatif lu!"


"Iyain aja iyaainnn." Alika tertawa melihat temannya kesal.

__ADS_1


"Sebelum keliling lagi, beli minum dulu yokk. Aus banget guee," ajak Yesha.


"Yaudah ayok."


Mereka pun pergi menuju kafe.


Diva yang memesan makanan dan minuman yang mereka pesan.


"Gue pengen nonton bioskop kek dulu!" Pinta Nara.


"Horor gimanaa?" Tanya Diva.


"Jangan lah anjirrr ah. Yang lain," omel Yesha.


"Lupa kita gaisss, Echak masih SOLO jadi kalau tidur gak ada yang nemenin." Ledek Alika.


Mereka tertawa meledek Yesha.


"Lu pada kalo sampe ngecengin gue lagi, gue tampar. Gak bohong gue, gue tampar beneran."


Mereka makin tertawa.


"Asik banget anjirrr ledekin luu." Jawab Diva.


"Fakkk anying, fakk!"


"Gegara lu pada gue jadi beneran mikir sekarang. Apa gue haruss cari cowok lainn terus berpaling dari Boy?"


"Serius lu mikir begitu?" Tanya Nara, Yesha mengangguk.


"Cuma mikir ajaaa."


"Gue saranin gak usah. Boy lagi siapin kehidupan mapan buat lu, toh juga Boy first love lu. Emang lu bisa lupain first love? Gue yakin seribu persen nggak." Kata Alika.


"Nahh bener apa kata Ciaa. Gak usah gantii, lu sama Boy itu udah cocok bangett! Muka kalian juga miripp, so, I think lu sama Boy cocok!" Sahut Diva.


"Kita tadi cuma bercanda. Gak usah lu pikirin bangett."


Yesha berohria.


"Gue juga bercanda sih."


"Fakyu, Cak!" Yesha cengengesan.


"Ehm. Gais, liat kearah jam dua belas."


Mereka mengikuti perintah Nara dan menoleh kesana.


"Anjirrr cogann!"


"Hahaa, sekarang liat arah jam tiga."


Dan yak!


Mereka menemukan para lelaki yang berada di toko baju.


"Laki gue ngapain disonooo?!" Tanya Alika heran.


"Nggak tau dahh. Laki gue juga ngapain disana? Sambil gendong Ujul pulak."


"Itu si Ujul yang buat stylenya siapaa?" Tanya Nara.


"Ya papi nya lah, siapa lagi?"


"Demi apasi?? Swag bangettt tolong!!"


"Tapii kerenn. Ujul pake apa aja cakepp." Ujar Alika.


"Yaiyalaahh, anak guee!"


"Yain yain."


Mereka terus memperhatikan para pria yang berbelanja itu. Sesekali mereka tertawa dan itu terlihat dari kafe.


"Permisi, pesanannya datangg."


Makanan dan minuman mereka tiba.


"Makasih, mbak."


Mbak pelayan mengangguk lalu pergi.


"Gue beneran mau tanya sama lu bertigaa." Kata Yesha tiba-tiba sambil mengaduk minumnya.


"Lu pada pas malam pertama gimana? Kenapa gak live streaming?"


Uhuk uhuk!!


Mereka bertiga batuk-batuk karena tersedak.


"Cakk, lu bener-bener yaa. Minus akhlak bangettttt!!"


Yesha nyengir tanpa rasa bersalah.


"Gue serius tanyaa anjirr."


"Ntar lu bakal ngerasain! Lagipula gak boleh ngumbar aib itu." Jawab Nara.


Yesha menganggukkan kepala, macem bocil jadinya:v


"Udah berapa malam?"


"Tolong banget atuh ahh, Echakk butuh donasi otak polosss sama akhlak segede gabann! Bisa-bisanya dia nanya begituan pas makan?!" Omel Alika kesal.


Yesha sendiri cengengesan.


"Padahal gue nanya doang."


"Diem lu diem! Jangan buat gue darah tinggi!"


Yesha tertawa. "Hahaha! Satu lawan tiga, mantep gue menang."


"Anjng. Echak macem anj—"


"Permisii.. Mau ngamenn." Mereka menoleh bersama, ternyata para LAKIKK datang.


"Bener-bener gak bisa ditinggal, ya? Sampe sampe nyusulin gini?!" Tanya Nara mengsinis.


"Emang gak bisa sih, ayy. Berat jauh dari kamu."


"Bacotttt!" Ledek Alika, ia dan Frans tertawa karena melihat tatapan Khansa.


"Mamii, Ujulnya nih, dia nangis tadii." Adu Branden sambil memberikan Ujul.


"Aku lagi makan, ayy."


Branden melihat sekeliling. Ia menarik satu kursi lalu duduk di sebelah Diva. Branden mengambil Ujul lagi, meletakkan Ujul di pahanya dengan menghadap Diva.


"Biar apaaa anjirr?!"


"Biar kagak kecarikan, jadi di tatapin aja."


"Suka ati dia, semerdeka diaaa!" Branden cengengesan.


Pasangan sah-sah itu benar-benar lengket. Hanya Yesha dan Boy yang masih menjaga jarak.


"Aku beli sesuatu tadi." Bisik Boy tiba-tiba.


"Di toko baju?"


Boy mengangguk.


"Beli apaa?"


"Depannya L."


"Sayangg, kamu..."


"Kuy nyicil cucu."


"Astaghfirullahalazim. Minta diruqyah!!"


◎◎◎


19.34


"Puas kan mainnya??" Tanya Frans.


"Eumm.."


"Kamu udah seharian main, masih gak puas??"

__ADS_1


Alika tertawa kecil, "puas kok puass. Emang kenapa sii nanya begituu?"


Frans tidak menjawab, ia mendekat ke Alika dan memeluknya erat.


"Kenapa ni kenapaa? Agak gak baguss pula hawanyaa." Frans tertawa.


"Bantuin akuu."


"Bantuin apa?" Tanya Alika heran.


"Bantu kerjain tugas kuliahh, istriku ini kan pinternya luar biasaa." Bisik Frans.


"Kalo butuh aja muji-mujii."


"Byy, aku selalu muji kamu lah. Kamu aja tu yang anggepnya gomball!" Alika cengengesan.


"Bantuin, yaa?"


"Wani piroo?"


Frans melepas pelukan lalu menatap sinis Alika.


Alika nyengir, "wani pirooo?"


"Gelemmu piroo?"


Alika tertawa mendengarnya.


"Kapan dikumpull?"


"Lusaa."


"Masih lusanyaaa. Mau dibantu kan kamuu?" Frans mengangguk.


"Jomm beliin aku jajan."


"Ya Allah, jajan muluu dipikirinn. Yaudah kuyyy!"


Frans menggandeng tangan Alika lalu membawanya menuju garasi.


"Ay, aku belum ganti baju. Masa iya pake baju tidur doangg?"


"Tetep cantikk. Kamu gimanapun juga tetep cantik, sayaangg." Jawab Frans sambil memutar mobilnya.


"Halahh, macem betoll ajaa."


"Lah betull inii. Mauu pake baju tidur kek, pake daster atau baju gembel juga tetep cantik kamu tuu. Bahkan gak pake baju juga cantik."


Plak!!


"Kotor otak kamuuu!" Frans cengengesan.


Ia meraih tangan Alika, digenggam, dielus-elus lalu dikecup punggung tangannya.


"Aku serius tauu."


"GELII FRANSS! HENTIKAN DRAMA MU!!"


Frans tertawa ngakak, Alika pun ikut tertawa.


"Kak Elina kapan married? Belum ada ngasih tau kamu?"


Alika menggelengkan kepala, "males nikah keknyaa. Mau jadi perawan tuaa."


"Hust! Gak boleh gituu, omongan adalah doa." Alika nyengir.


"Kenapa tiba-tiba tanya Kak El?"


"Gapapaa, teringat ajaa. Karena tepikir sama si Boy."


Alika menatap Frans serius.


"Boy kenapaaaa?"


"Bikin susuruprisss. Tunggu aja besok."


Frans membelokkan mobilnya karena sudah sampai di supermarket.


"Susuruprisss apaan?? Kok kami gak tauuu?"


"Yaaa akupun juga gak tauu kenapa kamu gak tau."


"Franss, jangan nyebelin!"


"Hehe, ayok turun. Katanya mau beli jajaan." Frans turun duluan, Alika pun menyusul.


"Susuruprisss aapa?"


"Nggak tau, ayy. Boy cuma bilang besok mau kasih susuruprisss. Kita juga disuruh datang ke pantaii."


"Seriously?" Frans mengangguk.


Ia mengambil troli lalu mendorongnya.


"Kenapa ya kira-kira??" Frans mengedikkan bahunya.


"Jadi jajan gakk?"


Alika melihat sekeliling. Dengan santainya ia mengambil jajanan dan memasukkan ke troli yang di dorong Frans.


Tanpa pikir panjang, Alika mengambil yang dia mau. Frans tidak keberatan, sesekali ia menyuruh Alika untuk terus mengambil jajan yang Alika mau.


"Frans, aku mo beli samyang."


"Satu ajaa."


"Iyeee." Alika mengambilnya.


"Franss, aku mau beli topokki."


"Gak usah, kan udah beli samyang."


"Kan gak sekali makannn."


"Halahh, bilang gak sekali makan. Ujung-ujungnya samyang sama topokki kamu mix." Alika cengengesan, suaminya hapal ternyata.


"Gak usah beli yang pedes-pedes dehh. Kasian perutmu nantii."


"Iyaa iyaaa." Alika kembali berjalan.


"Sekalian belanja bulanan sabi kali nih?"


"Besok aja, sayangg. Lusa deh lusaa, pulang kuliah. Jangan sekarangg, trolinga aja udah penuh jajann gini. Ntar sepenuh apaa?"


"Bener sii. Ya sudaaa, belanja bulanannya lusaa."


Selesai membeli dan membayar, Frans bersama dengan Alika kembali ke mobil.


"Ayy, aku pengen bakso pangsit."


Frans menatap Alika kesal, "kamu masak dirumah ntar yang makan siapa? Gak usah neko-nekoo, makan dirumah."


"Ihh, tapi pengennn!"


"Percuma kamu masak kalau nggak ada yang makann. Yaudah kamu aja yang beli bakso pangsit, aku gakk."


"Kenapaa?"


"Lebih enak masakan kamuu dari pada bakso pangsit."


Alika salting.


"Yang benerr niii?"


"Yaiyalah, masa boongan."


"Aaa, thank u sayangg!"


"For what?"


"Semuanyaa."


Frans tertawa melihat komuk Alika.


"Alah siaaa, gegayaan makasih makasihh."


Alika menatapnya sinis.


"Kan ak—"


Cup!

__ADS_1


"Terimakasih kembali."


__ADS_2