Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 51 Diungsikan ?


__ADS_3

Keesokan harinya, mereka kembali sekolah seperti biasa. Yesha juga santai tidak ada beban, dia melupakan tragedi gak jelas semalam.


"Yesha" panggil Daffy. Boy menarik tangan Yesha menyembunyikan di balik badannya.


"Mau apa lu?" tanya Boy sinis.


"Nggak ada, gue cuma mau bilang. Lu diundang makan malam spesial sama bokap" jelas Daffy.


"Acara apa?" tanya Danial dengan suara dingin.


"Gue gak tau"


"Echa sendiri?" tanya Alika. Daffy mengangguk.


"Tenang, gak bakal macam macam kok. Kalau mau ayok gak mau ya gak apa apa"


"Echa sibuk," Boy menarik tangan Yesha pergi dari sana.


"Echa gak bisa datang" Danial mengikuti Boy dan Yesha. Yang lain pun juga mengikuti.


-.-.-


"Dih dih, kenapa se-emosi ini si?" tanya Yesha. Dia merasakan hawa amarah di dekat Boy. Mereka berada di taman belakang sekarang.


"Mas gak mau Caca kenapa kenapa" Boy memeluk Yesha.


"Caca baik baik aja sayang" Yesha membalas pelukan.


"Jangan jauh jauh dari mas" Yesha mengangguk.


"Posesif amat, masih pacar gue itu ya" ujar orang di seberang, David. Danial menarik Yesha.


Boy maju lalu menarik kerah baju David. "Mau lo apa amjing?! Kenapa bokap lu turun tangan hah?! Anak papi lo ya?!"


David membalas tarikan bajunya. "Heh pebinor, gak usah urusin urusan gue sama yesha. Lu cuma orang luar yang gak tau apa apa"


Boy meninju David, hingga David tersungkur. "Lo gak tau apa pun tentang Yesha. Gue sama Yesha udah dijodohin dari bayi!!" Tentang ini? Ini kebohongan. Bokap Yesha dan bokap Boy rival sejak mereka kecil, Boy dan Yesha berumur lima atau enam tahun. Jadi tidak mungkin mereka dijodohkan.


"Perjodohan ya? Halu lo?!" David bangkit. Tiba tiba David membalas tinjuan Boy.


"Mas boyyyyy" teriak Yesha. Dia ingin menghampiri Boy, tetapi Danial menahannya.


"Lepasss" rengek Yesha.


"Lo bisa luka dek!!"


"Gak perduli" Yesha pun terlepas dari Danial dan menghampiri Boy.


"Hyaaaaa, mass marsell berdarahh" keluh Yesha menatap ujung bibir boy yang berdarah. Yesha ditarik David kasar.


Yesha melepas tangan David, selalu menjadi andalannya meletakkan tangan seseorang di balik badan lalu mendorongnya hingga tersungkur.


"Lo drama ya? Lo pura pura sakit luka, di gips di perban, terus bikin berita hoax jatuh dari lantai atas. Biar apa sih hah?! Biar dikasihani? Biar gue luluh gitu? Biar gue datang ngurusin lo?! Sorry sorry aja deh ya, gue sibuk!" ujar Yesha.

__ADS_1


David bangkit, dia mendorong Yesha ke dinding, dia mengeluarkan botol kecil lalu memaksa Yesha meminumnya.


Alika beraksi, dia menendang David. "Sialan lo banci! Katanya cinta katanya sayang, memang bacot lo amjing!" umpat Alika.


David tidak ingin berurusan dengan yang lain. Dia menarik tangan Yesha. Boy dan Danial mengejarnya.


Dari arah depan, Diva keluar menembakkan air dengan pistol mainan. Mata David sering terkena semprotan. Dari belakang Nara menarik tangan Yesha.


Danial menendang David, meninjunya berkali-kali. Danial tidak memberikan kesempatan untuk David. Dia emosi, keinginannya yang sedari tadi ingin menumbuk David, akhirnya tersampaikan.


David hampir mati dengan darah bercucuran di mukanya. "Bang udah bang" Alika menarik Danial. Nafas Danial memburu.


"Mau lo apa sih hah?! Kalau lo mau balas dendam ke gue, jangan libatkan adek gue!!" emosi membuncah.


"HEH HEH HEH!! APA APAAN KALIAN?!!" Yap, pak Wanto datang.


Teman teman David yang baru datang memapah David untuk di bawa ke rumah sakit.


"Bapak mau?" tanya Danial dingin. Hawa berubah, ini terlalu mencekam. Yesha menghampiri Danial lalu memeluknya.


"Abanggg, udah jangan marahh terus" Yesha menangis. Tangan abangnya sedikit berdarah. Pencampuran darahnya dengan darah David.


"Ke kantor saya sekarang!" suruh Pak Wanto.


"Drop out aja saya pak, termasuk adek saya" Danial menarik Yesha menuju mobilnya.


"Danial!!" teriak Boy. Dia pun mengejar Danial juga Yesha. Pak Wanto pusing, dia memilih kembali keruangannya.


"Ma- maaf atas kelakuan David. Baru baru ini, kami mengetahui kalau David punya Gangguan ketidakmampuan mengontrol keinginan, dia kecanduan minum minuman keras. Gak ada yang pernah tau, kalau setiap malam David meminum minuman keras setidaknya dua botol yang isinya penuh. Dia udah memulainya sejak gue koma" jelas Daffy yang tiba tiba datang.


"David juga.. seorang psychopath" semuanya terkejut mendengar perkataan Daffy.


"Makanya kemarin, bokap jemput Yesha buat ngomongin baik baik ke Yesha tentang ini. Siapa tau, Yesha bisa merubah kebiasaan buruk David atau Yesha bisa jadi obat untuk David" lanjut Daffy.


"Gue duluan, tolong jangan sebarin tentang ini. Sekali lagi gue sekeluarga minta maaf" Daffy pergi.


Dengan sengaja, Diva merekam apa perkataan Daffy tadi untuk ditunjukkan pada Yesha, Danial, dan Boy.


"Jadi gimana?" tanya Branden.


"Telfon Danial, Boy atau Yesha" suruh Nara. Mereka mengikuti perkataan Nara. Telepon dari Revin menuju Boy diangkat pihak sana.


—Boyy—


Revin; lo pada dimana?!


📞 Boy; (mematikan teleponnya)


"Sialan ni anak," cela Revin.


"Kenapa?" tanya Ikhsan.


"Diangkat habis tu dimatikan, tanpa bicara sedikit pun" tiba tiba ponsel Revin bunyi. Chat dari Boy.

__ADS_1


"Dia sharelock. Ayo" mereka pun menyusul.


★★


Dua puluh lima menit setelah Revin menelepon Boy.


"Boy, balik ke New York bawa Yesha. Lo beranikan?!" ujar Danial, mereka ada di apartemen Danial. Yesha juga ada disana, dia sedikit aneh dengan mengelilingi seluruh apartemen. Boy dan Danial tidak terlalu memperhatikannya.


"Sekarang? Terus bokap nyokap?" tanya Boy.


"Bokap nyokap gue biar gue yang urus, lo nya gimana?!"


"Gue berani berani aja. Ya cuma gue takut itu tadi bokap nyokap lo. Lo nya ntar gimana?" tanya Boy.


"Gue nyusul kuliah kesana. Yesha lanjutin SMA nya disana bareng sama lo"


"Kita gak setuju" protes Nara.


"Kabur gak nyelesaikan masalah bang" sahut Diva. Diva memutar rekaman suara Daffy tentang gangguan jiwa David.


"Terus? Gue disuruh nikah gitu sama dia biar sekamar?" tanya Yesha setelah mendengar semuanya, Yesha tertawa receh. "Ogah!" bantah Yesha.


"Jadi? Lo milih ikut sama boy balik ke New York?" tanya Alika.


"Tega lo ninggalin kita?" tanya Nara.


"Ahhh?! Harusnya gue gak pernah masuk di kehidupan anak blangsak itu!!!" keluh Yesha yang tiba-tiba menangis.


"Gila? Ni anak kenapa?! Ketularan?!" tanya Branden.


"Astagaa, David tadi kasih Yesha minum apaaan?!!!" tanya Boy.


"Wine???? Yesha sekali teguk aja udah mabukk minum gituannn" ujar Danial.


"Ahhhhhh, kenapa kacau banget sih?!" Danial mulai frustasi.


"Mas mas, ada pesawat" Yesha berbicara pada Boy.


"Astaga sayangg" keluh Boy. Tiba tiba Yesha ingin muntah, tetapi tidak jadi.


"Hyaaaaaa, echaaaaa" keluh Diva, Alika, dan Nara bersamaan. Yesha melambaikan tangannya dengan mata sedikit tertutup.


"Huh.. jadi lo pilih pilihan yang mana?" tanya Revin.


"Menurut kalian apa?"


"Lo tanggung, sebentar lagi tamat. Yesha emang dua tahun lagi, tapi.. belibet kalau dia harus pindah ke New York" ujar Ikhsan.


"Bijak juga bapak yaa" Yesha masih mabuk menyahuti perkataan Ikhsan.


"New York ayem kamingg, piyu piyuu" ujar Yesha.


"Ah udah makin gila ni anak"

__ADS_1


__ADS_2