Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 91 Ohhh ternyata...


__ADS_3

"Gue mimpi gak?"


Pertanyaan kesekian yang ditanyakan Yesha. Mereka ada di kafe, Yesha sedang mentraktir semua temannya, Wolfbr juga ikut bergabung.


"Gue mimpi kagaakk woi?!"


"Nggak ca nggakkk, di kata nggak daritadi" jawab Nara.


"Ini aneh"


Yesha menatap cincin di jarinya. "Beneran gue gak mimpi kan?"


"Tadi gue udah tawarin kan, mau di tampar nggak?"


"Aihh, ngga gitu juga bambang" jawab Yesha kesal sambil menatap sinis Alika.


Yesha mengubah tatapannya, dia menatap Boy sekarang.


"Kamu nggak mimpi sayang"


Cup~


Cup~


Boy mengecup pipi kanan dan kirinya. "Nggak mimpi"


Yesha menatap Boy sambil tersenyum lebar.


"Gue cabut deh kalau gini, gue jones sendirii!!" protes Ikhsan, mereka tertawa.


"Itu cewek solo, San" Boy menunjuk cewek yang berada dua meja di depan mereka.


"Serem, kalau tiba-tiba pacarnya datang bisa mati gue" Boy tertawa.


"Langsung ntah kemana la mikirnya, usaha dulu bangg"


"Oke, mari kita coba" Ikhsan berdiri dari duduknya.


Revin menarik tangan Ikhsan. "Mirror dulu cobak! Muka lu lecek banget anying"


"Rambut juga berantakan, wagilasi. Gue aja langsung geli di deketin jamet kea lu bang" sahut Khansa.


"Yee bangsatt lu mah!" Khansa cengengesan.


"Sini sini biar Dipsi bantu" Diva mengambil tasnya.


Dia mulai mendandani Ikhsan. Diva juga menata rambut Ikhsan. "Jangan lu apa-apain muka gua ya dip, aneh-aneh mampuss lu ntar gue garap"


"Napas lu berenti sampe garap bini gue" sahut Branden.


"Cieee.. cemburuuu" ledek Danial. Mereka tertawa lagi.


"Nah, udah ni bang. Sono, good luck!"


"Kaca dulu mana?! Ntar muka gue kea badutt" Diva memberikannya kaca.


"Ganteng juga gue"


"NAJISS pedean" Ikhsan menatap sinis Revin yang tertawa.


Perlahan, Ikhsan menuju meja cewek yang dimaksud tadi. Baru dua langkah dia jalan, seorang pria menghampiri meja cewe tadi. Ikhsan mundur alon-alon.


"Yah mundur yah yah"


"Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo aselole josss"


Mereka tertawa ngakak mendengar Khansa bernyanyi.


"Bangsatt banget si Khansa emang" ledek Alika masih terkekeh.


"Coba lo pada liat mukanye si Ikhsan"


"Astaga, SAD BANGETT HAHAHAHA"


"Astaghfirullah, kalian butuh di azab emang" kata Ikhsan dramatis.


Mereka makin terkekeh. "Nasib muka terlalu ganteng, jadi gak laku" ujar Ikhsan sambil memainkan rambutnya.


"Gue mo muntah si dengernya" ujar Nara.


"Sumpah laknatt"


"Hahaha"


"Ikhsan SADBOYY"


"Gue baik hati nih bang, lu mau gak kencan buta?" tawar Frans.


"Ogah NAJISS, ntar kalau mukanya jamet kek mana?"


"Yah.. lu kan juga jamet bang" ceplos Alika.


"Cekek dosa gak yaa" Alika cengengesan.

__ADS_1


"Lu bedua masih basah, gak kedinginan?" tanya Nara pada Boy dan Yesha.


"Dikit sih" jawab Boy sambil mepet pada Yesha.


"Betingkah pula pelukan ujan-ujanan, kalau pelukan salju-saljuan kayak di drakor mending" cibir Danial.


"Emang ada bang drakor salju-saljuan?" tanya Diva.


"Ada, pemainnya ganteng"


"Wahh gak nyangka ternyata bang Danial demen drakoran" ledek Khansa.


"Jangan salahhh, bentar lagi gue debut jadi aktor" ujar Danial.


"Aktor? Peran jadi gembel?" tanya Alika datar.


"Lu ada masalah hidup apa si?" Alika terkekeh.


"Debut dimana bang?" tanya Diva sok mengikuti alur perhaluan Danial.


"Gue udah debut jadi aktor di Korea, kan kemaren gue gak masuk tuh. Gue udah jadi aktor di drama Start up. Jadi Han Ji-Pyeong"


"Najisss haluukk"


"Hahahaha"


"Emang serba najiss harini"


Mereka terkekeh lagi.


"Permisi bos, maaf mengganggu"


Mereka menoleh. "Oh, mana bajunya?" tanya Boy. Bodyguard Boy memberikan dua paper bag.


"Oke thank you"


Bodyguard nya membungkuk lalu pergi. "Ayok ganti" ajak Boy.


"Nggak usah ah" tolak Yesha.


"Ganti sonoo, ntar lu sakitt" omel Danial.


"Aku gak mau kamu sakit, ayok" ajak Boy lagi. Yesha pun mengikuti Boy. Mereka pergi ke toilet kafe.


Beberapa menit kemudian mereka kembali dari toilet dengan setelan couple, sama sama sweater berwarna mocca dan celana jeans.


"Cocok banget si kalian, serasi" Yesha cengegesan.


"Sengaja couple?" tanya Danial.


"Ahh iya, kamu kemaren suruh orang ke kantin kampus?" tanya Yesha.


Boy berfikir lalu menggeleng pelan, "Mereka gak pernah deket. Cuma mantau dari jauh"


"Aneh"


"Masih kepikiran cak?" tanya Diva. Yesha mengangguk.


"Mungkin kebetulan" sahur Nara.


"Lu bakal balik lagi ke New York bang?" tanya Frans mengalihkan topik.


"Gue udah Sarjana. Sarjana tercepat dari yang lain"


"Serius?" tanya Revin. Boy mengangguk.


"Terus, lu kapan pulangnya?"


"Tadi pagi jam tiga"


"Wah... wah.. salut sih, paginya langsung ujan-ujanan loh demi ketemu Echa"


"Rindu gue berat banget, gabisa dipendemm" jawab Boy sambil menatap Yesha.


"Aaaa" Yesha memeluk Boy. Boy membalasnya.


"Jangan uwu-uwuan depan gue! Mengertilah nasibnya jomblo" rengek Ikhsan.


"Salah lu sih, netapin standar muka kayak Irene Red Velvet, seksi kayak Seulgi, imut kayak Park Bo-Young"


"Sanjay Sanjay Sanjayyyy, Revin Danial sudah kerasukan dunia lain"


Mereka terkekeh.


"Btw, lu bedua udah dapat restu sah?" tanya Ikhsan.


Yesha menghentikan suapannya karena pertanyaan itu. "Belum" jawab Boy pelan.


"Gue bakal usaha demi Caca" Yesha menatap Boy sambil tersenyum.


"Kalau nyatanya tetep ga direstuin?" Revin menampol Ikhsan.


"Sama aja lu do'ain begoo"

__ADS_1


"S-sorry"


Boy tersenyum paksa, "Gue bakal terus berjuang, sama kayak Sersan Seo Dae Young yang berjuang demi mendapatkan Letnan Yoon Myeong-Ju dalam drama Descendant of The Sun"


"Tapi Seo Dae Young nggak berjuang apapun lah" jawab Danial.


"Dia berjuang, di akhir. Kan ada tu dia bilang, kalau dia bakal cari cara demi di akui sama bapaknya Yoon Myeong-Ju. Kan namanya dia berjuang" balas Boy.


"Wah... demam drakor semua kaliann?" tanya Alika heran, mereka berdua cengengesan.


"Eh ca, anting lu emang cuma atu? Gue salpok dari tadi" tanya Diva.


"Hah?" Yesha meraba antingnya.


"Kok cuma satuuuuu?! Telepas di kamar mandi kayaknyaa, bentar gue cari" Yesha pergi dari mejanya.


Tiba-tiba


Bruk...


Yesha di tabrak, ntah menabrak. "Sorry" ujarnya. Pria misterius itu ingin pergi.


'ini... wangi yang sama di kantin waktu itu'


Secepatnya Yesha menarik kerah baju pria ini. "Kenapa lu caaa?" tanya Khansa mewakili mereka.


"Ini.. yang dikantin kemaren"


Yesha menarik topinya, lalu membuka paksa maskernya. Pria ini menunduk, namun perlahan mendongak.


"Da-David?"


"Long time... no see"


Boy bergerak menarik Yesha. "Lu mau apa?"


"Nggak ada"


"Lu.. lu yang kemaren di kantin?" David mengangguk perlahan.


"Boleh... gabung?"


"Boleh" jawab Yesha langsung.


"Echa gila, fiks!"


"Cari tempat lain" sulut Danial.


"Lu pergi aja deh sono" kata Alika ketus.


"Gue... bakal pergi setelah peluk Echa"


Danial beranjak, "Lu tololl?"


"Sepuluh detik, cuma sepuluh detik"


"Nggak" tolak Boy. David tersenyum paksa lalu menundukkan kepalanya.


Yesha menggeser Boy, lalu maju mendekat ke David. "Cacaa!!"


"Echaa!!"


"Only ten second" David mendongak.


Dia tersenyum lalu memeluk Yesha. "Gue rindu ca, rindu.. rindu banget"


"Gue minta maaf buat yang kemaren-kemaren, gue khilaf bener-bener khilaf. Gue minta maaf"


"Sepuluh detik habis" ujar Boy sinis. David melepas pelukannya.


"Lu apa kabar?" tanya Yesha.


"Wah.. Caa"


"Oh ayolah, only you in my heart, don't be jealous, okay?"


Boy menghela nafasnya.


Cup~


"Just a second, baby" Boy mengangguk pelan.


Yesha kembali menghadap David. "Gue.. baik-baik aja"


"Lu sendiri?"


"I'm fine, lo sedikit berubah ya"


"Berubah gimana? Makin ganteng?" Yesha tertawa pelan.


"Masih tetep sama ternyata"


"Lu belum nikah kan ya?" tanya David. Boy langsung menatap sinis David.

__ADS_1


"Gue tau itu, gue bakal berdo'a sama Tuhan biar lu bedua gak di restuin. Gue juga bakal berdo'a di sepertiga malam demi dapetin lu lagi"


"Vid, lo mau mati sekarang?"


__ADS_2