Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 70 Lari terosss


__ADS_3

"Morning!!!!" teriak Yesha sambil berteriak.


"Gilaaa lu! Tumben bangun pagi? Kerasukan apaan tadi malem?" tanya Nara.


"Gue mah curiga dia kerasukan makhluk astral gitu" sahut Alika.


"Gue sih yakinnya, dia abis kisseu sama kak Boy" sambung Diva.


"Ngaco lu pada! Udah buruan besiap lari pagi" ajak Yesha.


"Tuh kan kerasukan" Yesha menatap datar Alika. Alika tertawa.


"Di lihat, di terawang, dan di prediksi. Kayaknya echa bukan kerasukan deh" ujar Diva.


"Jadi apa?" tanya Alika dan Nara.


"Salah minum obat" kata Diva dengan wajah tanpa dosa.


"Nggak dipp, bukan salah minum obat. Tapi overdosis minum obat!" sahut Nara.


"Bener-bener!" balas Alika.


"Sialan lu pada" kata Yesha dengan tatapan datarnya.


"Ahahahahahah"


"Eh ngomong-ngomong teh, teteh echa sakit apaan?" tanya Gendis.


"Sakit jiwa!!" jawab Alika, Diva, dan Nara kompak.


"Jual temen, minat? Pc author!"


"Hahahaha"


•±•


"Seger banget demi apa"


"Hm.. di kota mah pagi gini yang di hirup asep" sahut Diva.


"Asep? Asep siapa? Pacar baru?" tanya Yesha.


"Lah?"


"Kan asep"


"Bukan asep, asEp goblokk. Asepp asap!!" cela Diva.


"Ya nggak bilang, gue kira Asep" balas Yesha.


"Hobinya cari ribut emang" kata Diva kesal.


"Gantian dong, kan daritadi kalian yang cari ribut. Sekarang gue"


"Bacot mulu lu bedua gara gara si asep" sahut Alika. Yesha tertawa.


Mereka lanjut lari pagi. Tiba tiba, empat orang pria berdiri di depan mereka.


Pria pertama memakai hoodie putih, pria kedua memakai hoodie hitam, pria ketiga menggunakan hoodie abu abu, dan pria yang terakhir memakai hoodie biru laut.


Keempat-empatnya menggunakan masker dan juga memakai tudung hoodie. Crazy bacot berhenti.


"Ehem, bisa kasih jalan?"


"Bisa minggir?"


Yesha dan pria hoodie hitam kompak.


"Minggir!" bentak Nara.


"Penduduk baru ya?" tanya pria hoodie biru laut.


"Bukan urusan lo! Minggir" jawab Nara. Mereka tidak bergerak sedikitpun. Malah berdiri santai sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


"Mau dengar saran?" tanya Diva.


"Apa?" tanya pria hoodie putih.


"Jika kalian pergi sekarang, tidak akan ada yang terjadi" ujar Crazy Bacot kompak.


Para pria ber-hoodie itu tertawa.


"Kalian remehin kami?" tanya Diva.


"Bisa dibilang begitu. Kalian wanita, sekuat apasih sampe ngancem begituan?" tanya pria hoodie abu-abu.


Mereka berempat saling bertatapan.


"Mulai!"


Crazy Bacot langsung maju dan menendang pria yang ada tepat dihadapan mereka.


"Wah bener-bener. Masih pagi coy" keluh Alika.


"Cuma segitu?" tanya pria hoodie biru laut.


"Ahh.. kurang ya?" tanya Nara mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Nara ingin maju, namun Yesha menahannya.


"Gue curiga, kenapa mereka gak bales tapi malah pasrah? Mereka ini siapa?" tanya Yesha berbisik.


"Gue juga curiga sih, yang pake hoodie putih itu gue pernah liat. Tapi lupa dimana" sahut Alika berbisik.


"Kita buka aja dulu maskernya" mereka berempat maju perlahan.


"Kalian siapa?" tanya Diva pada pria hoodie biru laut.


"Manusia" jawabnya. Diva melepas tudungnya dan menarik tali masker di telinga sebelah kanan.


"Branden?"


"Halo"


"Sialan lu!!" Branden tertawa.


"Mampuss kan ketendang!" kata Alika kesal.


"Betingkah pula" sahut Nara.


"Ampun dah gua cari masalah sama cewek jadi-jadian" kata Khansa, pria hoodie biru laut.


"Masih kurang tinjauannya ya pak?" tanya Nara.


"Bercanda" Khansa tertawa.


Nara membantu Khansa, Diva membantu Branden, dan Alika membantu Frans berdiri.


Sedangkan Yesha masih disamping pria hoodie hitam, tanpa bergerak sedikitpun.


"Ngapa gak lu buka ca?" tanya Alika.


"Udah bisa nebak, gue. Males ah" Yesha berdiri sendiri.


Ehhhhh tangannya ditarik.


"Ya jangan marahh" ujar pria itu sambil memeluk Yesha.


"Bodo amat" kata Yesha.


"Dih ngambek"


"Bang Boy, bangun dah. Gak epic posisinya lu bedua ditanah begini. Ntar penduduk liat bisa ******" ujar Frans.


"Di paksa nikah muda mampuss" sahut Khansa.


"Besyukur gua mah nikah muda sama echa" jawab Boy.


"Pengen saya tampol pake sepatu mahalnya Diva. Lepas gak?!" suruh Yesha. Boy melepas pelukannya.


"Apolai?!" Boy menunjuk ke belakang dengan tatapannya.


Ternyata ada paret, untung ditarik jika tidak Yesha mandi air got pagi ini.


"Sakit gak tadi di tendang?" tanya Alika pada Frans sambil bersidekap.


"Sakitt. Banget malah" jawab Frans.


"Makanya jadi orang jangan betingkah!"


"Ampun mbak jago"


"Anjirrr"


"Haahaha"


∆∆


"Kalian tumben lari pagi?" tanya Branden. Mereka melanjutkan lari pagi keliling desa.


"Tadi dibangunkan si echaa" jawab Diva.


"Kerasukan dia?" tanya Khansa.


"Feeling gue mengatakan dia gak kerasukan sih."


"Bang boy, lu abis kisseu sama Echa ya tadi malam?" tanya Diva terang-terangan.


"Kagak, mana ada yang begituan sebelum halal" jawab Boy.


"Aaaaa jadi sayang" kata Yesha memeluk Boy dari belakang.


"Berarti tebakan kedua gue bener, dia salah minum obat" balas Diva.


"Anjibb"


"Hahahah"


"Eh btw, tadi perasaan gue echa marah sama Boy kok sekarang pelukan?" tanya Khansa.


"Oh iya lupa" Yesha melepas pelukannya.


"Khansa jancokkk!!!"


"Bwhahahahahaa"

__ADS_1


·–––


13:57


"Balik kapan? Sore ini atau besok" tanya Nara.


"Besok" jawab Revin.


"Kenapa?" tanya Danial.


"Gapapaa tanya doang" kata Nara.


"Ahh gue laper, makan apa?" tanya Alika.


"Kita ambil ayam aja dirumahnya bang Guntur, tadi bang Guntur udah nawarin juga" ajak Naufal.


"Yoda yoklaa" ajak Diva.


"Bentarr" Yesha mengambil ponselnya yang di charger lalu mengunci pintu, mereka pun pergi menuju rumah Guntur.


-


"Es krim pop, harga seringgit"


"Nak beli, gak punya duit"


"Nak minta, oomnya pelit"


"Kusumpahin oomnya masuk parit"


"Hahahah" crazy bacot spontan nyanyikan lagu itu ketika mendengar suara lagu penjual es krim.


"Nggak ada akhlak lu berempat" cibir Ikhsan. Crazy Bacot tertawa lagi.


"Btw, itu suaranya dimana ya?" tanya Diva.


"Iya njirr, suaranya mana?" tanya Yesha juga.


"Jangan bilang...?"


"Aaaaaaa" mereka berempat lari gak tentu arah.


Bodohnya!


Para cowok juga ikut berlari.


-.


"Anjirrrr, gila. Ah capek" mereka berhenti di jalanan kecil. Sebelah kanan sawah, sebelah kiri bagian belakang rumah warga.


"Help me. Gak kuat aing.. hosh.. hosh.." keluh Diva.


"Eh anying, Ini batu apa ****?" tanya Alika melihat batu berwarna putih didepan kakinya. Dia memegangnya sekarang.


"Batu biasa itu mah," jawab Naufal. Alika membuangnya asal.


Kwek.. Kwek..


"Ciaa.. lu lempar kemana noh batu hah?" tanya Nara.


"Kagak tau na, kan asal aja tadi" jawab Alika.


"Firasat dedek Dipsi gak baik" sahut Diva. Mereka berbalik badan bersamaan. Ternyata ada angsa putih dibelakang yang siap mengejar mereka.


"Ige mwoya?! Ottoke??!!" mereka pun melarikan diri lagi.


××


Mereka berlari sampai dirumah nya Guntur dan Gendis.


"Aaaaah, capekk" keluh Nara.


"Ini semua Alika punya pasal!" balas Diva. Semua menatap Alika.


"Mianhae oppa, mianhae eonni! Jeongmal mianhae" kata Alika cengengesan.


"Kenapa pada ngos-ngosan?" tanya Guntur yang baru muncul.


"Abis dikejer angsa" jawab Danial.


"Aturannya teh jangan lari" usul Guntur.


"Jadi? Diem aja gitu? Auto mampuss" sahut Ikhsan. Guntur tertawa.


"Bang, beli ayam" ujar Boy.


"Nggak usah beli atuh, ambil aja dibelakang. Tapi, tangkap sendiri ya? Saya teh mau ke sawah, dirumah cuma ada gendis"


"Yowes rapopo" jawab Alika.


"Saya pergi dulu, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak.


"Okeee, kita kebelakang sekarang tangkap ayam!" ajak Diva. Mereka serentak ke belakang rumah Guntur ingin menangkap salah satu ayam.


"Kenapa ayamnya natap sinis gini sih?" tanya Alika heran.

__ADS_1


"Mau nyerang kita deh kayaknya, persiapan. Siaga 1!" Nara dan Alika mengambil ancang-ancang.


"Lu bedua mau ngapain?"


__ADS_2