Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 40 About Bryant


__ADS_3

"Gue mau jujur sama kalian.."


"Jadi gini.."


"Sebenarnya gue bukan Bryant"


"Gak usah nipu dah lu, tiap detik lu itu Bryant" protes Naufal.


"Gue bukan Bryant."


"Bryant.. udah meninggal satu tahun yang lalu"


Deg!


Semua menatap Bryant yang katanya bukan Bryant.


"Bryant sakit kanker, yang udah parah. Sampe akhirnya, dia gak sanggup dan.. pergi dari dunia" jelas Bryant.


Semua terkejut, mereka bingung harus apa sekarang.


"Bryant.. banyak cerita tentang kalian ke gue. Tapi.. pasti kalian gak tau banyak tentang dia" Bryant KW ini mendongak untuk membantu air matanya tidak turun.


"Gue.. gue minta maaf. Gue bohongin kalian setahun belakangan"


"Gue minta maaf sama lu ca. Gue bohong kemaren"


"Jadi.. Lo siapa dan kenapa mirip banget sama Bryant?" tanya Alika.


"Gue? gue boy. Abang kandung Bryant yang beda satu tahun sama Bryant."


"Beda satu tahun? Tapi.. tapi kenapa lo mirip banget sama Bryant?" tanya Revin. Bryant berdiri mengambil minuman di tempat kulkas lalu berdiri


"Gue juga gak tau kenapa kita berdua mirip banget layaknya adek kakak kembar. Tapi nyatanya kita emang beda satu tahun"


"Bryant pasti gak pernah cerita kalau dia punya kakak"


"Bryant pasti bohong tentang nama bokap"


"Dia pernah pesan ke gue. Buat, nggak kasih tau kalian tentang ini, tapi.. gue gak sanggup buat pendem semuanya sendiri. Dan gue juga capek pura pura jadi Bryant."


"Bokap gue bukan Bisma. Bokap gue Bastian Narendra"


"Lo" Danial bereaksi. Boy mengangguk.


"Rival bokap lo" balas Boy.


"Gue Boy. Boy Marsel Narendra" ujar boy.


"Gue kuliah kedokteran, semester 3. Gue biasa dipanggil boy. Tapi dulu.. ada yang panggil gue Marsel dan gue yakin dia kenal gue sekarang" Yesha menatapnya.


"Mas Marsel" lirihnya. Boy tersenyum. Yesha berdiri lalu memeluk boy. Boy meletakkan minuman kalengnya lalu membalas pelukan Yesha begitu erat.


"Siapa bang?" tanya Nara pada Danial.


"Dia.. cinta pertama Yesha" jawab Danial.


"Caca rindu sama mas, rindu banget" ujar Yesha.


"Mas juga rindu sama caca" balas Boy.


"Maafin mas bohong kemaren"


"Mas tau, mas ingat kamu gak suka dibohongin kan" Yesha mengangguk.


"Maaf ya" Yesha mengangguk lagi.


"Udah pelukannyaa" protes Ikhsan. Yesha melepasnya.


"Apa sih bang ican. Syirik bener lu jones" ledek Yesha.


"Sabar san sabar" ujar Ikhsan.


"Gue udah jujur sekarang. Jadi.. gue gak bisa terusin SMA gue karena harus lanjutin kuliah gue"


"Lulusin setahun dulu dong. Pliss. Masa iya ada gue lu malah pergi" keluh Yesha. Boy menyentil kening Yesha.


"Eh iya maap"


"Lulusin setahun dulu yaaa.. yayayaayaaaa. Ya mas yaaaa" pinta Yesha.

__ADS_1


"Ca, kuliahnya dia gimana?" keluh Danial.


"Is abang juga nganggep mas Marsel rival? Ayolah bang. Tega banget lo" keluh Yesha.


"Udah gak usah ngambek, sok sok dingin lagi tiap hari. Be yourself" ledek boy.


"Berisik lu" Boy menyentil kening Yesha lagi.


"Issss.. sakit" Yesha mencubit boy.


"Sakit jugaaa" balas boy. Yesha menjulurkan lidahnya.


"Wah, dibalik sikap Yesha ada yang ginian juga ya?" tanya Naufal.


"Baru tau? Caca mah lebih dari ini. Dia manjaaaa banget,"


"Gak usah buka aib" Boy cengengesan.


"Jadi, lo eh bukan.. abang mau balik kuliah dan berhenti di SMA?" tanya Frans.


"Santai aja. Jangan kaku gitu," suruh Boy.


"Jadi gak enak"


"Santai ajaa, anggap gue gak pernah bilang ini sebelumnya." balas Boy.


"Beda setahun sama Bryant? Harusnya sebaya bang Febri kan. Tapi kenapa udah semester tiga kuliah?" tanya Diva.


"Gue sekolah dilompatin karena terlalu pinter" jawab boy.


"Dih narsis" Yesha menutup muka Boy.


"Beneran tau" balas Boy.


"Bodo amat" Yesha pergi dari dekat boy.


"Ca sini deh"


"Gak mau"


"Sini dulu"


"Gak mauu"


"Gue jemput tar malem. Dandan yang cantik. Jangan kayak gembel" bisik Boy.


"Bodo amat. Kagak denger" balas Yesha. Boy tertawa.


"Apa ini cinta sejati?" tanya Naufal.


"Gue rasa gitu" jawab Revin.


"Balik kuy," ajak Yesha.


"Dih tumben cepet" protes Nara.


"Males gue disini. Bang Danial gak asik" Yesha melirik Danial yang terlihat tidak suka. Dia pun pergi dengan mobilnya.


"Eh gue juga mau balik. Ayam gue belom makan" pamit Nara.


"Gue juga ahh" sahut Alika.


"Kita bertiga balik dulu. See you tomorrow" sambung diva.


"Gausah sok Inggris" protes Branden.


"Diem lu Malik" balas Diva cengengesan lalu pergi.


Di basecamp


Drrrttt..


✉️


My honey 💖;


Jemput dong sayang.. aku da sampe.


"Eh gue duluan, pacar gue balik" pamit Revin.

__ADS_1


"Siapa? Agnes?" tanya Ikhsan. Revin mengangguk.


"Tunggu.. sejak kapan bang epin punya pacar?" tanya Naufal.


"Dari mereka SMP kelas 3 pal pal" balas Ikhsan.


"Ajib, lama bener" sahut Boy.


"Yauda gue balik dulu" Revin pun pergi.


Drrrttt...


Kring.....


"Kok barengan?" tanya Ikhsan pada Naufal.


"Lu ikut-ikut gua" balas Naufal.


"Angkat aja kenapa sih. Riweh dah" balas Frans. Mereka berdua mengangkat teleponnya.


"Gue disuruh balik, adek gue nangis" pamit ikhsan.


"Ciahhh, sayang adek ya lo" ledek Khansa.


"Bicit" balas Ikhsan.


"Gue juga mau balik, emak gua ngidam" pamit Naufal.


"Eh serius???" tanya Branden.


"Ya nggak lah. Gila aja" balas Naufal. Naufal dan ikhsan pun pergi.


Tak lama kemudian, Branden, Khansa dan Frans juga kembali kerumah. Tersisa Boy dan Danial di basecamp.


"Kenapa lo balik ? Kenapa lo harus gantiin posisi Bryant"


"Karena itu permintaannya, permintaan Bryant" jelas Boy.


"Terus, kenapa lo harus ajak Yesha dan tiga temannya yang lain buat jelasin siapa diri lo?" tanya Danial.


"Gue sayang Caca. Gue mau dia inget sama gue. Dan gue bisa mulai dari awal" jawab boy santai.


"Bokap lo dan bokap gue..."


"Gue bakal yakinin mereka nanti. Kalau lo gak keberatan, izinin gue deket sama Yesha sekarang" potong boy.


"Gue gak keberatan kalau adek gue bahagia. Tapi gue masih gak bisa dukung lo sama adek gue. Gue takut, dia sakit hati lagi" jelas Danial.


"Gue bisa ngertiin itu"


"Gue minta maaf kejadian dulu. Gara gara itu kita renggang dan.. ya bokap lo dan bokap gue jadi musuhan gini"


"Udah berlalu, gue juga udah lupa"


"Bokap lo apa kabar?"


"Baik, bokap lo?" tanya Danial.


"Alhamdulillah sehat"


"Kalau lo beneran serius sama Echa. Tunjukkin, gue gak mau adek gue dimainkan untuk kedua kalinya"


"Gue emosi kemaren sama David. Pengen gue bunuh itu anak"


"Gue bingung, kenapa lo malah ijinin Caca waktu itu"


"Gue juga nyesel" balas Danial.


"Biarin berlalu, kita mesti support Caca sekarang"


"Dari dulu lo selalu panggil Yesha Caca, kenapa?"


"Lu tau permen Caca Caca itu?" Danial mengangguk.


"Dia kecil, manis dan berwarna. Itu juga sama seperti Yesha, dia kecil, senyumnya manis, dan hidupnya selalu berwarna" jawab boy.


"Oh gitu?" Boy mengangguk.


"Sa ae lu kutil badak" balas Danial. Boy cengengesan.

__ADS_1


"Gue harap lu bukan buaya kayak David boy"


"Gue bakal jaga Caca sampai kapan pun. Dan gue janji, gak bakal sakiti dia." ujar Boy yakin.


__ADS_2