
"Aaaaaaaaaahhhhhhhhh!!!" Nara terbangun, dia mengusap kasar mukanya. Ketika pulang tadi Nara langsung tidur, dia kebablasan sampai melewatkan sholat Maghrib. Begitupun dengan Yesha, dia tidur di apartemen David bersama dengan David dan Danial.
"Mimpi apa gue tadi ya allah?" tanya Nara.
"Gak mungkin gak mungkin" Nara berbicara sendiri.
"Ahhh kalau nyata gimanaaa?" Nara pun bangun dan mencari ponselnya.
—Echaak—
Nana; Halo ca assalamualaikum.
📞 Echaak; waalaikumsalam kenapa?
Nana; Lo kenapa ngos ngosan?
📞 Echaak; mimpi buruk gue. Lo kenapa?
Nana; sama!
📞 Echaak; mimpi apa Lo??
Nana; gue mimpi Diva bunuh diri dari lantai 2 rumahnya.
📞 Echaak; gue juga mimpi gitu naaa!! Tapi gue Alika bukan diva.
Nana; gimana dong ini?
📞 Echaak; kalau mimpinya nyata gimana?
Nana; ini bukan drakornya jong-suk oppa gobl·ok.
📞 Echaak; ya siapa tau.
Nana; kita cek aja ca. Lo kerumah cia, gue kerumah dipeh.
Nana; eh tapi, apa Lo bisa? Kaki Lo?
📞 Echaak; udah tenang aja. (Mematikan teleponnya)
"Gue harap gak nekat lo berdua" ujar Nara. Dia mengambil baju panjangnya lalu keluar, pergi menggunakan mobil sport kesayangannya.
______________________
"Kamu baru pulang?" tanya Ardi, papi diva.
"Mata kamu kenapa?" tanya Farah gantian. Diva mengabaikan perkataan mereka lalu pergi ke kamar.
"Diva!" panggil Ardi tegas, dia berhenti tanpa berbalik.
"Huft.. kosongkan jadwal kamu besok malam. Calon mertua kamu bakal kerumah" kata Ardi. Diva berbalik, menatap tajam kedua orang tuanya yang sedang tersenyum.
"Calon mertua? Calon mertua apa sih pi?!" tanya Diva.
"Ya calon mertua, kamu papi jodohkan" kata Ardi.
"Ahh, dijodohkan? 17 tahun diva hidup tanpa belas kasih sayang mami papi, sekarang tiba tiba mami papi mau jodohin diva? Wah wah.. gak guna banget diva hidup kalau gini" kata Diva.
"Dijodohkan kenapa? Karena mau nyelamatin perusahaan papi iya? Diva dijual ternyata" lanjutnya.
__ADS_1
"Nggak gitu sayang, kamu salah paham" sahut Farah.
"Mami papi minta maaf, karena jarang perhatian sama kamu. Perjodohan ini bukan untuk perusahaan papi. Ini untuk kamu, mami papi gak mau kalau kamu kesepian terus menerus" jelas Farah.
"Ini jaman modern masih ada perjodohan?" tanya Diva.
"Kalau gak mau Diva kesepian, kasih waktu luang sedikit aja buat Diva!"
"Percuma Diva hidup, gak merasakan kasih sayang apa pun" lanjut Diva, dia berlari cepat menuju kamarnya di lantai dua.
"Diva! Divaaa!" panggil Ardi dan Farah bersamaan. Diva mengabaikannya dan tetap pergi ke lantai atas. Sesampainya disana. Dia banting diri ke kasurnya.
"Hidup mu menyedihkan diva, semua gak berjalan sesuai ekspektasi mu. Kamu gak berguna jadi untuk apa hidup?" tanya Diva pada dirinya. Dia keluar lalu pergi ke balkon. Menatap langit yang penuh bintang.
"Bintangnya jahat, kenapa dia muncul waktu gue sedih?" tanya Diva.
"Diva be·go! Harusnya Lo gak ketemu Ajef tadi. Ahhh" diva jongkok sambil meremas rambutnya. Lima menit kemudian dia kembali berdiri, berencana bunuh diri.
"Akhiri sekarang div, gak bakal ada yang peduli" kata diva. Ketika diva ingin menjatuhkan dirinya, Nara menarik tangan Diva. Dia sudah tiba lima menit yang lalu, Nara langsung menuju kamar Diva. 'apaan ini? mimpi gue nyata?' tanya Nara dalam hati saat melihat satu kaki diva yang keluar dari pagar balkon. Dia terbengong, sampai akhirnya tersadar lagi karena suara Diva.
"JANGAN BE·GO! NAIK LO SEKARANG!!" teriak Nara. Diva tersenyum, dia ingin melepas tangan Nara.
"Gue bukan Do boong soon yang kuat angkat beban berat div! Naik!!!" suruh Nara.
"Percuma" kata Diva. Nara berusaha terus menerus menarik Diva, sampai akhirnya diva gagal bunuh diri. Nara langsung menarik tangan Diva lalu membawanya pergi. Nara juga sempat pamit kepada orang tua Diva.
Di dalam mobil hening, Nara memilih menelpon Yesha.
—Echaak—
📞 Echaak; aman?
📞 Echaak; apart David.
Nara; gila aja, ngapain lo?
📞 Echaak; ntar gue jelasin, cia disini. Buruan kesini kalian! (mematikan teleponnya)
Nara kembali fokus mengemudi dengan kecepatan sedang.
"Na" panggil Diva. Nara melihat sekilas lalu kembali mengemudi. Diva terus memanggil Nara, yang tujuannya menggoda Nara supaya bicara. Tapi bibir Nara tetap diam tertutup rapat.
★★★
Sebelas menit lewat lima belas detik, mereka sampai di apartemen David. Nara keluar sambil membanting pintunya, mengagetkan Diva.
Jangan tanya gimana marahnya Nara, jika emosinya meluap luap, apapun bisa dia hancurkan.
"Nana semarah ini, gimana Echa, bisa mam·pus gue" gumam Diva.
"Turun atau tetap disini?" tanya Nara datar. Diva pun keluar. Nara berjalan dengan cepat.
Ceklek...
Saat Nara membuka pintu, Nara melihat Alika disana sambil menunduk. Tangannya luka. Kemungkinan dia melukainya dengan pisau. Sedangkan Yesha, santai sambil bermain pubg.
"Mana bang Febri sama David?" tanya Nara sambil membanting tubuhnya di sofa.
"Gak tau ngilang, mana dia?" tanya Yesha. Tak lama kemudian muncul Diva yang juga menunduk.
__ADS_1
Tiga menit keheningan. Tiba tiba Yesha membanting hpnya. Tidak ada retakan sedikit pun di hp Yesha.
"Kemana otak kalian?" tanya Nara.
"Hah?" balas Diva dan Alika bersamaan
"Kalian berdua be·go apa to·lol? Gara gara Ajef, kalian sampe mau bunuh diri? Kalau aja gue sama Nara gak mimpi tentang ini.."
"Gue gak tau lagi harus gimana" kata Yesha.
"Ja.. jadi kalian..."
"Sebodoh itu kalian demi Ajef ngelukain diri sendiri? Kalian waras? Cowok diluar banyak!" sahut Nara memotong pembicaraan Alika.
"Gue capek, gue frustasi, gue hidup gak guna. Gue hidup selama ini karena kalian yang support gue.. hiks hiks... Mami papi gue gak pernah ngertiin gue." curhat Diva, dia menangis.
"Nggak gitu caranya diva!" sahut Yesha.
"Gue.. gue dijodohin. Gue gak tau harus gimana. Gue gak pernah dapat kasih sayang dari mereka, mereka jarang ada waktu buat gue. Sekarang? Mereka tiba tiba bilang gue mau dijodohin biar gak kesepian. Gue ngerasa... Hiks hiks... Gue ngerasa hidup gue gak bergunaaa" lanjut Diva. Yesha berdiri dari tempatnya, jongkok dihadapan Diva diikuti Nara. Luka dilututnya, berdarah cukup banyak karena dari tadi memaksakan diri.
"Bukan gitu caranya!" kata Nara.
"Lo sadar! Lo pernah bantu anak yatim buat hidup kembali! Itu lo bilang gak guna?" tanya Yesha.
"Dan Lo"
"Kenapa? Kenapa sampe lukain diri lo pake pisau? Frustasi ditinggal Ajef? Sayang sayang ku. Cowok banyak! Jangan segoblo·k itu sampe ngelukain diri sendiri!" kata Nara.
"Gue.. gue malu sama diri gue sendiri. Gue.. gue nyesel nampar Diva. Gue sadar, Ajef yang salah disini bukan Diva." jelas Alika.
"Gue minta maaf ci, gue bisa jelasin" kata diva menghadap ke Alika.
"Jangan! Gak usah dibahas. Gue gak mau bahasnya. Maafin gue" kata Alika pada Diva.
"Maafin gue bikin kalian khawatir." Alika berkata pada Nara dan Yesha yang ada dihadapannya.
"Gue juga minta maaf, gue tau gue be·go. Gue gak dewasa tentang ini, maaf" sahut Diva.
"Jangan ngelakuin kesalahan fatal kayak gini lagi!" ujar Nara dan Yesha barengan. Mereka berdua mengangguk, lalu berpelukan layaknya Teletubbies.
Tiba tiba....
BRUKKKK........
David datang langsung menarik Yesha dan memeluknya. Yesha terkejut, dia membiarkan David memeluknya tapi tidak membalas. David penuh keringat, tapi ntah mengapa dimata Yesha dia kelihatan tampan.
"Lo gila?" tanya David setelah melepas pelukannya. Danial masuk langsung menuju dapur mencari minum.
"Gue tanya LO GILA?" tanya David. Yesha diam, Yesha tau kalau David sama Danial marah tentang ini.
"Vid, apaan sih?" tanya Nara.
•
•
•
TBC ~
__ADS_1