Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 97 Ily


__ADS_3

"Kok bisa ada baju sama dalaman cewekk disiniii?!" tanya Yesha sinis, ia baru saja selesai mandi. Mereka masih berada di desa.


"Baju kamuu sayaang, kan dua tahun lalu sengaja kamu tinggall" jawab Boy.


"Huh? Masa iyaa??" Boy berdehem lalu menarik Yesha ke pangkuannya.


"Love you, baby" bisik Boy.


"Apaaan sihh. Lepasinn, ntar diliatin tetanggaaa"


"Mana ada tetangga mo kesinii, ngapain juga kesinii" jawab Boy santai, ia kembali melihat televisi.


Yesha dengan santai bersandar di dada bidang Boy. Boy tersenyum, tangannya mengelus rambut Yesha.


"By, aku ada ide biar kita di restuin"


"Ide apaaa?"


"Dedek bayii" bisik Boy.


"Hehh!! Ngadi-ngadiiii bangettt, aku gak mauuuuu!!" tolak Yesha.


"Nggak benerann, cuma ecek-ecek aja. Pura-pura nya kamu mual gituu, pasti nanti di kira ada penerusnya akuu tuh nah diizinin dehh"


"Em.. bisa juga sih."


"Eh.. kamu kan baru pulanggggg samsudinnnn, nanti malahh dikira anak orangg lainn"


"Iya juga yaa, yaudah gak jadii"


"Hmm, gimana ya kedepannya? Kita bisa sama-sama atau nggak??" tanya Yesha mendadak dramatis.


"Bisaa sayaaang, pasti bisaa kok. Aku yakinnn bangett, pasti bisaa"


"Kalaupun ke depannya aku gak sama kamu, aku gak bakal mau sama yang lain"


"Keliatan seperti bualann semataaa" cibir Yesha.


"Aku seriuss sayaangg" Yesha menatap mata Boy, memang terlihat serius.


"Aku nggak tau kenapaa, aku tu gak bisaa cinta sama orang lain selain kamu. Sebelum ketemu di SMA, kita pisah lama kan? Bertahun-tahun, kita pisah aku cuma inget sama kamu doang. Aku sama sekali gak pernah pacarann karena terus inget kamu"


Yesha tersenyum lalu memeluk Boy, "maaf yaa aku lupa"


Boy membalas pelukan, "aku maklumin kok. Kamu emang pelupa, dulu aja sering lupa naro pensill dimanaa"


Yesha terkekeh mengingatnya.


Bruk..


"Mama? Tante Yeira??"


"Astaghfirullahhhh, harusnya kita gak ngedobrak raa"


"Bagus kita ngedobrak, bell. Kalau nggak udah buat cucu merekaa"


"Ee busettt, mama sama tante Bellina kok bisa di siniii?" tanya Yesha heran ketika melihat mama nya dan calon mama mertuanya berada di desa.


"Bukannya nyuruh masuk kamuu, malah nanyaa" protes Yeira.


"Ya kan udah masukkk, mama sama tante mau minum apaa?" tanya Yesha lagi.


"Mineral water aja, ca" jawab Bellina, mama Boy.


"Emm.. adanya apaa, Fi? Gak usah repotin deh, putih air aja"


"Mama kepentok dimana coba? Bentar ya Yesha ambilin" Mereka berdua mengangguk, Yesha pergi menuju dapur.


"Duduk ma, tan"


"Cakeppp juga rumahnya" gumam Yeira.


"Mama sama tante kok bisa disini??" tanya Yesha lagi sambil membawa air putih.


"Mama rindu kamu lah. Mama tau kamu di luar rumah lebih petakilan, di dalem rumah sok kalem" Yesha menatap datar mamanya.


"Itu aib!" bisik Yesha, Boy dan mamanya tertawa.


"Terus, mama kenapa bisa disini?? Mama sama tante Yeira gak musuhan apaa??" tanya Boy bingung.


"Ra, kita dikira musuhan"


"Haha, padahal kagak" Mereka berdua tertawa heboh.


Yesha dan Boy benar-benar bingung dengan situasi saat ini.


"Mama sama tante Yeira disini itu ya karena rindu kalian berdua! Mama sama tante Yeira gak pernah musuhan, cuma di depan papa kalian aja nya"


"Hmm.. tante sama mama kamu satu tongkrongan juga di arisan. Mana ada marahaann, semuanya akting" sahut Yeira santai.


"Ketipuu ternyataa" gumam Boy dan Yesha bersamaan.


"Kalian di sini berduaan ngapain? Lengket banget lagi tadii, mau buat cucu duluan?!" tanya Yeira sinis.

__ADS_1


"Nggakk ma astaghfirullah!! Itu tadi cuma pelukan doangg karena rinduuu"


"Rindu rinduu, macem betull ajaa"


"Iri kali bahhh" ujar Yesha kesal, mamanya tertawa kecil.


"Emmm.. Boy, mama minta maaf ya. Mama bukan mama yang baik karena mama juga ikut maksa kehendak papa kamu. Mama minta maaf juga mewakili papa" Boy tersenyum.


"Memang menyiksa Boy, tapi... Boy udah lupain kok ma"


Mama Boy tersenyum lalu mendekat, mereka berpelukan. "Maafin mama yaa" Boy mengangguk, air matanya mengalir.


Ini yang ingin Boy rasakan dari dulu, kasih sayang dan ketulusan. Bukan suatu tekanan.


Yesha dan mamanya ikut tersenyum, mereka juga saling berpelukan.


"Dahh, jangan nangiss. Jagoan mama udah mau nikah masa nangis" Boy tersenyum sekilas lalu mengelap air matanya.


Mereka berdua kembali duduk berdekatan, "apa rencana kalian berikutnya?" tanya Yeira.


"Em.. masihh cari cara tante. Cari cara yang halall" jawab Boy.


"Nggakk mikir mau tekdung duluan kann?!" tanya Bellina.


"Adaa ituu tantee, Boy yang usulin."


"Hiss, dasar!! Cara halal darimanaaa ituu?!" Boy cengengesan.


"Mama sama tante Bellina dulu juga terhalang restu tau, fii" ujar Yeira sambil mengelus rambut anaknya yang bersandar.


"Masa iya, ma?? Terus gimanaa??"


"Papa kamu terus terusan nyoba buat pendekatann sama kakek, ya sampe akhirnya kakek kamu luluh dan jadinya restuin."


"Kalau mamaa?" tanya Boy pada mamanya.


"Gak jauh bedaa sama tante Yeira, sebenernya dulu ituuuu kakek kamu pengen papa sama tante Yeira, tapi papa kamu udah terlanjur kejebak sama peletnya mama jadi gak bisa keluar"


"Karena masih susah dapet restu tuhh, mama sama papa cari mukaaa teross sampai endingnya di izinin."


"Kalian coba aja cara ini, jangan pake cara yang aneh-aneh. Mama yakinn, kalau kalian berdua pake cara ini, nunjukin ketulusan dan keseriusan kalian lambat laun juga bakal di restuii" ujar Yeira.


"Yeira benerr. Boy, kalau papa suruh kamu balik kamu mau yaa? Biar nantinya Caca di kira nggak ngehasut kamu. Mama takut image Caca jadi jelek dan makin susah dapet restu" sahut Bellina.


"Tapi ma, sampe sekarang juga papa gak ada peduli nya sama Boy"


"Kata siapa?? Papa uring-uringan dirumah, keliatan dia ngerasa bersalah karena terlalu ngekang kamu selama ini. But, papa kamu gengsi"


"Fiana jugaa, kamuu jangan malah diemin papa mama dirumah. Papa tu juga rindu suara kamu, fiii"


"Pokoknya pake cara alus, bicara dari hati ke hati biar dapet restu."


Yesha dan Boy mengangguk, "kami usahakann"


"Lagiannn, mama gak mau punya mantu lainn. Udahh ngerasa Caca passs bangett di atiii" Yesha tersenyum malu.


"Sa ae tantee"


"Sok malu-malu" ledek mamanya, Boy dan Bellina tertawa.


"Yaa.. sebenernya mama pun maunya cuma Boy yang di jadiin mantuu"


"Kenapa gitu?" tanya Bellina.


"Dia punya mata dua, idung satu, telinga dua..."


"Maaaa, istighfar dulu yukkkk!"


❀❀


19.34


"Nanaa dalemmm.. ayo nikah" Nara langsung menatap sinis Khansa yang sedang menyetir.


"Lu ngajak nikah apa ngajak makan sih? Enteng bangett" Khansa tertawa.


"Jadi mau gimana??"


"Ya.. yang benerr dikit gituu lohh!"


"Yaudah, ayo pulang" ajak Khansa.


"Lah pulangg?? Kita baru keluarr saaa"


"Emang kenapa baru keluar??"


"Astaghfirullah.. gak peka bangettt ya! Baru malem inii keluar berduaan, kan kita juga jarang keluarr."


"Kamu nya sibuk kuliah, sibuk kerjaaa jugaa. Masa iyaa baru keluar udah ngajak pulangg"


"Aku... aku tu rinduuu" cerocos Nara kesal.


"Oo, rindu. Apa itu?"

__ADS_1


"Sa.. astaghfirullah, kebanyakan dosa deh gue. Kenapaaa punya pacar lemot bangettt, untung sayaangg" Khansa cengengesan.


"Ayo balik dulu" Khansa memutar balik mobilnya.


"Mau ngapainn siii?"


"Nantii kamu juga tauuu" Nara menatap sinis Khansa.


"Jadi penasaran, apaan sii??" Khansa tidak menjawab, ia menanggapi Nara dengan senyuman. Matanya fokus pada jalanan.


Tingg..


Khansa mengambil ponselnya.


Bandar duitkuu


Persiapan nya juga udah selesai, cepet balik!


Khansa


Okeee siapp boss


Khansa meletakkan ponselnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Ini ngapa tiba-tiba lajuu bangett samsulll?!"


"Biarrr cepettt, aku ngebet" jawab Khansa.


"Ngebet apaa? Ngebet apa kebelettt?"


"Ssttt" Nara terdiam, ia masih menatap heran Khansa.


"Kamu nyembunyiin sesuatu nih pastii!" Khansa tidak merespon, ia tetap tersenyum.


Beberapa menit di perjalanan, mereka pun tiba di rumah Nara.


"Cepett bangett pulangnyaaa ishhh, maless tau ketemu si kembarr. Rusuh" gerutu Nara kesall.


"Bentarr doang Nana sayangg, temenin aku doang ke kamar mandii" pinta Khansa.


"Ke kamar mandi doang sampe pulang, ay?" Khansa mengangguk santai.


"Ayooo" Khansa pun duluan masuk.


"Ini rumah bapak siapa sih sebenernyaa?!" Nara mengikuti Khansa dari belakang.


Baru masuk ke dalam, seluruh lampu yang ada di rumah Nara mati. Nara langsung menajamkan matanya.


"Khansa... sayaaangg, kamu dimanaa?!" tanya Nara heran, ia tetap berjalan sambil meraba-raba.


Tiba-tiba Nara menabrak sesuatu, ia hampir jongkok ingin meraba namun kembali berdiri ketika lampu kembali hidup.


Nara melihat sekeliling nyaa, suasana sangatt romantis. Ia pun melihat ke depan, ternyata ia menabrak Khansa yang jongkok.


"Aku bukan pria yang romantis, aku cuma pria biasa yang mungkin bisanya cuma malu-malu in kamu tapiii.. aku janji aku bakal buat kamu bahagia dan bakal turutin apapun yang kamu mau."


"Aku bakal jagain kamu sama seperti daddy jagain kamu dari kamu lahir sampe sekarang."


"Ah.. gugup gue, lupa mau ngomong apa" ujar Khansa merusak suasana.


Nara yang tadi nya hampir mengeluarkan air mata jadi tertawa melihat Khansa.


"Malah ketawa lu munaroh. Bentar, gue inget inget dulu"


"Oh langsung aja deh.."


"Na, aku mau kamu jadi ibu anak anak ku nanti. Aku mau kamu jadi pendamping hidup aku sampai aku mati."


"Narade Asassya, will you marry me?" Khansa menunjukkan cincin nya masih tetap berjongkok.


Dia menunggu kata 'yes' keluar dari bibir Nara.


"Sorry sa, aku gak bakal bilang no"


"Yang nyuruh lu bilang no siapaaa, peaakk" Khansa memasang cincin nya, ia bangkit lalu memeluk Nara.


"Love you, i love you"


"I love you too"


"Uwaaaahhh.. membingungkan sekali ya pemirsa, saya heran ini kenapaaa bisa begini?!" tanya Daddy Nara. Khansa dan Nara lepas pelukan, mereka terkekeh.


"Tu kan, daddy. Bisa-bisanya telupaa" sahut Nanda.


"Padahal udah ngapalin berjam-jam diaa" di lanjut papa nya Khansa.


"Maklum lahhh, namanya gugup" jawab Khansa ngeles.


"Hahaha.. akhirnyaaaa kakak gue sold out, beban daddy bekuranggg" ujar Nessie dengan santai sambil duduk di sofa.


"Gue lempar tar lu yee! Kurang ajar banget jadi adekk"


"Gak boleh galak-galak bosss, nanti pas nikah keriputan luu!"

__ADS_1


__ADS_2