Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 63 Mabuk ×_×


__ADS_3

📞 Nara; wacana tok opo pie ki?


📞 Alika; wes gek endang besiap ta!


📞 Diva; dipsi gak ngerti. boleh translate?


Yesha, Alika dan Nara tertawa bersamaan.


Jam sudah menunjukkan pukul 19:30. Mereka sedang harap harap cemas karena takut tidak diizinkan ke club. Terutama Yesha.


Padahal dia sudah siap dengan baju yang biasa dia pakai. Kaos polos dan celana jeans, ditambah dengan jaket kulit dari abangnya. Tidak lupa dengan sepatu putih.


Lain halnya dengan Alika yang meminjam hoodie Yesha dengan celana jeans serta sepatu putih.


📞 Nara; gue boleh copp!!!


📞 Yesha; udah izin?


📞 Nara; udahhh


📞 Diva; yahuu, gue juga bolehhh!!


📞 Nara; dip, jemput guee


📞 Nara; eh tunggu tunggu. si echa boleh kagak?


Yesha menghela nafas.


📞 Yesha; boleh aamiin!!!


Yesha meninggalkan ponselnya di kamar lalu keluar menemui papa mamanya.


Alika dikamar sambil mengintip, dia berharap semoga Yesha di izinkan. Jika teman temannya pada minta izin. Beda halnya dengan Alika yang bodo amat akan izin.


Ntahlah, dia tidak perduli.


"Papa handsome, mama beautiful" rayu Yesha.


"Dah ketebak nih. Mau apa kamu?" tanya Papanya.


"Papa peka banget deh" Yesha senyum senyum.


"Paa, maaa.. fiana ke club yaa" Yesha menggunakan puppy eyes nya ketika papanya melotot.


"Sekali niiii aja, boleh yaa" bujuk Yesha. Kali ini dia menunduk. Yesha mendengar helaan nafas papanya.


"Jangan pulang larut dan jangan terlalu mabuk" ujar papanya.


"Asekk.. papa izininnn" Yesha tersenyum girang.


"Mama?" tanya Yesha sambil melihat ke mamanya.


"Hati hati. Jaga diri kamu yaa" kata mamanya.


"Oke okee aman maaa" Yesha berlari menuju kamarnya.


Alika menatapnya dengan tatapan penuh harapan. "Gimana?" tanya Alika.


"Direstuiii!" jawab Yesha.


"Mantapp. Skuy lahhh" ajak Alika. Mereka keluar dari kamar menghampiri mama papa Yesha untuk bersalaman.


Setelah itu mereka pergi ke club yang tidak terlalu ramai dan tidak terlalu berbahaya.


___


20:15


Seorang pria baru saja memasuki rumah dengan menggandeng wanita. Adiknya berjalan santai menghampiri pria ini.


"Hahaha.. Siapa lagi ini? Kekasih barumu?" ujarnya santai dengan nada penuh ejekan. Pria yang baru masuk ini menatapnya geram.


"Oh. Apa ini Frans? Ah.. kenalin gue Elina. Elina Serly" ujarnya begitu pede sambil mengulurkan tangannya. Frans memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


"Jabat tangannya. Dia calon kakak iparmu!!" kata abangnya penuh penekanan.


"Perbaiki sikap Playboy mu itu, baru aku bisa menganggapnya sebagai calon kakak ipar" jawab Frans tersenyum sinis.


Dua detik kemudian, masuk lagi seorang pria paruh baya yang merupakan papa Frans. Dia datang dalam keadaan mabuk sambil membawa wanita.


Yah..


Papanya begitu setelah mamanya pergi meninggalkan dunia. Namun, papa Frans tidak pernah punya keinginan untuk menikah lagi.


Frans sering memberitahukan papanya untuk tidak membawa wanita kerumah. Papanya hanya menjawab "iya".


Tapi keesokan harinya, papanya itu pulang masih dengan membawa wanita yang berbeda beda.


"Wah.. ternyata benar kata pepatah.." Frans menggantung ucapannya.


"Kalau.. buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" lanjutnya setengah berbisik. Lalu Frans memilih pergi menuju pintu keluar rumah.

__ADS_1


"Franss!! Franss!!!" teriak abangnya.


"Tidak usah repot mementingkanku tuan Fiery. Nikmati saja pacar barumu ituu!!" teriak Frans menuju mobilnya.


"Bocah sialan!!!" Frans tersenyum sinis lalu meninggalkan halaman rumahnya.


Saat di mobil Frans ditelepon seseorang. Dia langsung mengangkatnya karena panggilan dari Branden.


"Hm?" tanya Frans.


📞 "Lo dimana??"


"Gue mau ke basecamp. Kenapa?"


📞 "Gue gabut, gue ikut kesono dah"


📞 "Katanya bang Danial disana"


"Yoda yoda" Frans mematikan teleponnya padahal Branden belom selesai bicara.


Frans yakin, Branden akan ceramah panjang kali lebar kali tinggi nantinya.


-----


Frans tiba di basecamp. Dia keluar dari mobil lalu masuk ke dalam. Ternyata basecamp sedang ramai.


Mereka menikmati Wi-Fi karena sebelah basecamp mereka adalah kafe dengan Wi-Fi gratis.


"Franss!!! Gue belum selesai bicara lu udah matikan tu telepon. Kan lu ta---"


"Berisik bran. Diem atau gue jotos pala lu" potong Frans lesu.


"Oke gue tunda" jawab Branden. Mereka menggelengkan kepala melihat tingkah aneh Branden.


"Lu nape Frans? Muke lu kusut amat kayak baju belom di setrika?" ledek Khansa.


"Serah lo deh sa. Capek gue mah" jawab Frans.


"Kenapa? Bokap? Atau abang?" tanya Revin.


"Keduanya, Fiery bawa cewek baru lagi kerumah. Bokap juga sama" jawab Frans.


"Kayaknya lo lagi frustasi banget" kata Boy.


"Bangett" balas Frans.


"Club lah kuy" ajak Danial.


"Kenape? Lu kagak mau ikut?" tanya Branden.


"Ya jelas ikut la bro" jawab Naufal.


"Ya skuylah ah" ajak Khansa mulai bangkit. Satu persatu mereka berdiri lalu menuju mobil.


"Club biasa ya, noh yang punya Gerald" ujar Danial.


"Aman"


Mereka yang tadinya menggunakan motor, memilih ikut di mobil yang membawa mobil.


__


Mereka tiba di club Gerald. Terlihat disitu Gerald yang sedang meracik minuman. Wolfbr menghampiri.


"Eh kalian?" tanya seseorang.


"Wisnu? Sendirian?" tanya Ikhsan. Wisnu mengangguk.


"Gue ajakin Arya tadi, tapi dia ada urusan katanya. Gue mau balik nanggung udah disini" jelas Wisnu, mereka mengangguk-anggukkan kepala.


"Lama tak betemu" sapa Gerald. Wolfbr tersenyum sedikit.


"Biasa yo"


"Okee!! Tunggu bentar" suruh Gerald. Danial dan yang lain duduk di dekat meja bar.


Mereka melihat sekeliling. "Tumben banyak ciwi disini" ujar Revin.


"Eh itu bukannya..."


"Crazy Bacot??" mereka kompak.


"Ngapain mereka mabuk-mabukan disini?!" tanya Khansa heran.


"Kalian kenal?" tanya Gerald.


"Adek gue. Sejak kapan disini?" tanya Danial.


"Belum lama lah, setengah jam ada kayaknya" jawab Gerald. Gerald kembali melayani yang lain.


"Izin bokap nyokap gak itu anak?!" tanya Branden melihat Diva yang sudah setengah sadar.

__ADS_1


"Biasanya kalau mereka mabuk tuh pasti buat masalah. Kita liat masalah apa kali ini" ujar Danial.


"Kok lu tau?" tanya Wisnu.


"Udah hafal gue nu, mereka sahabatan udah lama banget" jawab Danial. Wolfbr dan juga Wisnu memperhatikan Crazy Bacot.


Tiba tiba datang pria menghampiri mereka berempat. Menggoda dan merayu mereka. Frans ingin bergerak, namun ditahan Danial.


"Biar dulu, liat dua detik lagi" tangan Danial mengangkat dan mulai menghitung.


Dua detik kemudian, Alika menendang pria itu sampai tersungkur.


"Jaga tangan anda baik baik makhluk asing!!" kata Alika yang mereka dengar.


"Sialan lo!!" umpatnya. Yesha bergerak menjegal langkah kakinya dia kembali tersungkur. Diva berdiri dari duduknya dan memijak punggung pria itu. Dia lompat-lompat.


"Woi turun bodoh!" kata Nara yang juga mabuk. Diva pun turun.


"Gue pikir empuk, ternyata kagak" jawab Diva dengan muka cemberutnya. Branden gemas dengan ekspresi Diva.


"Itu tulang semuaa" bisik Yesha yang juga mabuk. Mereka tertawa kecil.


Para pria seperti bodyguard datang menghampiri orang yang di injak Diva tadi. Membantunya berdiri.


"Berani beraninya kalian menc--- aw aww!!" omongannya terpotong menjadi ringisan ketika jarinya yang untuk menunjuk di putar Nara.


"Makhluk asing jangan sembarangan yaa! Kita mah diam kalau gak diganggu!!!" jawab Nara.


"Ayok samperin, gue takut ntar kenapa kenapa mereka" ajak Danial. Mereka bergerak.


"Maaf tuan. Maafkan saudara saya" ujar Danial. Pria itu diam dan memilih pergi bersama para anak buahnya.


"Buat kekacauan lagi! Izin papa gak lu?!" tanya Danial pada Yesha. Yesha malah tertawa.


"Guys. Dia siapa?" tanya Yesha setelah tertawa.


"Emmm.. ntah. Dia komplotan pria yang tadi gak sih? Perlu gue jotos?" kata Alika.


"Gak usah deh. Dia jelek, kalau lu jotos makin jelek" bisik Yesha. Crazy bacot tertawa bersamaan.


"Nggak deng enggak. Dia terlalu ganteng untuk dijotos" bisik Yesha lagi. Crazy Bacot tertawa.


Wolfbr menatap mereka sambil mengangakan mulutnya. "Wah, udah mabuk berat ini merekaa" kata Revin.


"Kalian ni siapa sii?? Gangguin mulu dah!!" Nara ingin meminum lagi. Tapi tangannya dihentikan Wisnu. Nara melihat Wisnu yang menatapnya datar.


"Guys guys, dia ganteng" bisik Nara.


"Nggak nggak. Pria ini lebih ganteng" Diva menunjuk Branden. Branden yang ditunjuk jadi malu malu.


"Idi Idih, gue tendang ntar lu ya" cibir Ikhsan. Branden cengengesan. "Syirik aja lu" balas Branden.


"Yesha, Diva, Nara, Alika, ayok balik" ajak Revin.


"Kita gak mau pulang sama makhluk asing" jawab Alika.


"Makhluk asing gimana? Gue pacar lo" ujar Frans.


"Omoo" Alika menutup mulutnya.


"Kenapa wuy?" tanya Yesha melihat ke Alika dengan mata sayunya.


"Sejak kapan gue punya pacar? Wow!!" jawab Alika menatap Frans.


"Hm, kita kan gak punya pacar" sahut Diva.


"Gini rasanya jadi pacar yang gak dianggap" kata Branden.


"Plis deh bran, lebay banget dah" cibir Ikhsan.


"Lu mulu yang protes, jadi pengen jotos" balas Branden sambil mengangkat tangannya yang terkepal.


"Liat liat, mereka berantem" bisik Nara.


"Seru nih seru" sahut Yesha.


"Yey gelut yey" ujar Alika.


"Eh gak jadi woi, kok berenti?" tanya Diva.


"Ah cemen" mereka meletakkan kepala diatas meja.


"Bawa ke apartemen Boy" titah Danial. Yesha yang digendong Boy terlihat tenang. Sedangkan temannya yang lain...


"Apaaaan sii kaliann alienn!!" berontak Nara saat digendong Wisnu. Wisnu tidak memperdulikan Nara yang terus memberontak.


"Yah yah, kok gue terbang sih?" tanya Alika.


"Terbang terbang matane, mabuk akut emang ni anak" sahut Frans.


"Pencull---" omongan Diva terhenti ketika Branden mengecup bibirnya sekilas.

__ADS_1


"Brandennnn?!!"


__ADS_2