
Jam istirahat ke dua.
Di SMA Erdven, para siswa-siswi akan pulang di jam setengah tiga, atau bahkan lebih. Jam istirahat mereka tiga kali, penjaga kantin pun berbeda beda dan makanannya juga beragam. Kepala sekolah disana menegaskan hal seperti ini, agar para siswa dan siswi menikmati proses belajar mengajar tanpa rasa setres.
"Gue rasanya pengen ngebacok itu si Lisa, beneran" ujar Diva.
"Nah gue juga, kesel banget gue." sahut Yesha.
"Dia punya dekingan coy" sahut Nara.
"Dekingan? Siapa?" tanya Alika.
"Si Axel ege. Lo tau Axel apapun bisa dilakuin" jawab Nara.
"Maksud Lo, Thalia?" tanya Diva. Nara mengangguk sambil memakan baksonya.
"Emang thalia thalia itu, bokapnya kepsek?" tanya Yesha.
"Bukan, lebih tepatnya itu anak berduit. Beli orang aja bisa gue rasa" jawab Nara lagi.
"Lah kita juga berduit kali na, ngapain cemas gitu elah." ujar Yesha.
"Tau tuh, biasanya kalau diajak gelut number one" sahut Diva.
"Usaha oom gue bantuan nya dari bokap dia. Paham kan?" tanya Nara.
"Tunggu, maksudnya gimana?" tanya Alika.
"Suntikkan dana toko oom gue dari bokap dia" jawab Nara. Mereka ber 'oh' ria, lalu melanjutkan makan.
"Gue punya mimpi, kita bisa buat perusahaan dengan keringat sendiri" ujar Yesha tiba tiba.
"Boleh dicoba" kata Diva.
"Mantap juga" sahut Alika.
"Caranya begimana?" tanya Nara.
"Lo pada punya tabungan kan?" tanya Yesha balik.
"Terus??" Alika bertanya.
"Lo pada jago bidang apaan?" tanya Yesha lagi.
"Gue multitalent" jawab mereka bertiga bersamaan, Yesha juga meniru.
"Dah hapal gue" ujar Yesha.
"Nah kan, kita bisa apa aja. Gimana kalau kita patungan. Kita buat gedung, semua atas nama Crazy bacot. Di dalam gedung itu kita isi berbagai bidang." lanjut nya.
"Ooooh, paham gue. Dana dari mana kampret. Buat gituan gak dikit" sahut Diva.
"Kita cicil be·go! Pertama kita beli tanah. Setelah itu, kita buat yang sederhana. Lama lama jadi gede duarrr, mantapp" ujar Yesha.
"Gue setuju setuju aja sih, ya tapi dana kita pasti gak banyak. Secara kita masih anak SMA" balas Alika.
"Intinya niat, kalau mau ayok. Kalau nggak ya gak jadi" kata Yesha.
"Gue punya tabungan sekitar lima jutaan," ujar Yesha.
"Serius?" tanya Diva.
"Iya, bokap gue pernah kasih ATM, waktu gue check ada lima juta lebih" jawab Yesha.
"Gue juga ada sih lima juta" sahut Diva.
"Lah tadi sok kaget" balas Yesha, diva cengengesan.
"Gue ada enam juta di ATM" sahut Nara.
"Gue sebenernya punya lima setengah juta, ya cuman kan.." omongan Alika terjeda.
"Emmm, gue ingattt" ujar Yesha memotong.
"Apa?" tanya mereka bertiga.
"Gue dulu dapet warisan dari nenek gue. Nah itu tu tanah, ya lumayan besar. Kayaknya cocok" jawab Yesha.
"Serius Lo? Emang boleh?" tanya Nara.
"Boleh, kan punya gue" jawab Yesha.
__ADS_1
"Bisa bisanya masih bocil udah dikasih warisan" balas Alika.
"Ajaibkan gue? Gue tu cucu tersayang, jadi diwasiat gue dapet bagian deh" kata Yesha.
"Oke dah jadi gini aja. Lo pada mau patungan berapa berapa?" tanya Diva.
"Dua setengah juta aja gimana? Dua setengah dikali empat itu sepuluh juta" usul Alika.
"Nah boleh tuh" sahut Nara.
"Lah emang bikin gedung bisa segitu uangnya?" tanya Diva.
"Dip, bertahap dip bertahap. Semua butuh proses samyang" jawab Alika.
"Iyainn" balas Diva.
"Ayok kita bagi, Lo pada mo apa?" tanya Yesha.
"Gue kan lumayan ahli ngelukis, gue buka galeri aja" ujar Alika.
"Nah gue juga ahli ngelukis, tapi ngelukis muka orang. Gue buka salon plus jadi tata rias." sahut Diva.
"Gue bingung an·jir gue apaan?" tanya Yesha bingung.
"Gue Coffe Shop aja gimana? Kan udah ada salon, setelah salon mereka lihat lihat lukisan, abis itu minum Coffe di tempat gue" sahut Nara.
"Nah ide bagus, Lo apa ca?" tanya Alika.
"Gak tau gue, apa gue hotel aja?" tanya Yesha.
"Nggak ca, jangan." ujar Diva.
"Buka bengkel gue ntar"
"Kagak usah nampak kali abang abangnya be·go" sahut Nara.
"Gue bingunggggggg" kata Yesha.
"Bukannya Lo jago gambar? Lo bisa jadi desainer, buka butik gitu? Ya kan?" tanya Diva.
"Nah cocok kayaknya. Setelah pelanggan dari salon, pelanggan menuju butik untuk beli baju, setelahnya mereka beli lukisan di tempat si cia, abis itu ke Coffe Shop gue. Perfect!!" kata Nara.
"Menurut gue, Lo bagus nya buka galeri. Bakat menggambar Lo itu luar biasa ci, sayang kalau disia siain" kata Yesha.
"Setuju" ujar Nara, Yesha dan Nara bertos.
"Oke dehh okee" balas Alika.
-
"Kak" panggil seorang siswa ganteng dengan kulit sawo matang.
"Kakak berempat di panggil pak penjas sama pak kesiswaan," ujarnya.
"Lo siswa baru?" tanya Diva.
"Iya kak, saya gak tau namanya. Tapi saya tau tugas mereka" jawabnya.
"Ya udah, nanti kita datang. Makasih ya" balas Diva, dia tersenyum lalu pergi.
"Huhahh, apa lagi pak Wanto sama pak Ahmed panggil?" tanya Alika, mereka pun bergerak menuju ruangan kedua guru itu.
–·★
"Smada Persatuan tidak jadi mengadakan pertandingan di bidang basket putri." ujar Pak Wanto saat mereka sudah tiba.
"Mantapp jiwa, kita kagak jadi tanding" sahut Nara.
"Kalian tetap tanding" kata pak Wanto.
"Loh? tanding apa pak?" tanya Diva.
"Voli, bersama dengan Lisa dan Enjel" jawab Pak Wanto santai.
"HAH? APA?" tanya mereka kaget.
"Kenapa kalian teriak?" tanya pak Wanto.
"Bapak jangan bercanda dong pak, ogah banget pak. Kita gak bisaa!" ujar Nara.
"Kalian dilatih nanti, kalian tau kan Wisnu XII IPA 3? Wisnu dan Arya yang akan melatih kalian" balas pak Wanto.
__ADS_1
"Jan·cok" umpat Nara.
"Ucapan kamu Nara! Kamu kenapa?" tanya pak Wanto.
"Bukan apa-apa pak, pak kita gak bisa deh pak. Kita gak ikut" jawab Nara.
"Iya pak, kita gak bisa pak. Kalau basket kita mau, voli ? Kita gak ahli pak" sahut Diva.
Toktoktok...
"Masuk" suruh pak Wanto.
"Assalamualaikum pak" ujar dua pria.
"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak. 'kak Wisnu, ganteng' batin Nara sambil menahan senyumnya yang merekah.
"Wisnu, Arya, saya minta tolong sama kalian. Ajarin empat anak bar bar ini voli" ujar pak Wanto.
"Saya gak ikut pak. Saya pergi" ujar Alika. Yesha, Diva, dan Nara mengikuti Alika. Saat satu kaki Alika sudah diluar, dia terhenti karena ancaman pak Wanto.
"Kalau kalian gak mau, terancam tidak naik kelas" ujar pak Wanto.
"Au ah, pingsan aja gue." Yesha bersuara. Dengan terpaksa, mereka berbalik menghadap pak Wanto.
"Apa susahnya buat pertandingan ini hm? Ini gak pake hadiah, cuma buat silaturahmi aja." bujuk pak Wanto, Arya dan Wisnu tetap diam.
"Ya kami gak bisa pak! Kami gak ahli. Bapak mau kami malu maluin sekolah?" tanya Alika.
"Kan saya udah bilang Arya dan Wisnu akan melatih kalian, setiap hari. Jam pelajaran kalian juga dikurangin, kalian bisa pulang tengah hari" jawab pak Wanto. Yesha membuka hp nya. Mengechat temannya. Nara membaca itu.
—Crazy Bacot <3—
Echaak; Terima atau nggak? Gue tau gue tau, @Narade Nana Lo pasti gugup dekat sama ayang beb.
Dipohul; terima aja lah, daripada kagak naik?
Bungaciak; sumpah demi apapun, ini pemaksaan huhuuuu....
Narade; Gue gugup asyu, ada kak Wisnu gimana bisa?
"HEH!" panggil pak Wanto.
"Kenapa malah mainin ponsel?!" tanya pak Wanto kesal.
"Rundingan pak" jawab Diva singkat.
Dipohul; jadi gimana?
Echaak; iya mungkin
Narade; gue manut ae.
"Ya udah deh pak, terserah" ujar Diva.
"Kalian rundingan gimana sih?" tanya Arya.
"Bukan urusan Lo" jawab Alika.
"Alikkaaa" panggil diva memperingatkan. Alika mengangkat dua jarinya tanda damai.
"Kalian bisa latihan hari ini" ujar pak Wanto.
"Heran gue, katanya cuma tanding silaturahmi. Giliran gak mau ikut diancam kagak naik kelas. Lah, jam pelajaran aja dipotong potong" dumel Yesha sambil pergi meninggalkan ruangan pak Wanto.
"Bener sih emang" balas Alika dan Nara bersamaan, mereka mengikuti Yesha.
"Astaga, kok bisa gue punya temen kayak gitu" keluh Diva pelan sambil menepuk jidatnya.
"Mohon bimbingannya ya kak, kalau bisa jangan sekarang, saya sama yang lain gak mau latihan di sekolah" ujar Diva pada Wisnu dan Arya.
"Maaf atas tingkah Yesha, Alika, sama Nara pak, kak. Emang gitu mereka, sebab waktu pembagian akhlak mereka gak datang. Makanya minim akhlak, saya pergi dulu pak, kak. Assalamualaikum" lanjut Diva lalu pergi.
Wisnu dan Arya masih di dalam ruangan pak Wanto.
"Kalian bisa bantu saya kan? Saya gak tau siapa lagi. Kalau saya menyuruh yang lain pasti dibentak sama mereka" keluh pak Wanto.
"Insyaallah ya pak" jawab Wisnu. pak Wanto tersenyum.
"Kalian emang yang paling bisa saya andalkan" kata pak Wanto. Wisnu dan Arya membalas dengan senyuman.
"Ya udah pak, kita ke kelas dulu" pamit Wisnu. Pak Wanto manggut-manggut, Wisnu dan Arya pun pergi meninggalkan ruangan pak Wanto.
__ADS_1