
Disisi lain, Alika dan Frans baru saja tiba di rumah.
"Assalamu'alaikum"
"Udah pulang?"
Alika terkejut, ayahnya menyambut seperti biasa? Tidak marah? Ini bener ayahnya??
"U-udah ayah" Alika menyalami tangan ayahnya, Frans juga melakukan hal yang sama.
"A-ayah..?"
"Kenapa?"
"Mobil..."
"Ayah tau, rusak lagi kan? Jelek lagi kan? Udah ayah bilang kemaren sama kamu jangan nganeh-nganeh ke mobilnya tapi tetep aja. Kamu gak bisa dibilangin??"
"Kamu tau sendiri itu mobil kesayangan ayah yang ayah wariskan ke kamu, kenapa jadi begituuuu?"
Salah prediksi, Alika kira ayahnya tidak akan marah, nyatanya sang ayah tetap saja marah.
"Ah itu tadi om di.. di luar sepengetahuan kami om. Mobilnya di coret sama..."
"Ayah tauu"
"Ayah tau makanya ayah gak langsung marah tadi."
"Udah gue urus tu anak, sans aja lu" Elina muncul sambil membawa minuman kaleng.
"Lu apain?"
"Tendang"
"Serius kak elll"
"Ya nggaklah! Gue kasih om om buat dia tadii, auto kicep"
"Gimana? Lu bawa om om ke kampus gue? Lu simpenan om om juga?"
"Otak lo kok jadi pas-pasan sih?"
Alika menatap mereka satu persatu, "bodyguard papa jadi tumbal. Lu tau sendiri bodyguard papa ganteng."
"Bukannya bodyguard papa yang ganteng itu pacar lu ya? Kok lu tumbalin sih? Gimana sih maksudnyaaa?" Elina menatap sinis Alika.
'Punya adek mulutnya perlu dilasiban, begooo bangett herannn.' batin Elina kesal.
"Bodyguard papa yang mana pacar kamu, Elina?"
"Hah? Nggak kok pa, Alika asal bicara"
"Gue liat sendiri lu mojok di lantai atas"
"Sini lu gue tusuk pake pedang!!"
▪▪▪
"Papa gak akan izinin kamu keluar rumah lagi!! Kamu balik ke New York, lanjut S2!!"
"Gak! Boy gak mau"
"Boy, bisa gak kamu nurut sama papa??!"
"Kurang nurut apa lagi? Boy selalu turutin apa yang papa mauu! Pliss pa, Boy gak bisa jauh lagi dari Caca"
"Boy, cinta kamu itu cinta monyet!! Gak akan bertahannn"
"Cinta monyet kek cinta gorila kek, Boy gak perduli! Boy maunya Caca. Boy cuma mau Caca jadi istri Boy! Boy gak akan pernah nikah selain sama Caca!!"
"BOY!!!"
"Apa paa??! Papa mau tampar Boy?? Silahkann!! Tampar aja Boy! Tampar sampe berdarahhh" Bastian memundurkan tangannya.
"Boy, ada banyak cewek di luar sana..."
"Tapi Boy gak mauu pa! Boy cuma mau Cacaa!"
"Kamu tau sendiri kan gimana keluarganya? Keluarga mereka licikk, boy!!"
"Perkara licik, Boy yakin papa lebih licik"
"Boy!"
"Waktu kecil, yang tabrak Boy itu bukan Danial! Boy cuma iseng tuduh Danial, pelakunya bukan Danial pa. Jadi udah yaa?? Papa sama om Deokhwa damai, pliss.."
"Bukan cuma itu, boy! Mereka itu licikk, bertepatan hari itu.. perusahaan Deokhwa ngerebut proyek besar papaaa!!"
"Paa... itu udah bertahun-tahun yang laluuu!!"
"Terserah kamuu boy, kamu gak bakal ngertii"
"Okeee, terserah saya berarti apapun yang saya lakukan suka hati saya"
Boy berjalan menuju kamarnya mengemas pakaian. Setelah itu kembali ke ruang tamu.
"Makasih atas semua pemaksaannya. Saya bisa menghasilkan uang sendiri, dan saya akan pergi dari rumah ini. Permisi" Boy pergi.
"Boy balik kamu!!!"
"Kak, jangan pergii"
"Boy, lari dari masalah bukan jalan yang tepat. Pikirin nyokap luu"
"Buat apa saya memikirkan orang yang gak pernah mikirin saya?"
__ADS_1
"Boy, ayo selesaikan baik baik"
"Udahlah! Anak bandel kayak dia juga ntar balik lagiii kalau gak punya duitt!!" ujar Bastian.
Boy tersenyum smirk, "saya gak akan pernah kembali lagi"
"Tunggu"
Boy berbalik, "jangan bawa fasilitas apapun dari saya!"
"Maaf, kunci mobil yang saya pegang hasil dari kerja keras saya" Boy pergi meninggalkan rumahnya.
▫▪▪▫
Di sisi lain, Danial baru saja kembali ke rumah.
"Ma, pa, Fia manaa??"
"Fiana di kamar. Kamu jujur sama papa sekarang, kamu udah tau dari awal kan kalau ternyata Boy anaknya Bastiann?!"
Danial terdiam, 'berarti papa udah tau.'
"Al, jawab papa!!"
"Iyaa iyaa, Al tau pa. Nanti di bahas yaa, Fiana lagi gak baik-baik aja"
"Gak baik-baik aja, maksud kamu???"
"Fiana.. fiana abis ketusuk kaca di kampuss!"
"H-hahh?? Ka-kamu serius, nialll??" tanya mama Danial. Danial mengangguk, ia langsung lari menuju kamar Yesha diikuti kedua orang tua mereka.
"Fi, fiana.. buka pintunya dekk"
"Fianaa, buka pintunya sayang. Mama takut kamu kenapa-kenapaa"
"Fianaa, buka pintunya atau papa jodohin kamu sekarang"
"EGOIS!!" teriak Yesha dari dalam kamarnya.
"Dek, selesaikan baik baik dulu yaa? Keluar yok"
"Dekk, Fia.."
Danial menutup matanya sambil menghela nafas.
"Fiana butuh waktu kayaknya, kita harus bisa ngertiin diaa" Deokhwa mengangguk setuju. Mereka kembali ke tempat awal.
Namun beda hal nya dengan Danial, ia masuk ke kamarnya sambil membawa palu. Ia bertujuan untuk masuk ke kamar Yesha dari kamarnya.
"Bodo amat, rusak tembok gue juga gue gak peduli. Yang penting adek guaaa baik baik ajaa" gumam Danial masih berusaha memecahkan dinding kamarnya.
Usaha memang tidak pernah menghianati hasil, Danial berhasil. Ia masuk ke kamar Yesha.
"Dek"
"Bangg... hiks hiks.. gimanaa inii??" Danial tidak menjawab, ia masih memeluk erat Yesha.
"Kamu tenangin diri aja dulu yaa.. jangan fikirin yang lain. Abang gak mau kamu banyak fikiran" ujar Danial sambil mengelus punggung adekknya.
Yesha memeluk kembali abangnya, ia bisa merasakan betapa hangatnya pelukan dari Danial.
Setelah beberapa menit, Yesha merasa lebih tenang. Danial melepas pelukannya, ia mengusap air mata Yesha dengan baju yang ia kenakan.
"Abang dengar dari Ikhsan kamu ketusuk kaca. Bener??" Yesha mengangguk.
"Udah di obatin??"
"Udah tadi"
"Kok bisa kena??"
"Tadi gantiin posisinya Alika"
"Parahhh?"
"Nggak terlaluu"
"Besok hati-hati ya.. abang gak mau kamu luka lagiii" Yesha mengangguk.
"Terus gimana?? Papa mama kenapa bisa tauu???"
"Waktu pulang berobat Boy ajakin makan. Terus pas di resto ketemu papa nya Boy. Eh abistu muncul papa. Gimana sekarang bang?? Fia gak mau putus dari Boy" rengek Yesha.
Danial kembali memeluk adiknya, "nanti abang bantu bujukin papa ya.. kamu tenangin diri dulu, jangan nangis muluu. Kamu jelek kalau nangis"
"Isss!!"
"Abang bercandaa, kamu gak laper? Mau makann apaa? Abang bayar"
"Fia mau pizza ajaa"
"Okee tuan putri, makanan segera di pesan" Yesha tertawa sekilas.
"Gajelas bangett abang"
"Yang penting kamu ketawa. Udah, kalau gitu sekarang kamu mandi. Nanti kalau pizza nya udah datang abang bawain ke kamar, okee??" Yesha mengangguk.
Danial pun keluar dari kamar Yesha melalui tempat masuknya tadi.
Hal pertama yang di lakukan Danial adalah menelepon Boy.
--Boy--
"Assalamu'alaikum, lo dimanaa?"
__ADS_1
📞 "Waalaikumsalam, gue di jalan"
"Mau kemana???"
📞 "Cari tempat nginep atau sejenisnya, gue cabut dari rumah"
"Lu gilaa?? Balik sekarang!!"
📞 "Gak bisa, gue capek menderita."
"Tapi kabur bukan satu-satunya cara samsuldin"
"Yaudahh, nginep di apartemen gue aja"
📞 "Gakk, gue gak mau. Makasih tawarannya"
📞 "Maaaf dan, bukan gue nolak apa gimana. Tapi, gue mau usaha sendiri. Biar gue gak diremehin lagi sama bokap"
"It's okay, kalau butuh apa-apa lu tinggal panggil gue"
📞 "Iyaa amann, Caca gimana??"
"You know lah gimana kelakuan dia.."
"Setelah gue beliin dia pizza, kita ketemu. Deal?"
📞 "Dimana??"
"Ntar gue sharelock"
📞 "Oke, deal"
"Yaudahh, gue matiin dulu assalamu'alaikum"
Tanpa mendengar balasan Boy, Danial mematiman panggilannya.
Ia memesan pizza secara online kemudian membanting tubuhnya ke kasur.
"Gimana caranya biar mama papa setujuuinn??"
▪▪▫▫▫▪▪
"Frans, ternyata Ajef ganteng yaa" ujar Alika sambil menunjukkan foto Ajef.
"Liatla, betapa laknatnya manusia satu ini. Sayang, kamu tau kan--"
"Tau sayang tauu, aku becanda doangg. Gantengan juga kamuu"
"Duhhh.. pengen nyium tapi belom muhrimm" kata Frans sembari mengalihkan pandangannya.
"Halalin makanyaa"
"Kamu kan gak haram"
"Cia tabokk niiihh??" Frans tertawa.
"Mau di ajak ke plaminan kapann??"
"Ntaran dehh... kalau menurut tatanan bacot squad urutannya itu emak, aku, echa baru dipsi"
"Tapi Diva ngelangkahin tuh"
"Maklum aja, dia maknae berdosa!"
"Lagian kan, kak El juga belom nikah. Masa aku ngelangkahin"
"Iya jugaa, yaudah kalau gitu kamu kabarin aja kapan maunya"
"Kamu sendirii?" tanya Alika.
"Aku sih maunya lebih cepett ya, karna kan...."
"Cukupp bambang!! Saya tau jalan fikiran kamu"
Frans tertawa, "Alika mesum ya ternyata"
"Enggakkk!! Kamu tuh"
"Iyainnn"
"Nah gitu donggg" Alika kembali memainkan ponselnya.
"Frannss"
"Hemm??"
"Aku insecuree"
"Kenapaa gituu??" Alika menunjukkan foto cewek pada Frans.
"Liat tuh, cantik, sexy lagi. Apalah daya aku papan cucian"
"Sayang" Alika berdehem.
"Kamu itu cantikk. Cantikk bangett malahh. Jangan insecuree, yaa?"
"Tetep ajaa insecuree, aku gak cantik--"
"Sstt, siapa yang bilang kamu gak cantik??" Alika terdiam.
"Siapa yang bilang? Kalau ada yang bilang aku bom mulutnya" Alika masih diam.
"Aku kasih tau sama kamu ya, kamu itu cantik, kamu itu punya aku, kamu itu istimewa bagi aku. Jadi jangan insecuree lagi, okee??"
"Lagipulaa, kamu itu..."
__ADS_1
Alika menatap heran Frans, Frans mendekat untuk berbisik. "Sexy dimata aku"
"Franssss!!!!"