Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 62 Rencana atau wacana??


__ADS_3

13:45


Crazy Bacot kesiangan!!!


Mereka baru saja bangun dari tidur nyenyak. Itupun karena dibangunkan. Jika tidak. Mungkin mereka tidak akan bangun.


"Gue laper" keluh Diva.


"Gue juga" sahut Yesha.


"Beli makan, ditraktir yang abis aniv" ujar Alika. Nara menggetok kepala Alika.


"Jangan mencari kesempatan dalam kesempatan" kata Nara.


"Masih ngantuk ni anak!! Kesempatan dalam kesempitan odongg" balas Ikhsan.


"Noh itu. Beda a sama i doang" ujar Nara.


"Yak!! Bacot mulu, dah tau gue laper. Kuy lahh" ajak Yesha. Mereka bangkit lalu pergi menuju kafe untuk makan siang.


"Cewek apaaan ini? Bukannya bangun pagi malah ngebo" sindir Branden mereka berjalan keluar cgrvls.


"Capek tau!! Kita gak pernah tidur nyenyak karena tu pertunjukan!!" balas Diva kesal.


"Yaudah iyaa, siap makan tidur lagi sampe besok" suruh Naufal.


"Doain mati apa gimana ni anak?!!"


…………………


"Kalian belom balik kerumah?" tanya Revin.


"Mereka mbak Toyib bang. Kagak balik balik kerumah udah tiga hari tiga malam" adu Frans.


"Yee.. kan yang penting udah izin dan dapat restu" jawab Alika.


"Iyain dah iyainnn" kata Branden.


"Mau makan apa jadinya?" tanya Khansa.


"Nih yang bayar siapa? Bayar sendiri apa gimana?" tanya Yesha.


"Dibayarin mas Wisnu," ujar Nara.


"Nah gitu dong!!" kata Diva sambil senyum.


Mereka memanggil pelayan dan memesan berbagai makanan khas Jepang karena sekarang mereka di restoran Jepang.


"Eh betewe, bang repin, bang isan, bang febri sama bang Wisnu kuliah dimana?" tanya Alika.


"Gue dalam negeri" jawab Ikhsan.


"Gue juga" sahut Revin dan Wisnu bersamaan.


"Bang Febri?" tanya Diva.


"Indonesia!!" sahut Yesha. Danial menatapnya.


"Iya napa bang, yaa. Boy di luar negeri. Kalau abang keluar negeri kawan gelut fiana siapaaa?!" tanya Yesha. Danial menghela nafas.


"Iya iya di Indonesia" ujar Danial.


"Gitu dong. Maacii hehe" Yesha tersenyum.


"Ini pesanannya" pelayan datang. Mereka mulai memakan makanan yang dipesan.


.


"Ca, lo udah tau belom?" tanya Danial disela-sela makan.


"Apaan?" tanya Yesha balik.


"Ditanya udah tau belom jawabannya apaan. Gak nyambung otaknya" sindir Ikhsan. Yesha melempar sendok pada Ikhsan.


"Masih sendok nih, belum pisau" kata Yesha.


"Hahahaha"


"Yaudah tau apaan ni bangg?!" tanya Diva.


"Lah jadi lu yang penasaran?" tanya Naufal. Diva cengengesan.


"Jadi gini. Ini kan udah setahun ya di SMA Erdven? Lu sama yang lain mau naik kelas XII. Itu artinya.. Boy harus balik ke New York" ceplos Danial. Yesha menghentikan makanan yang hendak masuk ke mulutnya. Dia menatap Boy.


"Kapan?" tanya Yesha pada Boy.


"Tiga hari lagi" jawab Boy sendu. Boy menarik Yesha ke pelukannya.


"Hah serius? Wah gagal plan gue. Undur dongg!! Gue kira sebulan lagi boy boyy" keluh Ikhsan.

__ADS_1


"Plan apaan emang?" tanya Wisnu.


"Daki gunung" jawab Ikhsan.


"Perfect plan! Ayokkk" Alika antusias.


"Boy aja kudu balik ke New York. Gue yakin si echa kagak bakal mau ikut ntar" sahut Revin melas.


"Gue ikut kalau ada Boy. Gue gak mau ntar jadi anak anteng kalem karena gak punya laki" jawab Yesha.


"Mas marselll.. di tunda dong.. yaaa" rengek Yesha.


"Seminggu atau dua minggu aja deh yaa" lanjutnya.


"Mas usahain" ujar Boy sambil mengelus pipi Yesha.


"Makasih sayangg" ujar Yesha sambil senyum melebar.


"Gue jomblo woi!!!!!!" kata Ikhsan ngegas.


"Bodo amat" balas Yesha santai.


"Sialann lo!!"


"Bwaaahahahah"


"Eh, btw. Daki gunung mana?" tanya Danial.


"Mahameru" jawab Ikhsan.


"Wow"


"Besok?" tanya Diva.


"Setelah kalian ujian lah" jawab Ikshan.


"Ujian mingdep bang icann. Kelamaan" protes Alika.


"Lah mingdep?" tanya Revin.


"Kan besok Senin sampe Minggu lagi liburr. Ujiannya Minggu depannya lagi" jelas Diva.


"Yaudah Selasa aja gimana?" tanya Ikhsan.


"Nah setuju!!" jawab mereka.


"Bukan sekedar wacana poreperr. Sanss" kata Ikhsan. Mereka cengengesan.


Dari kejauhan. Nara melihat seseorang. "Xano?" ujar Nara.


"Hah?" tanya Yesha. Dia mengikuti arah pandang Xano. Xano menghampiri mereka.


"Hai Danial" sapa Xano.


"Ohhh tidakkkk" Yesha bangkit lalu berdiri depan abangnya.


"Buset. Lu napa ca?" tanya Alika.


"Xano tu gayy! Dia pernah suka sama abang guaa. Gua kagak mauu punya kakak ipar beginian modelnyaaa" ujar Yesha. Mereka terkejut lalu menatap Xano.


"Wah gua takut nih, Frans di ambil Xano" kata Alika sambil menutupi Frans.


"Gue juga takut mas Wisnu di godain ni anak" sahut Nara juga menutupi Wisnu.


"Branden di ambil gue tendang ni orang" sambung Diva.


Xano cengengesan.


"Gue udah normal. Gak perlu takut" ujar Xano.


"Gak yakin" kata Yesha.


"Udah mundur, balik ketempat" suruh Danial. Yesha menatapnya sinis.


"Tiati lo bang!!" Danial mengangguk.


"Mau apa lo?!"


"Mau makan bareng doang" jawab Xano.


"Menyeramkan kalau lo ada disini. Cari tempat lain!" suruh Alika.


"Dasar perusuh!!" sahut Diva.


"Tempat duduk banyak loh" kata Yesha.


"Cabut lo sono" sambung Nara.


"Sinis amat kalian?" tanya Revin.

__ADS_1


"Ye gegara dia kita gak tidur tiga hari tiga malam persiapan dance" keluh Diva.


"Untung tangan gue masih bisa dikontrol kalau gak dah gue jotos ni orang" sahut Nara.


∆∆∆∆


16:13


Alika memasuki rumahnya yang tampak sepi. Kelihatannya, sang ayah sedang bekerja dan sang bunda sedang arisan ibu-ibu kompleks.


"Kemana aja lo?!" tanya seseorang pada Alika. Alika sedikit terkejut karena kakaknya tiba tiba muncul.


"Bukan urusan lo" jawabnya ketus.


"Alika!!"


"Apasih?!"


"Lo udah gak pulang tiga hari tiga malam. Nyari om om diluar?"


Plakkk!!


Alika menamparnya. Menampar Elina.


"Kakak macam apa kau hah?!!!" bentak Alika.


"Gue bukan lo yang suka gonta-ganti pacar, dasar murahan!!!!" kesal Alika.


Elina menatapnya terus menerus tangannya mengepal erat sampai kuku kukunya memutih.


Alika gak perduli dan menuju dapur. Dia haus benar benar haus. Dia juga lelah. Dia baru pulang dan emosinya dipancing.


Wah benar-benar, Alika tidak habis pikir dengan perkataan kakak kandungnya itu.


Elina terus menatapnya. "Mau balas hah?!"


Alika mengambil pisau pemotong buah. "Nah pegang!! Bunuh sekalian bunuhh!!" suruh Alika. Elina memegang pisaunya.


Ketika pisau hampir mengenai lehernya. "ELINA!!!" bentak Ayahnya yang baru tiba. Alika tersenyum sinis.


"Apa yang kamu lakukan hah?!! Membunuh adikmu?!!!" tanya Ayahnya.


"I- ini bukan seperti yang a- ayah fikirkan" Elina gugup.


"Ada baiknya Alika pergi daripada keluarga ini hancur" Alika mengambil kunci mobilnya.


"Alika!! Alika balik sekarang!!! Alika!!!!!"


~••~•


"Oy, ngapain lu disini?" tanya Yesha.


"Eh, lo kok disini?" tanya Alika balik.


"Keliling doang tadi"


"Jauh dari rumah lo ini odong" Yesha cengengesan.


"Lo sendiri?" tanya Yesha.


"Males gue dirumah. Elina bangst. Dikata cari om om gue" jawab Alika.


"Jadi gelut tadi?" tanya Yesha lagi. Alika mengangguk.


"Club yok" ajak Alika.


"Tar malam lah. Ya kali sekarang" jawab Yesha.


"Lu boleh?"


"Ntar izin bokap nyokap"


"Bang Danial?"


"Setau gue dia pergi keluar kota tadi" jawab Yesha.


Hening


"Dah sore, balik yok. Lo belom mandi kan?" Alika menggelengkan kepalanya.


"Dah gue duga" ujar Yesha. Alika tertawa.


"Gue males pulang ca"


"Balik kerumah gue lah kuy. Mandi di rumah gue. Abistu ntar malam kita ke club" ajak Yesha sambil menatap Alika.


"Deal" Yesha cengengesan.


"Skuy"

__ADS_1


__ADS_2