
"Massss Wisnuuu, balik kok gak bilang?" tanya Nara kesal. Hari pertama lomba sudah selesai, tiba tiba saja Wisnu datang dan menghampiri Nara.
Ingin memeluk, tapi lagi ramai, dan takut terciduk pak Wanto. Itulah pemikiran Wisnu.
"Kejutan buat kamu, makanya mas gak bilang kalau pulang" jawab Wisnu. Setelahnya, Wisnu memberikan paper bag pada Nara.
"Apa ini?" tanya Nara.
"Oleh oleh dari Kanada. Di pake, udah malem pasti dingin" suruh Wisnu. Nara pun mengangguk.
"Makasih mas" ujar Nara. Wisnu mendekat dan berbisik ke Nara.
"Mas kangen banget sama kamu, pengen peluk tapi rame orang" bisik Wisnu. Nara malah nyosor memeluk Wisnu.
"Maaaciiii mas inuuu" ujar Nara. Wisnu terkejut tapi langsung membalas pelukannya.
Setelah pelukan lepas, mereka sama sama berpandang pandangan sambil melempar senyuman.
★★
"Al, awas tihati" ujar Frans saat melihat Alika memotong bawang.
"Santai aja Bray" balas Alika.
Tiba tiba saja tangan Alika teriris, membuat Alika meringis kesakitan. Frans langsung datang dan mengobati tangan Alika.
"Kan udah dibilang hati hati" ceramah Frans.
"Ya maap, pisaunya aja salahin suruh siapa ngiris tangan gue" balas Alika. Frans malah menggelengkan kepalanya.
"Lebay banget sih, cuma kena pisau doang" protes Thalia. Alika berdiri dari tempatnya, Frans menarik tangannya sehingga Alika duduk di pangkuan Frans.
"Jangan dilawan, jangan bergerak. Bisa bahaya" ujar Frans masih mengobati tangan Alika. Alika mengikuti perkataan Frans dan diam seperti patung.
★★
"Echa" panggil seseorang. Yesha pun menoleh, tapi tidak merespon apapun dan tetap mengangkat barangnya. David langsung mengambil alih barang bawaan Yesha.
"Kalau ada yang berat kasih tau oppa. Oppa yang bawakan untuk mu" ujar David.
"Apaan sih" balas Yesha datar, padahal sebenarnya dia ingin tertawa.
"Uda tua kan, masa iya oppa oppa" cibir Daffy.
"Diem atau gue gorok leher lu" ancam David. Daffy tertawa bersamaan dengan kekasihnya.
"Geser napa si" ujar anggota satu tim mereka. Si Adam. Dia sedang keberatan membawa barang, tapi David malah menghalangi jalannya. Dia pun mendorong David hingga David terjatuh dan mengenai Yesha.
Posisi yang aneh. David sedang diatas Yesha dengan bantuan topangan tangannya. Dalam hatinya, dia bersyukur Adam membantunya.
Yesha diam tanpa melawan, dia terkejut, dia deg deg an. Dia hanya menatap manik mata David.
"Ca, gue cinta sama lo, gue sayang sama lo. Gue bener bener sayang sama lo. Gue gak mau kehilangan lo. Gue mohon, maafin gue, gue pengen kita mulai lagi semuanya dari awal. Kita mulai dari nol. Lu mau kan?" cerocos David. Yesha memikirkannya sebentar, lalu mengangguk pelan.
__ADS_1
"Gue rasa, gue orang bodoh yang terima cinta lo lagi setelah gue disakiti"
"Lo gak bodoh kok, lagian kemaren kita cuman break kan. Gak putus" balas David.
"Gatau ah. Awas" ujar Yesha dingin sambil mendorong David. David terjatuh lagi ditanah.
"Bodo amat dah gue kek gini, yang penting gue deket lagi sama Yesha" kata David. Daffy dan yang lainnya tertawa.
"Makasih ya dam. Debes dah luu" David bangkit lalu mengecup pipi Yesha.
"Eh kampretttt" protes Yesha. David pun berlari, terjadilah kejar kejaran antara dua sejoli yang mabuk cinta itu.
★★
"Capek ahhh liat keuwuan orang" keluh Diva.
"Di tempat Nara dia sama kak Wisnu. Di tempat Alika, dia sama Frans. Lah Echa, udah balikan sama mantannya. Heran. Sampah kok dipungut lagi" lanjutnya.
"Sampahnya belom lima menit" sahut seseorang. Diva berbalik.
"Eh ada kecap," balas Diva.
"Kek orang gila lu ngomong sendiri" kata Branden
"Dih gue gak gila kali" protes Diva.
"Iya kali aja" Branden menghampiri diva lalu duduk disebelahnya.
"Gak mikirin apa apa. Cuma gue lagi uwu phobia" jawab Diva. Branden cengengesan.
"Gimana perjodohan lo?" tanya Branden.
"Gue tolak, ogah kali sama om om. Mana mesum banget lagi" keluh diva lagi. Branden malah ketawa.
"Dih nape lu?!" tanya Diva
"Lucu aja liat lo," jawab Branden.
"Bersyukur gue lu gak jadi nikah muda" ujar Branden.
"Kenapa gitu?" tanya Diva.
"Yaa.. dengan begitu gue masih bisa daftar jadi calon mantu" jawab Branden. Diva tertawa.
"Ada ada aja lu mah" balas Diva.
"Gue serius"
"Mungkin selama ini gue dimata lo cuma orang jahil yang ngeselin. Tapi kenyataannya, gue lagi cari perhatian dari lo" Branden menatap Diva, begitupun sebaliknya.
"Kenapa lu carper?"
"Karena gue suka sama lo. Sejak kelas X" jawab Branden. Diva tersipu lalu mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Gue gak bohong sama sekali"
"Kenapa lo suka sama gue?"
"Cinta gak ada yang tau div. Contohnya David. David yang se-berandal itu bisa bucin ke Yesha. Bang Wisnu ke Nara juga sama. Frans. Lu gak tau kan, Frans itu.. eee gak jadi lah"
"Apaan? Gak jelasss" protes Diva.
"Frans, sama gue. Kita sama sama jadi pengagum rahasia sejak dulu. Gue demen sama lo, dan Frans sama Alika"
"Kita sama sama gak berani deket karena kita sadar kalau kita berdua gak bakal bisa dapetin kalian"
"Gue jahilin lu, itu inisiatif sendiri biar lu bisa notice gue. Dan terbukti, lu notice gue meskipun gue di cap ngeselin" jelas Branden.
"Sekarang lu udah tau semua. Isi hati gue. Lu udah lama disini selama hampir dua tahun. Tiap hari, perasaan gue ke lo bukan berkurang malah bertambah"
"Gue pengen ajak lo pacaran. Tapi gue takutnya cuma jagain jodoh orang. Kalau gue gak ajakin lo pacaran, lo bisa bebas deket sama siapapun gue gak bisa larang karena bukan siapa siapa. Dan gue pendem kecemburuan. Jadi menurut lo, gue harus gimana?" tanya Branden.
"Tanyakan sama rumput yang bergoyang" jawab Diva sambil cengengesan. Branden berdiri, mengambil kayu, dan menggambar separuh hati.
"Gue gak mau jadi pengecut. Gue yakin, lu bidadari yang dikirim Allah buat gue. Buat isi hari hari gue"
"Dip, gue cinta sama lo. Lo mau gak jadi pacar gue. Kalau lo mau, lo bis–" diva sudah beranjak duluan dan menggambar separuh hatinya lagi.
"Gue mau" jawab Diva. Branden langsung memeluk Diva, diva pun membalasnya.
"Thanks" diva mengangguk.
"APA APAAN SIH LO? LO GILA YA?! LO SENGAJAKAN?!" Alika marah marah.
"Cia kenapa?" tanya Diva setelah melepas pelukannya dengan Branden.
"Ribut kayaknya. Samperin yok" diva mengangguk. Branden menggandeng tangan diva lalu menuju lokasi Alika.
"Kenapa ciii?!" tanya Nara.
"Tangan cia kena siram air panas" jawab Yesha. Lokasi Alika dan Yesha tidak terlalu jauh, jadi dia bisa tau apa yang terjadi. Tim PMR dengan sigap datang dan mengobati Alika.
"Gak tau lagi gue tu. Gue bingung banget sama kalian. Mau kalian apa sih?!" tanya Diva ngegas.
"Mau kita? Mau kita Lo pada gak usah kecentilan deketin Wolfbr!!" jawab Thalia.
"Harus dengan cara murahan? Bisakan bersaing secara sehat kalau alasannya karena cemburu?" tanya David santai, dia baru saja muncul bersama keempat temannya.
"Lo tau seberapa kejamnya gue. Seberapa kejamnya Febri dan para komplotannya. Lo mau kita serang? Lo mau kita buat miskin? Jangan sok berkuasa deh disekolah ini, jangan merasa paling hebat, inget diatas langit masih ada langit" ceramah David.
"Jangan permalukan diri lo sendiri. Percuma lo kaya kalau harga diri lo ilang" sahut Yesha. Thalia mendekat ingin menampar Yesha.
"Pilih lawan yang tepat, gue sama temen gue bukan orang lemah. Kita tanpa bang Danial ataupun David tetep bisa lawan lo. Paham?!" ujar Yesha menahan tangan thalia. Dia menariknya lalu memutarnya, meletakkan dipunggung Thalia, lalu mendorongnya hingga tersungkur.
"Aaaa" keluh Thalia.
"Belom seberapa ya. Pembalasan luka bakar Alika masih akan terus berlanjut" ujar Yesha sambil menepuk-nepuk tangannya lalu pergi.
__ADS_1