
"Kapan cinta bertepuk sebelah tangan ini berakhir?" tanya Frans. Saat ini dia berada di rooftop sendirian.
"Ngomong sama siapa lo? Ati ati kesambet" sahut seorang wanita dari belakang. Frans menoleh.
"Loh Al, ngapain kesini?" tanya Frans pada Alika. Iya, wanita itu Alika.
"Nih," Alika menyodorkan permen mint pada Frans.
"Tau aja kesukaan gue" balas Frans. Frans mengambil permen itu. Alika tersenyum manis, berbeda dari biasanya.
"Oh iya, lo belom jawab pertanyaan gue. Ngapain kesini?" tanya Frans lagi.
"Mau ngelepasin keluh kesah. Lo?"
"Sama" jawab Frans.
"Kita punya banyak kesamaan, sama sama suka permen mint. Sama sama phobia tali karet dan kesamaan lainnya. Jangan jangan... kita jodoh?!" tanya Alika. Frans malah tertawa.
"Gue aminin" balas Frans.
"Ih apaan, gue bercanda."
"Dan gue serius"
"Frans, apaan sih gak asik lu" ujar Alika. Frans membalasnya dengan senyuman.
"Gue kalemkan? Tapi asal lo tau ini bukan sifat asli gue" jelas Frans.
"Kenapa?"
"Kenapa... Apanya?" tanya Frans.
"Kenapa lo tutupin sifat asli lo? Be yourself lebih baik" balas Alika.
"Tapi jadi diri sendiri belom tentu menguntungkan Al"
"Gue berandal,"
"So? Berandal doang kan? Bryant, Branden, Khansa, bang Febri, dan yang lain juga gitu" balas Alika.
"Gue punya sedikit jiwa psychopath" kata Frans tiba tiba.
Deg!
Deg!
Alika terpaku.
"Santai, gue juga berusaha menghilangkan jiwa itu. Jangan takut oke" pinta Frans.
"Orang tua lo tau?" tanya Alika.
"Heem, mereka tau. Mereka tau karena waktu itu gue bunuh kucing liar pakai pisau tumpul. Eh maksudnya pisau tajam" jelas Frans.
"Wolfbr gak tau tentang ini. Lo, abang gue, papa dan mama gue. Cuma kalian yang tau"
"Kenapa? Kenapa lo kasih tau gue?" tanya Alika.
"Because, lo orang yang bisa bantu gue hilangin jiwa ini sepenuhnya" jawab Frans.
"Jangan ngaco" balas Alika sambil cengengesan.
"Setelah orang tua lo tau, mereka gimana?" tanya Alika.
__ADS_1
"Mereka marah sama gue, dan hukum gue seminggu dikamar tanpa makan dan minum."
"Setelah kejadian seminggu gue terkurung. Abang gue samperin gue dan bilang. Gue harus berubah kalau gue mau kembali sekolah"
"Gue ikutin kemauan abang gue. Dan ya.. sekarang" jelas Frans panjang lebar.
"Gue yakin, pasti susah bagi lo terima semua itu" kata Alika. Frans senyum dan itu membuat Alika terpukau.
"Dulu di SMP, gue juga lagi suka sukanya sama cewek cantik. Dia juga tau tentang ini dan dia menjauh, bahkan menghilang. Gue gak tau dia dimana sekarang"
"Gue jadi trauma gitu, tapi di SMA ini gue ketemu sama lo. Dan yang membingungkan, gue bisa jatuh cinta sama lo dalam sekali tatapan" kata Frans.
"Frans jangan ngaco, kalau gue baper gimana?" tanya Alika.
"Emm.. gue nikahin" jawab Frans asal. Alika tertawa.
"Jadi, apa mungkin lo bisa hilangin itu?" tanya Alika.
"Bisa, kalau lo obatnya. Tapi gue yakin, setelah ini lo malah menjauh dari gue" jawab Frans.
"Lo berfikiran buruk tentang gue Frans. Gue gak bakal jauhin lo. Gue bakal bantu lo buat berubah. Sekarang gue tanya, apa yang bisa gue bantu?" tanya Alika lagi.
"Support lo, dan kehadiran lo yang selalu disamping gue" jawab Frans.
"Gue gak tau kenapa... kenapa lo yang bisa hilangin ini. Gue berusaha buat gak ngerepotin or—"
"Gue bantu lo, gue akan support lo, gue akan selalu disamping lo sampai kapanpun" potong Alika sambil memeluk Frans. Frans kaget dia juga membalas pelukan Alika.
Alika tiba tiba tersadar dan langsung melepas pelukannya.
"Sorry hehe" Alika nyengir kuda. Frans mendekat ke Alika lalu memeluknya.
"Makasih"
_______________________
"Rumah gue aja skuy" ajak Alika.
"Pain? Males ah. Takut kak El" jawab Nara.
"Iya deng gue lupa kalau ada Mak lampir dirumah" jawab Alika.
"Jadi kemana dong?" tanya Diva.
"Nonton bioskop aja, ada film baru" sergap David dari belakang.
"Heh dasar penguntit" ledek Yesha. David cengengesan.
"Ke cafe biasa aja mendingan. Yang ada WiFi nya. Gue minim kuota hehe" kata Nara.
"Oh em jiiiihhh.. sorang Nara minim kuota? Gak mungkin" balas Yesha dengan gaya alaynya. Mereka tertawa.
Tiba tiba..
Jdug..
"Ahh setan" umpat Yesha. Yesha jatuh. Tongkat untuk berjalannya disandung Thalia. David telat menangkap Yesha saat itu.
"Lagi lagi dan lagi, karena lo cewek. Gue males berurusan sama lo" kata David. Dia membantu Yesha berdiri.
Yesha malah berdiri sendiri tanpa bantuan tongkatnya.
"Mau lo apa sekarang? Kita berantem?" tanya Yesha.
__ADS_1
"Oh boleh juga tuh" kata Thalia menantang.
"Kalau lo kalah, gue kuliti. Kalau lo menang, lo bunuh gue. Gimana?" tanya Yesha.
"Lo bosen hidup apa gimana sih?" tanya Dian.
Plak!!!
"Bisa gak sih, gak usah ganggu kehidupan orang?" tanya Bryant. Dia datang sambil menampar muka Dian.
"First time, gue nampar cewek. Dan itu buat lo. Lo tau kenapa? Karena tingkah lo semua yang benar benar menjijikkan!" kata Bryant.
"Udah gue bilang jangan berkuasa kan?! Tapi pada gak dengerin" sambung Khansa.
"Mending lo cabut, sebelum bang Danial datang." suruh Bryant.
"Gak bakal gue biarin lo pulang dengan selamat" ancam thalia lalu pergi.
"Lo gak apa apa? Luka lagi?" tanya Bryant pada Yesha. Yesha menggeleng.
"Gue gak apa apa" kata Yesha.
"Lo gimana sih vid? Kenapa diam aja?!" tanya Bryant pada David.
"Gue mau nampar tapi dia cewek, gue gak bisa nampar cewek"
"Bacot lo" sahut Danial dari belakang.
"Lo pada gak apa apa?" Danial bertanya pada Nara, Alika, Diva dan Yesha.
"Gak apa apa bang" jawab Nara.
"Naik kendaraan siapa hari ini?" tanya Danial.
"Nara bang" jawab Nara.
"Wisnu, Khansa, Bryant. Kalian kawal Nara pake motor. Anterin sampe rumah"
"Branden, Ikhsan, David. Anterin Diva sampe rumahnya"
"Frans, Revin, Anand. Anterin Alika sampe rumahnya"
"Pastikan mereka masuk! Dan jangan sampai kenapa kenapa!!"
"Gue gak terima penolakan"
"Fiana, kita balik kerumah" ajak Danial.
"Apa apaan? Gak mauuu" jawab Yesha.
"Pulang sekarang" kata Danial. Yesha menatap Danial sengit.
"Lo gila emang? Lo ajak tarung orang dengan taruhan nyawa lo." Danial menatap Yesha.
"Dia gak bakal bisa tarung, gue jamin" balas Yesha.
"Lo gak tau kemampuan setiap orang. Kalau lo kalah gimana hah?! Lagian kalau pun lo menang, Lo malah sakitin anak orang. Lo pikir gak dosa?!" tanya Danial. Yesha menunduk.
"Besok, Lo berempat ikut gue" kata Danial. Danial pun pergi sambil menggendong Yesha.
"Woii elah!! Gendongnya gak kayak gini juga kali bang!!! Gue bukan beras, kenapa diginiin. Gilaaaa" protes Yesha.
"Berisik lo" balas Danial.
__ADS_1
"Kalian semua anterin itu cewek cewek awas aja kalian"
"Iyaaa tenang ajaaa" jawab mereka. Danial mengangkat jempolnya lalu melanjutkan perjalanan sambil menggendong Yesha yang berada di pundaknya.