Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 85 Caw


__ADS_3

"Itu bukannya kak Fiery ya? Sama cewek loh" Alika menunjuk Fiery yang bergandengan tangan dengan seorang wanita.


Frans menghela nafas, tidak siap untuk ini. "Sama siapa itu?" tanya Alika.


Frans menggeleng. "Kak Fiery!!" Fiery dan cewek itu berbalik.


"E- Elina?"


"A- Alika?" Elina yang menyadari ada adiknya dan juga Frans langsung melepas gandengannya dengan Fiery.


"Kamu kenal sayang?" tanya Fiery pada Elina.


"Apa? Sayang? Kak Fiery pacaran sama Elina?" Fiery mengangguk santai.


"Lo kenal sama Elina?" Alika diam, dia lemas seketika.


Tatapannya ke bawah, dia berjalan mundur terus mundur. Alika hampir terjatuh jika Frans tidak menangkapnya.


"Kamu kenal Alika?" Elina hanya mengangguk.


"Al, Alika.. dia.. dia temen gue kok bukan pacar"


Fiery menatap heran Elina. Sedangkan Alika yang di pegang Frans tertawa dengan tawa dipaksakan. "Temen apa sampe pegangan tangan?"


"Apa cuma gue disini yang nggak ngerti maksud semuanya apa?!" tanya Fiery.


"Lebih baik mulut lo diem!" sahut Frans.


"Kamu tau kan semua ini? Kamu tau kalau Elina pacarnya kak Fiery" Frans diam.


"Jawab Frans!!"


"Aku berharap mereka putus duluan tanpa harus terbongkarnya rahasia ini. Aku minta maaf"


Alika melepas pegangan Frans. "Aku pernah bilang kan, aku gak suka dibohongin!!"


"Aku minta maaf sayang" pinta Frans.


Alika menatap Elina. "Gue ngalah sama lo, El"


Alika langsung pergi setelah mengatakan itu. Dia berlari ntah kemana arahnya. "Harus banget lo bawa jalan* ini kesini? Ngerusak suasana tau nggak!!" protes Frans.


"Jalan*? Jangan sembarangan lo kalah ngomong" Fiery menarik kerah baju Frans.


Fransa menendang perut Fiery. "Kalau sampe calon bini gua kenapa-kenapa, lo bedua berurusan sama gue!"


Frans berlari mengejar Alika.


✳✳


Alika POV


Gue benci kebohongan.


Benci, benci banget! Gue gak suka pembohong karena sekalinya seorang berbohong, dia akan melakukannya kembali.


Gue gak percaya kalau Frans bisa nutupin rahasia segede itu. Gue baru keinget, setahun silam gue ketemu sama Fiery. Gue tanya, dia punya pasangan nggak dan dia bilang ada, umur hubungannya sama kayak gue dan Frans.


Gue juga pernah tanya Elina, dan Elina jawab yang sama. Begoonya gue, kenapa baru sadar sekarang?!!


Gue bingung harus apa.


Frans tadi bilang untuk ketawain masalah biar masalahnya malu terus pergi. Disaat seperti ini, kalau gue ketawa, bukannya terlihat begitu menyedihkan?


"Pak pak" gue stopin taksi. Abistu masuk kedalamnya menuju rumah.


Jaraknya nggak terlalu jauh dari tempat tadi kerumah. Tujuh belas menit perjalanan udah sampe. Gue langsung lari ke kamar, ngebiarin bibi ataupun satpam yang manggil nama gue.


Gue gak kuat terima kenyataan. Gue mau kabur, gue mau pergi ke tempat dimana gue bisa sendiri.

__ADS_1


Gue terlalu pengecut untuk ngadepin masalah ini, gue gak bisa. "Non Alika mau kemanaa?"


Bibi ke heranan liat gue yang bawa tas sambil meneteskan air mata. Untungnya ayah bunda gak dirumah.


"Alika mau nginep bi, tempatnya Diva"


Itu alasan


Gue bukan mau ke tempat Diva. Gue mau ke Kanada, soal biaya gue punya kok. Kartu kredit dari cgrvls masih banyak isinya. Cukup untuk gue setahun kedepan.


"Alika pergi dulu bi" bibi senyum meskipun gue yakin dia gak percaya alasan gue.


Gue balik ke taksi tadi. Gue masih suruh dia nunggu biar nanti gue gak ribet cari taksi. Gue masuk ke taksi, gue nyuruh pak supirnya ke bandara sekarang juga.



Author POV


Frans tiba di rumah Alika, lima menit setelah Alika pergi. Frans melompat pagar karena terlalu lama baginya untuk memanggil satpam.


"Dimana Alika?" tanya Frans pada bibi.


"A-a-alika tadi pergi. Katanya tempat nak Diva"


Tanpa sepatah kata pun, Frans langsung kembali ke mobilnya. Dia tidak melompat pagar lagi karena tadi satpam membukakannya.


Mobil Frans melaju dengan kecepatan tinggi, dia pergi ke rumah Diva mengejar Alika.


Dua puluh lima menit kemudian, Frans tiba dirumah Diva. Rumah Diva ternyata kosong.


Frans teringat, Diva pasti tinggal bersama Branden di suatu tempat yang Frans lupa tempatnya. Frans mengambil ponselnya.


"Halo, Assalamu'alaikum"


📞 "Waalaikumsalam. Kenapa? Ganggu aja"


"Lo dimana?"


"Santai aja kali ah.. Alika disana?"


📞 "Kagak ada kesini"


Frans langsung mematikan panggilannya.


"Alika sayang, kamu dimanaa?"


☣☣


Pagi harinya


Frans bersama mobilnya berada tepat di depan rumah Alika. Dia menunggu Alika kembali kerumah, namun, Alika tak kunjung kembali.


Tok tok tok


"Frans"


Frans melihat itu Ayah Alika. Frans keluar dari mobil lalu menyalami tangan ayah Alika. "Kata satpam kamu disini semalaman. Ada apa?"


"Frans tunggu Alika om, Alika udah pulang?"


"Alika? Alika kemana rupanya? Kalian ada masalah?" Frans mengangguk.


"Masalah besar om"


"Ayok masuk, kamu jelasin di dalem sambil sarapan" Frans hanya mengangguk setuju lalu mengikuti Ayah Alika.


Sebelumnya, ayah Alika menyuruh pak Satpam memasukkan mobil Frans ke dalam garasi.


"Kalian ada masalah apa? Alika gak bisa ditelepon" kata Bundanya.

__ADS_1


"Elina, eh maksudnya, kak Elina. Dia pacarnya Fiery, Fiery abangnya Frans"


"Hah?!"


"Fiery gak tau om, Alika juga gak tau. Cuma Frans sama kak El yang tau. Frans gak bilang sama Alika karena Frans pikir Fiery bakal cepat putus sama Elina. Tapi nyatanya, usia hubungan mereka sama kayak Frans dan Alika"


"Dan tadi malam, semua kebongkar. Alika yang syok bilang dia ngalah demi Elina. Frans gak tau Alika kemana, makanya Frans nungguin Alika pulang di depan"


"Kenapa runyam begini?!"


"Elina dimana, bun?" tanya ayahnya Alika.


"Juga gak dirumah, mungkin di apartemen" jawab bundanya.


"Frans minta maaf"


"Kamu gak salah Frans, tenang ya. Mending sekarang kamu makan, kita cari Alika sama-sama nanti"


Di sisi lain


Alika baru bangun dari tidurnya.


Alika bermalam di sebuah hotel yang ada di luar kota, dia tidak bisa pergi ke negara maple karena kurang persiapan. Dia tidak punya paspor dan juga visa untuk ke sana.


Sekitar tiga puluh lima menit setelah ia bangun tadi, dia keluar dari hotel untuk berkeliling. Karena lapar dia mampir di sebuah restoran cukup terkenal.


Alika memesan banyak makanan, dia akan memakannya sendirian. "Gue butuh alkohol" gumamnya.


"Eh.. gajadi, bedosa" Alika pun memilih minuman bersoda sebagai pengganti alkohol.


Tak lama setelah memesan, pesanannya datang. Alika menyantap semua makanannya dengan santai.


Ponselnya yang di meja terus berbunyi, namun ia tak perduli. Karena dia tau itu panggilan dari ayah bundanya atau mungkin Frans dan temannya.


Alika tidak ingin memikirkan masalah semalam, dia lebih memilih memakan semua makanan favorit di depannya. Menghabiskannnya perlahan. Karena ketika seorang Alika galau, dia hanya butuh makanan di sekelilingnya.


Itu juga berlaku bagi seluruh member Crazy Bacot.


"Kelaperan atau doyan?" seseorang menghampirinya.


Alika mendongak, "Ajef?"


"Long time no see" Ajef mengulurkan tangannya.


Alika mengambil barangnya lalu pergi. "Ahey, tunggu dulu" Ajef memegang lengan Alika.


"Lepas atau gue patahin?" Ajef melepasnya lalu menggaruk kepalanya yang jelas tidak gatal.


"Lo.. kenapa?"


"Bukan urusan lo" Alika pergi menuju kasir membayar semua makanannya.


Ternyata Ajef masih mengejarnya. "Lo salah paham tentang dua tahun yang lalu, bener-bener salah paham"


Alika memilih menutup telinganya. "Al, ayolahh dengerin gue. Gue masih sayang sama lo"


"Lo tau apa yang di bilang Spongebob yang sering di gif sambil ngeluarin pelangi?" Ajef berfikir.


"Apaan"


"Bacot" Alika langsung pergi.


"Al, al, kasih gue waktu buat jelasin. Setidaknya, lima belas menit"


"Gue sibuk, dan gue gak butuh penjelasan lo"


Alika menjauh dari Ajef. "Kalau lo gak mau kasih gue waktu, gue bilang sama Branden kalau lo disini" Langkah Alika terhenti.


"Indonesia lebar" hanya itu balasan Alika dia kembali berjalan.

__ADS_1


"Susah emang naklukin cewek cantik spesies Alika"


__ADS_2